The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 40 : Amarah halilintar


__ADS_3

Syuuuhh~


Hembusan suara angin yang menerpa dedaunan pohon yang rindang, hijau serta mengeluarkan aroma sejuk di cerahnya pagi hari ini.


Tatkala sinar mentari menyingsing dari cakrawala timur, lalu menghamparkan cahayanya sampai ke daratan. Menerangi tembok-tembok batu dari suatu bangunan tinggi nan megah.


Saat ini sang cahaya mentari telah menyinari wajah tampan seorang anak dengan nama Ilyasa. Dirinya kerap kali menatap sang matahari, namun terlalu silau untuk dilihat, sehingga pandangannya memutih disertai rasa pusing yang terngiang di telinganya.


Anak muda itu berdiri di tengah-tengah tanah lapang yang dikelilingi bangunan megah, berdiri ditemani sebuah buku yang tergeletak diatas tanah. Buku itu terbuka, sehingga angin meniup satu-persatu lembaran kertas buku, menggesernya dengan hembusan angin sampai suatu ketika angin itu berhenti bertiup.


Semuanya kala itu hening, tak ada angin dan tak ada suara gemericik ranting pohon. Sedangkan lembaran terakhir dari buku itu menampilkan sebuah lukisan petir yang menyambar daratan. Disamping lukisan itu, ada barisan tulisan-tulisan aneh bagaikan aksara kiril yang bila diartikan maka akan bermakna, turunnya halilintar.


Ilyasa merentangkan tangannya ke depan, jari-jemari telapak tangannya terbuka lebar dalam upaya menutup cahaya mentari agar tidak lagi mengacaukan penglihatannya.


Lantas bergeraklah bibir anak itu seperti sedang mengucapkan sesuatu. Diam dalam konsentrasi yang hakiki, serta memejamkan mata hijaunya itu.


..............


"Wahai petir, datanglah kepadaku atas nama dewa langit. Aku memujamu serta menasbihkan dirimu, untuk membantuku lewat perantara tangan tuhan."


Dalam cerahnya hari pagi, tiba-tiba kumpulan awan putih berkerumun diatas anak yang mengucapkan mantra sihir. Bersatu padu lah awan itu hingga merubah ciri khas cerahnya pagi ini menjadi suram dan gelapnya awan hitam yang telah bersatu seperti bongkahan es padat. Dan dia telah mengeluarkan suara gesekan, hingga terdengar gemuruh guntur yang menyeramkan.


Geledar...!!!


Sebuah kilatan cahaya biru yang terang ternyata benar-benar turun ke daratan. Muncul dalam sekali Sambaran dengan waktu sepersekian detik.


Namun naasnya, sang halilintar malah menyambar seorang anak manusia. Akibatnya anak itu langsung gosong seketika, kesadaran tidak nampak dari diri anak itu, terdiam mematung dalam kondisi berdiri dengan mata yang memutih bagaikan jiwa telah terangkat ke langit.


"Tu—an... ku, Misha... to— long...." Desis seorang anak dengan pita suara serak.


Bruk...!


Maka terjatuh lah anak itu, terkapar diatas lantai batu yang ikut hangus dengan bercak arang hitam sang halilintar.


...******...


Di sebuah tempat yang tersembunyi diantara megahnya bangunan kota abad pertengahan, di tempat yang merupakan sebuah bar yang suram, tak ada pembeli yang duduk disana, yang ada hanya kumpulan rayap yang mengerat balok-balok kayu secara cuma-cuma.


Saking suramnya bar itu, bahkan cahaya pun takut berada di sana. Dipenuhi sarang laba-laba dan debu yang berhamburan diantara gelas-gelas kaca yang usang.


Di dalam bar tersebut, ada sebuah ruangan lain yang sama buruknya. Apalagi ruangan tersebut baru saja kehilangan pintu masuknya karena amarah seorang pria. Lantai yang terbuat dari susunan papan lapuk dengan patahan pintu yang hancur berserakan diatas lantai.


Atas dasar kecemasan, kekhawatiran dan kemarahan, pria itu berteriak. "Tasya...?! apakah kau baik-baik saja?!"


Dari leher sampai dahi, terlihat sebuah lekukan urat yang mengeras, mirip seperti sambaran petir tadi. Sebuah tanda dari emosi yang meluap-luap.


"Tenangkan dirimu Ludwig...!!!" Teriakan bernada tinggi, kemudian perlahan berubah menjadi nada rendah yang menenangkan, "tenang! tenang.... Semuanya baik-baik saja, yah..?" bujuk Tasya, seorang wanita yang dilumuri kecemasan.


