The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 14 : Gelembung hitam


__ADS_3

Sekarang, kedua bola mata Misha sedang melihat seorang manusia yang melayang-layang di udara, melompat dari pilar satu ke pilar lainnya, bagaikan sosok ninja dalam cerita masyarakat jepang.


...Apakah manusia bisa bergerak secepat itu...?...


...kecepatan itu, kira-kira 80 Km/Jam......


...Tidak! bahkan mungkin melebihi itu....


...........


...Bukankah kecepatannya sama dengan seekor Citah....


...Lintas pikiran Misha, dengan wajah yang tertegun keheranan....


Pergerakan tidak masuk akal itu berlangsung selama sepuluh detik lamanya, berakhir dengan pendaratan sempurna di depannya. Namun Misha dibuat bingung lagi, ketika melihat wajah Danilo yang tidak terlihat kelelahan sama sekali, seakan-akan gerakan barusan tidak mengurus tenaganya.


...Bergerak secepat itu, dalam waktu sepuluh detik....


...kemudian kembali tanpa menghembuskan nafas lelah sedikitpun, bahkan setetes keringat tidak ada....


...bukankah itu juga terjadi padaku barusan? apakah mungkin karena energi sihir? Aakh...! entahlah....


...batinnya, merasa bingung dan semakin bingung untuk kesekian kalinya....


..............


"Bagaimana tuanku? hebat bukan?" Danilo berlagak keren, merasa hebat sembari membusungkan dadanya.


Sedangkan sang pangeran masih terdiam mematung, tak lama kemudian matanya seketika berbinar-binar, menunjukkan kekaguman terhadap Danilo.


"Pangeran...?" panggil Danilo, kebingungan karena melihat Misha yang terdiam dalam kagum.


"benar...! itu luar biasa Danilo!" puji Misha, berseru kagum padanya.


"Hehe... anda tidak salah memiliki guru seperti saya. hhm~ jadi, dalam hal ini anda adalah murid saya, kan?" ucapannya lagi, dengan senyuman melengkung, mata tertutup dan menggesek hidungnya dengan jari telunjuk.


"Haha~ terserah kau saja lah." Balas Misha, merasa sedikit jengkel karena melihat Danilo yang besar kepala.


"Jadi ... tanpa berlama-lama, langsung saja! akan saya jelaskan caranya tuanku." Danilo kemudian duduk bersila.


Lantas Misha pun juga ikut duduk, dan saling berhadapan dengannya.


"Pada dasarnya menyerap mana ke dalam tubuh seperti pasir yang menyerap air. Jika air terlalu banyak, maka tanah akan hancur menjadi lumpur," jelasnya dengan cara bicara yang antusias.


"Begitulah dengan tubuh kita, ketika terlalu banyak mana yang diserap maka resikonya adalah tubuh yang hancur, karena itulah melatih fisik adalah hal yang sangat penting, karena bertujuan menambah jumlah pasir di dalam tubuh," tegas Danilo, dengan wajah yang tiba-tiba menjadi sangat serius.


"Hmm... cukup sederhana yah." Misha mengelus dagunya, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"baiklah, aku paham. Tetapi ... bagaimana cara menyerap mana masuk kedalam tubuh? apakah hanya dengan imajinasi? haha... tidak seperti itu kan—" ucapnya dengan menyangkal, sambil tertawa kecil.


"Jawaban yang tepat tuanku...! dengan membayangkan sesuatu seperti masuk ke dalam tubuh, maka mana akan terserap ke dalam," imbuh Danilo, dengan ekspresi yang antusias.


"Tetapi untuk melakukan hal itu butuh konsentrasi tingkat tinggi, yang hanya bisa dilakukan setelah berlatih bertahun-tahun," jelasnya lagi, sambil menyimpulkan kedua lengannya dengan ekspresi seolah-olah meragukan pangeran.


"Hah?!" Misha seketika terperangah.


