The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 7 : Aura pemikat


__ADS_3

Hari telah menjelang malam, sehingga seluruh kota gelap gulita. Satu persatu cahaya muncul di setiap rumah, sebuah lampu kecil yang menerangi gelapnya malam.


Dari dalam kamar, pangeran kecil keluar bersama para pelayan cantik dari pintu pemandian. Terlihat rambut yang basah, mata yang berpaling dan pipi yang memerah merona.


Keempat pelayan itu mencoba merias kembali wajah Misha, dia dipakaikan bedak, alis mata, cat bibir merah tebal dan berbagai macam riasan norak lainnya. Wajah Misha tampak seperti riasan badut yang mencolok daripada riasan natural.


"Yang mulia permaisuri sebentar lagi akan menjenguk pangeran. Makanya anda harus bersiap-siap bertemu beliau. jadi, pangeran harus terlihat cantik dan anggun," jelas Anna, dengan senyuman palsunya.


...Permaisuri yah, orang yang dibicarakan Sebas tadi....


...aku penasaran, seperti apa orangnya....


...Batin Misha, bertanya-tanya....


Seketika semuanya telah selesai. Pangeran sekarang duduk manis diatas kasurnya, memperlihatkan sifat kekanak-kanakannya dan bertindak seperti seorang perempuan.


Sebas kemudian datang dari balik pintu kamar yang terbuka, bersama Tasya, Wina dan Galina. masing-masing membawa makanan mewah diatas piringan besi.


Sebas membawa teko berisi minuman hangat, Tasya membawa roti panggang, Wina membawa daging ayam bakar beserta pisau dan garpu, Galina membawa sayur beserta buah-buahan yang mirip seperti apel dan anggur.


Para pelayan meletakkan makanan di depan meja kecil yang sudah disediakan. Masing-masing dari hidangan mengeluarkan sensasi lezat dengan aroma yang menggoda.


"Silahkan nikmati hidangannya tuan muda." Sahut Sebas, setelah meletakkan teko beserta makanan diatas meja.


Misha menarik nafas panjang untuk mencium aroma makanan di depannya.


Terlihat sangat lezat!" Ucapnya dengan wajah polos sembari melembutkan suaranya seperti perempuan.


Misha mengambil pisau dan garpu, memotong secuil daging ayam kemudian dibungkus dengan sayuran. Ketika makanan itu masuk kedalam mulut, dan lidahnya mulai mengecap rasa, Misha berpikir untuk sejenak.


...lumayan, tapi ini terasa tidak enak di lidahku....


...cita rasa rempah-rempah yang kurang....


...ya, wajar juga....


...Kurasa kalau dibandingkan dengan duniaku, dunia ini sekitar abad pertengahan atau lebih muda dari itu....


Misha mengunyah satu persatu makanan tersebut dengan berpura-pura lahap saat memakannya.


Teng....! Teng....! Teng.....!


Bunyi suara lonceng yang menggema.


...Berbunyi lagi. Apakah itu artinya mereka sudah selesai menyembah dewa pagan mereka?...


...Ucap Misha dari benaknya, yang menertawakan tindakan paganisme....


...******...


Di suatu tempat, tidak jauh dari istana. Terlihat sosok kaisar yang melintasi jalanan kota diatas sebuah kereta kuda tanpa penutup. Disampingnya, terlihat sosok seorang wanita berparas cantik.


wanita yang terlihat masih sangat muda. Kulitnya putih halus, berambut hitam lurus dan dagunya yang tirus. memiliki bola mata berwarna merah darah, bulu mata yang tertata, dan bibir merah merona.


Wanita itu saling bergandengan tangan dengan Kaisar, diatas kereta kuda yang berjalan ke arah istana. Dibelakangnya ada kumpulan orang-orang berbaju putih sambil membawa bendera putih dengan berbagai macam lambang, adapun juga para prajurit bersenjata yang mengawal mereka sambil menunggangi kuda.


sedangkan di setiap sudut jalan, terdapat ribuan orang yang menyambut kepulangan Kaisar sambil bersujud diatas tanah. Mereka hanya diam tanpa bersuara, tertunduk oleh penguasa.


Dibelakang lagi, terdapat beberapa kereta kuda yang mengikuti rombongan kaisar menuju istana, mereka adalah orang-orang dari kalangan bangsawan. Salah satu dari rombongan bangsawan itu ada Aliyah, ia sedang memandang orang-orang yang sedang bersujud kepadanya dari balik jendela kereta kuda.


Dari dalam alam bawa sadarnya, Aliyah merasa iba kepala mereka, seolah-olah menolak bahwa mereka harus tunduk kepada penguasa, namun dirinya masih belum sadar akan hal itu.


Kembali ke depan, tepatnya dimana Kaisar bersama wanita itu duduk sambil bermesraan. Seperti yang terlihat, wanita itu sepertinya adalah sosok permaisuri kekaisaran.


