
Di dalam kamar, anak kecil bernama Misha telah kembali menunjukkan ekspresi ceria, bercanda gurau dengan keempat pelayan itu saat mereka menaburkan pernah pernik riasan di wajahnya.
"Whaa..! sangat cantik...!" Ucap Misha, tersenyum senang menatap wajahnya dibalik cermin.
"Pangeran sangat menggemaskan...!" Puji Anna, mencubit halus pipi pangeran kecil.
...Aku menginginkan hari dimana wajahku tidak perlu mengenakan riasan norak ini....
...Ucap Misha di dalam hati, rasa jengkel mendobrak emosinya....
Sedangkan Sebas terlihat diam berdiri di samping pintu kamar, memikirkan dan terus memikirkan mengapa sang pangeran berpura-pura menangis seperti tadi.
"Baiklah...! saatnya untuk makan yah~" Ujar Anna dengan nada bicara riang gembira.
"Yey...! Makan....!" Ucap Misha, dengan wajah ceria.
Mata sebas menatap setiap tingkah laku pangeran, dalam benaknya ia mengatakan.
...Tuanku sangat hebat dalam berpura-pura, bahkan ia terlihat mirip dengan dirinya yang dulu....
...Hmm~...
...apakah semua ini termasuk dalam rencana tuan muda? kepercayaan segalanya pada anda....
Lantas Misha memakan makanannya dengan lahap, mulutnya terlihat belepotan, dengan sigap Anna mengusap noda di bibirnya.
.............
Beberapa saat kemudian, Misha hendak tidur, ia dibaringkan perlahan oleh Anna diatas kasurnya, mengelus-elus dadanya dan memakaikan selimut padanya.
"Selamat malam pangeran, sampai jumpa di hari esok." Pungkas Anna dengan lambaian tangan, kemudian mematikan lampu kamar dan menutup pintunya.
"Iya, selamat malam juga Anna." Sahut Misha, yang mulai mengantuk.
Keempat pelayan termasuk Sebas keluar dari kamarnya, tatapan curiga terlihat di wajah Anna, Winna dan Galina.
"Tuan Sebas, saya mohon maaf atas perkataan tadi... saya yakin anda lebih memahami tuan pangeran dibanding kami, namun... bila tindakan lalai seperti tadi terulang kembali, saya tidak segan-segan menggugat ini kepada permaisuri." Ancam Anna, yang menunduk sopan sembari memasang senyuman licik.
"Saya mengerti itu nona Anna." Balas Sebas dengan wajah datar, namun kemarahan membludak dalam hatinya.
"Kalau begitu kami pamit undur diri dulu, tolong jaga pangeran." Pungkas Anna, kemudian pergi meninggalkan Sebas bersama kedua pelayan lainnya.
Aku tidak sabar menggorok lehermu, dasar lac*r brengs*k...!
...Cemooh Sebas dalam benaknya....
"Oh iya, di mana Tasya...?" Gumam Sebas, yang baru sadar bila Tasya sedang tidak bersama mereka.
....................
Membuka pintu kamar dan menguncinya kembali, Sebas lantas berkata, "Tuan muda, apakah anda sudah tidur...?"
Matanya kembali terbuka, wajah dingin ditunjukkan oleh Misha yang berbaring diatas kasur. Setelah itu dirinya berucap, "Sebas... Menurutmu bagaimana dengan sandiwara yang aku buat tadi?"
"Sangat sempurna tuan muda, pasti anda memiliki alasan dibalik itu semua." Balas sebas, menundukkan kepala.
"Tidak... tidak ada alasan khusus, " Ucapnya dengan wajah datar, "Aku hanya iseng saja." Menoleh kearah Sebas dan seketika memasang senyum usil.
"Ahh~ begitu yah." Balas Sebas, kebingungan dan merasa sedikit kecewa atas balasan pangeran.
Tangan Sebas mencoba meraih tuas lampu kamar, ia berniat untuk menyalakannya, namun Misha berkata, "Jangan Dinyalakan... aku tidak suka cahaya."
Sontak Misha turun dari kasur tidurnya, berjalan ke arah jendela yang tertutup rapat lalu membukanya lebar-lebar. Pada saat itu masuklah cahaya langit malam, berwarna putih kebiruan yang menghembuskan angin dingin dalam keheningan.
__ADS_1
"Sebas, tahukah engkau soal bintang-bintang di langit?" Ujar Misha yang tersenyum hangat saat memandang langit malam.
