The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 44 : Barang antik kesayangan


__ADS_3

Hari telah menjelang sore, pancaran cahaya merah mentari menyambar gedung putih katedral. Tak lama kemudian terdengar suara lonceng yang bergema dari puncak menara katedral, mengumandangkan panggilan ibadah kepada seluruh umat beragama.


Teng!... teng!... teng!....


Imam Renovic, Lilina dan Misha saat ini sedang berdiri di depan gerbang, mereka hendak menghantarkan kepulangan Danilo.


"Paman, sampai jumpa ... semoga tuhan menyertaimu," salam Misha, menunduk sopan kepada Danilo.


Renovic tersenyum hangat saat melihat adab perilaku Misha yang menyejukkan hatinya, sedangkan Danilo dari dalam benaknya berpikir.


...Tuanku ... tolong jangan tersenyum dan menunduk seperti itu, saya malah jadi merinding melihatmu tuan.......


Sekujur bulu kuduknya menegang, kala melihat perilaku pangeran, karna tidak ingin sandiwara paman dan ponakan terbongkar, Danilo hanya bisa membalas ucapan Misha dengan senyuman paksa, serta setetes keringat yang mengalir di dahinya.


"Ba— baiklah Nak ..." terbata-bata, kemudian segera memperbaiki ekspresinya, "ekhem! ... tolong bersikap baik disini, dengarkan semua perkataan sang imam, dan ..." menoleh kearah Lilina dengan pipi merah. "Nona Lilina, intinya dengar-dengaran dan jangan jadi anak nakal yah."


"Baik paman," balas Misha, dengan senyuman palsunya yang terasa sangat mengerikan di mata Danilo.


Selepas itu Danilo beranjak pergi dari sana, menuju kediamannya yang tanpa ia sadari sudah kacau balau oleh suatu insiden tak terduga.


Ajak Renovic, sambil merangkul bahu Misha. "Baiklah Nak Masha, mari kita panjatkan doa bersama semua orang, hari ini ... keluarga kaisar juga akan datang."


"Baik tuan imam," balas Misha, dengan tutur kata yang halus.


...Sedangkan di dalam hatinya Misha berpikir....


...Benar juga, keluarga kaisar yah....


...Aku tidak sabar melihat wajah munafik mereka di tempat suci ini....


...****...


Di depan pintu masuk rumahnya, Danilo tak kuasa menahan amarah. Matanya melebar, mulutnya mengangga, bibir bawahnya bergetar, alisnya mengerut tajam kebawah, semua itu tergambarkan di wajah seorang pemilik rumah yang menyaksikan rumahnya yang porak-poranda.


Bergerak masuk ke dalam rumah dengan kaki yang gemetar, melihat sebuah penampakan seisi ruangan tamu yang berantakan. Barang-barang antik yang sangat berharga hancur berkeping-keping di depan matanya, padahal itu adalah koleksi yang telah ia dapatkan dengan susah payah.


Menatap sebuah kepingan piring antik yang tergeletak di kakinya. Tiba-tiba Danilo bertekuk lutut sambil memegang kepingan itu.


...Ahh.... benda yang sudah kurawat selama bertahun-tahun, saat ini telah menjadi seperti ini .... siapa! siapa yang berani melakukan ini....


...Batin Danilo, dengan eskpresi kesedihan yang dibakar amarah....


Kepalanya mendidih, dipanaskan oleh api kemarahan yang tak terbendung, kemudian Danilo berteriak. "Siapa yang melakukan ini semua?!...."


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang menuruni tangga secara terburu-buru.

__ADS_1


Tap... tap... tap... tap....


Filya si pelayan muncul dari lantai atas, kemudian memanggil tuannya dengan wajah yang gelisah. "Tuan Danilo—"


"Filya!!! kekacauan apa ini?! siapa gerangan dia yang berani mengacaukan kediaman Lukashenko?!" teriak Danilo lagi, dengan wajah gahar yang memerah bagaikan besi panas.


