
Krising... krising...
Suara gemericik rantai besi.
Di sebuah tempat suram dengan puluhan pasang tenda berbaris bersama gerobak kuda yang memuat orang-orang menyedihkan. Tempat itu sangat ramai, dipenuhi para saudagar dan bangsawan yang sedang melakukan transaksi.
Di belakang salah satu saudagar, berbaris kumpulan macam orang. Leher mereka terpasang kalung rantai yang bersambungan dengan orang dibelakangnya dan seterusnya, mengikat semua manusia yang berbaris dalam barisan panjang.
Pasar budak, sebuah tempat jual beli manusia oleh manusia yang lain. Mereka yang telah kehilangan segalanya akan berakhir di tempat ini, termasuk seorang bangsawan yang kehilangan seluruh martabatnya karena alasan politik.
Di dalam barisan para budak, salah seorang anak remaja berusia kisaran lima belas tahun, dengan tampang yang cukup tampan, memiliki rambut panjang berwarna oranye kemerahan dengan iris mata hijau terang bagai biji zamrud.
Wajahnya persis sama dengan seorang anak bangsawan yang menyaksikan ayahnya dieksekusi mati secara keji di depan matanya sendiri. Ilyasa Bolyevic, nama dari anak remaja tersebut. Dia adalah putra seorang Count Iskandar Bolyevic yang dieksekusi mati diatas titah kekaisaran pada enam tahun silam.
Sekarang anak malang itu sudah tampak dewasa, naasnya raut wajah dari anak itu tampak suram, tatapan kosong yang seakan-akan telah kehilangan tujuan hidupnya. Tubuhnya sangat kurus, tonjolan tulang belulang dengan lapisan kulit putih yang pucat, menandakan manusia yang jarang menikmati sepiring makanan layak.
Disaat Ilyasa sedang berdiri dengan lesunya menatap kepala seorang budak di depannya, Tiba-tiba rantai yang mengikat lehernya tertarik ke depan, sehingga tubuhnya yang lemah itu juga ikut tertarik. Kepalanya terbentur di punggung seorang budak di depannya, begitupun sebaliknya, seorang budak dibelakangnya juga membenturkan kepalanya di punggung Ilyasa.
"Hei...! cepatlah jalan, jangan lambat-lambat! nanti aku cambuk kalian!" Ancam seorang pedagang budak dari arah depan, sambil memegang cambuk rotan yang panjang.
Dengan mengelus-elus kedua tangannya, sambil memasang senyum palsu bermuka dua, dia menatap wajah pelanggan kaya raya itu seraya mengatakan, "Hehe~ silahkan lihat-lihat dulu tuan-tuan, semua ini produk kualitas bagus."
Dengan mudahnya seorang manusia menganggap manusia lainnya seperti sebuah properti mereka, tanpa rasa iba mereka menganggapnya seperti suatu kewajaran.
...****...
Perjalanan Misha membawanya ke tempat para budak diperjualbelikan. Dengan tatapan wajah datar, namun hati seakan-akan dicabik-cabik oleh rasa iba kepada mereka yang direndahkan.
...Sebuah catatan peradaban Mesopotamia 1860 SM. Kisah tentang perbudakan di muka bumi hanyalah cerita belaka yang dicatat dalam tinta sejarah....
...Budak tanpa hak, budak sebagai alat dan budak sebagai kelas sosial terendah. Bahkan derajat mereka setara dengan bintang peliharaan....
...Budak pada zamanku adalah mereka yang tertindas oleh kaum Borjuis, bentuk perbudakan yang lebih kontemporer dengan kesan memperalat manusia....
...Walau begitu mereka masih diberi upah, sedangkan ini......
...Melihatnya saja aku tak kuasa menahan kesedihan ini......
...Ternyata seperti inilah penampakan nyata dari perbudakan yang sama pada zaman kelam di duniaku.......
...Ucap Misha dalam batin kesedihan yang menggeliat di hatinya....
__ADS_1
"Ada apa tuanku?" Tanya Danilo, heran melihat Misha yang seketika menghentikan langkahnya.
Tidak ada respon dari pertanyaannya itu, dia menatap ke arah yang sama dengan apa yang dilihat oleh Misha. Sebuah pemandangan para budak yang berada dalam belenggu rantai.
Lantas Danilo berkata sambil tersenyum, "Tuanku, apakah engkau hendak membeli budak?"
Seketika Misha melebarkan matanya, menatap wajah Danilo dengan tatapan penuh kebencian. Melihat respon dari ekspresi pangeran, Danilo seketika merasa kengerian yang diselubungi rasa takut. Rasa bersalah karena salah mengucapkan sesuatu.
"Dengan santainya kau berucap, seolah-olah manusia berhak menindas manusia lainnya," Ucapannya seketika menjadi nada menekan, "Jika kau menganggap mereka bukanlah manusia, maka saat ini juga akan ku gorok lehermu itu Danilo!"
Kalimat Ancaman yang dikeluarkan barusan membuat Danilo ciut menelan ludahnya, terbayang akan kengerian gelembung hitam pada malam itu.
...Sepertinya aku salah besar berkata seperti itu....
...Lain kali... akan ku jaga ucapanku ini....
