The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 43 : Dejavu rasa takut


__ADS_3

"Hah...?!"


Kagetnya Misha kala mendengar bahwa dirinya merupakan garis keturunan terakhir dari kerajaan Velian. Maka berpikirlah ia dalam benaknya, mencoba menyelaraskan segala bentuk informasi dari ingatannya.


...Aku lahir dan dibesarkan sebagai seorang pangeran dengan segala nasib buruknya, dan lagian juga aku adalah putra dari seorang selir rendahan....


...Jadi, apa maksud dari perkataannya barusan...?...


...........


"Saya tau anda pasti sangat bingung, biar saya luruskan satu hal di sini," berhenti sejenak, kemudian melanjutkan kalimatnya dengan raut wajah yang serius.


"Ibu kandung anda bukanlah seorang selir dari kalangan rendahan, melainkan seorang pemimpin dari kerajaan Velian pada dua puluh tahun silam. Yang mulia ratu Valinka Ladeiora Valskana," beber Tasya.


Misha hanya bisa terjelengar saat mendengar ungkapan barusan, rasa bingungnya tidak berlangsung lama, walau sebenarnya dia memang benar-benar terkejut atas pernyataan Tasya, tak lama kemudian dia sempat berpikir di dalam benaknya.


...Jika hal tersebut adalah suatu kebenaran, merupakan suatu keuntungan bagiku untuk mengendalikan mereka....


...Tentang apakah orang-orang ini bisa dipercaya, hanya bisa dipastikan dengan sendirinya....


.........


"Bisakah kau jelaskan padaku, bagaimana caranya ibuku bisa-bisanya menjadi selir kaisar, padahal dirinya adalah seorang ratu dari kerajaan?" pinta Misha, penasaran.


"Tentu tuan—" kalimatnya terhenti karena mendengar bunyi benturan keras.


Bruk!....


Tasya tiba-tiba terlonjak kaget dari kursi duduknya.


Tanpa disadari Ludwig telah tersadar dari gejolak kebingungan yang melanda pikirannya, lantas ia melompat jatuh ke bawah dan bersujud tunduk di hadapan sang pangeran, dengan dahi yang ditempel serapat-rapatnya diatas lantai kayu.


"Tuanku pangeran! maafkan hamba, hamba sungguh tidak tau siapa sebenarnya anda ... jika saja Tasya memberitahu saya terlebih dahulu, maka saya tidak akan berkata-kata seperti itu pada tuan," sesal Ludwig, kemudian merangkak ke depan sambil menciumi kaki Misha, berharap ampunan padanya.


Menangislah si pria besar itu karena menyesali sikap arogansi dirinya. Sedangkan pangeran, hanya bisa menatap dirinya dengan tatapan dingin.


Tatapan dingin itu tak berlangsung lama, Misha seketika merubah ekspresi wajahnya menjadi senyuman hangat yang terlihat tulus. Kemudian memegang kedua pundak Ludwig untuk membantunya bangkit dari sujudnya.


"Tidak apa ... aku sebenarnya tidak tersinggung soal perkataanmu tadi, yah ... itu adalah hal yang wajar, kan? kalo aku di posisimu pasti sikapku tidak jauh berbeda," terang Misha, membujuk rasa bersalahnya Ludwig.


Sedangkan Tasya, hanya bisa tersenyum melihat tingkah Ludwig kemudian dia membatin.


...Kan, lihat dirimu sekarang Ludwig....


...........


"Tenangkan dirimu, lalu duduklah. Aku hanya butuh penjelasan dari kalian, karena sesungguhnya aku benar-benar tidak mengerti dengan semua kejadian ini."


Lantas Ludwig langsung menuruti perkataan Misha, dia kembali duduk di kursinya sambil mengusap aliran air mata di pipinya.


Melihat kondisi perbincangan mulai stabil, Tasya kembali melanjutkan penjelasannya.


"Kami kala itu membawa sang ratu untuk segera melarikan diri dari kejaran pasukan kesultanan, dengan harapan besar dari seorang bangsawan di kekaisaran maka kami berniat untuk menyembunyikan ratu kami disana. Akan tetapi ... ada sebuah insiden yang tidak terduga."


Lantas Tasya menjelaskan panjang lebar seluruh kejadiannya, tentang seorang ratu malang yang berakhir sebagai selir kaisar. Dibawa paksa dari kerajaannya, dan hampir mengalami gangguan kejiwaan kala dirinya ditelan oleh rasa bersalahnya.


............


............


............

__ADS_1


Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Tasya, seketika itu juga Misha merasa semuanya jadi masuk akal. Hanya saja dia masih penasaran, mengapa Sebas tidak mengenali Tasya, yang merupakan salah seorang rekan mereka.


