
Takdir telah mempertemukan mereka berdua, jiwanya akan segera dibebaskan dari belenggu rantai penindasan. Tatkala Misha memandang wajah menyedihkan anak remaja yang penuh Kemalangan, memperlihatkan keprihatinan yang terbang sampai ke dalam jiwa sang anak muda.
Lantas Misha berujar dengan raut kesedihannya, "Siapakah namamu wahai anak muda?"
Mata hijau yang indah itu tampak redup dengan dipenuhi benalu kehampaan, menatap balik pangeran Misha seraya berkata dengan suara serak mendesis lemah.
"A— akh.. aku... Ilya– Ilyasa.... tuan..." Balas si anak muda Ilyasa, dengan ucapan yang sulit diutarakan, seolah-olah pita suaranya telah rusak, sehingga susah untuk mengucapkan sepatah kata.
Marah atas lemahnya dirinya, geram atas kehampaan yang menelan Jiwanya, kesal menatap tatapan suram yang ditunjukkan oleh Ilyasa. Misha tiba-tiba menarik kedua lengan anak itu, menundukkan tubuhnya kebawah, sampai lutut menyentuh tanah.
Tindakan Misha menciptakan suara gemericik rantai yang bersambungan dengan para budak lainnya, mereka para budak itu hanya bisa diam dan menundukkan kepala, merasa takut bila berurusan dengan ketiga orang di samping mereka.
Selepas itu, tiba-tiba...
Plakk...!
Suara tamparan pertama dilayangkan Misha tepat di pipi Ilyasa dengan keras, membuat para budak lainnya menutup matanya rapat-rapat.
"Bangun...!" Teriaknya dengan amarah terlukis di wajah sang pangeran.
Tindakan pangeran Misha membuat Sebas dan Danilo kalang kabut, rasa cemas dan khawatir terlukis di wajah mereka berdua, takut bila tindakan pangeran dilihat oleh si pemilik budak-budak ini.
Plakk...!
Bunyi tamparan kedua, memunculkan memar di kulit pucat nya itu.
"Apakah kau akan berakhir seperti ini?!"
"Tuan muda— sepertinya..." Potong Sebas, mencoba menghentikan Misha.
Plak...!
"Tidakkah dirimu merasa kesal dengan semua ini?!"
Mendapatkan tamparan berturut-turut, rasa nyeri Ilyasa rasakan seolah-olah tidak berdampak pada jiwanya yang tertelan keputusasaan itu. Namun lain halnya dengan setiap kalimat yang Misha lontarkan padanya, walau hanya sebutir pukulan yang menembus jiwanya, Ilyasa seketika merasakan setitik debu emosi muncul dari hatinya.
Misha menggigit bibir bawahnya, menggesekkan rahangnya, alisnya turun kebawah, kesedihan dan kemarahannya bercampur menjadi ekspresi yang menembus jiwa sang anak muda. Tak lama kemudian, genangan air mata keluar dari sudut matanya, mengalir perlahan sampai menetes ke tanah.
Sebelah tangan yang memegang bahu Ilyasa tiba-tiba berbalik memukul dadanya sendiri, meremasnya dengan keras seraya berkata, "Rasanya sangat sakit bukan...."
Setitik debu emosi itu tiba-tiba menjadi dua titik debu, lalu tiga, kemudian perlahan-lahan menjadi kumpulan pasir panas yang membakar hatinya.
Banjir air mata mengalir bagai arus deras di pipinya, "Kau pasti merasa kesepian bukan...? kau telah melalui begitu banyak penderitaan... Menyaksikan orang-orang tersayang pergi meninggalkanmu...." Kelopak mata tertutup, mengalirkan lebih banyak air mata. "pasti, sangat sakit disini kan...."
............
...Hari itu......
...Adalah hari dimana aku kehilangan segalanya....
...Melihat sendiri mata pedang yang tertancap di leher ayahku, membuatku sangat frustasi dan marah atas lemahnya diriku ini......
...Dendam ini sudah terlalu besar, saking besarnya dendam ini, diriku sudah tidak sanggup membendungnya lagi......
...Dan sekarang, itu muncul kembali...? Apakah itu penting untuk dilakukan...? Mau balas dendam pun, mana bisa.......
...Sudah terlambat......
...Diriku yang lemah ini, berpikir seperti itu......
...Lintas ucapan batin Ilyasa, yang seketika tersadar dari mimpi buruknya....
"Berpikir untuk menyerah lagi...? direndahkan lagi seperti ini? ragu karena dirimu terlalu lemah?" Rentetan pertanyaan Misha dengan ekspresi emosi yang meluap-luap.
...Sebenarnya aku mana sudi hidup seperti ini......
__ADS_1
...benar, seperti yang kau katakan... rasanya sakit....
...tapi......
...Apakah diri ini berhak marah ketika telah lama tersesat dalam keputusasaan......
