
Track...!
Suara pintu yang ditarik paksa akibat rasa kesal.
"Maaf tuan.... Apakah saya melakukan suatu kesalahan?" Tanya Sebas dengan memaksakan senyumannya serta alis yang mengerut kebawah.
Ekspresinya menjadi seperti itu karena melihat wajah pangeran Misha yang diliputi emosi tinggi.
Tiba-tiba wajah kesalnya berubah menjadi wajah lesu dengan menghembuskan nafas keresahan, lalu dirinya membalas, "Tidak, itu karena kau terlalu lama tiba."
Misha beralasan seperti itu, padahal kekesalannya ditimbulkan oleh kedatangan Sebas yang mengganggu jalannya penelitiannya tentang bintang-bintang. Karena tidak ingin membuang tenaga dengan banyak cakap, Misha kembali di depan jendela, duduk diatas kursinya dengan perasaan kegirangan yang muncul kembali.
...******...
Singkat cerita hari telah berganti pagi. Setengah malam telah dihabiskan Misha dengan meneliti kumpulan bintang, akan tetapi rasa ngantuk nya terlalu berat untuk ditahan, sehingga ia tertidur lelap hingga melewati kedatangan Andromeda dari langit barat.
Misha kembali melakukan aktivitasnya, yaitu pergi ke perpustakaan dan membaca ribuan buku. Bagi seorang ilmuan, melewatkan satu bacaan adalah hal buruk yang harus dihindari, karena dirinya merasa sangat rugi bila waktu terbuang percuma dengan hal-hal yang tidak berguna, seperti bermain boneka-boneka dengan peran bodoh yang sempat ia mainkan.
Lintas waktu pangeran telah menghabiskan kesehariannya dengan membaca buku sambil ditemani Sebas di sampingnya, telah banyak hal yang ia pelajari di dalam sana. Dari buku tentang dinamika geopolitik, ekonomi negara, masyarakat agraria, jalur perdagangan dunia, sejarah, agama dan lain sebagainya. Ada satu ilmu pengetahuan yang tidak dia temui disana, yaitu filsafat.
............
...Orang-orang di negara ini malas untuk berpikir, mereka hanyalah kumpulan kaum pragmatis yang tidak ingin pusing karena mencari tau suatu hal....
...Misteri dianggap misteri oleh mereka, sampai menjadi sebuah kepercayaan....
...Filsafat adalah konsep dasar dari segala jenis ilmu pengetahuan, dan mengapa hal sepenting itu tidak dipelajari oleh mereka atau tidak dikembangkan? sekuat itukah doktrin yang tertanam di dalam pikiran orang-orang ini....
...Ungkapan batin Misha, disaat ketika ia membaca buku-bukunya beberapa hari lalu di dalam perpustakaan negara....
Penjelajahan literasi pengetahuannya terus dilakukan selama seminggu lebih, tak terasa dia telah menjalani kehidupannya di dunia ini selama sebulan lebih sejak ia bangun dari kematian.
Hari-harinya selalu dihantui oleh gangguan bocah nakal bernama Luka, suatu ketika sebuah pertemuan tak terduga dialami oleh Misha.
...******...
Brak...! brak...! brak...!
Bunyi ketukan pintu yang digedor-gedor keras.
"Tuan! itu pangeran luka, bagaimana ini?!" peringati Sebas, panik.
Dan ternyata pangeran Misha juga ikut panik, dirinya sadar bocah seperti itu sulit untuk diajak bicara. Karena tidak ingin disiksa oleh pangeran Luka, Misha seketika berlari dan melesat masuk ke dalam kolong kasur tidurnya.
Walaupun dipenuhi debu di bawah sana, Misha terus bertahan tanpa suara, bersembunyi sambil menatap ke arah pintu kamar dari kolong kasurnya.
Track...
Sebas membuka pintu seraya memberi salam kepada pangeran Luka, "Salam sejahtera pangeran, apa ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
Sebas memaksa senyumannya, mengendalikan emosi dan ucapannya, takut bila saja dirinya salah mengucapkan sesuatu.
"Dimana Misha?!" Bentak Luka, emosi meluap-luap.
