
Misha adalah anak yang lahir dan dibesarkan tanpa sosok ibu, memiliki seorang ayah namun tidak dicintai olehnya. Dianggap aib keluarga, pecundang, menjijikan, anak haram, lemah dan bila jiwanya masih hidup maka dipastikan dirinya akan binasa di masa depan.
Namun sekarang sudah berbeda, jiwa lemah yang sudah lama pergi sekarang digantikan oleh pria licik dengan segala kejeniusannya.
.............
Seluruh bagian tubuh Misha sangat kelelahan, walaupun tubuhnya tidak banyak bergerak akan tetapi pikirannya terus berputar-putar tanpa henti, ambisi belajar yang besar darinya muncul keluar beserta perasaan cemas.
"Baiklah Sebas, ayo kembali ke perpustakaan," ajak Misha yang tak sabaran, ia berjalan pergi lalu memegang gagang pintu kamarnya.
"Apa maksudnya tuan muda?" tanya Sebas, sambil menunjukkan buku hijau di tangannya, "anda masih kurang sehat, Jika anda sangat ingin belajar bagaimana kalau kita mulai pelajaran disini," saran Sebas.
"Hah~ baiklah, tidak masalah." Ucap Misha, lalu kembali duduk di atas kasurnya.
Sebas melanjutkan pengajarannya tentang huruf, ia mengambil kursi di depan cermin dan duduk dihadapan Misha. Membuka buku tebal itu dan mulai mengucapkan satu persatu kosa kata serta tulisannya.
Kesulitan dan kemudahan Misha lalui untuk menguasai bahasa dunia itu, mengucapkan kembali yang Sebas ajarkan sampai benar-benar sudah di luar kepalanya.
......................
Waktu demi waktu telah berlalu, sedikit demi sedikit menerima kejadian absurd yang dialaminya, walaupun masih dalam keraguan yang nyata. Misha telah menghabiskan waktunya belajar di kamar itu, bersama Sebas yang saat ini sudah tertidur.
Sebas duduk di atas kursi, tersungkur menyandar dengan kepala miring dan mulut yang mengangga. Sedangkan di depannya ada Misha yang saat ini sudah menghafal hampir semua kosakata di kepalanya.
Sedangkan pemandangan dari jendela kamar telah memancarkan matahari yang kekuningan, menunjukkan setidaknya hari sebentar lagi akan berganti malam.
Teng....! Teng.....! Teng....! Teng....!
Bunyi lonceng dari arah jendela kamar yang terdengar cukup dekat dari istana.
"Suara apa itu? lonceng?" ucap Misha yang penasaran.
Misha si pangeran kecil sontak meletakan buku hijau yang sudah bisa di baca olehnya, turun meluncur dari kasur dengan tubuhnya yg kecil dan berjalan mendekati jendela, melihat kearah luar, dengan penuh rasa penasaran.
"Sebas?! bangun! ada yang ingin aku tanyakan," panggil Misha kepada Sebas yg tertidur.
"Krookk.... Grookk...." Bunyi dengkuran dari mulut Sebas.
"Hah~ guru macam apa yang tidur selagi memberikan pelajaran," keluh Misha dan mendekati Sebas dari belakang.
Misha menggoyangkan tubuh Sebas sambil berkata, "Sebas? bangun, bangun..! bangun...!!!" sedikit rasa kesal karena si pelayan tua tidak kunjung membuka mata.
Tak lama kemudian Sebas tiba-tiba terbangun dan terperanjat, dalam kondisi setengah sadar dia berucap, "Whaaa.?! tuan muda?! anda di mana?" karena masih diliputi rasa ngantuk, dia tidak sadar bila sosok pangeran ada dibelakangnya.
"Aku disini!" kesal dengan Misha, yang melihat kelakuan sebas.
"Oh begitu rupanya, maafkan saya tuan muda. Saya tertidur, hehehe~" ucap Sebas tersenyum malu dan sedikit membungkukkan badannya.