Lantas Ludwig si pria berjanggut hitam brewok menatap seorang anak kecil dengan tatapan penuh waspada. Alisnya menekuk kebawah, rahangnya mengeras, namun jantungnya berdetak ciut ketakutan. Seolah-olah nyalinya tidak mampu menghadapi hawa ganas seorang anak kecil.


Sekilas Ludwig sempat berpikir untuk langsung menyerang anak itu, dengan dalih melindungi dirinya dan Tasya dari hawa mencekam yang dipancarkan oleh anak kecil. Akan tetapi, niat itu ditahan oleh kebimbangan di hatinya.


Sedangkan anak itu, dalam artian seorang pangeran Misha yang merasa terpojokkan, juga menyiapkan sebuah benteng perlindungan diri. Misha telah memunculkan gelembung hitam yang disembunyikan di telapak tangan kirinya, dan bisa kapan saja dihempaskan kepada mereka berdua.

__ADS_1


"Jadi, apa maksud dari semua ini? Tasya." Tanya Misha, dengan melebarnya bola mata emas yang dibalut dengan ancaman.


"Saya tau bila anda merasa aneh dengan situasi ini, tapi tolong...! tolong dengarkan dulu penjelasan saya, yah..?" bujuk Tasya kepada pangeran Misha, diiringi nafas tak beraturan.


...Yah benar juga... Tidak ada salahnya mendengarkan terlebih dahulu penjelasan mereka....


...Akhir-akhir ini entah mengapa aku sering mengikuti naluriku, seolah-olah diri ini bukanlah Lazor yang biasanya....


...Tapi, bila kutemui kebusukan di hati mereka berdua, maka saat itu juga naluri ini akan ku lepaskan....


...Batin pangeran Misha, dengan melihat situasi yang terjadi di depan mata....


..........


"Ludwig, duduklah terlebih dahulu.... Mari bicarakan semuanya baik-baik." Terang Tasya, menenangkan emosi yang bersemayam di hati Ludwig.


...Toh pada akhirnya kamu akan tunduk pada anak ini....


...Lintas benak Tasya, seolah-olah telah menduga alur jalannya kejadian....


Saat ini Ludwig si pria berwatak paruh baya itu mulai merasakan ketenangan di lubuk hatinya, walaupun perasaan itu hanya secuil. Namun sama halnya dengan pangeran, dia lebih memilih untuk tenang dan menuruti arahan dari rekannya Tasya.


Ludwig menarik sebuah kursi kayu yang bersandar di dinding kayu lapuk. Dirinya hendak duduk bicara secara baik-baik, maka didekatkan lah kursi duduk itu di samping meja kedua orang itu, kemudian duduk diatasnya sambil melirik kiri kanan wajah Tasya dan pangeran.


"Baiklah karena semuanya sudah terlihat tenang, maka izinkanlah saya memperkenalkan diri terlebih dahulu." Ucap Tasya, yang seketika itu langsung berdiri sambil menggeser kursinya ke belakang.


Tasya tiba-tiba memperagakan pose salam hormat. Kedua jari-jemarinya tangannya mengangkat sepucuk jubah putih yang ia kenakan, lalu sebelah kakinya menekuk turun kebawah serta kepala yang ditundukkan di hadapan pangeran Misha.


"Mohon izin tuan. Perkenalkan, hamba bernama Tasya Frisianvlek, dan hamba merupakan salah satu prajurit terakhir dari kerajaan Velian," ungkap Tasya dalam tunduk hormatnya sembari memejamkan mata.


...........


...Kerajaan Velian...? tentara? hei tunggu dulu... Sebas juga berasal dari sana, dan... bukanya kerajaan itu sudah lama runtuh? aku pernah membacanya di buku catatan sejarah....


.........


"Hei apa-apaan ini...!!! sebenarnya siapa bocah ini sampai-sampai kau mengatakan hal sepenting itu kepadanya?!" protes Ludwig dengan nada tinggi, sambil membentak meja di depannya.


Mendengar tidak terimanya Ludwig atas pernyataannya barusan, Tasya kemudian merubah pose hormatnya kepada pangeran, lalu berdiri lagi dengan tatapan sedikit jengkel kepada Ludwig.


"Kan sudah kukatakan~ tenangkan dirimu, tenangkan dirimu, nanti akan ku jelaskan." Terang Tasya menghembuskan nafas resah, dengan kalimat yang dipaksa diperhalus olehnya.