Lantas Filya berlari menghampiri tuannya, bersimpuh lutut di hadapan Danilo diiringi tangisan air mata yang bercucuran. "Tu— tuan ... maafkan hamba tuan ... hamba tak berani menghentikan mereka ...."


"Mereka?! siapa?!"


"Kepolisian negara tuan ..." jawab Filya, air mata membanjiri pipinya.


Mendengar ucapan Filya, Danilo seketika itu tersentak. Amarah besarnya dibuat heran, lantas dirinya berpikir di dalam benak.


...Tunggu dulu! apa maksudnya semua ini?! kepolisian negara?! .... mengapa mereka menyelidiki kediaman seorang bangsawan Baron dari fraksi netral?! .... apakah mereka mengetahui rahasia bocah Bolyevic itu?! tidak— tidak mungkin! ... kalau begitu apakah mereka menyadari kedekatanku dengan tuan muda?! ... sialan! kenapa malah jadi begini.......


Danilo merasa frustasi, dirinya tak dapat menerima semua kegilaan ini, nalarnya tak mampu mencari sebab atas tindakan para aparatur negara terhadap dirinya. Lantas kedua tangannya mencengkram erat rambut di kepalanya, tertunduk dalam bingung dengan ekspresi yang dilumuri ketakutan, seolah-olah kemarahannya barusan telah tergantikan.


Filya yang merasa khawatir saat melihat tuannya yang seperti itu, lantas berkata. "Tu– tuan ... sebenarnya sebelum kedatangan mereka, ada sesuatu yang terjadi di halaman belakang—"


"Apa itu?!..." teriak spontan Danilo, menanyakan sebab dari semua ini.


"Petir tuan, ada petir yang menyambar dari langit ...."


...Petir? ... apakah— si bocah Bolyevic itu?! tapi .......


"Setelah saya dan Mertha memeriksa, kami menemukan Nak Ilyasa sudah terkapar dengan luka bakar di tubuhnya tuan," jelas Filya kembali, dengan sekujur tubuh yang gemetaran.


"Dimana dia sekarang?!" tanya Danilo, khawatir.


"Ada di dalam kamar tuan," balas Filya, sambil menunjuk ke lantai atas, letak kamar tersebut.


Lantas dengan terburu-buru Danilo menaiki tangga, menyambar bahu Filya karena kondisi pikiran yang kacau balau.


............


Track!....


Pintu kamar terbuka mendadak, memperlihatkan kondisi Ilyasa yang berbaring diatas kasur dengan kondisi yang lemah, matanya setengah terbuka, menunjukkan sedikit kesadaran di dalam dirinya.


"Ilyasa?!" teriak Danilo, terperangah menatap keadaan anak itu dengan mata yang terbuka lebar.


Luka bakar yang teramat sangat pedih, dari ekspresi wajah Ilyasa sudah terlihat bahwa dirinya sedang menahan rasa sakit yang ia alami. Danilo kemudian berjalan mendekatinya, duduk di samping kasur sambil mengelus-elus rambutnya.


"Apa yang terjadi kepadamu Nak? ..." tanya Danilo, menunjukkan kecemasan dan kesedihan yang tertuang di wajahnya.

__ADS_1


Danilo merasa sangat kasihan, dia melihat luka bakar di tubuh Ilyasa dengan wajah yang tidak tega.


"Maafkan aku tuan Danilo, maafkan aku ... semua ini ..." air mata pilu seketika membanjiri wajahnya, "semua ini kesalahan saya tuan, hiks ... hiks ..." isak tangis Ilyasa, yang merasa sangat menyesal.


Danilo yang tidak tau menahu mengenai awal mula kejadian ini seketika itu bertanya lagi, "Nak, tenang ... jangan menyalakan dirimu, apapun itu aku tidak akan marah kepadamu, yah?" bujuk Danilo dengan nada bicara halus, walau hatinya tidak tenang dengan semua ini.


