The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 36 : Konstelasi


__ADS_3

"Bagaimana bisa dia menggunakan sihir tanpa rapalan?"


Danilo sangat teramat kebingungan, rentetan pertanyaan terus muncul dari dalam benaknya, karena saat ini dia baru saja melihat suatu kejanggalan. Lantas dirinyapun seketika hendak menjelaskan sesuatu kepada mereka.


...........


Sejak berabad-abad lamanya, manusia berdarah bangsawan dapat menggunakan sihir karena berkat dari para dewa langit. Sihir akan muncul bila seseorang mengucapkan rapalan mantra yang sudah ditentukan dalam catatan buku sihir.


Dalam literatur kuno beserta catatan ayat-ayat kitab suci, mereka yang mampu menciptakan sihir tanpa rapalan hanya ada dua kemungkinan. Antara mereka adalah jelmaan dewa, atau jelmaan iblis.


Pernah suatu ketika muncul seseorang yang dapat menggunakan sihir tanpa rapalan, akan tetapi orang itu malah dituduh oleh agama sebagai jelmaan roh iblis, dan dia dihukum dengan dibakar hidup-hidup, tanpa memastikan kebenarannya.


"Jadi, kesimpulannya adalah... anak ini bisa jadi jelmaan iblis atau jelmaan dewa," Ujar Danilo setelah menjelaskan panjang lebar.


"Halah...! untuk apa kau percaya kepada omong kosong seperti itu, tidak perlu khawatir. Selama dia tidak menunjukkannya di depan publik maka semua aman-aman saja." Balas Misha dengan santainya, menghiraukan penjelasan tidak masuk akal dari Danilo.


Beberapa saat Danilo sempat merasa cemas, namun karena sudah terbiasa dengan segala keputusan pangeran, maka dia pasrah sekaligus mempercayai bahwa semua akan baik-baik saja.


"Tuanku... apakah benar aku adalah iblis? dan... akan dibakar...?" Tanya Ilyasa, disertai ekspresi kesedihan yang seperti ingin menangis.


"tidak apa-apa, tenanglah... kan ada aku," ucap Misha yang membujuk raut kesedihannya itu.


...........


Singkat cerita, mereka menyudahi proses belajar mengajar. Mereka duduk di ruang tamu dan berbincang-bincang dalam waktu singkat. Kemudian Misha dan Danilo beranjak pergi dari kediaman tersebut, diakhiri dengan lambaian tangan Ilyasa dari depan pintu rumah.


Hari telah menjelang sore hari, langit kemerahan telah menyingsing dari arah barat. Misha sudah berada di dalam istana dengan Danilo yang mengantarkan kepulangannya.


"Kabari aku bila sudah ada balasan dari katedral," Pesan terakhir Misha kepada Danilo.


"Baik tuan," balas Danilo, di depan koridor istana lalu beranjak pergi dari tempat itu.


........


...Rencanaku masih terlampau jauh, ini bukanlah permulaan, melainkan persiapan....


...aku tidak memiliki cukup bidak untuk dikerahkan....


...Secepatnya...! aku harus mendekati orang yang paling berpengaruh di negara ini....


...Batin Misha, merasa kesal dan marah akan kelemahan dirinya....


...*****...


Sesampai ia di kamarnya, dirinya disambut oleh kedua pelayannya yang bernama Galina dan Winna. Lantas mereka berdua kaget melihat kedatangan Misha dari balik pintu kamar.


Tiba-tiba Galina bertanya, "pangeran...? anda dari mana? dan mengapa anda hanya sendirian saja, dimana tuan Sebas?"


Misha menjawab dengan mengarang sebuah cerita sambil memasang wajah polosnya, "aku dari tadi bermain sama kak Aliyah kok, mana aku tau Sebas ada dimana."


...........


Singkat cerita Misha hendak membersihkan debu dan kotoran serta bau keringat di tubuhnya. Dimandikan lah dia di dalam air hangat oleh kedua pelayan cantik itu. Selepas dari situ, dirinya sudah dibasuh dan dipakaikan piyama, seluruh tubuhnya merasa segar bugar, lalu dia didandani sampai terlihat cantik namun sangat norak baginya.


Misha hendak menunggu datangnya langit malam, tetapi untuk melepas rasa bosannya, dia duduk diatas kasur tidurnya, bersandar di bantalan empuk itu seraya membuka lembaran buku bacaan yang tergeletak di atas meja.


Sebuah buku sederhana yang menceritakan tentang kisah dongeng seorang pahlawan suci yang mengalahkan para iblis tiga ribu tahun yang lalu.


...Dari hatinya Misha bergumam....


...Baiklah......


...Mari kita nikmati mitos leluhur dunia ini....


.........


Misha terus membaca hingga lembaran halaman ke dua puluh, hampir setengah dari tebal buku itu. Tidak terasa hari sudah menjelang malam, kedua pelayan itu menutup jendela pintu kamar yang sempat memancarkan terangnya cahaya rembulan.


...Dalam batin kedua pelayan itu berkata....

__ADS_1


...Apakah pangeran sudah bisa membaca...? Hmm~ aku tidak tau soal itu....


