
"Luka, pegang tangannya erat-erat." Ujar seorang gadis kecil, menyeringai licik.
"Siap kak!" Sahut pangeran luka, dengan kelicikan serupa.
Wajah dari gadis itu terlihat buram, rambutnya di kuncir dua dengan corak hitam kemerahan. Si gadis kecil terlihat memegang sebuah mangkuk berisikan cairan yang menjijikan, penuh kotoran dengan lalar yang berterbangan.
Sedangkan di depan gadis itu ada Misha yang terlihat sangat ketakutan, secara paksa tangannya ditahan menyilang ke belakang oleh Luka yang terlihat sangat menikmati penderitaan Misha.
Wajah Misha penuh enggan saat melihat semangkok kotoran yang dijulurkan ke mulutnya.
"Aaaa... buka mulutnya sayang."
Tangan si gadis itu menjepit rahang Misha, memaksanya untuk membuka mulut.
"Hwen–tikan... hentikan kak!" Teriak Misha, dengan nada bicara yang tertahan.
"Hahaha, ini hidangan spesial loh, soalnya aku memasaknya dengan bumbu cinta!" Ucap si gadis licik, lalu menumpahkan cairan lendir dengan bau busuk yang menyengat.
Cairan itu tertumpah di sekujur bibir hingga masuk ke tenggorokannya, Misha tak sanggup menelannya, cairan itu memenuhi kerongkongannya, meleleh bagai lahar dingin yang mengalir sampai ke bagian leher.
"Khakk— uhukk.... uku...." Misha tersedak disertai sesak nafas, cairan itu keluar dengan lendirnya dari lubang hidung. Matanya melebar, rasa mual mendobrak tenggorokannya.
"Hueek..." Misha tiba-tiba memuntahkan kotoran itu, wajahnya terlihat sangat pucat, berwarna ungu kebiruan.
"Tch! Jangan dimuntahkan sial*n! kau tau betapa susahnya kak Liliya membuatkannya untukmu." Bentak Luka, amarah melapisi wajahnya.
Luka yang kesal, sontak melayangkan tendangannya ke bagian perut Misha.
Bluk...!
"Arghh....!" Jerit Misha, menahan perih di lambungnya.
...*****...
Di dalam kamar Misha terlelap dalam tidurnya, berbaring diatas kasur dengan hembusan angin hangat yang masuk lewat jendela kamar.
Tiba-tiba, tanpa sesuatu yang menganggu, Misha tersadar dari tidurnya yang lelap.
"Whraaa...!" Terperanjat bangun sembari berteriak histeris dengan sangat keras.
"Huh... huh... huh...." Tarik dan hembus nafas lelah tak beraturan.
Getaran jantung yang berdebar, keringat membasahi pakaiannya, pikirannya campur aduk bagai senar layang yang tergulung-gulung tidak karuan.
...Dalam benaknya Misha berkata....
...Para bajing*n itu keterlaluan! Sampah menjijikan itu dimasukkan ke dalam mulut anak ini....
...Mengingat hari itu, aku tidak sanggup menahannya....
...Rasanya, seperti sup basi yang penuh lendir busuk....
Misha merasakan sensasi dalam ingatannya, seakan-akan kembali mencicipi cita rasa buruk dari pengalaman yang menyedihkan.
Tidak ingin terhanyut dalam ingatan buruknya, Misha seketika menghela nafas panjang, menghembuskannya dengan tenang dan mencoba menghapus segala keresahan di pikirannya.
.........
Track...! Suara pintu yang terbuka mendadak.
"Tuan muda?! apakah anda baik-baik saja?!" teriak Sebas, panik.
Ketika melihat kondisi pangeran kecil yang mulai tenang, rasa cemas di hati Sebas pun pudar.
"Syukurlah~ aku pikir sesuatu terjadi pada anda." Ucap Sebas, menghembus nafas leganya.
Misha menatap sebas dengan serius, kemudian bertanya, "Apakah kau tau seorang bangsawan yang tidak terikat dengan afiliasi keluarga kaisar?"
Sebas terdiam sejenak, wajahnya terlihat tidak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan.
__ADS_1
"Mohon maaf tuan muda, saya tidak begitu paham soal politik." Jawab sebas dengan raut wajah murung.
"Tetapi seseorang yang paham soal itu adalah Danilo—"
"Danilo?! Bagaimana kondisinya sekarang?!" Tanya Misha dengan tiba-tiba, nada bicara tinggi dengan raut sedikit cemas.