"Tidakkah kau ingin meminta bantuan dari seseorang...?" Menjulurkan tangannya ke depan Ilyasa, tawaran pertolongan terlihat jelas diberikan oleh Misha.
Sontak dari lubuk hati Ilyasa tertegun, kumpulan pasir itu telah merambat keluar, menghapuskan benalu keputusasaan yang selama ini menelan jiwanya, perlahan-lahan tangan kurus itu mencoba meraih pertolongan Misha, menyentuh kulit telapak tangan Misha yang halus dengan sudut senyuman kecil sekilas nampak di wajahnya.
...........
Tak lama kemudian, sang pedagang budak datang ke arah mereka lalu berkata, "Mohon maaf tuan... tadi saya mendengar sesuatu dari sini, apakah mereka melakukan sesuatu kepada anda tuan?" Tersenyum ramah kepada Danilo, Sebas dan Misha lalu menatap sinis pada budak yang tunduk ketakutan di sampingnya.
"Hei... dasar brengs*k! apakah kalian melakukan sesuatu kepada pelanggan ku? hah?!" Bentak si pedagang budak itu, menggertak cambuk rotan kearah mereka.
Lantas para budak ciut ketakutan, gemetar dalam diam dan hanya bisa menundukkan kepala mereka.
"Haha~ tidak... tidak tuan, mereka tidak melakukan apa-apa, mungkin anda salah dengar..." Terang Sebas, dengan senyuman paksa diiringi rasa kesal dari lubuk hatinya.
"Oh begitu yah... Haha~ jadi, bagaimana tuan? apakah sudah ada yang ingin anda beli?"
Jari telunjuk Misha seketika mengarah kepada Ilyasa yang berdiri di depannya.
"Aku— tuanku... ingin membeli yang satu ini." Ujar Misha, lalu menatap Danilo dengan senyuman jahat.
"Haha~ ya benar, aku mau yang itu.... Kira-kira berapa yah pak?" Tanya Danilo dengan raut wajah terpaksa.
"Oh terimakasih banyak tuan!" Ucapnya teriak kegirangan, kemudian melirik bocah Ilyasa, "Hmm~ anak itu harganya sembilan koin emas." Tegasnya, memasang senyuman penuh kebohongan.
...Hah?! Sembilan keping emas...? Tunggu dulu... ini tidak wajar....
...Harga bahan pokok kisaran puluhan keping perak, menurut konvensi mata uang yang pernah aku baca, seharusnya properti seperti budak dihargai sekitar sembilan puluh atau lima keping emas bila kualitasnya bagus....
...Tetapi ini......
...Dasar penipu brengs*k....
...Pikir Misha dalam benaknya, memandang sinis pedangan licik di depannya....
"Eh?! hah~ baiklah..." Kaget Danilo, lalu meraba-raba saku pakaiannya, "Eh?! kok... tidak ada?!" Ucapnya dengan pelan, kepanikan tergambar diwajahnya.
Danilo baru sadar bila dirinya selama ini tidak membawa uang sama sekali, sejak dia dirawat di rumah Hans, segala keperluannya hanya diantarkan melalui Sebas yang sekali-kali menjenguk dirinya.
Misha kemudian berjalan mendekati si penjual budak tersebut sambil berucap, "Hei tuan pedagang, saya harap anda tidak membodohi tuan saya seperti ini... harga budak mana ada sampai sembilan koin emas! ditambah lagi ini hanyalah budak bocah kurus yang tidak diberi makan."
Mendengar ucapan pangeran, si pedagang budak tersebut seketika panik. Mengetahui bahwa tipu muslihatnya terbongkar oleh seorang anak kecil.
Lantas dengan ekspresi menyembunyikan kebohongannya itu, dia menjawab, "Eh... maaf tuan, tetapi anak ini— ya! anak ini spesial loh, dia memiliki keterampilan dalam permainan ranjang, sudah sepantasnya harganya seperti itu."
Dalam upaya menipu Misha dan lainnya, si pedagang kemudian menegaskan kembali, "Tetapi... bila tuan anda merasa keberatan, saya akan turunkan harganya menjadi lima koin emas! tetapi... ada syaratnya."
"Apa itu?" Tanya Misha, mencoba menilai tindak tanduk ekspresinya.
"Tuan harus menjadi pelanggan setia saya!" Ucapnya dengan senyuman licik.
"Hah~ baiklah!" Balas Misha, dengan nafas pasrah.
...Lagian mana mungkin aku akan membeli di tempatmu lagi brengs*k....
...Cibir Misha dalam hatinya....
"Jadi, bagaimana tuan? apakah anda setuju?" Tawar si pedagang yang menatap wajah Danilo.