Tidak ingin menampung rasa bingung di pikiran nya, Misha lantas bertanya. "kau bilang saat itu Sebas sedang bersama kalian di perjalanan itu, lalu mengapa Sebas tidak mengenalimu Tasya?"


"Mengenai itu—"


"Itu karena dia tidak pernah melihat wajah kami tuanku, karena kami yang merupakan prajurit bayangan selalu mengenakan topeng," potong Ludwig yang menyergah ucapan Tasya, sambil tersenyum manis kepada Misha, dengan bekas aliran air mata di pipinya.


Tasya memandang Ludwig dan tak habis pikir dengan dirinya, karena selalu saja memotong kalimatnya.


"Oh jadi begitu yah~" ucap Misha, membalas senyuman Ludwig.


"Itu karena Sebas tidak pantas menjalankan tugas secara diam-diam. Dia adalah orang yang sembrono, mudah panik, dan selalu saja terbawa perasaan. Lain halnya dengan kami, yang memang dilatih khusus dibawa bimbingan yang mulia ratu," terang Ludwig, sambil memasang senyuman yang membanggakan dirinya.


...Secara bersamaan, Tasya dan Misha menanggapi penjelasan Ludwig dari dalam benak mereka....


...Mudah terbawa emosi yah .......


...Menatap wajah Ludwig, kemudian keduanya menghembuskan nafas tak habis pikir....


"Saya akui itu memang benar tuan, anda yang sering bersamanya pasti menyadari hal itu. Ludwig orangnya juga emosian dan mudah terbawa perasaan, namun dirinya mampu mengendalikan situasi sesuai keadaan, jika dia sedang menjalankan tugas, Ludwig tidak seperti Sebas yang sangat sembrono dalam mengambil tindakan," ungkap Tasya, kemudian menjelaskan panjang lebar soal perbedaan kedua orang itu.


Saat mendengar kalimat Tasya soal dirinya yang emosian, Ludwig seketika melirik Tasya dengan tatapan tajam. Namun ketika mendengar pujian tentang tindakannya yang profesional, seketika itu juga dia tersenyum bangga.


"Ya benar, Sebas orangnya seperti itu," imbuh Misha, yang mengerti dengan keresahan Tasya.


................


"Tasya, aku rasa perbincangan kita cukup sampai disini. Tentang aku yang keluar istana dan tentang perubahan sikapku, akan kujelaskan nanti," pungkas Misha, wajahnya sangat serius.


"baiklah, tuan muda."


...****...


"Danilo ... aku rasa kita harus mencari Masha sekarang juga, ini sudah sejam berlalu, namun dia tidak juga kembali disini," ujar Renovic, cemas.


Sementara itu, Danilo masih saja tidak bosan-bosannya menatap wajah Lilina di depannya, sambil menopang kedua pipinya dengan tangan yang bersandar di meja makan.


"Danilo? hei ... kau mendengar ku?" Renovic melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Danilo yang melamun terpesona.


Karena suara Renovic perlahan semakin tinggi, maka saat itu juga ia tersentak dari lamunannya, kemudian berucap, "Ah– ya? maaf renov, aku tidak sempat mendengar perkataanmu, hehe ..." tersapu malu, merasa tidak enak kepada temannya itu.


Tidak lama kemudian, Misha tiba-tiba muncul dengan membuka pintu ruangan. Lantas seketika itu juga kecemasan di hati sang imam mereda.


"Fyuh~ saya pikir sesuatu terjadi padamu, karena kau tidak kunjung kembali," ucap Renovic, menghembuskan nafas lega.


dengan wajah yang merasa bersalah, Misha berkata. "maafkan aku tuan, demi tuhan aku sangat kebingungan mencari kamar buang air disekitar tempat ini."


Mendengar resah hati yang dialami Misha, sang imam hanya bisa tersenyum hangat padanya, berdiri menghampiri anak itu sambil merangkul pundaknya. kemudian menggiring Misha kembali duduk di meja makan.


...*****...


Isak tangis suara anak kecil sambil memeluk kedua kakinya, di suatu tempat yang gelap gulita, dengan setitik cahaya yang bersinar di penghujung kegelapan nan jauh.


...Hiks... hiks......


...Ayah .......


...Ibu .......


...Tolong, jangan pergi ......

__ADS_1


...Aku takut sendirian disini ......


...Gelap, semuanya gelap gulita ......


...Jangan tinggalkan aku sendirian ......


.........


.........


Mimpi suram seorang anak bernama Ilyasa, yang melihat sosok kedua orangtuanya pergi menjauhinya. Berjalan dalam gelapnya alam mimpi menuju sebuah tempat yang terang benderang, meninggalkan keberadaan anak mereka yang masih tertinggal di balik kegelapan.


kemudian dia terperanjat bangun dari mimpinya, lalu mendapati tubuhnya yang tengkurap di dalam lemari kayu penuh debu. Rasa nyeri di sekujur luka bakar tiba-tiba mengelupas bagai tempelan besi panas, ingin menjerit atas derita yang dirasakan namun pita suaranya tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.