"Sayangku... apakah kamu sudah mendengar kabar bahwa putra kecilku yang malang sudah sadar?" Ucap permaisuri nan cantik itu, sambil bersandar di bahu Kaisar.


"Aku sudah mendengar kabarnya dari Aliyah, tetapi sayang. kan sudah aku katakan kalau jangan membahas bocah itu lagi." Ucap seorang kaisar dengan nada bicara yang halus.

__ADS_1


"Jangan begitu sayang, kan... aku masih ingin memilikinya... bukanya kamu sudah bilang, kalau aku akan mendapatkan apapun yang aku inginkan, bukan?" ujar sang permaisuri dengan nada bicara yang genit.


"Oh iya! tentu saja! apapun yang kamu inginkan akan kamu dapatkan sayangku." Tutur Kaisar, memasang senyuman nakal.


"Oh sayangku...! aku sangat mencintaimu.!" ungkap permaisuri dengan nada manja sambil mengeluarkan seringai licik.


Sosok Kaisar yang diatas kuris takhta sangat berbeda dengan sosok kaisar diatas kursi kereta itu. Seperti sedang tertunduk digenggaman permaisuri.


...*******...


Sedangkan di dalam kamar, Misha sedang menguji kemampuan membaca dan menulisnya di hadapan Sebas. Seperti biasa, pengucapan dan penulisannya sangat sempurna sekaligus mengejutkan Sebas untuk kesekian kalinya.


Disaat Misha mencoba menghafal satu kalimat lagi, dirinya merasa penasaran dengan sosok permaisuri yang katanya sangat dekat dengannya.


"Sebas, ceritakan segala hal yang aku lakukan bersama permaisuri itu," pinta Misha dengan tatapan dingin.


"Aku tidak tahu tuan muda. Ketika dia selalu datang menemui anda, aku selalu dijaga para ahli sihir tingkat atas," ucap Sebas, yang merasa bersalah.


...Penyihir ya, Hahaha......


...jangan katakan benar-benar sosok penyihir yang bisa mengeluarkan api dari tangan bukan....


...Ucap Misha dalam hatinya, meragukan ucapan Sebas soal penyihir....


"Namun, selepas permaisuri berjumpa dengan anda, anda terlihat sangat lemas tak berdaya, seolah-olah sedang terkena sihir. Aku yakin, dia pasti melakukan sesuatu kepada anda!" jelas Sebas, geram mengigat saat-saat itu.


"Jadi seperti yang kamu bicarakan sebelumnya, dia berbahaya?"


"Aku yakin pasti begitu tuan muda, asal usul dari permaisuri saja tidak ada yang mengetahuinya. Dikatakan dia adalah seorang keluarga bangsawan besar dari kesultanan mediah, yang bertemu kaisar saat kunjungan dengan sultan, tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahui dari bangsawan apa dia berasal."


"Bagaimana posisinya dalam politik kekaisaran?" tanya Misha dengan suara pelan.


"Maaf tuan, kalau itu aku kurang paham, hehe...," jawab sebas yang merasa malu.


"lalu, aku biasanya memanggil dia dengan sebutan apa? dan bagaimana sikap yang aku tunjukkan saat bertemu dengan permaisuri?" Tanya Misha, penasaran.


...*****...


Tok...! tok...! Suara ketukan pintu.


Terlihat Anna beserta pelayan lainnya membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa lalu berkata, "Pangeran?! Permaisuri dalam perjalanan menuju kemari! apakah anda sudah siap?"


"Hehe... aku sedikit gugup," ungkap Misha, tertawa kecil.


"Baiklah, Anna, Tasya, Wina dan Galina. Berbaris rapi menunggu kedatangan permaisuri di depan pintu kamar." Perintah Sebas kepada para pelayan.


Secara serentak para pelayan membalas, "Dimengerti tuan Sebas."


...Aku tau apa yang permaisuri itu lakukan kepada bocah ini....


...Batin Misha, Sudut matanya kebawah dengan senyum seringai yang berbahaya....


Tiba-tiba Misha beranjak naik ke atas kasurnya, mengenakan selimut tebal dan berbaring diatasnya. Misha memasang wajah rentah dan lemah tak berdaya.


......................


"Permaisuri telah tiba! beri hormat!" Seru salah seorang prajurit baju zirah yang memegang sebilah pedang di tangannya.


Dibelakang prajurit itu, terdapat beberapa prajurit lainnya yang berbaris rapi. Semuanya mengelilingi seorang wanita cantik yang mengenakan gaun hitam dengan berbagai macam aura yang dipancarkan olehnya.


"Salam sejahtera untuk yang mulia permaisuri Helena, simbol kecantikan, keindahan, dan kesempurnaan wanita!" seru para pelayan pangeran, yang berbaris di samping pintu kamar sambil bersujud.


