
Misha menunda bacaannya, memutuskan untuk pergi lagi ke luar Istana dan merancang sebuah strategi awal dirinya mencapai puncak.
"Ayo kita pergi sekarang juga," Ajak Misha yang tersenyum lebar dengan penuh semangat.
Lantas keluarlah mereka dari dalam perpustakaan. Saat hendak melewati gerbang, Danilo tiba-tiba bertanya, " lalu bagaimana caranya anda bisa keluar dari Istana?"
"Ah... gampang, aku menyimpan busana penyamaranku." Balas Misha sambil mengeluarkan lipatan pakaiannya kemarin dari balik pakaian noraknya yang tebal.
Kali keduanya bagi pangeran kecil itu untuk keluar dari istana. Berjalan dengan santai keluar istana, tanpa sedikitpun orang yang sadar akan identitasnya.
...******...
Pada suatu ketika, di sebuah jalanan kota yang sangat ramai. Di samping keramaian itu ada sebuah bangunan putih yang sangat luar biasa megahnya, menjulang tinggi bagaikan menara Eiffel. Tempat itu adalah Katedral pusat keagamaan suci.
Dan di sebuah jalanan itu, ada Anna yang sedang berjalan menuju bangunan katedral. Dia berjalan dengan langkah cepat seperti seseorang yang sangat terburu-buru.
Dan tidak jauh dari lokasi Anna, terdapat Sebas yang sedang mengintipnya dengan tatapan tajam. Dibalik tembok rumah masyarakat, sambil menggenakan tudung hitam penyamaran.
...Oh begitu yah......
...Ternyata kau kacung para pemimpin agama....
...Kesimpulan Sebas dalam batinnya, dengan perasaan emosi yang tertahan....
...*****...
Dan dilain tempat, dengan jarak yang juga tidak terlalu jauh dari lokasi Sebas yang menguntit Anna si pelayan. Di seberang jalanan yang berbeda, ada Misha yang saat ini sedang berjalan bersama Danilo, menuju sebuah tempat megah yang dinamakan katedral.
"Danilo, apakah tidak masalah bagi orang biasa untuk masuk ke tempat ini?" tanya Misha, menatap kagum sebuah bangunan tinggi itu.
"Sebenarnya tidak masalah juga tuan, tetapi ada beberapa ruangan batas suci yang dilarang dimasuki orang-orang biasa." Jawab Danilo.
............
Singkat waktu, Misha dan Danilo akhirnya meletakkan kaki di tangga katedral. Di seberang sisi pintu masuk yang berbeda dengan Anna yang juga saat ini sama-sama memasuki tempat tersebut.
Saat mereka masuk ke dalam ruangan tersebut, mereka disambut dengan iringan nyanyian gema dari panduan suara, sebuah lagu rohani yang dilantunkan bersama instrumental bergaya eropa timur.
Di sebuah gerbang putih raksasa yang terbuka luas. Di jaga oleh dua kesatria bersenjata berbadan tinggi besar, menggenakan armor serba putih dengan logo fraksi agama yang bercorak di perisai dan armor yang ia kenakan. Lantas dengan perasaan sedikit gugup, Misha melangkah maju mendekati gerbang tersebut.
"Saya Danilo Lukashenko, seorang baron dari bangsawan fraksi netral. Eh... saya ada keperluan dengan salah seorang imam. Bisakah saya bertemu dengannya?" tutur Danilo, meminta izin untuk masuk ke dalam katedral.
"Silahkan masuk tuan Baron, kehadiran anda diterima." Sambut si kesatria, mempersilahkan mereka dengan tangan terbuka.
"Terimakasih."
Lantas kedua kaki mereka berdua menyentuh lantai licin dengan balok marmer yang dipoles dengan indah. Di dalam katedral itu, sebuah ruangan besar nan luas dengan puluhan orang yang mondar mandir didalamnya.
Berjalan masuk dengan ekspresi yang sangat teramat kagum, matanya berbinar-binar saat melihat kubah raksasa yang tingginya sekitar seratus meter ke atas. Terdapat tangga yang melingkari sebuah pilar naik menuju sepuluh tingkat.
...Gila...! ini luar biasa! setidaknya dalam bidang arsitektur negara ini sangatlah berbakat....
...Ucap Misha dalam batinnya, melihat ribuan ukiran dewa-dewi yang terukir dari kubah sampai dinding-dinding bangunan....
.............
Beberapa saat kemudian, muncul seorang perempuan yang berpenampilan layaknya biarawati. Dia datang menghampiri Danilo dan Misha sambil menunjukkan senyuman ramah.
"Iya tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?" Sapa biarawati itu.