"Maksud anda astrologi...? saya tidak begitu mengerti tuan muda." Balas Sebas.
Mendengar ucapan Sebas tentang Astrologi, Misha seketika terkejut dalam hatinya ia berkata.
...Sepertinya seseorang di dunia ini telah menggambar langit....
Dengan menunjuk sebuah kursi di samping Sebas, memberikan instruksi dengan jarinya untuk membawakan kursi itu padanya, lantas sebas mengantarkannya.
"Bintang-bintang kecil di langit itu bagaikan sebuah matahari, terlihat kecil karena sangat jauh dari pandangan kita." Jelas Misha, kemudian naik dan berdiri diatas kursi.
"Ambilkan aku kertas kosong, dan sebuah pena." Pinta Misha, dengan pandangan yang masih tertuju pada bintang-bintang.
"Baik tuan muda, tetapi untuk apa?" Tanya Sebas, penasaran.
"Aku ingin melukis langit malam." Balas Misha, menoleh kearah sebas dengan senyuman indah yang menenangkan.
...Aku tidak tau bila tuan muda bisa melukis......
...apakah ini kebiasaan baru beliau? sudahlah~...
...Aku tidak berhak bertanya tentang itu....
Ucap Sebas dalam hatinya, kemudian berjalan keluar kamar dengan membuka pintu lalu menutupnya kembali.
Dalam kesunyian malam, pandangan Misha tertuju satu persatu kepada parah bintang di langit. Membuat garis dalam bayangannya, menghubungkan satu titik ke titik bintang lainnya, membentuk sebuah pola rasi baru yang ia ciptakan.
...Manusia di dunia ini sudah menciptakan cabang ilmu astrologi, sebuah tahapan awal menuju astronomi....
...langit adalah kompas dunia, aku tidak tau apakah mereka menggunakan rasi sebagai penunjuk arah, atau sebagai penentu takdir manusia....
...Ahh~ langit malam...! engkaulah atap tanpa ujung yang membentang luas bagai misteri tanpa batas....
...Batin Misha, Kegirangan kembali terlihat dari wajahnya, senyuman lebar yang tampak bersemangat....
"Dia berjalan dalam kecantikan, bagai malam tak berawan dan penuh bintang. Segala kebaikan dari gelap dan terang terpancar indah pada sosok dan sinar matanya: menyeruakkan kasih sayang penuh kedamaian dalam kecerahan hari yang sungguh tak mampu terbantahkan." Ucapnya sembari menari-nari diatas kursi, melontarkan syair indah dalam mata yang tertutup, meresapi, menghayati segala kalimat yang terucapkan.
"Kutipan syair dari Lord George Byron, Inggris 1788-1824." Celetuknya dengan nada bisikan penuh makna.
...........
Track... Bunyi pintu yang terbuka dalam gelapnya kesunyian.
"Tuan muda, kubawakan yang anda minta." Ujar Sebas, menyerahkan selembar kertas putih dengan pena bulu burung dan tinta hitam dalam wadah.
Mengambil kedua benda yang diberikan, dengan kedua tangannya Misha berusaha naik diatas kusen jendela, Wajah sebas terlihat panik, merasa khawatir bila saja Misha terjatuh dari ketinggian istana, dengan spontan kedua tangan sebas mencoba memegang tubuh pangeran.
"Tidak apa Sebas, aku bisa." Tenang Misha, yang mendorong kedua tangan sebas.
Selepas itu, tanpa ada suara, tanpa ada sedikitpun percakapan diantara mereka. Misha mulai menggambar, ia melekatkan wadah tinta di kusen bawah jendela, mencelupkan ujung pena dan menggaris sebuah pola diatas kertas putih.
Cahaya bintang membantu menerangi kertasnya, dalam kesunyian dan ketenangan, dalam rasa damai yang menyenangkan, Misha menghabiskan waktunya dengan duduk diatas jendela kamar.
.............
Waktu demi waktu telah berjalan, menciptakan instrumen suasana hati yang sejuk. Bersenandung Lah Misha dengan mata yang tertutup, serasa ingin tidur dalam pengetahuan bintang-bintang.
Tidak sedang bermimpi namun seperti dibawa pergi oleh angin malam, terbang keatas menuju ruang angkasa hidrogen yang tak terbatas.
Dalam imajinasi pikirannya, tiba-tiba langit malam terlihat lebih terang daripada sebelumnya, memunculkan corak biru keunguan dari arah barat, muncul perlahan bagai sosok tulang punggung malam.
