
Lazor membuka pintu pengetahuan, dirinya masuk bersama Sebas dengan perasaan riang gembira, melihat ratusan buku yang tertata rapi diantara rak-rak yang menjulang tinggi.
Alkisah dirinya belajar banyak hal bersama Sebas, karena suatu alasan dia tidak mampu membaca tulisan aneh yang tertulis di setiap buku, maka dari itu Lazor menghafal satu persatu arti dari huruf-huruf yang dinamakan tulisan huruf Astriani.
Berkat pengajaran dari Sebas dan juga berkat kemampuan penghafal dari seorang ilmuwan jenius yang bereinkarnasi di dunia lain, hanya butuh waktu setengah jam untuk bisa menguasainya.
Sedangkan di tempat lain, ada pria misterius yang bertemu dengan sosok wanita yang lebih misterius. Diketahui pria tersebut ternyata adalah tabib yang mengambil darah pangeran, lalu memberikannya kepada wanita tersebut dengan ribuan adegan tidak senonoh saat mereka berdua bertemu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disaat Lazor sedang memikirkan mengapa dan mengapa dirinya mengartikan hukum kausalitas bahasa dengan cara tidak masuk akal. Setiap ucapan bermakna sama, baik itu bahasa Polandia ataupun Astriani, semuanya campur aduk.
Dalam arus badai pemetaan pikiran. Lazor merasakan nyeri di kepalanya, rasa nyeri yang amat sangat menyakitkan. Seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum berkali-kali.
"Aaakhh....! Sa–kit... Sakit....!" Jerit Lazor, meremas pelipisnya.
"Tuan muda?! apa kau baik-baik saja?!" Tanya Sebas yang sangat panik.
Sang pangeran kecil itu terlihat tidak mampu menahan rasa sakit tersebut, dia menjerit dan terus menjerit seperti itu selama kurang lebih sepuluh menit, hingga pandangan matanya menjadi buram dan akhirnya menutup kelopak matanya.
Dari dalam penglihatan alam bawa sadarnya, Lazor mendengar suara yang bicara. Bahkan suara tersebut tidak mirip dengan manusia, mengeluarkan suara serak dengan bunyi instrumen aneh, seperti bunyi gong yang diketuk kencang.
...Jiwa.......
...Dimensinya.......
...apakah— ada.... dirimu....?...
...Siapa kau...?...
...manusia.......
...para manusia, bahaya........
...Bisikan suara mengerikan yang bergema di kepalanya....
Saat kalimat terakhir dari suara misterius berakhir, pangeran sontak terdiam seketika. Wajah bocah itu menggambarkan tatapan kosong, Sedetik berselang dirinya pingsan tak sadarkan diri. Kepalanya membentur meja dan membuat Sebas membludak kepanikan.
"Pangeran! tolong katakan sesuatu! pangeran....?! pa—" Kalimat terakhir Sebas yang sempat terdengar olehnya.
...*******...
Di lain tempat, masih dalam istana yang gilang-gemilang. Dalam suatu ruangan yang sangat luas, lebih luas dari perpustakaan. Terdapat ribuan cahaya penerang yang dikurung di dalam wadah kaca dengan lapisan emas dan perak, cahaya itu menggantung di langit-langit ruangan tersebut.
Dalam ruangan itu, terdapat pilar-pilar raksasa yang berdiri diantara karpet merah yang dihamparkan. Dari hulu karpet merah terlihat dua buah kursi besar yang berdiri diatas podium, terlihat bahan dasar dari kursi adalah emas, tangan kursi itu ditanami batu berlian dan emerald yang berkilauan.
Aura penguasa yang amat besar memancar dari arah kursi megah tersebut, tetapi sebenarnya bukan berasal dari benda mati emas itu melainkan sosok yang mendudukinya.
