The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 17 : Sahabat dekat


__ADS_3

Di malam hari yang gelap gulita, dengan sedikit cahaya obor yang menerangi gelapnya malam. Di suatu gang kecil, Sebas terlihat berlari mengendap-endap.


Sembari menopang tubuh Danilo yang sekarat, Sebas terus berlari, sampai dirinya sampai di sebuah tembok besar yang menghalanginya. Tak habis cara, Sebas seketika memanjat temboknya, meletakkan Danilo di punggungnya dengan mengikat tubuhnya di perut menggunakan sobekan baju.


Diatas tembok terlihat dua orang prajurit yang berjaga, berjalan lalu lalang, hingga pandangan mereka mengarah ke belakang. Celah mulai terlihat, Sebas yang sedari tadi menggantung di sisi tembok, bergerak cepat melewati mereka.


Set...! sat....! set....! lompatan cepat mereka, melintas bagaikan bayangan.


Trakk...! Bunyi hentakan kaki yang mendarat.


Pelarian diam-diam yang tidak diketahui, Sebas telah membawa Danilo sampai ke sebuah pemukiman warga, penuh dengan rumah-rumah bertingkat yang tergolong mewah, di sana terdapat beberapa prajurit yang berjaga, namun tidak sebanyak yang ada di dalam tembok istana.


Sebas kembali menyusup ke salah satu rumah empat lantai, rumah tersebut terbuat dari susunan batu bata yang rapi, dengan luas yang cukup besar, Setiap halaman rumah di kelilingi pagar beton.


Dari pagar rumah Sebas mengintip keadaan sekitar, mengendap-endap melompat pagar dengan kekuatannya, dan kembali bersembunyi. Merasa suasana aman, ia segera mengetuk pintu rumah itu dengan keras.


Tak...! tak...! tak....! Suara ketukan pintu kayu yang bergetar.


"Hans...! ini aku, Sebas..! buka pintunya." Teriaknya sembari menggedor-gedor pintu.


Sebas mengetuk pintu rumah seseorang, beberapa kali ketukan namun tidak ada balasan, tidak lama kemudian pintu itu akhirnya terbuka. Memperlihatkan sosok seorang lelaki paruh baya, berambut kuning kemerahan dengan badan tinggi kekar.


"Sebastian?! lama tak berjumpa—" Sambut orang dengan nama Hans, kegembiraan awalnya terlihat di wajahnya, "—apa yang terjadi...?! apa yang terjadi padanya?!" Ujar Hans lagi, dengan wajah yang berubah menjadi panik.


"Nanti saja...! orang ini butuh perawatan!" Jelas Sebas, dengan wajah berbalut panik.


Dibelakang Hans, ada sosok gadis muda dengan wajah manis, kulitnya berwarna coklat kemerahan, bola mata hitam pekat, rambut keriting, dan tubuh yang sedikit pendek. Gadis itu mengenakan pakaian ala pelayan, atasan putih dan bawahan hitam.


Akan tetapi pakaian yang ia kenakan sangat berbeda dari pakaian pelayan yang biasanya, karena terlihat sangat terbuka. Rok pendek membatasi pangkal paha, sehelai lipatan kain yang menutup dada, berbahan tembus pandang hingga memperlihatkan **********.


Sontak Hans mempersilahkan mereka masuk ke kediamannya, mengantarkan mereka di salah satu kamar besar dengan kasur empuk dan bantalan halus. Kamar yang menggambarkan sosok orang yang cukup kaya.


"Hadara?! cepat ambilkan peralatanku di lemari." Perintah Hans kepada sosok gadis kecil yang berperawakan seorang pelayan.


"Baik tuanku." Balas pelayan itu, sambil membungkuk rendah.


Sebas dengan sigap meletakkan Danilo diatas kasur, membaringkannya dengan pelan sambil berucap, "Seperti yang kau lihat dia kehilangan lengan kirinya."


"Apakah karena pertarungan?" Tanya Hans, turut prihatin. Alis keningnya melengkung kebawah.

__ADS_1


"Ya, seperti itulah." Balas Sebas dengan tenang.


Hans seketika mendekati Danilo yang sekarat, memeriksa leganya yang berdarah kemudian mengatakan, "Gawat... Ini luka yang sangat parah."


"Bisakah kau melakukannya...? Hans." Tanya Sebas, dengan wajah cemas.


"Akan kucoba sebisaku." Balas Hans, tersenyum prihatin.


Beberapa saat kemudian, Hadara si pelayan muncul sambil memegang sebuah ransel kulit yang besar, menentengnya dengan sekuat tenaga sambil berjalan Miring.


"I—ini... tu–tuanku ... Hah... hah..." Ucap Hadara, terengah-engah, menggambar wajah manis yang menggairahkan.


Sekilas Misha memperhatikan pelayan itu, dalam benaknya ia berkata.


Hans... kau masih saja melakukan kebiasaan buruk mu.


