The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 29 : Penjelasan malam itu


__ADS_3

Crenkkeng... kreesing...


Bunyi suara gesekan rantai yang mengikat Ilyasa.


Mereka membawa Ilyasa melewati tembok dalam kota, ratusan pasang tatap mata mengarah kepadanya. Menjijikan, mengerikan dan menyedihkan, itulah ungkapan orang-orang dalam hati mereka, sambil meludahinya dari kejauhan.


Saat ini matahari telah bersinar diatas kepala orang-orang, menandakan waktu telah menjelang tengah hari.


"Sekarang kita akan ke mana tuan muda?" Tanya Sebas, penasaran.


"Ada banyak hal yang harus aku bicarakan dengan kalian, terutama Danilo. Pertama-tama ayo cari tempat yang nyaman untuk bicara," Ungkap Misha yang berjalan bersama mereka bertiga.


"Kalau begitu... bagaimana di tempatku saya tuanku?" Usul Danilo, tersenyum lebar.


"Yah, terserahlah..." Balas Misha dengan raut wajah datar.


Saat melihat tatapan sinis orang-orang kepada Ilyasa, batin Misha merasa terusik, lantas dengan wajah kesal dia berkata, "Sebas! singkirkan dulu rantai besi di leher anak itu, suaranya menganggu."


"Baiklah tuan muda," balas Sebas sembari mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya.


Kunci tersebut diberikan pada mereka setelah penandatanganan kepemilikan budak.


Crek...!


Suara gembok rantai yang terbuka. Belenggu itu seketika dilepaskan dari lehernya, memperlihatkan tanda memar merah yang melilit lehernya, seperti tidak pernah dilepaskan selama bertahun-tahun.


Rasa gatal selama bertahun-tahun akhirnya bisa dilampiaskan Ilyasa, ia menggaruk sekujur lehernya dengan eskpresi lega. Sebas kemudian menatapnya dengan senyuman hangat.


Melihat tatapan Sebas, Ilyasa seketika berhenti menggaruk, kepalanya tiba-tiba ditundukkan kebawah, menunjukkan sisa-sisa ketakutan yang berbarengan dengan trauma panjang.


Tidak ingin Ilyasa merasa takut, Sebas seketika memalingkan pandangannya, kemudian lanjut berjalan bersama Misha dan Danilo di depan.


"Tuanku... mohon maaf bila lancang, bukanlah dia bisa kabur jika tidak dirantai...?" Tanya Danilo terbata-bata, takut bila Misha marah lagi dengan perkataannya.


"Memangnya kenapa kalau dia kabur...?" ucap Misha, dengan santainya.


....


Mendengar perkataan barusan, emosi Ilyasa kembali tersentuh. Dalam benaknya dia berpikir.


...Anak ini... dia berpenampilan seperti pelayan, tetapi aku melihat dirinyalah sosok bangsawan yang sebenarnya....


..........


...Setiap kali melihat wajahnya, seolah-olah emosiku yang telah lama hilang tiba-tiba bangkit lagi......


...Ucapannya, raut wajahnya, tindakannya......


...Anak kecil ini, terlihat sangat terang bagi diriku yang gelap gulita......


...Siapakah gerangan beliau ini...?...


Tiba-tiba Misha menoleh kebelakang, menatap wajah Ilyasa dengan senyuman yang menghangatkan.


Melihat pandangan Misha, dia seketika memalingkan pandangannya kebawah, tunduk dalam perasaan tersipu malu.


...*****...


Berjalan melewati jalanan kota, tak terasa mereka sudah sampai di sebuah kediaman seorang bangsawan. Bangunan tiga lantai, terbuat dari susunan dinding batu uang di cat dengan warna putih.


Setiap sudut bangunan terdapat menara setinggi tiga puluh meter, atap rumah besar itu terbuat dari susunan genteng berwarna hitam. Bangunannya di kelilingi begitu banyak taman dan kolam ikan, halaman rumahnya lebih luas dibandingkan halaman rumah Hans.


Lantas seraya menunjuk rumah tersebut Danilo berkata, "Selamat datang di kediamanku, tuan muda Misha." menunduk hormat.


Ilyasa seketika terpanah dengan keindahan rumah itu, mulutnya terbuka lebar bersama matanya. Disaat ia berada dalam rasa kagum, Ilyasa menoleh ke wajah Misha, dan seketika itulah dirinya terkejut ketika melihat ekspresi Misha yang lebih terpesona saat melihat bangunan di depan mereka.


...Susunan desai arsitektur yang sangat indah, seperti inilah kediaman para bangsawan? walaupun memang tidak sebagus dan seluas istana, tetapi aku tidak menduga bahwa rumah seorang bangsawan bisa sebagus ini....