Sosok pria kekar berbadan tinggi besar, memiliki penampilan tampan rupawan walaupun sebenarnya sudah berusia kisaran lima puluh tahunan. ekspresi yang selalu dingin, dengan tatapan mata yang begitu arogan, bermartabat sekaligus menakutkan.
__ADS_1
Dirinya duduk diatas kursi takhta sambil menyandarkan pipinya di kepalan tangan dengan siku sebagai topangan. Dia memiliki janggut tipis dengan kumis yang dicukur, leganya berisi otot-otot yang sangat keras seperti baja, orang itu menggunakan pakaian merah yang sangat indah serta gagah.
Dan yang tak kalah megah, adalah sebuah mahkota emas yang dikenakan diatas kepalanya, menandakan suatu simbol paling berkuasa di tempat itu. Dirinya adalah sosok pemimpin tertinggi, ialah sang Kaisar dengan nama Alexis Garbachev III De Astrana, ayah dari si pangeran kecil.
Dihadapan sosok penguasa tersebut, ada beberapa pria yang juga duduk di sebuah kursi kecil dengan bahan perak yang megah. Mereka duduk berbaris di dekat pilar-pilar tersebut dengan pakaian elegan. Mereka adalah para bangsawan kekaisaran.
Terlihat sepuluh prajurit dengan baju armor besi, menggenakan helem tertutup dan memegang sebilah tombak di tangan mereka. Sosok prajurit yang sangat kuat, berbadan tinggi besar dengan skill tempur yang telah diasah.
Beberapa saat kemudian sang kaisar berkata, "Majulah!"
terlihat salah satu bangsawan maju menghadap kaisar, memberi salam hormat kepadanya dengan tangan yang memutar kebawah serta posisi tunduk dari kepala sampai punggung.
"Salam sejahtera wahai Kaisar, Menteri keuangan datang menghadap." Tutur bangsawan itu.
"yang mulia kaisar, sebelumnya saya memohon maaf karena akan membawa berita yang kurang menyenangkan.... Saat ini penghasilan pertanian dan produksi pangan merosot jatuh dari harga pasar akibat kemarau panjang di semenanjung Albetia timur, bukan hanya faktor tersebut wahai yang mulia," ucapannya yang gemetar, takut mengatakannya.
"Ratusan petani kelaparan di wilayah pemasok pangan, hal tersebut karna pajak yang terlalu tinggi yang mulia. Saran saya, mohon turunkan pajaknya, sekitar dua puluh persen saja maka ekonomi akan kembali stabil yang mulia..." Lanjutnya dengan nada yang sedikit tinggi.
"Hemmm... kalau begitu naikan lagi pajaknya! mudah kan?!" Balas sang kaisar dengan seringai jahat, "Laporan selanjutnya! kau boleh kembali," perintah Kaisar dengan nada arogan.
Menteri keuangan itu merasa tidak terima dengan kebijakan yang keluar dari mulut kaisar, dirinya ingin sekali menyampaikan protes namun mulutnya seolah-olah terkunci.
Lima detik kemudian dirinya memberanikan diri untuk menyampaikan sesuatu dan berkata, "yang mulia....! jika terus seperti ini—" Tiba-tiba ucapannya terpotong.
"Hei Danya! apakah sebegitu ingin kau digantung?!" Ancam kaisar, mengeluarkan aura tekanan yang amat dahsyat.
Tak kuasa melawan ketidakadilan dari sang pemimpin keji, sang menteri hanya bisa termenung menunggu keajaiban. Dalam batinnya dia terus berdoa dan berdoa agar para petani itu mampu melewati cobaan hidupnya.
Setelah bangsawan berikutnya akan segera menghadap, muncul salah seorang gadis berparas cantik. Matanya sedikit Sipit, hidung mancung, bibir berbentuk busur, dagu yang tirus serta rambut hitam pekat yang dikepang ke samping.