Hans seketika mengeluarkan isi di dalam tasnya, mengambil beberapa peralatan aneh seperti jarum kecil, sebuah botol kaca berisi cairan hijau dan beberapa bubuk yang dikemas di dalam lipatan kertas.


Selepas itu Hans meletakkan barang-barangnya diatas meja di samping kasur, mengambil sebuah kursi dan duduk diatasnya. Secara perlahan ia membuka pakaian sobek yang membalut legan Danilo yang terputus.


Matanya seketika melebar, tercengang melihat potongan rapi di legan yang tidak ia sangka. Kemudian menoleh kearah pelayan itu seraya memerintah, "Ambilkan air hangat."


.........


"Pedang yang sangat tajam, sampai-sampai bisa Serapi ini." Ucap Hans, dengan wajah penuh keseriusan.


Sebas hanya bisa terdiam mendengar ucapan Hans, dirinya pun merasa penasaran sekaligus gelisah. Karena tidak mengetahui apa yang terjadi kepada pangeran dan Danilo yang terluka seperti ini.


Sembari menunggu air, Sebas seketika duduk diatas kasur, lalu berkata, "Hans, apakah kau masih melakukan eksperimen gila mu?"


"Hahaha~ kau masih saja tidak mengerti, itu adalah sebuah penelitian luar biasa. Negara ini kelak akan berterimakasih padaku." Balas Hans dengan tawa, serta senyuman paksa terlihat di wajahnya.


"Tidak... Aku menghargainya karena kau, tetapi aku berharap kau berhenti melakukannya." Ungkap Sebas, merasa jijik. Namun memasang wajah yang datar.


"Terimakasih Sebas, kau memang sangat pengertian." Balas Hans sembari tersenyum palsu palsu.


...Hans dan aku memiliki hubungan pertemanan yang aneh....


...dulunya kami musuhan, tetapi orang ini malah menjadi temanku....

__ADS_1


...Ungkap Sebas dengan resah, dari dalam hatinya....


Tidak lama kemudian si pelayan datang, memasuki kamar sambil membawa bejana berisikan air, terlihat airnya mengeluarkan uap hangat. Menentengnya di samping pinggulnya, dengan selembar handuk di pundaknya.


Lantas pelayan meletakkan bejana itu di samping Hans, seraya mengatakan, "tuanku, ini airnya."


"Kerja bagus." Puji Hans, tersenyum lebar, matanya menyipit kebawah. sambil mengelus-elus kepala si pelayan.


Ketika telapak tangan itu menyentuh kepalanya, Hedara terlihat sangat ketakutan. Bola matanya kosong, seakan-akan telah kehilangan tujuan. Sebas yang melihat ekspresinya seketika merasa iba.


"Tch...!" Kesal Sebas, kemudian menutup kedua matanya.


"Hahaha~ anak pintar, sekarang keluarlah. Tuanmu masih ada urusan." Perintah Hans sambil memujinya, sekilas ia mengeluarkan ekspresi kegirangan.


Hedara si pelayan sontak pergi lagi meninggalkan ruangan, tak lama setelah pintu ditutup olehnya, Hans berkata dengan tatapan penuh niat jahat, "Sangat indah bukan? hehe~"


Sebas hanya bisa terdiam dengan kedua mata yang tertutup, seolah-olah tidak ingin ambil pusing soal perilaku temannya.


Tanpa banyak bicara, Hans langsung memeriksa keadaan Danilo. Pertama-tama ia mengambil beberapa jarum diatas meja, menusukkan satu persatu perlahan-lahan.


Disaat mata jarum terakhir dimasukan, syaraf lengannya seketika bergerak, seolah-olah menerima reaksi dari tusukan jarum. Selepas itu dia membuka penutup botol kaca berisikan cairan hijau, membuka rahang Danilo lalu menuangkannya perlahan-lahan.


Hans lalu mengambil lagi sebuah bungkusan kertas yang terlipat di atas meja. Membuka bungkusan itu, lalu menuangkan serbuk putih tepat di luka yang penuh darah. Satu menit kemudian keajaiban muncul di hadapan mereka, serbuk itu meleleh seperti es yang mencair, kemudian mengeras perlahan-lahan sampai membentuk gumpalan daging kering.


"Awalnya aku sempat meragukanmu, ternyata aku salah..." Ungkap Danilo, memuji kehebatan Hans.


"Hahaha~ jangan berkata seperti itu, kau yang paling paham siapa aku." Balas Hans sambil tertawa dengan tatapan mata yang tajam.


.........


"Istirahatkan dia disini, beberapa hari kemudian dia akan sadar." Tutur Hans, kemudian berdiri.


Sebas mengulurkan jabat tangan kepada Hans, seraya berkata, "Hans, Terimakasih atas bantuannya."


Hans membalasnya dengan menjabat kembali tangan Sebas, lalu berkata, "Tidak perlu sungkan, kita kan teman."


Mereka berdua saling bertatapan tajam, seolah-olah tidak menyukai satu sama lain. Akan tetapi wajah mereka berdua sama-sama tersenyum ramah, bersikap seolah-olah sepasang sahabat dekat.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2