"Hah...?!" terperangah dengan pikiran tak karuan, "Baiklah~" hanya bisa pasrah, lalu terduduk kembali sambil menyilangkan kedua lengannya di dada.


............


"Kerajaan Velian..." ucap Misha seperti sedang berpikir, "bukankah negeri itu sudah runtuh dua puluh tahun yang lalu?"


"Benar tuan—" penjelasan Tasya terhenti seketika.


"Iya, dua puluh tahun lalu kami diserang oleh negara tetangga, kesultanan Mediah—" sosor Ludwig dengan santainya memotong penjelasan Tasya.


"Halah~ aku juga tau itu, maksudku... bagaimana orang seperti kalian bisa ada di negara ini?" potong Misha, yang menunjukkan eskpresi sedikit jengkel kepada Ludwig.

__ADS_1


"Hah..?! ini baru akan dijelaskan bocah brengs*k!" geram Ludwig, tidak terima dengan sifat kedongkolan pangeran.


Terlihat kedua keningnya menekan kebawah dan sebelah keningnya bergetar, menampilkan senyuman paksa disertai sudut mulut yang juga bergetar. Seperti sedang menahan emosi atas cacian Ludwig barusan.


...Apakah om-om kepar*t ini ingin cari ribut denganku....


...Kesal Misha dalam batinnya....


Tasya yang menyaksikan tensi perbincangan kedua orang itu, seketika mengambil nafas panjang dan hendak meluapkan sesuatu.


"Ludwig...! jaga mulutmu! sudah kubilang tenang, tenang dan tenang tapi kau masih saja seperti itu! huft... huft.... " Bentak Tasya, naik pitam karena Ludwig yang tidak bisa diam.


"Hah...?! bocah ini yang mulai duluan—"


Belum sempat Ludwig menjelaskan, dirinya disambut dengan tatapan tajam seorang wanita pendiam yang jarang menampakkan kemarahannya.


...Hei... hei, aku tidak pernah melihat Tasya bisa semarah ini karena persoalan seorang bocah......


Batin Ludwig yang merasa ngeri atas luapan kemarahan Tasya, kemudian terdiam kembali dalam duduknya dan berniat untuk tidak bicara lagi. Walau begitu tatapan was-was kepada Misha terus ditunjukkan olehnya.


"Huft~ Karena dari tadi kau tidak bisa diam, sekarang akan aku jelaskan siapa sebenarnya anak ini," ucap Tasya yang kembali tenang, diawali hembusan keresahannya.


Bola mata Ludwig melirik sedikit ke arah Tasya, memastikan apakah dia masih marah atau tidak. Kepenasaranan dirinya pada seorang bocah itu sedari tadi meluap-luap, dalam benaknya Ludwig berniat.


...Entah kau siapa bocah tengik, setelah dari sini akan ku penggal kepalamu....


...........


.........


........


"Beliau ini adalah pangeran ke empat dari kekaisaran Astria, Misha De Astrana. Yap, benar... kau tau maksudnya kan?" Pungkas Anna, menatap Ludwig dengan tatapan penuh risau.


Ludwig yang mendengar pernyataan barusan hanya bisa tersentak dalam diam, mematung dalam senyap dan tercengang dengan mulut yang terperangah lebar. Tak habis pikir akan segalanya, seolah-olah dirinya telah melakukan kesalahan besar.


...Tasya tidak pernah bercanda, apalagi berbohong....


...Ya tuhan, sebenarnya apa yang terjadi saat ini....


...Menolak kenyataan yang ada, Ludwig terus mematung seperti itu beberapa detik lamanya....


..............



Ilustrasi sosok Ludwig, seorang pria emosi tinggi yang memiliki watak sangar. Dirinya merupakan seorang pemilik bar tua di suatu gang sempit.


Berbadan tinggi besar dengan otot-otot yang kekar, bermata agak sipit, hidung tinggi, kulit sawo matang dan janggut brewok yang menjadi ciri khas orang ini.


...******...


...----------------------------------------------------------------...

__ADS_1


Catatan singkat dari penulis :


Mohon dukungannya wahai para pembaca novel ini, saya selama ini tidak pernah mengharapkan like dari orang-orang. Namun, bila anda sangat menikmati novel ini, bisakah anda membantu saya hanya dengan menekan tombol like? niscaya hal tersebut sudah menjadi kesenangan tersendiri bagi saya... sekian, terimakasih.


__ADS_2