...Sesal Danilo dalam benaknya....
"Apakah kau juga berpikir seperti itu? Sebas." Tanya Misha dengan ekspresi yang masih sama.
"Tentu saja tidak tuan muda, bagi saya... manusia memiliki hak yang sama dengan manusia lainnya, perbudakan seperti ini adalah suatu kekejaman menurut saya," Balas Sebas menatap benci para pedagang budak itu.
"Memang harus seperti itu!" Tegas Misha, kemudian berjalan ke arah sebuah tenda salah seorang pedagang budak.
Merasa Khawatir bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Danilo seketika menyusul Misha seraya berkata kepada Sebas yang ada di sampingnya.
"Tuan Sebas! apakah tidak masalah membiarkannya seperti itu?" Tanya Danilo penuh cemas.
"Hah... kau liat saja nanti," Jawab sebas dengan wajah tenang dirinyapun juga mengikuti Misha dari belakang.
............
"Hallo tuan pedagang... Eh– apakah saya boleh melihat-lihat produk yang anda miliki?" Tanya Misha dengan senyuman lebar, yang nyosor ke salah satu tenda tersebut.
"Tentu saja boleh tuan! mari saya temani—" Ucapan gembiranya seketika terhenti, berubah menjadi tatapan sinis setelah melihat perawakan Misha yang mengenakan baju pelayan, apalagi dirinya hanya seorang anak kecil.
Sebas dan Danilo akhirnya berhasil menyusul Misha dari belakang, lantas menegaskan, "Oh tuan jangan menganggap saya hanya seorang pelayan biasa, saya melayani salah satu bangsawan besar! kali ini saya diutus untuk membeli sebuah budak."
Kala mendengar ucapan Misha barusan, sang pedagang awalnya tampak ragu, namun setelah melihat Sebas dan Danilo yang berpakaian cukup elegan sehingga mengira bahwa dialah bangsawan yang dimaksud, seketika wajahnya kembali senang kegirangan.
"Oh tuan pembeli! silahkan lihat-lihat dulu... semua ini adalah produk berkualitas! mereka sehat-sehat, bisa dijadikan tenaga pekerja, pembantu rumah tangga, bahkan... bahan kesenangan diatas ranjang pun bisa, hehe~" Tutur si pedagang tersebut, sambil memandu mereka ke arah barisan para budak.
__ADS_1
Satu persatu wajah penuh kelam dilihat mereka, mulai dari seseorang berbadan tinggi besar, dengan gumpalan otot yang kuat sampai pria tua kurus yang tidak berdaya.
...Matamu sehat-sehat......
...Kesal Misha dalam batinnya....
...Aku menginginkan mereka semua terbang bebas dari belenggu rantai ini... Tetapi aku mana punya kuasa seperti itu....
...Untuk sekarang, aku butuh seseorang yang memiliki dendam dalam hatinya, siapapun itu... tidak peduli mau dia anak-anak ataupun orang tua....
...Selama dia memiliki rasa itu, maka kuberikan sepasang sayap untuknya....
...Tutur Misha dalam batinnya, melirik satu persatu wajah para budak....
Berjalan menyusuri barisan para budak, namun tak kunjung melihat kriteria yang Misha inginkan. Dalam matanya ia hanya melihat secuil dendam dan gumpalan keputusasaan, seolah-olah telah menyerah dalam hidup ini.
Merasa resah karena dari tadi pelanggannya belum juga memilih salah satu budak, Si pedagang itu merasa ragu dengan mereka bertiga.
Tiba-tiba dari arah depan, muncul salah seorang pembeli dari kalangan bangsawan yang turun dari kereta kuda mewah. Kemudian pelayan dari bangsawan itu memanggil si pedagang dengan teriakan, "Hei tuan! kemarilah...! sang Baron ingin membeli budakmu!"
"Hah? Baron?!" Ucapnya dengan kegirangan, "Eh— tuan... mohon maaf, saya harus melayani tamu penting di depan sana dulu, hehe..." Lanjutnya, Kilauan emas berkilau dari matanya.
"Baiklah...! saya akan segera kesana tuan!" Teriak si pedagang tersebut, sembari berjalan terburu-buru ke arah depan.
...Dasar mata duitan... akan kuingat wajahmu sial*n....
...Cibir Misha dalam hatinya, setelah melihat tingkah laku si pedagang tadi....
"Tuanku... apakah kita benar-benar akan membeli salah satu dari mereka?" Tanya Danilo yang penasaran.
"Iya—" Ucapannya terhenti.
Matanya akhirnya menemukan sebuah jiwa yang diselimuti kobaran api balas dendam, akan tetapi ditutupi cairan keputusasaan, seperti sebuah benalu mengerikan yang tumbuh karena kehilangan secercah harapan.
Orang itu adalah Ilyasa, anak remaja yang bertemu dengan kesatria penyelamat hidupnya.
...Nah~...
...Kupikir kau belum tenggelam terlalu jauh wahai anak muda......
...Dengan sedikit sentuhan kau akan terbebas dari benalu mengerikan itu....
__ADS_1
...Ucap Misha dalam batinnya, menatap tatapan kosong Ilyasa dengan seringai kebahagiaan....
...****...