__ADS_1


...Aku memang tau setiap bangsawan pasti punya kekayaan yang bergelimpangan, tetapi kemewahan ini sudah berlebihan......


...Ungkapan isi hati Misha dalam rasa kagumnya....


...........


"Tuan Danilo...?" Ujar seorang kakek tua berbusana ala pelayan, dia sedang berada di taman sambil memotong dedaunan.


Kakek tua berambut putih, kulit keriput dengan raut wajah polos. Lehernya diikat dengan kalung besi, menandakan bahwa dia adalah seorang budak.


Menatap wajah mereka berempat dari dalam pagar rumah, terkejutnya dia dengan mulut yang terperangah lebar. Dengan sigap ia tiba-tiba berlari kearah pintu pagar, sambil berteriak gembira.


"Tuan Danilo...! syukurlah... hamba sangat menghawatirkan anda." Teriak si kakek tua itu, berlari setelah membuka pintu pagarnya kemudian bersujud sambil menciumi sepatu Danilo.


Tatapan sinis ditunjukkan oleh Misha, setelah melihat aksi dari si kakek tua yang menurutnya adalah suatu penghinaan terhadap derajat manusia.


"Hei-hei— sudahlah, tidak perlu seperti itu, berdirilah...." tegur Danilo dengan panik, mengangkat bahu si kakek tua dengan setengah pandangan melihat wajah kesal Misha.


"Tetapi tuan, hamba tidak sopan bila tidak me—" Ucapannya terpotong, ketika telapak tangan Danilo menyumbat perkataannya.


"Ayo... mending kita segera masuk saja, yah..." Ajak Danilo, Mengalihkan perhatian dengan ekspresi gugup.


...Aduh...! tindakan si kakek tua ini pasti membuatnya jengkel.......


...Dia pasti mengira kalau aku sering memperlakukan mereka dengan buruk....


...Pokoknya aku harus mencari alasan....


...Hah~...


...Ucap Danilo dalam batinnya, merasa resah dengan tindakan si pelayan kakek tua barusan....


Tak lama kemudian setelah si pelayan tua itu berdiri dari sujudnya, matanya seketika penasaran dengan sebelah lengan majikannya yang ditutupi dengan sehelai kain merah, hendak menanyakan hal tersebut, namun tidak enak kepada tuanya yang baru saja sampai dari hilangnya dia selama dua minggu.


........


Akhirnya tanpa panjang lebar lagi, mereka beranjak masuk ke dalam rumah besar nan mewah tersebut.


............


Lantai bersih dengan balok marmer yang halus, disinari cahaya lampu putih cerah di dalam wadah kaca, bergelantungan dengan motif-motif indah. Di depan mereka ada sebuah tangga yang mengarah keatas, bersambung dengan lantai dua dan seterusnya.


Misha dan Ilyasa kecuali Sebas menatap kagum seluruh isi ruangan tersebut, lantas Misha bertanya kepada Danilo, "Ruangan sebesar ini... ada berapa orang yang tinggal di tempat ini?"


"Hmm~ ada sekitar lima orang saja tuanku, saya dan keempat pelayan saya." Terang Danilo, dengan senyumannya.


"Filya, Mertha...! kemarilah, kita kedatangan tamu." Teriak Danilo, memanggil para pelayannya yang berada di lantai atas.


"Hah? terus keluargamu...? istri atau anak-anakmu dimana?" Lontar kejutan pertanyaan Misha, yang seketika menusuk batin Danilo.


"Hehe~ kalau itu... saya belum punya." Ungkap Danilo, menunduk dengan wajah malu.


"Oh kau seorang bujangan yah~" Ucap Misha, menatap rendah si Danilo.


Mendengar ucapan barusan Danilo merasa sangat malu, karena sudah berumur tetapi belum memiliki pasangan hidup.


...Yah~ menurutku sih tidak masalah......


...Wajar untuk orang yang gila ilmu sihir sepertimu....


...Haha~ lagian dulu aku juga sepertimu....


...Ucap Misha, yang tertawa dalam hatinya....


Tak lama kemudian, dua orang pelayan datang menghampiri mereka, gadis muda yang cantik lelaki muda yang tampan, seperti dua pasangan serasi.


"Ada apa tuanku?" Ujar si pelayan gadis dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Bukan ada apa— maksudnya, bawakan jamuan untuk tamu-tamu kita." Perintah Danilo, yang hampir saja memarahi si pelayan itu.


"Baik tuanku!" Balas kedua pelayan dengan ucapan serentak.


Danilo kemudian menoleh kearah Ilyasa, lalu memanggil kembali si pelayan laki-laki.