...........


...Lah...? Kupikir aku harus mengucapkan mantra atau apalah seperti menciptakan api di tangan....


...ternyata cara semudah itu....


.......


...Sepertinya ada suatu unsur di otak yang mengirim sinyal ke tubuh....


...Hmm... sepertinya sedikit masuk akal....


Dalam keheningan, Misha memejamkan matanya, membusungkan dadanya, dengan kedua tangan diatas pahanya. Kemudian menarik satu tarikan nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, mengosongkan pikirannya sejenak.


...apa yang sedang tuanku lakukan?...


Lintasan pertanyaan dalam benak Danilo, merasa sedikit curiga kepada Misha. Curiga kalau ia akan langsung menyerap energi mana, namun kecurigaan itu hilang setelah berpikir bahwa hal itu tidak mungkin bisa dilakukan oleh anak yang bahkan tidak mampu menggunakan sihir.

__ADS_1


Misha saat ini dalam kondisi konsentrasi yang sempurna, pikirannya sepenuhnya kosong, memperagakan teknik meditasi yang sempat dipelajari di kehidupan sebelumnya.


Dari pikirannya yang hampa, Misha tiba-tiba membayangkan sebuah zat super kecil yang masuk kedalam tubuhnya. Awalnya hanya sekedar imajinasi sebagai perantara, beberapa detik kemudian tubuhnya merasakan arus deras dari aliran air masuk melalui pori-pori, menusuk seperti tusukan ratusan jarum yang menyakitkan.


Kelopak matanya berkedip sekali, terusik dengan rasa nyeri di seluruh kulitnya. Tak lama kemudian, Misha merasakan aliran energi mana masuk ke dalam organ tubuh. Mulai dari jantung kemudian mengalir di setiap pembuluh darahnya, mengakibatkan tekanan besar di seluruh tubuhnya, bagai udah yang terperangkap di dalam balon, seakan-akan balon itu tidak lama lagi akan meletus.


Tiba-tiba Misha sudah tidak lagi merasa kesakitan, akan tetapi dirinya sudah tidak mampu merasakan apa-apa. seluruh syaraf tubuhnya telah mati, seperti saat-saat terakhir manusia ketika memasuki alam mimpi.


...............


Arus banjir energi mana telah membawanya kedalam alam bawa sadarnya, di suatu tempat entah dimana yang dipenuhi kegelapan. Tiba-tiba, muncul sebuah gumpalan hitam yang mengerikan, di sebuah ruangan yang sedari awal sudah gelap.


Tidak ada warna yang lebih gelap dari warna hitam, namun saat ini Misha melihat dengan mata kepalanya sendiri, suatu materi yang berwarna super gelap, menggumpal seperti semburan lahar gunung api.


Tidak lama kemudian, terdengar suara yang bersumber dari gumpalan hitam, dengan nada serak seolah-olah bukanlah suara seorang manusia.


...Khaa... khak... khaaa....!!!...


...Ketahuilah wahai sang penyintas semesta...! aku adalah dirimu, dan dirimu adalah aku....


...kita berdua adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan....


...ingatlah......


..........


.........


........


.......


...Gumpalan super hitam itu menghilang seketika....


...Omong kosong macam apa itu..?! Siapa kau...?!apakah engkau sang tuhan...?! jangan bersembunyi dan jawablah pertanyaanku ini......


...Apakah dirimu yang menghidupkan aku dari kematian...?!...


...kenapa kau hanya diam saja.......


...tunjukkan dirimu sekarang juga...! agar aku bisa menyaksikan sendiri.......


...tolong.......


...tunjukkan.......


...dirimu......


...Berang Misha dari alam bawah sadarnya. Kemarahan, kesedihan, ketakutan, berkecamuk dalam pikirannya, bagai tali benang yang tergulung-gulung....


Dirinya tidak mendapatkan jawaban apapun dari suara misterius yang terdengar dari balik gumpalan hitam yang menghilang sekejap mata.