Dalam transaksi panjang tersebut, Danilo malah terlihat lesu. Takut mengecewakan pangeran Misha, lantas dirinya mengambil anting-anting yang tertancap di telinganya, lalu menyerahkan kedua kepingan ating tersebut kepada si pedagang.
__ADS_1
"Eh... aku lupa membawa uangnya, jadi... bisakah aku membayarnya dengan ini?" Tawar Danilo, tidak berani menatap wajah Misha.
...Hah?! Tidak bawa uang....? Astaga, iya juga yah....
...Seorang bangsawan yang kelihatan sebelah lengannya, bersama pangeran miskin dan pelayan tua yang membawa sepuluh koin perak....
...Hah~...
...Kenapa aku melupakan hal seperti itu, lagian juga aku tidak menduga akan sampai ke tempat seperti ini....
...Sesal Misha dalam batinnya sembari menghembuskan nafas resah....
"Eh? Anting-anting... Permisi, saya cek dulu tuan." Ucap si pedagang, kaget sekaligus kecewa dengan transaksi yang terjadi.
Si pedagang tersebut mengamati anting-anting itu dengan seksama, sebuah anting-anting dengan kepingan kristal merah sebagai aksesorisnya. Sontak beberapa saat kemudian, Mata si pedagang melebar, ia tertegun kagum karena mendapati sebuah anting-anting yang merupakan jenis artefak sihir.
*Hei... hei... Tuan bangsawan ini... bukankah orang biasa! aku tau itu dari benda yang ia miliki ini.
Mengapa dia dengan mudahnya memberikan sebuah artefak kelas menengah dengan harga seorang budak kurus kerempeng?! Apakah dia kuat di kekaisaran?! yang menyamar....
Tunggu dulu— kalau dipikir-pikir, bangsawan ini bisa dijadikan ladang Bisnisku!!! Hahaha*~
...Pikir si pedagang licik dalam benaknya....
Tak lama kemudian, si pedagang malah memberikan anting-anting tersebut kepada Danilo, raut wajah kecewa sengaja di tunjukkan olehnya.
"Hah?! kenapa? apakah dengan ini tidak sesuai juga? kau tau benda ini kan?!" Protes Danilo, mengira bahwa si pedagang menolak tawarannya.
"Mohon maaf tuan, justru karena benda inilah saya mengembalikannya kepada anda." Ucap si pedagang dengan tampang seolah-olah menghargai tawaran Danilo.
"Tetapi anda tidak perlu khawatir... untuk saat ini saya berikan anak itu pada anda tuan!" Raut wajah kebahagiaan tiba-tiba muncul di wajahnya.
"Hah...?" Ucap Danilo, Sebas dan pangeran Misha. Terkejut mendengar pernyataan barusan.
"Ya! Gratis...!" Tegas si pedagang.
...Alah... gratis matamu! kau pasti menginginkan sesuatu bukan....
...Cibir Misha dalam hatinya dengan rasa kesal....
"Kenapa begitu—" Pertanyaan Danilo tiba-tiba dipotong oleh Misha yang seketika berkata.
"Oh begitu yah tuan! terimakasih banyak yah... kami tentu akan mengingatkan kebaikan anda, tuanku adalah orang yang memiliki posisi tinggi, di kemudian hari nanti kami akan berkunjung kembali!" Ujar Misha dengan nada sombong, mengucapkan omong kosong seperti posisi tinggi.
Mendengar ucapan Misha barusan, si pedagang malah kegirangan sejadi-jadinya. Pancaran Kilauan koin emas bersinar dari matanya.
...Kan... mata penilaianku tidak pernah salah!...
...Batin si pedagang, tergiur dalam bayang-bayang akan keuntungan yang lebih besar di kemudian hari....
"Oh begitu yah... hehe~ tidak masalah. Nah! baiklah, agar transaksi ini berjalan lancar, mari kita tandatangani kontrak kepemilikannya tuan." Ucap si pedagang dengan raut wajah riang gembiranya, lalu menggiring mereka bertiga masuk ke dalam tendanya.
Disaat mereka hendak masuk ke dalam tenda, Misha tiba-tiba berhenti dan berbalik arah mendekati Ilyasa.
"Hallo iyla— Ilyasa! Apakah kau sudah siap untuk terbang?" Ujar Misha, melontarkan metafora kebebasan kepada anak malang itu.
"Terbang...?"
Tidak lama setelah dari pengurusan berkasnya, Misha, Sebas, Danilo dan Ilyasa si anak muda yang dikekang belenggu rantai, pergi dari tempat itu dengan diakhiri lambaian tangan si pedagang licik dari kejauhan.
Sepasang sayap telah terpasang di punggungnya, hendak terbang bebas di angkasa tanpa belenggu rantai perbudakan. Tetapi...
Apakah benar demikian...?
__ADS_1
Gambar ilustrasi, seorang putra Count yang mengalami malapetaka perbudakan semasa hidupnya.
...******...