"Hamba tidak tau pangeran, tadi pagi dia pergi bermain bersama bersama...." terhenti selama tiga detik dan memikirkan sebuah alasan, "bersama Tasya si pelayan, tuan pangeran."
Bruk...! bruk...! bruk...!!
Menendang-nendang sebuah kusen pintu dengan penuh emosi tinggi.
"Kemarin aku datang, lalu dia tidak ada! kemarin-kemarin juga begitu! kau sembunyikan dimana dia?! hah...!!!" Teriak Luka, wajahnya memerah seperti api panas yang berasap-asap.
Sebas yang saat ini sedang membungkuk rendah di hadapannya ditarik rambutnya oleh Luka secara Kasar, melampiaskan kekesalannya itu kepada Sebas si pelayan.
"Hamba benar-benar tidak tau tuan, hamba berani bersumpah atas nama tuhan," Ucap Sebas dengan raut wajah dingin serta menahan luapan emosinya.
.........
...Bagus sebas! tidak sia-sia aku mengajarimu trik dalam berbohong....
...Puji Misha kepada Sebas dari dalam batinnya. Mengintip kaki pangeran luka dari kolong kasur persembunyiannya....
Beberapa hari lalu juga Misha sering menasehati Sebas yang sifatnya itu mudah panik dan tidak pandai berbohong, maka diajari lah orang tua itu dengan kalimat-kalimat untuk mengakali lawan bicaranya.
.........
Mendengar ucapan Sebas barusan, Luka seketika langsung percaya karena sebutan demi tuhan, lantas diiringi emosi dia menyerah, kemudian pergi dari tempat itu dengan melepas cengkeraman tangannya di rambut beruban Sebas.
Misha akhir-akhir ini sering memfokuskan bacaannya pada kitab suci agama di negeri ini. Menghafal ribuan ayat di dalam kepalanya, sebagai bentuk persiapan dirinya untuk mengabdi di katedral dengan nama Masha.
pada suatu hari di dalam kamarnya dengan Sebas yang setia menemani dirinya. saat itu Misha hendak beristirahat setelah meneliti bintang-bintang untuk kesekian kalinya, tiba-tiba berbunyi suara ketukan pintu kamar.
Tuk... tuk... tuk...
"Misha? ini ibu nak, apakah kamu di dalam?" Panggil seseorang dengan ucapan halus dan feminim, sebuah suara yang tidak asing di telinga pangeran.
Mendengar panggilan itu, Misha langsung paham bahwa itu adalah Permaisuri yang datang mengunjunginya untuk sekian lama, dengan sigap ia langsung mengatur letak posisi tidur dan berbaring di atas kasur serta pura-pura memejamkan matanya. Sebas yang melihat Misha sudah siap, lantas membuka pintu kamar tersebut.
Pintu telah terbuka dan sebas langsung memberi hormat dengan sambutan pujian kepada permaisuri. Sambutan sopan itu disambut balik dengan tetapan sinis, permaisuri menyuruh Sebas untuk segera pergi dari kamar ini hanya dengan lirikan mata merah menyala dari sang permaisuri.
Lantas keluarlah Sebas dari dalam kamar, kemudian masuklah permaisuri ke dalam kamar serta menutup pintu rapat-rapat lalu menguncinya.
"Bagaimana kabarmu sekarang? apakah sudah membaik?" tanya permaisuri dengan senyuman ramah, "maaf ibu akhir-akhir ini jarang bermain denganmu nak, karena ada sebuah kesibukan yang harus ibu urus," jelas permaisuri dengan raut sedih.
Dengan mengikuti alur sandiwara, Misha memasang ekspresi senang saat melihat permaisuri lalu mengganti ekspresinya lagi dengan wajah sedih seraya berkata, "Ibu... memangnya ibu kemana selama ini?"
"Ibu sibuk karena sering berdoa di kuil suci nak. Kamu tau? katedral adalah tempat bagi orang-orang berhati bersih, jadi ibu harus sering berdoa kepada tuhan untuk membersihkan hati," ungkap permaisuri dengan nada halus sambil meraba-raba legan Misha.
......Katedral?! tunggu dulu... mengapa dia kesana?! ya memang wajar untuk hari-hari kebaktian. Tetapi... bila ia menghabiskan waktu beberapa hari disana, apa yang dia lakukan.......