Tak lama kemudian kedua pelayannya hendak berpamitan pergi entah kemana. Lantas keduanya meminta izin kepada pangeran.


"Pangeran, ehh... kami pamit dulu yah, selamat malam pangeran." Pungkas Galina, keluar bersama Winna serta menutup pintu kamar.


........


Kejadian beberapa hari yang lalu, sebelum Misha keluar istana untuk pertama kalinya.


"Sebas, dimana kau sembunyikan kertas penelitianku? maksudnya, lukisan-lukisan yang aku buat?" Tanya Misha, duduk di dalam perpustakaan sambil menyeruput teh hangat.


"Saya menaruhnya di bawah karpet tuan muda, tepat dibawah kasur tidur anda," jawab Sebas.


Dengan mengingat letak kertas-kertas itu disembunyikan, lantas pangeran mencari-cari keberadaan dari penelitiannya itu. Dia membungkuk kebawah, sambil mengangkat lipatan karpet dan berhasil menemukannya. Sebuah tumpukan kertas dengan sebotol tinta pena yang dibungkus dalam kain hitam.


...Baiklah, saatnya meneliti....


...Batin Misha, dengan penuh semangat besar. Kemudian dia mengunci pintu kamarnya agar tidak ada satupun orang yang menganggu kesenangannya itu....


.......


Kembali mengamati pola-pola rumit yang sempat ia gambar. Satu hal yang ia ketahui tentang langit di dunia ini, yaitu sampai sekarang dia tidak menemukan sebuah rasi bintang yang pernah dipelajarinya di kehidupan sebelumnya.


Misha pernah sempat membaca tentang ilmu astrologi, kebanyakan isinya hanya membahas soal ramalan dari bintang-bintang yang merupakan manifestasi bentuk dewa di langit.


...Aku pikir astrologi yang dimaksud adalah pola rasi bintang yang dihubungkan pada setiap titik, namun menurut buku yang aku baca, mereka mengartikan ramalan mistis dengan satu bintang tunggal, bukan sebuah rasi yang dihubungkan hingga membentuk gambar hewan atau apapun....


Pikir Misha dari benaknya, kepalanya dipenuhi ilustrasi ribuan kertas buku disertai langit-langit malam yang indah.


Misha kembali membuka jendela kamarnya, lagi dan lagi terhanyut akan dahsyatnya cahaya bintang malam yang tidak berhenti menghipnotis dirinya.


Dengan menarik sebuah meja, memindahkan barang-barang diatas meja itu lalu menumpuknya dengan lembaran kertas penelitian.


...Aah~ sebenarnya aku ini ada di planet mana?...


Misha kemudian mengambil pena bulu burung, mencelupkan ujungnya ke dalam botol tinta dan kembali melukis sebuah rasi bintang disertai rumus-rumus perhitungan jarak yang amat sangat rumit.


Dalam hatinya ia menginginkan keberadaan alat yang bernama teleskop, merasa resah dengan zaman dan peradaban kuno yang menghalangi dirinya untuk terbang lebih jauh ke angkasa.


...Spektrum cahaya sulit diamati lewat mata telanjang, mungkin aku hanya akan meneliti sebuah bintang yang paling terang....


...Pasrah Misha di dalam benaknya....


langit malam pada saat ini belum menampakkan gugusan galaksi andromeda, hamparan bintang itu baru akan muncul pada tengah malam, dan saat ini dia tiba-tiba menemukan bintang pertama yang menarik perhatiannya.


sebuah bintang yang paling terang diantara ribuan bintang, bercahaya putih kebiruan ditemani satu bintang redup di sampingnya. Tentu saja hal itu langsung membangkitkan detakan jantung rasa kagum dari anak itu.


...Ketika melihat bintang yang paling bersinar terang, Misha tiba-tiba memikirkan....


...Bintang apa itu? seperti kembaran Sirius beradik....


...Jangan-jangan, itu benar-benar Sirius?...


...haha~...


...Tidak... tidak mungkin. Walaupun sangat redup, kembaran Katai putih sirius tidak bisa dilihat dengan mata telanjang....


...Lantas bintang apakah itu?...


Pertanyaannya tidak kunjung mendapat jawaban, hanya menjadi sebuah misteri di luasnya alam semesta. Tak lama kemudian, ia memutuskan untuk memberi nama bintang itu dengan sebuah sebutan yang seketika terlintas di benaknya.


"Cassini... kuberi kau nama seorang ilmuan besar dari Italia! berbanggalah wahai bintang, karena meminjam namanya!" Gumam Misha, dengan mata yang terbuka lebar, senyuman yang terbuka lebar dan hati yang terbuka lebar. Merasakan sensasi nostalgia yang melintas di hatinya.


Misha memberi julukan dari satu persatu bintang yang ia temui. Dia terus berusaha menyelaraskan pola konstelasi, akan tetapi masih belum menemukan pola yang ia kenali. Sampai suatu ketika, tidak jauh dari bintang bernama Cassini, dia menemukan sebuah gugusan bintang dengan pola konstelasi yang seperti tidak asing baginya.