"Sebenarnya saya baru akan menyampaikan keadaannya pada tuan muda, kabar baiknya Danilo sekarang sudah pulih total, ia dirawat di kediaman teman saya." Jelas Sebas.
"Oh begitu yah, syukurlah kalau begitu." Ucap Misha, merasa lega.
"Kalau begitu, ayo kita jenguk dia. Aku memiliki banyak pertanyaan padanya." Ajak Misha yang seketika beranjak turun dari kasurnya.
"Akan tetapi tuan muda, anda dilarang keluar istana. Penjaga gerbang tidak akan mengizinkan kita keluar, belum lagi para pelayan itu sudah mulai curiga terhadap pergerakan anda yang sering menghilang dari kamar." Ucap Sebas, penuh khawatir.
Mendengar penjelasan Sebas, Misha seketika terdiam sesaat sambil memasang pose berpikir dengan telapak tangan kiri yang mengusap dagunya dan telapak tangan kanan yang menopang sikunya.
...Dalam ingatan anak ini aku belum pernah sekalipun keluar istana....
...ahh~ kecuali hari itu, pembabtisan di kuil keagamaan....
...selain hari itu, aku sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di luar Istana....
...Lalu bagaimana ini? apakah aku menyamar saja yah~...
...kemudian keluar secara perlahan tanpa disadari......
.........
...Dalam diamnya memikirkan, tiba-tiba Misha seketika berkata....
"Kita akan keluar diam-diam." Usulnya.
"Tetapi tuan muda, tidak ada jalan pintas untuk keluar dari tempat ini... kecuali memanjat tembok secara diam-diam, itupun sangat sulit untuk anda yang —"
Belum selesai Sebas menjelaskannya, Misha tiba-tiba memotong ucapan Sebas.
"Untuk apa tuan muda?" Tanya Sebas, dipenuhi rasa bingung.
"Tentu saja untuk penyamaran lah! kau ini bagaimana sih." Balas Misha dengan menepuk jidatnya, keresahan muncul dari raut wajahnya.
Sebas menepuk telapak tangannya dengan tersenyum tersipu malu seraya berkata, "hehe begitu yah~ ide yang bagus tuan muda!"
...Hah~ orang tua seperti ini agak lambat......
...mungkin pengaruh usia yah....
...Keluh Misha dalam batinnya....
Selepas itu Sebas dengan terburu-buru bergegas melaksanakan perintah pangeran, keluarlah dia dari dalam kamar dan pergi entah kemana.
...........
Beberapa menit telah berlalu, datanglah Sebas dari balik pintu kamar sembari memegang lipatan pakaian, berupa celana hitam panjang dan kemeja putih beserta dasi hitam. Sedangkan Misha terlihat jenuh, dia menunggu sambil bersandar di kusen jendela.
Selepas itu, Misha langsung melepaskan gaun pink norak yang dia kenakan, melemparkannya begitu saja diatas keranjang di samping meja seakan-akan merasa muak dengan pakaian tersebut.
Menghapus riasan badut di wajahnya, dengan mencuci mukanya sampai sembilan kali. Di saat air membahasi sekujur wajahnya, ekspresi jengkel terpampang jelas di balik kaca wastafel kamar mandi.
Misha kemudian memakai pakaian ala pelayan, yang menurut dia lebih layak dan lebih normal dibandingkan semua pakaian yang pernah dia kenakan di dunia ini.
...........
"Baiklah! ayo berangkat!" Ujar Misha, penuh semangat.
Lantas Misha dan pelayannya Sebas beranjak pergi keluar istana, melewati beberapa penjaga saat berjalan di koridor dan bertemu banyak orang dengan pakaian mewah yang berlalu lalang disekitar mereka. Misha hanya bisa menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya karna merasa takut bila ada yang mengenalinya.
...Dengan sedikit rasa cemas menempel di hatinya, Misha seketika berpikir dalam benaknya....
...Seingat ku anak ini jarang terlihat berkeliaran tanpa menggunakan riasan wajah kan......
__ADS_1
...Mungkin, orang-orang sulit mengenaliku, kecuali mereka yang cukup dekat denganku....
...soalnya perbedaannya terlalu jauh, aku dengan riasan dan aku tanpa riasan bagai dua pribadi yang berbeda....
...hah~...
...aku harap aman-aman saja....
...karena......
...pasti akan sangat merepotkan bila ketahuan....
...........