__ADS_1
...Pikir Misha dalam batinnya, merasa curiga bila permaisuri sedang merencanakan sesuatu....
Karena ingin menguji dugaannya itu, Misha bertanya dengan wajah polos bagaikan anak perempuan yang sangat feminim, "Apakah ibu disana setiap hari...? sampai-sampai tidak sempat bertemu dengan aku."
"Kenapa kamu bertanya begitu nak? hmm~ iya, ibu setiap hari disana, berdoa kepada tuhan agar kamu bisa terus sehat. Ih..! kamu sangat menggemaskan deh." Tersenyumlah dia sembari mendekatkan wajahnya ke arah Misha, dia merasa gemas dengan wajah polos pangeran sambil menekan ujung hidung anak itu.
...Apa yang jala*g sialan ini lakukan disana...? bukankah dia dari fraksi sayap kanan? apakah dia sedang melakukan kontak intens dengan fraksi keagamaan? astaga...! ini adalah informasi yang sangat penting....
...Kau telah salah bicara dasar lac*r....
...Serbuan pertanyaan dari batin Misha yang merasa sangat senang atas informasinya yang barusan ia dengar....
Sebuah hukum tertulis dalam undang-undang pernah mengatakan bahwa setiap fraksi bersifat independen, larangan tentang persekutuan antar faksi tertera jelas dalam undang-undang negara dan bila kedapatan akan mendapatkan sanksi yang berat. Itulah yang pernah dibaca Misha dalam buku berjudul negara, agama dan politik.
Saat melihat Misha yang tiba-tiba terdiam dalam pikirannya, karena penasaran permaisuri lantas bertanya, "Misha? apa yang kamu lamunkan?"
"Ti— tidak ibu, aku hanya berpikir bahwa ibu sangat cantik hari ini." Puji Misha dengan senyuman polos yang terlihat sangat tulus.
"Oh! benarkah?!" teriak spontan permaisuri yang kegirangan atas pujian itu, pipinya memerah, matanya melengkung kebawah, seolah-olah merasakan sebuah sensasi gairah dari dalam jantungnya.
Tidak lama kemudian permaisuri menjauhkan wajahnya dari pangeran, berdiri di depan cermin sambil memasang ekspresi yang masih sama.
Tlup... tlup... tlup...
Bunyi kancing pakaian yang dibuka secara perlahan.
Jatuhlah gaun hitam panjang di tas tanah, memperlihatkan sosok permaisuri yang menggenakan kain tipis berwarna merah muda. Kain yang menembus pandangan penglihatan seorang anak kecil.
...Dalam batinnya Misha berpikir....
...Oh... apakah ini permainan malam kita setelah sekian lama....
"Bagaimana? apakah sekarang tambah cantik?" tanya permaisuri sambil memutar tubuhnya di depan cermin.
Pose tangan kanan terangkat diatas kepala lalu tangan kiri yang memegang sehelai kain tipis di bawahnya. Disertai dengan tatapan nakal yang tidak pantas ditunjukkan kepada anak kecil.
Langkah kaki perlahan mendekati ranjang sang pangeran, sebuah lekukan yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Aura mempesona dengan bibir merah berterbangan di seluruh ruangan kamar.
Misha hanya bisa menatap sosok pemikat yang hendak mendekatinya, terdiam mematung dalam kepasrahan permainan malam. Mata emas itu terpesona dengan rayuan permaisuri yang menciptakan debaran di jantungnya.
Permaisuri terbang diatas ranjang dengan membawa aroma harum bagai bunga mawar, terjunlah ia bersama anak kecil itu di atas godaan gairah kenikmatan dunia. Jari-jemarinya menjalar kemana-mana, hingga menimbulkan sensasi menggelitik di pori-pori kulit pangeran Misha dan terbawa lah dia sampai ke atas langit.
.............
Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana, itulah sesuatu yang sempat Sebas pikirkan dari luar kamar pangeran. Berdiri di koridor istana sambil menunggu permaisuri menyelesaikan urusannya dengan pangeran.
.............
__ADS_1
Ilustrasi dari sosok permaisuri yang menggenakan pakaian tipis berwarna merah muda.
...******...