"Salam kenal, saya Danilo Lukashenko, seorang baron fraksi netral. Kedatangan saya kemari ialah hendak bertemu dengan imam Renovic." Salam Danilo, mengutarakan tujuannya dengan pipi yang memerah karena terpanah akan kecantikan si biarawati.
Misha memperhatikan wajah Danilo serta berkata dalam benaknya.
...Kontrol matamu wahai Danilo....
..........
"Oh tuan imam Renovic?! beliau ada di dalam ruangannya, mari saya antarkan." Ajak biarawati dengan ekspresi terkejut gembira.
__ADS_1
Misha dan Danilo kemudian diajak oleh biarawati itu ke sebuah ruangan milik imam Renovic. Mereka dibawa melewati tangga dan naik ke atas sampai di lantai tiga bangunan katedral.
"Kebetulan saya juga mengabdi lewat bimbingan beliau." Ungkap biarawati dengan senyuman yang tidak kunjung pudar.
"Hehe~ begitu yah, aku juga merupakan kenalan dari Renov— eh, maksudnya imam." Balas Danilo dengan wajah merahnya, seraya menggaruk kepalanya. Terlukis wajah malu-malu kucing dari ekspresinya itu.
"Haha~ mohon maaf, anda orang yang lucu tuan." Ucap biarawati dengan tawa sopan.
"Ah~ begitu lah... hehe~" balas Danilo lagi, dengan perasaan malu.
.............
Singkat cerita si biarawati itu berhenti di sebuah pintu ruangan di sebuah koridor yang berbatasan dengan batas pagar bangunan bertingkat.
Tok... tok... tok....
Suara ketukan pintu dengan pelan.
"Tuan imam? apakah anda ada di dalam? anda kedatangan tamu tuan." Panggil biarawati.
tak lama kemudian terdengar suara pria dewasa yang menyahut dari dalam pintu itu, "Iya? ada apa?"
pintu itu seketika terbuka, dibuka oleh salah seorang pria berbadan gempal, berwajah bulat, menggambarkan pria polos yang baik hati. Rambutnya pirang dan matanya agak sipit. pria itu menggenakan sebuah jubah panjang dengan gambar simbol agama suci di tengah jubahnya.
Tiba-tiba dengan ekspresi gembira, imam tersebut langsung memeluk Danilo dengan erat.
"Whaaaa...!! Danilo! sahabatku!" Sambut pria gendut itu, yang merupakan seorang imam bernama Renovic. Berteriak gembira seperti sudah sekian lama tidak berjumpa.
Ketika pelukan Renovic dilepaskan, ia memegang pundak Danilo seraya berkata, "Puji tuhan! kau sudah terlihat berbeda sejak terakhir kali kita bertemu... haha."
"Sudah berapa lama yah, tiga tahun lalu? Lihat dirimu Danilo, kelihatannya kau sudah menjadi guru yang sukses!" Kegirangan menyambut teman lamanya itu.
"Lama tak berjumpa sahabatku, haha~ tidak, aku tidak sesukses itu kawan." Balas Danilo, tersenyum malu di depan sahabatnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu hehe~ maaf setelah sekian lama aku baru datang menemui mu." Ucap Danilo, perasaan tidak enak hati.
"Lilina, bawakan mereka makanan yang enak." Perintah Renovic kepada biarawati yang bernama Lilina.
"Baik tuan," jawab lilina si biarawati kemudian pergi dari ruangan itu.
............
"Jadi, bagaimana kabarmu sekarang?" tanya Renovic, duduk sambil tersenyum lebar.
"Yah begitulah, masih sama seperti dulu." Balas Danilo dengan senyuman malu.
"Ngomong-ngomong, kamu sudah terlihat berbeda juga. Bisa dilihat dari perut buncit mu itu, haha~" Canda Danilo, tertawa riang bersama Renovic.
"Haha~ iya nih, itu karena aku sering makan banyak." Ucap Renovic yang tertawa terbahak-bahak.
Danilo dan Renovic sahabat lamanya itu berbincang-bincang sangat lama, membicarakan tentang kisah kehidupan mereka masing-masing sambil bercanda gurau mengenang masa lalu. Sampai tak lama kemudian hidangan makanan mereka telah sampai, tetapi mereka terus melanjutkan perbincangan reuni itu selama satu jam lebih.
Sedangkan Misha, yang saat ini sangat merasa bosan mendengar ocehan mereka berdua, hanya bisa duduk diam sambil memainkan dasi merahnya dengan ekspresi jenuh.
Tiba-tiba terbesit ucapan dari dalam hati pangeran kecil.
...Danilo, bukankah sudah cukup reuni mu itu....
............
Mengingat sudah terlalu lama bercerita dan melihat ekspresi pangeran yang sangat kesal karena terlalu lama menunggu, Danilo memutuskan untuk membicarakan persoalan inti dari pertemuan mereka.