Permaisuri sontak berjalan hingga mendekati pintu kamar pangeran Misha, membuka gagang pintunya secara perlahan hingga melihat sosok Misha yang berbaring diatas kasur tidurnya.


"Owh.... sayangku! Kasihan sekali....!" Ucap permaisuri yang memasang senyuman palsu.


Dia mendekati pangeran yang berbaring diatas kasurnya, duduk disampingnya dan mengelus-elus kepalanya, sedangkan Misha menunjukkan ekspresi tak berdaya dengan nafas terengah-engah yang dibuat-buat.

__ADS_1


"Bagaimana kondisimu? apakah kamu merasa sakit sayang?" tanya permaisuri, rasa cemas dan khawatir terlukis diwajahnya.


...Hoho... Rupanya kau bisa memasang ekspresi seperti itu yah dasar Lac*r....


...Batin Misha, yang merasa jengkel dengan belaian tangan permaisuri....


"Kamu harus tau, betapa khawatirnya ibu disaat mengetahui kamu tak sadarkan diri selama tiga hari, ibu selalu memikirkan dan terus memikirkan dirimu," ucap permaisuri sembari mengelus pipi Misha.


"Jadi, kamu harus cepat sembuh! jaga kesehatan dan jangan banyak bergerak," sambung Permaisuri, sambil memasang wajah iba.


"Ambil air suci untuk anakku!" Perintah permaisuri itu, kepada para bawahannya yang memakai tudung putih.


Pria bertudung itu masuk ke dalam, sambil membungkuk mengantarkan segelas air dan sendok diatas piringan.


"Ini air sucinya yang mulia," Ujar si bawahan tersebut.


"Jadi, ini adalah air suci dari kuil sayang. Bila kamu meminumnya, kamu akan sembuh keesokkan harinya," jelas Permaisuri itu lalu mengambil gelas dan sendok diatas piringan yang diserahkan.


"Kamu harus meminumnya yah. Aaaa.... buka mulutnya sayang," pinta Permaisuri, lalu menyuapinya perlahan.


Untuk beberapa saat Misha menunjukkan ekspresi penolakan, memalingkan wajahnya kearah lain menunjukkan keengganan meminum air mencurigakan tersebut.


"Ayo...! buka mulutnya!" Ucap permaisuri, dengan nada bicara menekan dan senyuman yang dipaksakan.


Disaat itu Misha terpaksa membuka mulutnya, bibirnya bergetar saat sendok yang berisikan air misterius itu mulai masuk ke dalam lidahnya. Misha kemudian melihat sekilas wajah permaisuri yang tersenyum jahat kepadanya untuk beberapa detik.


...Hahaha kau cukup hebat dalam sandiwara....


Batin Misha, kemudian terpaksa menelan seteguk air itu.


tiba-tiba setelah meminum air itu, Misha merasakan sesuatu dari dalam tubuhnya.


Duk...! dak....! Suara detak jantung yang berdegup kencang.


...Apa apaan ini! tubuhku mati rasa, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku....


...Dasar wanita laja*ng! sint*Ng! biad*b....


...Caci maki Misha dalam batinnya, merasa teramat sangat kesal....


...Apakah ini sejenis racun?! atau obat bius?! aku masih bisa merasakan kesadaranku....


..........


"Semuanya harap keluar dari ruangan ini, aku ingin berbicara dengan putraku!" perintah Permaisuri kepada orang-orang di dalam kamar.


Bawahan bertudung putih itu sontak langsung meninggalkan kamar, kecuali Sebas yang masih terdiam sesaat, karena merasa khawatir dengan pangeran.


"Sebas? apakah dirimu tuli?!" ucap permaisuri yang menggeram, dan mengeluarkan aura ancaman yang begitu besar dari wajahnya.


"Aku paham yang mulia, namun aku harus tetap berada di sisi—" Kalimat Sebas terpotong.


"Hei...!!! Sebas? kau tau artinya melawan perintahku?!" ancam Permaisuri dengan bentakan.


"Maafkan hamba yang mulia, hamba undur diri." Pungkas Sebas dengan wajah datar.


Seketika Sebas keluar dari ruangan kamar, permaisuri langsung mengunci pintunya. Terlihat dirinya mengeluarkan kabut tipis dari tangannya semacam warna ungu yang melayang di udara, bagaikan sebuah sihir mistis di dunia mitologi.


"Baiklah sisa kita berdua!" teriak permaisuri yang memasang wajah nakal dengan hasrat tinggi.


...*Hahahaha......


...Jadi ini maksudnya terlihat lemas....


...dasar lajan*g mesum*!...


...Cibir Misha dalam batinnya....

__ADS_1


Selepas itu, tangan permaisuri sudah menjalar dimana-mana, melakukan berbagai hal yang tidak terpuji kepada pangeran kecil yang malang.


__ADS_2