The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 8 : Topeng kepribadian


__ADS_3

Diatas lembutnya bulu sutra yang tebal, Misha merasakan hangatnya, nikmatnya, wanginya tubuh seorang wanita muda. Seperti sedang dibawa dalam dunia mimpi mati rasa yang tak bisa dikendalikan.


Perlahan dan perlahan, Misha tak bisa menahan kesadarannya, dirinya mulai terhanyut oleh sensasi yang menggoda. Sehingga ia tertidur lelap dalam kenikmatannya.


Setengah jam telah berlalu, seketika pintu kamar terbuka perlahan. Permaisuri keluar dari dalam kamar Misha dengan memasang wajah yang terpuaskan.


Semua orang tertunduk tanpa melihat wajah permaisuri itu, kecuali Sebas yang saat ini memandanginya dengan penuh kebencian.


...Lagi-lagi aku tidak bisa melawannya! si*l... sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana?! kuharap tuan muda baik-baik saja....


...Batin Sebas dengan tatapan tajam mengarah ke permaisuri....


"Sebas? Tolong jaga anak itu... Hari ini dia terasa cukup baik dari sebelumnya," pinta permaisuri sambil memasang senyuman liciknya.


"Dimengerti yang mulia," balas Sebas, kemudian memperbaiki tatapan tajamnya dan tersenyum palsu kepada sang permaisuri.


Setelah itu permaisuri pergi meninggalkan tempat itu bersama rombongannya. Dari belakang Sebas kembali menatap mereka dengan penuh kebencian dan kecurigaan.


Sebas kembali masuk ke dalam ruangan secara terburu-buru, saat rombongan permaisuri tidak terlihat lagi dari pandanganya.


Dia melihat tubuh pangeran kecil terbaring diatas kasurnya, dengan posisi tangan yang terentang dan kancing baju yang setengah terbuka. Wajah Misha terlihat memerah namun kelompok matanya tertutup rapat.


Sebas masih saja tidak mengetahui apa yang permaisuri lakukan kepada pangeran, dirinya merasa heran mengapa pangeran tiba-tiba tertidur, padahal sebelumnya dia masih terbangun.


Sontak Sebas langsung mengecek keadaan Misha, meraba dahinya, merasakan hembusan nafas di hidungnya, menyentuh nadinya, untuk memastikan apakah dia baik-baik saja.


"Syukurlah~ badannya tidak panas, aku juga tidak merasakan adanya mantra sihir, kurasa dia hanya tertidur," ucap Sebas yang merasa sedikit lega.


"Anna, hari ini kalian boleh kembali. Aku sendiri yang akan menjaga tuan muda," perintah Sebas, kepada para pelayan yang berada di luar kamar.


"Dimengerti tuan Sebas." Balas para pelayan itu, kemudian bergegas pergi dari sana.


Ketika para pelayan itu sudah pergi, Sebas mengunci pintunya. Mematikan semua pencahayaan dalam kamar sehingga menyisahkan cahaya rembulan yang masuk dari jendela kamar.


Sebas mengambil sebuah kursi, meletakkannya di depan kasur pangeran kemudian duduk disampingnya. Dirinya ingin menunggu pangeran kecil terbangun kembali, karena perasaannya penuh kecemasan dan kekhawatiran yang tidak bisa ditahan.


...*******...


Dari dalam alam bawa sadar, Misha bermimpi. Dirinya mendengar suara gesekan pedang, seperti sedang berada dalam pertempuran.


Dirinya melihat gambaran samar-samar seorang perempuan yang menggendong dirinya, seolah-olah sedang membawa bayi kecil dan berlari tergesa-gesa.


Misha mendengar suara hentakan sepatu kuda yang mendekatinya. beberapa saat kemudian, ia melihat sebilah pedang tiba-tiba tertancap tepat di dada wanita itu.


Darah bercucuran keluar dari dadanya, meneteskan satu persatu darah di wajah Misha, sehingga semua pandangannya terlihat merah.


...Kamu— harus bertahan hidup...., apapun yang terjadi....


...wahai anak-ku.......


...kelak— dirimu akan membalaskan.... dendam semua orang....


...selamatkan mereka semua......

__ADS_1


...aku mohon......


...Hiduplah....!...


Desis yang terdengar dari suara seorang wanita, seperti sedang menahan rasa sakit yang menusuk tubuhnya.


...******...


Tiba-tiba badan Misha terbangun dari posisi tidurnya, dirinya tersadar dari mimpi buruk yang tidak ia ketahui. Nafasnya tak beraturan, keringat dingin ada dimana-mana, wajahnya dipenuhi air mata dengan perasaan campur aduk Misha berteriak.


"Aaaaaaaahh....!" Teriak Misha yang tiba-tiba tersadar dari mimpinya.


"Tuan muda?! ada apa?! apa yang terjadi?!" Ucap Sebas yang tiba-tiba menjadi panik.


Dalam beberapa saat Misha tidak menghiraukan pertanyaan Sebas, dia hanya berpikir dan terus memikirkan banyak hal.


...Lagi-lagi aku mengalaminya......


...ingatan siapa semua ini...? mimpi tidak akan muncul begitu saja jika aku tidak pernah mengalami hal seperti itu....


...apakah ingatan ini, perasaan ini, mimpi ini.......


...milik si bocah pecundang itu? lantas kenapa....


...Batin Misha, sambil menggaruk-garuk pelipisnya....


"Tuan muda?! tolong jawab! apa yang terjadi?!" teriak Sebas yang semakin panik.


"Hah~ Syukurlah... saya pikir anda kerasukan," ucap Sebas kembali tersandar diatas kursi duduknya.


"Tuan muda, mengapa anda menangis?" tanya Sebas lagi, cemas.