"Hiks ... hiks ..." Ilyasa mengusap air matanya dengan telapak tangan yang rapuh, "sihirnya tuan ... aku membuat kesalahan dengan mengucapkan mantra terlarang ...." jelas Ilyasa, dengan air mata deras yang tiba-tiba mencuat dari sudut matanya.


Rasa bersalah ini sudah terlalu besar untuk ditahan, bermula dari tindakan yang tidak disangka-sangka, ternyata telah mengakibatkan malapetaka kepada orang-orang yang sempat peduli terhadap dirinya. Ilyasa tak ingin melihat wajah kecewa dari Danilo, rasanya dia ingin segera pergi dari kediaman ini, akan tetapi tubuhnya yang lemah tak sanggup melakukan hal itu.


...Kala mendengar ucapan Ilyasa, Danilo membatin....


...Apa?! mungkinkah dia mencoba mempelajari isi buku yang ada di ruanganku?! tapi tunggu dulu! walaupun memang dia adalah pengendali sihir petir, sangat mustahil baginya untuk langsung bisa menguasai pemanggilan halilintar! ini tidak masuk akal....


...Jika benar dia berhasil melakukannya, maka tidak aneh bila dirinya menjadi seperti ini....


...Jadi begitu yah~ gawat! berarti kepolisian datang untuk menyelidiki keberadaan sihir halilintar, yang seharusnya hanya ada satu orang di negara ini yang bisa melakukannya....


...Yaitu keluarga Bolyevic yang dikabarkan telah punah....


Melewati pikiran panjang di benaknya, akhirnya Danilo mengerti dengan sebab dari semua kekacauan yang terjadi. Karena tak ingin rasa bersalah di hati anak itu menjadi besar, Danilo hanya bisa bersikap seolah-olah dirinya tidak masalah dengan hancurnya seisi kediamannya, walau sebenarnya dia benar-benar marah akan semua barang koleksi yang hangus di telan peristiwa itu.


"Sudah Nak, tak usah menangis. Lihat aku, aku tidak masalah dengan apa yang terjadi, yang penting kamu sekarang selamat," bujuk Danilo, mengelap air mata anak itu dengan selembar sapu tangan dari kantong bajunya.


"Hiks ... hiks .... baik tuan ...." balas Ilyasa, dengan tagisan yang mulai reda.


..........


anak ini masih berada disini, itu berarti Filya dan Mertha telah melakukan tugas mereka dengan baik.


...Hah~ untunglah anak ini tidak ketahuan, jika sampai semua ini terbongkar, maka tamat sudah riwayat...


...Hembusan nafas Lega hati Danilo dalam batinnya, walau perasaannya masih dipenuhi amarah yang dari tadi terus mendobrak-dobrak hatinya....


Tiba-tiba Danilo merasa janggal dengan tidak adanya Mertha dan pelayan kakek tua di tempat itu, maka dirinya bertanya kepada Filya yang berdiri di samping pintu kamar dengan raut wajah masih terlihat gelisah.


"Filya?"


"Ya— ya tuan!" sahut Filya, tersentak dengan tuannya yang tiba-tiba memanggil namanya. Terlihat begitu jelas bahwa ada sesuatu yang dia sembunyikan, sesuatu yang tidak dapat ia utarakan.


"Dimana Mertha?"


"Ah— Mertha ... di– dia ... ada di kamar sebelah, tuan!" terlihat jelas wajah gugup melapisi dirinya, menjawab dengan ucapan yang gagap karena diselimuti kegelisahan.


"Kenapa dia hanya disitu? dan ... dimana tuan alsov? si kakek itu?"

__ADS_1


Filya tak akan dan tak berani mengatakannya secara langsung, karena itulah dia hanya bisa diam dan diam dengan aliran keringat dingin yang tak henti-hentinya mengaliri wajah ketakutannya.


...****...


__ADS_2