"Lupakan saja, suara apa itu?" tanya Misha yg masih saja penasaran.
__ADS_1
"suara yang mana tuan?"
"aku tadi mendengar suara lonceng, apa itu?"
"Oh... itu, itu adalah panggilan ibadah dari kuil, jadi setiap keturunan bangsawan, khususnya keturunan kaisar wajib datang untuk menyembah kepada tuhannya para dewa, dilakukan rutin seminggu sekali," jelas Sebas dengan sedikit tidak enak mengatakannya.
"Lalu mengapa aku tidak diundang?" tanya Misha, penasaran.
"Ah, Mengenai itu...," ucap Sebas yang tidak enak mengatakannya.
"Ahh... ya, Aku sudah paham." tersenyum paksa, "lain kali jangan ragu untuk mengatakan sesuatu padaku! kau adalah pedangku yang setia, aku percaya padamu dan seharusnya kau juga percaya padaku," terang Misha yang sedikit kesal, menutup mata sembari menceramahi Sebas.
"Maafkan hamba tuan muda," balas Sebas sambil tersenyum, matanya berkaca haru.
"Itu karna perintah dari kaisar yang melarang anda untuk pergi ke dalam kuil suci, karena dirinya sangat membenci anda tuan muda," jelas Sebas dengan perubahan ekspresi kesal.
Sebas seketika mendekati pangeran kecil, duduk tertunduk di depannya dengan lutut menyentuh tanah. Kedua tangannya memegang bahu Misha, sembari memasang ekspresi yang sangat serius.
"Alasan anda masih tinggal di istana karena, keberadaan yang mulia permaisuri Helena. Aku tidak tau pasti mengapa dirinya sangat menyayangi anda, tidak— maksudnya sangat terobsesi kepada anda! seakan-akan menganggap anda sebagai mainannya!" sambung Sebas, matanya dibakar oleh api kemarahan.
"Kau tidak perlu khawatir seperti itu, yah sebenarnya boleh juga untuk menghawatirkan diriku," nada bicara Misha berubah menjadi bisikan, "Tapi Sebas! aku adalah orang yang berbeda sekarang, percayakan segalanya padaku," tutur Misha, diakhiri seringai liciknya.
"Dimengerti tuan muda," balas Sebas dengan senyuman terkesima terpampang diwajahnya.
"Oh iya tuan muda, walaupun anda begitu dibenci saudara-saudara anda, masih ada yang memperlakukan anda seperti seorang saudara," jelas Sebas disertai senyum hangat.
"Dia adalah tuan putri Aliyah—" ucapan Sebas terhenti.
Tok...! Tok...! Tok...!
Suara ketukan pintu kamar.
Sebas dan Misha menoleh kearah pintu yang berketuk, Misha penasaran siapa yang akan datang menemui dirinya, sedangkan Sebas mengira itu adalah para pelayan pangeran yang lain.
Pintunya telah terbuka perlahan sampai memperlihatkan sosok gadis berparas cantik jelita, berwajah seperti campuran ras asia dan eropa dengan rambut hitam yang dikepang ke samping.
"Ohh... baru saja dibicarakan, orangnya sudah muncul," bisik Sebas yang terpesona akan kehadiran putri Aliyah.
Sebas terpesona selayaknya orang biasa yang sekedar kagum. Namun lain halnya dengan ekspresi wajah pangeran Misha. Dia begitu teramat sangat terkesan, matanya berbinar terang, jantungnya berdetak kencang, Pipi atasnya memerah dan terdiam membeku. Seolah-olah melihat sosok bidadari dari kayangan.
"Misha...!" ujar Aliya yang mengangkat gaunnya, sambil lari ke arah pangeran kecil.