"Oh ini... pasti karena mimpi tadi," balas Misha sambil mengusap air matanya.


"Sebenarnya tadi aku memimpikan sesuatu, mimpi seorang wanita yang terbunuh oleh prajurit bersenjata, prajurit itu.... Mereka persis dengan prajurit yang berjaga di dalam istana." ungkap Misha dengan amarah yang terlukis diwajahnya.


"Sebas?! apakah ini ingatanku?!" tanya Misha, menoleh kearah Sebas dan mengeluarkan curahan air matanya.


Sebas tiba-tiba merasakan gejolak perasaan yang seperti dicabik-cabik. Matanya melebar, bibirnya gemetaran, keringat dan air mata bercampur dalam kesedihan dan kemarahannya.


"Jadi begitu, Hah...." Hembus nafas Sebas, bola matanya mengarah kebawah, "wanita dalam mimpi itu adalah ibu kandung anda. Setelah kelahiran tuan muda, beliau dikabarkan tewas dalam perjalanan menuju istana, semuanya tewas dalam perjalanan itu. Kecuali seorang bayi yang berhasil selamat," jelas Sebas dalam keseriusan yang terpampang di wajahnya.


"Bayi itu—" ucap Misha, penasaran.


"Ya, Bayi itu adalah anda tuan muda. jika saja... jika saja saya berada di sisi beliau, mungkin tuan putri masih bisa diselamatkan," sesal Sebas. Rahangnya mengeras, menunjukkan ekspresi kekesalan dan penyesalan.


...Begitu yah......


...semuanya terhubung....


...tentang kakak perempuanku, ingatan wanita itu, dan mungkin saja......


...ingatan dari bisikan mengerikan itu......

__ADS_1


...adalah pecahan ingatan dari bocah bernama Misha....


...Ucap Lazor dari dalam hatinya....


Misha kembali menenangkan pikirannya, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Dengan badan kecilnya, ia turun dari kasur tidurnya.


Misha menoleh kearah Sebas lalu bertanya, "jam berapa sekarang?"


"Jam? mohon maaf tuan muda, saya tidak mengerti perkataan tuan." Balas Sebas, kebingungan.


...Mungkin jam konvensional belum ditemukan di dunia ini.......


...Batin Misha, merasa resah....


"Ah, kalau begitu lupakan," ucap Misha yang lagi-lagi merasa miris akan tertinggalnya ilmu pengetahuan di dunia ini.


"Oh ya, bagaimana dengan permaisuri itu?" Tanya Misha, dengan ekspresi yang tiba-tiba kesal.


"Saya juga penasaran, setelah permaisuri itu keluar dari kamar anda, sejak saat itu anda tidak sadarkan diri. Apa yang telah terjadi tuan muda? apakah dia melakukan sesuatu pada anda?" tanya Sebas, rasa penasaran terlukis diwajahnya.


"Oh... mengenai itu, dia menceritakan sebuah dongeng padaku, karena merasa lelah aku pun tertidur." Balas Misha, yang mengada-ada kejadiannya.


Misha tidak ingin membicarakan kejadian yang ia alami bersama permaisuri, dengan berusaha mengalihkan topik pembicaraan dirinya tiba-tiba beralasan istirahat karena terlalu lelah.


"Sebas, bisakah kau keluar dulu? aku ingin istirahat sejenak." ujar Misha Kepada Sebas dengan wajah datar.


"Tetapi tuan muda, jika terjadi sesuatu kepada anda—" Kalimat Sebas terpotong setelah melihat tatapan tajam yang ditunjukkan pangeran kecil itu.


"Ba- baik! saya akan menunggu di luar, bila terjadi sesuatu tolong katakan tuan muda."


Sebas sontak beranjak keluar dari kamar, meninggalkan Misha sendirian di sana dengan berbagai gejolak pikiran di kepalanya.


di dalam kamar, Misha termenung dalam keheningan, memikirkan seluruh kejadian yang telah ia saksikan. Di dalam pikirannya terjadi banyak perdebatan dan pertanyaan yang berkecamuk, serasa masih menolak bahwa semua ini adalah fakta empiris yang tak terbantahkan.


"Hah~ wanita itu, memiliki sensasi yang memikat, seolah-olah aku ditarik ke dalam dirinya," ucap Misha yang berbicara sendiri, setelah itu ia memasang seringai liciknya.


"Apa apaan sensasi tadi yang kurasakan! aku... aku ingin lagi! aroma tubuhnya, wajahnya, kulit halus miliknya... aku ingin memilikinya!" gumam Misha, dengan menghembuskan nafas berat yang berhasrat.


...Akan tetapi, aku bukanlah orang yang ingin diperbudak olehmu baji*gan! akulah yang akan membuatmu menjadi budak milikku....


"Hahahaha...! sungguh memalukan! hasrat mudaku bangkit di tubuh anak kecil ini," tawa kecil Misha yang menunjukkan seringai jahatnya.


Misha mengeluarkan kepribadian yang sangat berbeda dari sebelumnya, seseorang yang sangat mencintai pengetahuan tidak tergambarkan untuk dirinya yang saat ini tertawa sambil menunjukkan senyuman mengerikan. Bola mata berwarna emas itu menyala dalam kegelapan, pipi atasnya memerah, alis sebelahnya naik, seperti menggambarkan sosok keji yang tidak berperasaan.


"Oh... permaisuri! akan ku pasangkan rantai di lehermu dan membawa dirimu keliling kota sebagai peliharaanku yang paling manis." gumam Misha, dengan nada bicara yang menekan.


...*******...


...oh tuhan.......


...Padahal aku sangat ingin menciptakan monster mengerikan itu...!...


...sebenarnya itu adalah mahakarya dari umat manusia untukmu....

__ADS_1


__ADS_2