Setelah itu, perlahan-lahan Misha mulai merasakan kembali syaraf di tubuhnya, merasakan kembali rasa sakit yang amat peri di tubuhnya, merasakan kembali aliran mana di tubuhnya hingga dirinya bangun dari mimpi buruknya.


Misha kemudian membuka matanya perlahan, pandangannya dipenuhi energi hitam pekat yang melumurinya, secara samar-samar dirinya melihat Danilo yang berlari menjauh, seraya memasang wajah yang teramat sangat ketakutan.


Danilo jatuh tersungkur, keringat dingin membanjiri wajahnya, seluruh tubuhnya seketika pucat, matanya terbuka lebar, bibirnya bergetar, keningnya melengkung kebawah dengan mulut yang ternganga. Seakan-akan sedang melihat malaikat kematian di depannya.


"Apa– yang bajing*n ini lakukan...? kena–pa dia.... menatapku seperti– itu...?" Desisnya dengan suara yang melemah.


"Pangeran...! apa yang sebenarnya terjadi..! dari mana kekuatan itu..! siapa... kau sebenarnya...!!! " Teriak Danilo, rasa panik dalam pikirannya bergejolak bersama dengan detak jantung yang berdebar kencang.


Sebuah Bola hitam terlihat menyelimuti Misha, seperti gelembung yang melayang di udara, membawa tubuhnya keatas. Gelembung itu perlahan-lahan meluas, seperti sebuah balon yang ditiup.


Gelembung itu terus membesar, sembari menghisap seluruh benda apapun disekitarnya, termasuk Danilo yang saat ini mengaktifkan energi sihir yang meluap-luap, berusaha menahan gaya tarik yang muncul dari kekuatan misterius di depannya.


Semakin lama semakin kuat, layaknya sebuah lekukan ruangan waktu yang menghisap segalanya. beberapa bongkahan batu bata terlepas dari lantai dan dinding di sekitar gelembung kematian, menyerapnya ke dalam lalu hilang entah kemana.


"Mon— Monster...!!!" teriak histeris Danilo, rasa panik telah menjalar, dengan wajah pucat yang dilumuri ketakutan.


...................


"Aku.. harus pergi dari sini, ini sangat berbahaya...!" dengan posisi merangkak, Danilo mencoba melarikan diri dari keadaan, bergerak perlahan-lahan ke pintu jeruji besi.

__ADS_1


"Perset*n denganmu pangeran...! ini masalah nyawa, aku tidak ingin mati...!!!" gumamnya lagi, wajahnya pucat hingga berwarna biru keunguan.


Badai hisapan gelembung hitam yang semakin menjadi-jadi, bahkan membuat salah satu pilar di ruangan itu retak dengan sendirinya.


Entah mengapa, disaat-saat dirinya dilanda rasa takut yang luar biasa, Danilo sempat-sempatnya mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. waktu dimana pangeran kecil Misha melontarkan pertanyaan tentang asal-usul nyala api di tangannya.


...Aku mengangumi anda...!...


...Aku ingin anda tetap hidup......


...Aku ingin mengajarimu banyak hal.......


...Aku ingin menyelamatkanmu.......


...tapi.......


...aku tidak punya keberanian seperti itu.......


...Batin sang guru Danilo, air mata tiba-tiba membanjiri pipinya. Seluruh rasa takut itu berubah menjadi kesedihan yang mendalam....


...tiba-tiba terlintas suara ucapan Misha dalam benaknya....


...Tujuan ku sederhana..! yaitu mendirikan sebuah negara....


...Sebuah negara dimana orang-orang bebas untuk menempuh pendidikan....


...Karena semua kalangan masyarakat berhak menimba pengetahuan.......


...........