Gadis itu datang menggenakan gaun panjang sampai ujungnya menyentuh karpet merah, ia datang menghadap di depan sang kaisar kemudian memberi hormat kepadanya.
mengangkat gaun miliknya dengan anggun, badan tertunduk kebawah serta mengatakan, "Salam sejahtera wahai Kaisar."
"Aliya? ada keperluan apa putriku datang kemari?" Tanya Kaisar yang seketika tersenyum kecil.
"Hamba hanya ingin mengabarkan kepada ayahanda, bahwa pangeran ke empat sudah sadar dari keadaan koma." Tutur Aliya, tuan putri dari kekaisaran.
"Kau sampai nekat datang menganggu kami hanya untuk mengabarkan kondisi bocah itu?! jangan membuat suasana hatiku memburuk! pergilah!" Bentak Kaisar, dengan emosi yang membludak.
"Maafkan saya ayahanda." Sesal Aliya, kemudian pergi meninggalkan ruangan.
...*******...
Lazor sadar secara perlahan, membuka mata, seketika dirinya heran kenapa dia terbangun di atas kasur tidurnya.
"Pangeran! anda sudah sadar, syukurlah!" Ucap Sebas yang merasa lega.
"Sebenarnya apa yang terjadi tuan muda?" Tanya Sebas lagi.
__ADS_1
...............
...Kenapa aku tiba-tiba berada di atas kasur? dan juga, apa-apa tadi itu, apakah itu semacam delusi? tiba-tiba nyeri di kepalaku muncul, dan mendengar suara tidak jelas dari seseorang....
...siapa itu...???...
...Pikir Lazor dalam benaknya....
"Sebas? apakah tadi sebelum aku pingsan kau mengatakan sesuatu?" tanya Lazor, sembari memijit pelipisnya yang masih merasakan sisa nyeri.
"Ya, saya hanya mengatakan kondisi pangeran," jawab Sebas dengan heran sekaligus cemas.
...Jadi itu bukan suara Sebas....
...lalu.......
...siapa...?...
...Jiwa, dimensi dan manusia....
...Aku hanya mengingatkan itu....
Apakah kau yang mengantarkan diriku kemari?"
"ya tuan muda, anda tadi tiba-tiba tak sadarkan diri. Saya merasa sangat khawatir dengan kondisi anda," balas Sebas dengan wajah yang masih cemas.
"Ya, sebenarnya aku tidak apa-apa, hanya saja mungkin karena terlalu lelah." Tutur Lazor, berhenti memegang kepalanya karena rasa nyeri yang sudah mereda.
"Sekarang bagaimana kondisi anda sekarang? apakah sudah baikan?" tanya Sebas lagi sambil mengambil segelas air diatas meja.
"Hahaha~ sudah mendingan, aku merasa masih bersemangat untuk belajar," canda paksa dari Lazor untuk memenangkan situasinya.
"Kalau begitu minumlah air dan makanlah kuenya, setelah ini anda harus makan banyak." Tutur Sebas sambil memberikan airnya kepada Lazor.
Lazor si pangeran kecil bangun dari posisi tidurnya, mengambil segelas air itu dan meminumnya seteguk demi seteguk hingga habis, mengambil satu kue diatas piringan dan memasukannya ke dalam mulut.
"Oh iya Sebas, aku juga melupakan nama ku. Siapa nama ku?" tanya pangeran kecil sembari mengunyah kue lembut.
"Anda memiliki nama yang penuh kemuliaan, namanya adalah Misha De Astrana. Putra ke tiga dari kaisar Alexis dan pangeran keempat dari kekaisaran Astria raya." Jelas Sebas kepadanya.
...Putra dari kaisar yah.......
...Gelar kaisar, itu berarti negara ini cukup besar pengaruhnya....
...cukup merepotkan, akan tetapi aku harus melihat dulu segalanya....
Lazor, tidak. Maksudnya Lazor yang berada di dalam tubuh Misha telah menunda kekacauan akal pikiran yang sedari tadi membawanya menuju badai yang tak masuk akal.
...***...
__ADS_1