"Mertha, bawa anak ini ke dalam kamar mandi, bantu dia untuk membersihkan dirinya." Perintah Danilo, kemudian memegang pundak Ilyasa dan mendorong pelan ke arah Mertha si pelayan.


"Baik tuan... eh, siapa ini?" Jawab Mertha lalu bertanya lagi dengan wajah heran.


"Tidak usa banyak tanya, nanti aku jelaskan..." Pungkas Danilo dengan senyuman paksa, seolah-olah geram dengan tingkah laku para pelayannya itu.


"Baik tuan." Ucap Mertha, kemudian membawa Ilyasa pergi ke tempat pemandian.


..............


"Tuan... kalau begitu bolehkah saya lanjut bekerja?" Tanya si kakek tua, dengan punggungnya yang bungkuk.


"Iya silahkan lanjutkan, kalau lelah jangan lupa untuk beristirahat." Pungkas Danilo diakhiri senyuman ramah.


...Kok sikap tuan hari ini terlihat sangat baik dari biasanya......


...Ucap si kakek tua dalam benaknya, merasa bingung dengan perubahan majikannya....


...........


Misha dan Sebas digiring kearah sofa, duduk diatasnya dengan rasa empuk yang nyaman.


"Danilo... aku ingin bertanya kepadamu," Ujar Misha, dengan raut wajah keseriusan.


"Apa itu tuanku...?"


"Tentang hari itu, di ruangan fasilitas terbengkalai." Balas Misha, mata menyipit dan alis yang menekuk.


Mendengar hal tersebut, Danilo tak kuasa mengingat kembali kejadian yang dia alami. Rasa ketakutan yang dilumuri keputusan pada malam itu, membuat sekujur tubuhnya gemetar.


"Apa yang kau lihat...? dan mengapa tanganmu sampai buntung begini?"


"Pertanyaan itu membuat Danilo menelan ludahnya, kengerian pada saat itu terus terbayang-bayang dalam pikirannya. Tidak berani menceritakan segalanya, namun mau tidak mau harus ia jelaskan.


Diawali kalimat gugup Danilo berucap, "Sa– saat... saat itu.... anda terlihat sedang menyerap energi mana, aku sudah memperingatkan bahwa hal tersebut sangat berbahaya, tapi— tapi..." Ucapannya diselimuti keraguan, dia tidak berani menatap mata Misha yang penuh tekanan itu.


"Danilo.... sini, lihat wajahku." Pinta Misha, menunjuk wajahnya sendiri.


Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya, kemudian melihat senyuman yang terpampang di wajah sang pangeran. Lantas dengan suara lembut Misha berkata, "Sebenarnya apa yang kau takutkan padaku...?"


Dengan wajah yang melebar, Danilo membalas, "Eh– tidak... bukan—"


Ucapannya tiba-tiba terhenti, ketika suara langkah kaki Filya si gadis pelayan mendekati mereka. Dengan membawa beberapa teh hangat dan kue yang terlihat enak diatas piringan kaca, Si pelayan kemudian meletakkannya diatas meja kaca tanpa tau suasana apa yang terjadi di tempat itu.


"Ini tuan-tuan... silakan dinikmati." Ucap Filya dengan senyuman hangat, lalu berdiri di samping mereka.


Seketika suasana kembali mereda, perbincangan mereka terdiam untuk sesaat. Lantas dengan penuh amarah Danilo menatap wajah Filya si gadis pelayan itu, seolah-olah mengintruksikan dirinya untuk segera pergi dan jangan menguping perbincangan mereka. Paham akan situasi yang diberikan Danilo, si gadis polos tiba-tiba beranjak pergi secepat mungkin dari situ.


"Apa-apaan wajah itu Danilo, apakah kau masih saja arogan?" Ujar Misha, menatap dinding ketika melihat ekspresi Danilo barusan.


Secepat mungkin memperbaiki tatapan kemarahannya, lalu kembali memasang wajah ketakutan dengan keringat dingin yang terus menerus mengalir di pori-pori kulitnya.


Hubungan pangeran Misha dan Danilo tidak sebaik hubungannya dengan Sebas. Bagi Misha, Danilo hanya sebuah pion catur yang masih perlu diasah. Kesetiaan, kepercayaan dan ketundukannya masih perlu dipastikan oleh pangeran Misha.


...Oh Danilo......


...Aku sekarang sedang menilai apakah kau pantas naik menjadi salah satu petinggi dalam bidak caturku....


...Lintas pikiran Misha, menatap ragu Danilo yang diliputi rasa takut....


__ADS_1


Ilustrasi Gelembung hitam yang menelan sebelah tangan Danilo. Kumpulan partikel anti materi yang melahap segala sesuatu, bagaikan hisapan lubang hitam yang berkeliaran seantero alam semesta.


...****...


__ADS_2