Misha membuka lebar-lebar matanya, berbinar-binar bagai pijaran bintang di angkasa. Perasaan yang teramat sangat terkesan muncul dari hatinya.
__ADS_1
...Inikah cinta pertamaku dalam dunia ini....
Lintas batinnya, dengan kegembiraan yang menyelimuti perasaannya.
"Gugus galaksi... Aaahh~ aku... ingin menggapainya...!" Ucap Misha yang tenggelam dalam rasa cinta, tangannya menjulur ke arah langit, dengan senyuman lebar yang terpesona.
...Tetapi... mengapa ukurannya tidak biasa..? ini terlalu kecil dibandingkan Bima sakti....
...seolah-olah galaksi itu bukanlah rumah bagi planet ini.......
...Perasaan penuh pertanyaan muncul dalam benaknya....
Selang waktu berlalu, corak kumpulan bintang itu muncul seutuhnya di langit barat cakrawala malam, Sadarlah Misha setelah melihat gugus galaksi yang berbentuk spiral dengan besar seperti rasi bintang Pisces. Terlihat warna kuning cerah pada pusatnya, berhamburan awan biru, ungu dan merah, bercampur seperti tinta warna diatas kertas hitam.
...Apakah ini supernova...? tidak, ini.......
...Mengapa ini ada disini......
Misha seketika tertawa, bola matanya bergetar, jantungnya berdegup kencang, tubuhnya bermandikan keringat dingin, rasanya telah jatuh dalam perasaan campur aduk.
"Messier 31... NGC 224... Aahh~ Andromeda... mengapa engkau ada di hadapanku, dengan jarak sedekat ini..." Ucap Misha yang gemetar gugup.
...Itu berarti, planet ini berada dalam galaksi yang dekat dengan Andromeda..? dengan kata lain, Bima sakti....
...akan tetapi di sebelah mana?! apakah di ujung lengan galaksi? atau masih satu lokal grup dengan bumi....
Ucap Misha dalam benaknya, rasa penasaran terus saja muncul berbarengan dengan senyum kegirangan yang tidak pernah luntur.
Sedangkan dibelakangnya Sebas seketika mendengkur terlelap dalam tidurnya, pelayan tua itu tidur dalam posisi duduk diatas kursi, kepala menghadap keatas seperti seseorang yang sangat kelelahan.
"Sebas...!" Teriak Misha dalam ekspresi kegirangan.
Teriakannya masih belum cukup untuk membangunkan Sebas yang terlelap dalam mimpi.
"SEBAS....!!!" Teriaknya sekali lagi, akan tetapi Sebas masih belum juga terbangun.
Dengan kesal, Misha melemparkan tutup botol tinta ke wajah Sebas.
Pluk..! Benjolan merah muncul di kepala Sebas, terperanjat sadar dari tidurnya.
"Pangeran?! Ya...! ada apa?!" Ujar Sebas, kepanikan.
"Sini mendekatlah...! ada yang ingin kutanyakan." Perintah Misha, dengan wajah sedikit kesal.
Seketika kekesalan luntur dari wajahnya, lantas ia bertanya kepada sebas dalam senyuman lebar yang mendebarkan, "Apa itu...?" tangannya menunjuk kearah gugus galaksi.
"Oh.. itu, itu adalah tempat tinggal para dewa. Dengan kata lain, kerajaan dewa-dewi." Tutur Sebas dengan wajah yang masih mengantuk.
...Tidak... tidak sebas....
...Itu adalah kumpulan bintang... kumpulan bintang induk dan benda-benda langit bersatu dalam spiral pusat lubang hitam....
...Dalam beberapa ratusan juta tahun lagi......
...Andromeda akan datang mendekati Bima sakti......
...Mereka akan bersatu...! menjadi suatu kesatuan gugus galaksi raksasa yang disebut milkomeda....
Gumam Misha dalam hatinya, apa yang telah ia lihat pada saat ini merupakan pengalaman terbaik dalam hidupnya.
Ilustrasi galaksi Andromeda yang berjarak 1 juta tahun cahaya dari planet tersebut. Sedangkan di dunia kehidupan Misha sebelumnya, Jarak Andromeda dari galaksi Bimasakti, berjarak 2,5 juta tahun cahaya.
__ADS_1
Diperkirakan beberapa ratus juta tahun kemudian, Andromeda akan tiba di Bimasakti, kemudian menyatu dalam proses yang panjang, menjadi satu gugus galaksi raksasa, Milkomeda.
...*****...