"Renov. Perkenalkan, dia adalah kerabat jauhku. Namanya..." Terdiam dua detik untuk mengarang, "Masha!" ucapnya lagi, mengada-ada sebuah nama.
...Hei... hei... apa-apaan nama itu?! bukankah terlihat sama....
...Protes Misha dalam benaknya....
"Oh iya, salam kenal yah anak kecil." Ujar Renovic, mengelus-elus rambut pangeran dengan senyuman ramah.
__ADS_1
Lantas Misha membalas senyuman itu, seraya berkata, "Salam kenal juga tuan baik hati."
Mendengar kata baik hati yang dilontarkan Misha, seketika Renovic merasa senang akan kalimat itu.
"Jadi anak ini ingin...." Danilo bingung mengungkapkan apa keinginan Misha, kemudian menatap mata pangeran dengan tatapan kebingungan.
"Aku ingin mengabdi kepada tuhan!" Ujar Misha, dengan senyum lebarnya.
Mendengar keputusan barusan, Danilo seketika terperangah karena tidak menyangka akan ucapan yang Misha katakan. Dari benaknya Danilo berkata.
...Hah?! mengabdi...? sebenarnya apa yang tuanku pikiran....
...Hah~...
...Hembus nafas tak habis pikir Danilo dari batinnya....
Sedangkan Renovic ketika mendengar ungkapan Misha, seketika merasa terharu sekaligus sangat senang. Karena sangat jarang melihat seorang bocah berumur sembilan tahun, ingin mengabdi kepada tuhan.
...Apakah anak ini tau arti dari pengabdian itu....
...Ucap Danilo dari batinnya....
............
"Jadi itu yang ingin kau bicarakan Danilo? Haha~ aku sangat senang! dengan senang hati akan ku terima anak ini." Balas Renovic, menoleh sesaat wajah Danilo, kemudian menatap Misha dengan raut kegembiraan.
Dengan menjulurkan jabat tangan kepada Misha, Renovic berkata, "Akan aku urus berkas-berkasnya! kau tidak perlu khawatir nak!"
"Terimakasih banyak tuan imam, semoga berkah tuhan menyertai anda." Pungkas Misha.
Tak hanya Renovic, Lilina si biarawati juga merasa amat tersentuh dengan ucapan dan ungkapan Misha, apalagi ucapannya tentang pujaan kepada tuhan.
...............
Singkat cerita, mereka telah menyudahi pertemuan itu. Semua berkas pendaftaran langsung akan diurus oleh Renovic sendiri. Sebagai utusan penyebar agama, dia sangat teramat senang akan hal itu.
"Sampai ketemu lagi Renovic, senang berbincang-bincang lagi denganmu." Pamit Danilo, di depan gerbang katedral.
"Akan ku usahakan berkas-berkasnya segera diterima! Kau tidak perlu risau." Ujar Renovic, dengan senyum gembira. Dia terlihat berdiri mengantarkan kepulangan mereka bersama Lilina si biarawati.
Lantas Misha dan Danilo pun pergi dari katedral dengan menuruni tangga putih. Setelah mereka sudah berada jauh dari pandangan si imam Renovic, dia tiba-tiba berkata kepada Lilina.
"Bocah yang sangat menarik bukan? seperti anak suci yang turun dari langit." Ucap Renovic kepada Lilina, memandang Misha dari kejauhan dengan tatapan haru, serasa ingin menagis.
"Benar tuan, anak itu seakan-akan telah ditakdirkan untuk bertemu dengan anda, Sebagai perantaranya menuju tuhan Eliaha." Balas Lilina dengan ekspresi yang sama.
...............
Tak lama kemudian, saat mereka sedang menatap Misha. Tiba-tiba muncul sosok perempuan dengan jubah putih panjang dengan tudung putih bercorak simbol agama, dia datang dari belakang mereka. Dan ternyata perempuan itu adalah Anna, yang terlihat sedang mencari seseorang.
"Imam?" Panggil Anna.
Renovic kemudian menoleh kebelakang seraya menyahut, "iya?"
"Apakah anda melihat Uskup Gion?"
"Ah~ nona Anna! ehh... tidak, coba cari di lantai delapan, mungkin beliau sendang mengadakan kebaktian." Sapa Renovic, tersenyum dengan memberi saran kepada Anna.
"Ah baiklah, terimakasih imam." Pungkas Anna, memberi hormat kemudian pergi.
.............
"Tuan... Anna akhir-akhir ini jarang melakukan ibadah bersama, apakah terjadi sesuatu padanya?" Bisik Liliana, dengan tatapan curiga.
"Sssst...! jangan berkata seperti itu." Tegur Renovic dengan wajah yang sedikit panik.
"Maaf tuan." Ucap Lilina, sedih.
...********...
__ADS_1