Sampai ketika merekapun tiba di depan gerbang istana, yaitu sebuah tembok besar dengan tinggi belasan meter yang mengelilingi istana beserta banyak bangunan besar seperti akademi sihir, dan tempat-tempat yang terlihat penting.
Mereka berdiri dari jarak tiga puluh meter dari arah gerbang, mengamati keramaian di sekelilingnya dan melihat orang-orang yang lalu lalang.
Terlihat banyak sekali prajurit bersenjata yang berjaga di sekitar gerbang. Ada yang sedang duduk dan sambil berbincang-bincang, ada yang sedang berlatih sambil mengayunkan pedangnya, ada yang sedang berdiri tegap tanpa bergerak, dan ada yang sedang memeriksa satu persatu orang yang hendak keluar dari gerbang istana.
Sebas awalnya sempat merasa ragu, takut bila pangeran Misha ketahuan saat melewati gerbang, namun setelah melihat Misha yang tanpa ragu sudah maju ke arah gerbang, Sebas seketika mengikutinya dari belakang.
Ketika Misha dan Sebas sudah dekat di pintu keluar istana, salah seorang prajurit berambut pirang dengan wajah sedikit tua mendekati sebas dengan ekspresi ramah.
"Oh! tuan Sebas? anda mau kemana hari ini?" Tanya prajurit itu, sambil merangkul pundak Sebas, memperlihatkan tampang usil.
"Ah~ aku ingin keluar sebentar untuk ber– belanja..." Jawab Sebas yang sedikit terbata-bata.
"Heh~ belanja yah... bukanya itu tugas pelayan wanita." Bisik prajurit itu, dengan mata yang menyipit, ekspresinya tampak sangat mencurigai Sebas.
Sebas terlihat sedikit panik, setetes keringat mengalir di dahinya. Namun dengan cepat ia menghapuskan rasa gugupnya.
Si prajurit kemudian menatap Misha dengan tatapan penasaran, lalu dia bertanya lagi, "Anak siapa ini?" kemudian mengamati pakaian pelayan yang dikenakan pangeran, "Oh pelayan juga toh, apakah dia anakmu?"
"Mohon maaf tuan ... aku buru-buru, anak ini sedang demam, dia keponakanku." Balas Sebas, ucapannya dengan nada bicara yang halus nan sopan.
"Haha~ baiklah, semoga tuhan menyertaimu." Ucap Azka si prajurit, dengan tawa keras sambil melambaikan tangan kepada mereka berdua.
Sebas mengandeng tangan pangeran dengan erat, berjalan menjauhi si prajurit secara terburu-buru.
Mereka berhasil melewati gerbang istana, untuk pertama kalinya Misha melihat dunia di luar tembok, sesuatu yang hanya bisa ia pandang dari jendela kamar.
...Wah... luar biasa!...
...kota peradaban......
...kira-kira seperti apa kehidupan masyarakat disini? aku tidak sabar berdiskusi dengan mereka....
Ucap Misha, yang berjalan dalam genggaman Sebas.
Menampilkan pipi merah dengan mata yang berkilauan. Melirik orang banyak yang lalu lalang di sekitar mereka.
Tiba-tiba terdengar suara keramaian dari arah depan, seolah-olah khalayak ramai sedang berkumpul di penghujung sana. Misha tiba-tiba berjalan tergesa-gesa, seperti berlari-lari kecil di sebuah jalan panjang dengan bangunan-bangunan besar di tepiannya.
Misha berjalan dan terus berjalan, sampai dirinya tiba di suatu alun-alun dengan kolam air mancur di tengahnya. tempat itu berbentuk bundar, ada banyak kedai dengan terpal warna warni berhimpitan di tepian jalan, menjual berbagai macam buah, sayuran, daging, aneka kuliner dan kerajinan tangan.
Terlihat orang-orang berkumpul disana, suara ribut membisik di telinganya, sehingga Misha mendengar suara musik jalanan, suara pedagang di kedai, suara anak-anak yang berlarian, suara pejalan kaki, suara semua orang yang berbincang-bincang.
Misha berhenti sejenak dalam kekagumannya, melepaskan genggaman tangan Sebas.
...Pasar...! Suatu tempat yang bagus untuk orang-orang bertukar pikiran....
...Ungkapnya di dalam hatinya. Tersenyum lebar dengan rasa takjub diliputi rasa semangat....
Ilustrasi tokoh Misha yang menggenakan busana pelayan.
...******...
__ADS_1