Filya dan Mertha telah berusaha menghentikan para prajurit yang masuk ke dalam rumah, namun tak kuasa saat berhadapan dengan seorang bangsawan arogan. Lantas keduanya hanya bisa tertunduk dalam rasa takut di hati mereka.


Dejavu itu muncul kembali, bagaikan sedang melintasi masa lalu. gemericik sepatu besi akibat hentakan kaki para prajurit, tawa jahat yang bergema di dalam ruangan, teriakan orang-orang, bunyi pecahan benda kaca, pintu yang digedor-gedor dan segala hiruk-pikuk keributan saat itu juga di dengar oleh Ilyasa.


Kediaman Danilo saat itu juga digeledah, entah apa alasan mereka melakukan hal seperti itu. Mereka mengintrogasi kedua pelayan yang bernyali kecil itu dengan segala macam ancaman. Lantas, mereka hanya bisa tunduk dengan gemetaran di sekujur tubuh.


"Aku tanyakan sekali lagi, siapa yang menciptakan gemuruh petir di tempat ini?!" berang seorang bangsawan arogan, menatap sinis kedua pelayan yang bersujud di depannya.


"Ka– kami ... benar-benar tindak tau tuan. Sungguh! kami tidak berbohong, petir itu tiba-tiba menyambar halaman belakang rumah, tapi tidak ada seorangpun disana, ampunilah hamba tuan," ringis Mertha, memohon ampunan.


Filya pun ikut memohon. "Ampunilah hamba juga, tuan."


Tak lama kemudian, datang salah seorang prajurit dengan rambut hijau tua menghampiri seorang bangsawan arogan sambil berkata. "Sepertinya dia tidak berbohong tuan, aku menemukan bercak arang di halaman belakang. mungkin benar kalau itu hanya kejadian alami."


"Tch...! ya sudahlah kalau begitu, aku juga malas melakukan hal seperti ini," kesalnya, kemudian pergi dari kediaman Danilo.


Setelah mengobrak-abrik kediaman Danilo, mereka dengan santainya pergi tanpa merasakan apapun. Di wajah para prajurit, hanya ada eskpresi licik saat mereka habis mencuri beberapa perhiasan secara diam-diam.


ketika prajurit lainnya sudah keluar pintu bersama si bangsawan arogan tadi, ada salah seorang prajurit yang masih tertinggal di dalam. Dirinya sedang menatap satu persatu barang antik yang hendak ia curi, berjalan sambil bersiul, sampai dirinya tiba di depan sebuah lemari kayu.


Lemari kecil yang di dalamnya ada seorang anak yang bersembunyi. Tanpa suara sedikitpun, lagi-lagi ia menatap bayangan sepatu besi seorang prajurit dari celah berlubang, kembali mengingat wajah seorang pria gempal yang kala itu membuka isi lemari.


Tiba-tiba ....


"Bwhaaaaa....!!!"


Teriak si prajurit berzirah, saat ia membuka sebuah lemari yang ternyata isinya kosong.


Dentuman jantung yang terus memompa, mengalirkan seluruh aliran darah yang memuncak di kepalanya. Menciptakan ketakutan histeris yang dialami Ilyasa, saat dirinya mengira bahwa si prajurit akan menangkap basah dirinya seperti kala itu.


"Hah~ kosong, kenapa kosong semua sih," keluh si prajurit, kemudian pergi menjauh dari lemari persembunyian. Dan menjadi orang terakhir yang keluar dari dalam kediaman.


Beranjak pergilah para rombongan pengacau yang mengaku sebagai aparatur negara, datang dengan tuduhan dan pergi tanpa pertanggungjawaban. Orang-orang seperti mereka akan selalu ada di belahan dunia manapun, semua manusia bisa menyaksikannya. Yaitu sosok iblis dari neraka yang mengenakan topeng kulit berwajah manusia.


..............



Ilustrasi Ilyasa yang masih berumur sembilan tahun, kala ketika dirinya belum merasakan pahitnya neraka perbudakan.


...******...


...---------------------------------------------...


Catatan singkat penulis :


Saya ucapkan rasa terimakasih kepada kalian yang sempat membaca novel ini. Apakah bisa saya berbicara dengan kalian? karena luapan harapan ini terlalu besar untuk dibendung, jadi mohon berkomentar, dan berbincang-bincang dengan saya ... sungguh! walau hanya seorangpun yang membaca novel ini, saya sudah sangat senang.

__ADS_1


__ADS_2