Tiba-tiba kobaran tekad yang membara keluar entah dari mana, dirinya masih merasakan ketakutan, keraguan, dan kebimbangan. Akan tetapi, semua perasaan itu dipendam oleh dirinya. Menyisahkan satu tekad besar yang ia dahulukan.


Danilo seketika itu juga berdiri perlahan-lahan, sontak ia berjalan menerjang badai kehancuran bersama para debu dan bongkahan batu yang berterbangan. Selangkah demi selangkah ia hadapi, mendekati sosok pangeran yang kehilangan kendalinya.


Dari terjangan badai mengerikan, tekad itu membawanya sampai di depan tubuh pangeran yang lemas tak berdaya, menahan dan terus menahan hisapan gelembung itu dengan sedikit bantuan dari kekuatan sihirnya.


...Demi sebuah impian ilmu pengetahuan.......


...kurasa nyawaku adalah taruhan setimpal untuk menyelamatkan sosok penting dalam impian itu....


Ungkap Danilo dalam batinnya, diiringi tangisan di wajahnya. Dia kemudian mencelupkan ujung jarinya ke dalam gelembung, mencoba meraih pangeran dengan penuh harapan. seolah-olah pasrah akan segalanya.


Dari jari-jari yang terhisap sampai telapak tangan yang masuk kedalam gelembung hitam. Danilo tidak bisa merasakan tangannya lagi, seolah-olah telah terpisah dari tubuhnya.


Sedangkan di dalam gelembung itu, Misha melihat bayangan terang bercahaya dari sebuah telapak tangan yang mencoba meraihnya. Seakan-akan mengulurkan pertolongan kepada dirinya, dari badai kehancuran yang nyata.


Walaupun tidak mampu menggerakkan seluruh tubuhnya, Misha mencoba berusaha meraih bayangan terang di depannya, mengangkat tangannya perlahan-lahan, sampai ujung jarinya hampir bersentuhan dengan pertolongan seseorang.


"T–to—tolong... selamatkan a–ku... aku, belum boleh mati seperti ini.... ma–sih banyak yang harus aku lakukan...." desus Misha dengan suara lemah tak berdaya, namun ungkapan harapan itu sampai terdengar di telinga gurunya.


Tanpa sadar Danilo mengulurkan tangannya lebih dalam, sampai dimana gelembung itu hampir menelan seluruh lengan tangan kanannya.


............


Kedua jari sang guru dan murid akhirnya bersentuhan, menciptakan sebuah energi besar yang meluap-luap.


BLUUUPP....!!! Suara letusan gelembung, seperti suara gelembung sabun yang pecah di udara.


Gelembung hitam yang menghisap segalanya telah pecah, menimbulkan suara yang bergema keras di dalam ruangan. Pangeran seketika terjatuh, dan mendarat di pelukan hangat dari seorang guru yang hampir saja kehilangan akal sehatnya.


Danilo memeluknya dengan erat, rasa syukur yang luar biasa hadir di dalam hatinya. Dalam batinnya ia berkata.


...Akhirnya.......


...aku berhasil.......


...berhasil menyelamatkan ambisi pengetahuan masa depan......


pangeran kehilangan kesadarannya di dalam pelukan sang guru, yang memeluknya dengan tangisan yang terus mengalir. Matanya tertutup pada saat itu, ketika Danilo membuka kelompok matanya, ia melihat serpihan darah yang menodai baju pangeran.


Merasa bingung, cemas, sekaligus panik akan asal-usul dari percikan darah yang menyelimuti pangeran. Danilo melepaskan pelukannya, memeriksa di segala bagian tubuh pangeran, mengira kalau darah itu berasal darinya.


Naasnya tidak ada luka satupun di tubuh si pangeran kecil, yang ada hanya wajah Danilo yang tertegun seketika ketika mendapati satu legan tangannya yang terpotong. Dari situlah darah itu mengalir bercucuran, seperti tumpahan anggur yang tidak pernah berhenti.

__ADS_1


...******...


__ADS_2