Sebuah deretan tiga bintang sejajar yang dikurung oleh lima bintang lainnya, jika dilihat pola itu mirip sebuah lipatan kertas. Akan tetapi deretan ketiga bintang itu tiba-tiba membuat Misha mengingat akan sesuatu.


...Langit selalu sama dimanapun kita berada....

__ADS_1


...Akan tetapi itu adalah kesimpulan dari penduduk planet bumi, lantas bagaimana dengan penglihatan seseorang dari planet lain? Tentu akan berbeda....


.............


...Deretan tiga bintang yang dikurung oleh lima bintang lainnya......


Setelah menyadari ketiga deretan bintang, Misha dengan terburu-buru langsung mengambil penanya, mencelupkan ke botol tinta dengan sangat cepat, sampai-sampai botol tinta itu tertuang di atas meja. Sempat merasa jengkel namun ia tidak memperdulikannya, ia terus menggambar dengan menghubungkannya setiap titik. Dalam wajah keseriusannya itu, tiba-tiba keringat dari dahinya menetes jatuh kebawah, sehingga membuat tinta hitam di atas kertas menjadi pudar karena dibasahi setetes keringatnya.


Menggambarkan sebuah pola geometri kemudian menyusunnya hingga beberapa salinan, menggunakan berbagai macam rumus matematis hingga dirinya berhasil mencapai sebuah kesimpulan akhir dari penelitian pertamanya.


...Dengan tawa puas yang terlukis diwajahnya, Misha kemudian berkata....


"Ini dia...! aku— aku.... aku tidak menyangka!" Seru Misha, ucapannya terbata-bata disertai tatapan kegirangan kala menatap hasil gambarnya itu.


"Orion...! oh sayangku, aku berhasil menemukanmu di tempat ini!" Gumam Misha, dengan bibir yang gemetaran dan bermandikan keringat dingin.


Misha tiba-tiba melompat-lompat kegirangan, rasa yang teramat sangat senang saat ini dirasakan olehnya. Dari dalam batinnya dia seakan-akan sedang berteriak sangat kencang.


...Aaahhh....!!! ahh....!! Senangnya diriku ini, aku tidak menyangka konstelasi orion bisa dilihat dari planet ini....


...Walaupun bentuknya sedikit lain, namun aku sangat yakin! bila dilihat dari sisi yang berbeda pula, maka aku akan menemukan letak planet bumi....


.........


Misha tiba-tiba membalik badannya ke arah pintu kamar lalu menunjuk dengan jari telunjuknya seraya berkata, "Di sebelah sana! pasti ada di bagian sana!"


...Tinggal sedikit lagi, sedikit lagi aku bisa bertemu denganmu! tentu menjadi sebuah kemustahilan bagiku untuk pulang, aku tidak berharap tentang itu....


...Karena mana bisa aku sampai kesana......


...Tapi aku sungguh sangat ingin melihat kalian dari jauh, di sebuah tempat antah berantah yang tidak seorang mengenali seseorang bernama Lazor....


...Ungkapan batin Misha, dalam senangnya dirinya yang terbawa ke dalam arus ruang angkasa....


Ekspresi yang riang gembira, detak jantung yang tidak pernah berhenti berdegup kencang, bergema di dalam tubuhnya seperti suara ketukan kaki kuda. Keringat terus menerus membasahi kulitnya, senyuman kegembiraan yang tidak pernah pudar dan getaran tubuh yang tidak bisa berhenti.


Disaat ia terbawa dalam arus kekagumannya, seketika itu berbunyi suara ketukan pintu kamar dari luar.


Tok... tok... tok...


Suara ketukan pintu yang tiba-tiba terdengar.


"Tuan muda? apakah anda ada di dalam?" Panggil seseorang dengan suara serak, seperti seseorang yang sudah berusia puluhan tahun.


Karena pintu saat itu terkunci, orang itu hanya bisa memanggil dari luar kamar dan berdiri di koridor sampai Misha akan membukanya.


usut punya usut Misha ternyata mengenali suara tersebut. Saat itu juga ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah menjadi datar, sebuah rasa jengkel muncul dari hatinya.


"Sebas? apakah kau itu?" Tanya Misha.


"Iya tuan muda ini aku, Sebas." Jawab sebas.


..........


...Kan... sudah kuduga, tch..! menganggu saja....


...Kesal Misha dalam batinnya....


Misha tiba-tiba menghembuskan nafas lelah, saat ini dia merasa kesenangannya telah diganggu. Dengan wajah lesunya ia terpaksa beranjak ke depan pintu, kemudian membuka pintu kamar tersebut.


...............



Ilustrasi konstelasi orion di langit planet misterius, selembar kertas dipegang Misha yang menggambarkan hasil lukisan rasi bintang, kemudian dikomparasikan dengan konstelasi orion yang ada di planet bumi.


Noda bercak tinta hitam di sudut kanan kertas bawah adalah hasil dari tumpahan tinta, kemudian di langit ujung sebelah kanan adalah dua bintang biner yang dinamai Cassini.


...******...

__ADS_1


__ADS_2