Wajah Aliyah terlihat sangat gembira, dirinya menghampiri Misha lalu memeluknya dengan sangat erat, mencurahkan semua cinta pada pelukan itu.
pelukan hangat yang sungguh tulus, dirinya tiba-tiba menangis haru. Air matanya menetes di pundak pangeran kecil seraya berkata, "Misha...! Misha tau? Aliyah sangat khawatir karena Misha yang berbaring sakit selama tiga hari, hiks– hiks—"
Dan tahukah kalian bagaimana wajah si pangeran kecil itu, dari sudut kelompok mata mengalir setetes tangisan kesedihan tanpa menyadarinya.
...Apa ini...? mengapa ada air mata di wajahku..?...
__ADS_1
...Batin Misha, yang sangat mempertanyakan emosinya....
Misha tidak mengerti kenapa dirinya meneteskan air mata, dia tidak memiliki ingatan bersama gadis itu. Namun emosinya memancar dari hati ke seluruh peredaran darah, membuat tubuhnya gemetar.
Aliyah kemudian melepaskan pelukannya, memegang pundak Misha dengan wajah senyuman melengkung dengan air mata yang masih bercucuran. Gadis cantik itu juga memperhatikan tetesan air mata Misha.
"Hiks... hiks... Ke- kenapa... ka-kamu... yang menangis sih...? harusnya kan- aku..." Tanya Aliya sambil mengusap air mata Misha dengan jari tangannya.
Sebas yang melihat suasana haru itu hanya bisa ikut tersenyum senang, dia mengeluarkan sapu tangan dari kantong bajunya dan memberinya kepada tuan putri Aliyah.
"Terimakasih Sebas," ucap Aliya.
"sama-sama tuan putri." Balas Sebas, menundukkan kepala.
Aliyah mengusap air matanya lalu dia berdiri dan berkata, "Mendengar bahwa Misha sudah sadar Aliya diam-diam datang menemui Misha, dan sangat merasa senang!" Syukur Aliya dengan ucapan sedikit tertawa bahagia.
"Ups... Aliyah tidak boleh berlama-lama disini, sebentar lagi mereka akan curiga. Aliyah akan datang lagi menemui Misha yah, setelah dari kuil." Ucap Aliyah, merasa sedikit bersalah karena langsung pergi.
Kemudian gadis itu beranjak pergi ke arah pintu kamar, meninggalkan kenangan bahagia bagi Misha. Sedangkan Misha sendiri hanya terdiam mematung karena mempertanyakan apa alasan dirinya meneteskan air mata dan kenapa ia merasa sangat bahagia melihat orang itu.
Disaat Aliyah sudah di depan pintu, tangan pangeran Misha mencoba meraih ke arah si gadis yang sebentar lagi meninggalkan kamarnya. Misha melangkahkan kakinya perlahan, seakan-akan mencoba untuk menghentikannya pergi.
...tidak...! apa yang coba kulakukan....
...aku bukanlah anak yang bernama Misha....
...aku adalah Lazor Franciszek, seorang yang gila akan pengetahuan....
...Pertentangan batin Misha yang dilanda kebimbangan....
"Sampai jumpa lagi Misha." pamit Aliyah dengan senyuman manisnya.
Crack...
Suara pintu yang sudah tertutup.
Sebas tiba-tiba berkata, "tidak asing bukan? tuan muda memang tidak mengingat siapa beliau, namun satu hal yang pasti. Walaupun anda lupa akan dirinya, saya yakin perasaan cinta dari diri anda tidak pernah melupakannya."
"Diam lah Sebas. Aku... aku juga bingung." Ucap Misha dengan mata yang berkaca-kaca.
Setelah adegan haru yang dialaminya, keempat pelayan wanita tiba-tiba memasuki kamarnya dan berkata, "Pangeran, waktunya untuk mandi, berdandan kemudian sarapan." menatap pangeran kecil dengan rasa ingin memanjakannya.
...Aah.... ini merepotkan....
...bisakah aku membersihkan diriku sendiri lain kali....
...Batin Misha yang tiba-tiba merasa kesal....
...*****...
__ADS_1