The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 31 : Kisah kelam


__ADS_3

"Ceritakan kisahmu kepada kami, wahai Ilyasa." Pinta Misha, tersenyum ramah kepadanya.


...............


"Apakah tuan tau tentang...." Ucapannya terhenti.


Semua menatap heran kepadanya, memperhatikan sesuatu yang akan segera dia katakan.


"Keluarga bangsawan Bolyevic...." sambung Ilyasa, raut wajah Keseriusan dengan emosi sedih yang terpampang.


Misha hanya bisa terdiam, dia tidak tau akan hal itu, namun lain halnya dengan eskpresi Danilo dan Sebas yang seketika tertegun. Terkejut dengan perasaan yang berguncang dari dalam hati mereka berdua, seolah-olah baru saja mendengar kalimat tabuh yang diucapkan dari mulut Ilyasa.


...Bolyevic...?! bangsawan pemberontak yang mencoba menggulingkan takhta kekaisaran....


...Enam tahun silam, kepala keluarga beserta anak-anaknya dieksekusi mati pada hari itu....


...Mengapa dia dengan santainya menyebut nama pemberontak itu? sebuah kalimat tabuh yang tidak boleh diucapkan oleh warga kekaisaran....


...apakah dia ada hubungannya dengan keluarga Bolyevic...?...


...Lintas pertanyaan Danilo dalam benaknya....


"Keluarga Bo... Bolyevic?" Tanya Misha, mengeja dengan wajah bingung.


"Mohon maaf tuan muda, setahu saya mengucapkan nama itu adalah hal tabuh di negeri ini." Terang Sebas, dengan wajah serius.


"Bolyevic dulunya adalah nama keluarga bangsawan kekaisaran, namun enam tahun silam, kepala keluarga count Iskandar Bolyevic mencoba melakukan pemberontakan kepada kaisar, kala itu dia dieksekusi mati oleh kekaisaran," Jelas Danilo dengan suara berbisik.


"Dia tidak melakukan hal yang seperti itu...!" Sela Ilyasa, berteriak tidak terima dengan penjelasan Danilo. "dia— dia adalah orang yang baik, jadi... tidak mungkin melakukan hal seperti itu." Setetes air mata bergenang di sudut matanya.


Melihat dan mendengar ucapan yang dilontarkan Ilyasa, semuanya seketika kaget dan terheran-heran. Dalam hatinya mereka berkata.


...Mengapa dia terlihat begitu marah...?...


...........


"Iskandar Bolyevic adalah.... ayahku. Dan aku adalah putra bungsunya, Ilyasa Bolyevic." Ungkapnya, dengan corak amarah seketika muncul.


...Di dalam hati Danilo dan Sebas seketika berkata....


...Hah...?! putra...?! tidak mungkin....


"Mohon maaf... tapi, bukankah semua keluarganya dieksekusi pada hari itu juga?!" Tanya Danilo, dengan sekujur tubuh yang gemetar.


"Tidak semuanya tuan... semua keluargaku dibantai, ibuku dan kedua adik perempuanku dibunuh saat dalam perjalanan pulang ke rumah, tidak hanya itu... aku sendiri juga menyaksikan kematian ayahku di depan mata ini." Tutur Ilyasa dengan penuh emosi, air mata yang bergenang itu tiba-tiba mengalir di pipinya. Alisnya menekuk, gigi-giginya mengeras, terlukiskan amarah yang mendidih di dalam hatinya.

__ADS_1


Masih dalam ambang keraguan dan lika liku pertanyaan yang membayangi pikiran Danilo dan Sebas. Ilyasa kemudian menjelaskan kepada mereka, tentang saat-saat dirinya melihat sosok ayah tercinta ditusuk dengan sebilah pedang di tenggorokannya, di depan mata anak itu yang bersembunyi dalam ketakutan.


"Seisi ruangan digeledah, mereka merampas seluruh barang berharga milik keluargaku... semuanya di renggut, lalu mereka membakar rumahku hingga hangus tak bersisa." Jelas Ilyasa dalam air mata kesedihan, dia menyeka air matanya namun terus menerus mengalir tanpa henti.


Misha menatap serius tangisan itu, memperhatikan sekaligus memasuki alam jiwa perasaan dendam pada diri anak itu, seolah-olah menempatkan dirinya di posisi Ilyasa, meresapi dan menghayati gejolak amarah dalam dirinya.


Dengan hati yang masih tidak percaya, Danilo kemudian bertanya, "Lalu bagaimana kau bisa selamat?"


"Hari itu..."


...*****...


"Bwhahaha.... Cuih..! mampus kau!" Hina seorang prajurit gendut sambil meludahi mayat Iskandar Bolyevic.


"Geledah seluruh isi ruangan...! cari putra bungsunya, dia pasti bersembunyi di sekitar sini!" Perintah si pria gendut itu.


"Ah iya... jangan lupa kumpulkan semua barang berharga! emas, perhiasan, dan lainnya. Jangan ada yang mencuri diam-diam yah!" Tegasnya lagi, sambil berjalan ke segala sisi ruangan.


"Baik komandan!" Balas salah seorang prajurit.


Lantas semua prajurit bergegas menyusuri seisi rumah.


Si pria gendut yang merupakan komandan dari para prajurit, memeriksa kesana kemari di segala sudut ruang tamu. Dari membuka pintu ruangan sampai menggeledah laci meja-meja yang berada tidak jauh dari mayat si tuan rumah.


Tap... tap... tap...


Suara langkah kaki yang terngiang di telinga Ilyasa, mengeluarkan rasa takut yang menghantuinya.


Menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya yang penuh keringat, diam dengan mata yang dipaksa dipejamkan. Sekujur tubuhnya tidak berhenti bergetar, takut bila si pria gendut itu tiba-tiba membuka lemari tempat persembunyiannya.


Tidak lama kemudian, tiba-tiba suara langkah kaki semakin dekat dan terdengar sangat dekat, lalu tiba-tiba....


...........


Track....!!!


Pintu lemari terbuka mendadak.


"Bwahh...! ketemu kau tikus kecil." Ujar si prajurit gendut itu, menatap Ilyasa dengan seringai jahatnya.


Saat itu jiwanya telah ditelan monster keputusasaan, tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun dan hanya terdiam membeku, sontak anak kecil itu diseret keluar dari dalam lemari.


Dia terus menyeret Ilyasa keluar dari rumah tersebut sampai ke luar halaman yang gelap gulita karena malam hari. Sekujur kulit tubuh bagian bawah seketika tergores di permukaan kasar penuh bebatuan, karena terus diseret tanpa henti hingga seluruh celananya robek dengan noda darah dari luka yang ditimbulkan.


beberapa saat kemudian, si pria gemuk itu sampai di sebuah tenda dengan cahaya lampu api yang redup, ditemani dengan beberapa prajurit yang berjaga di depan tirai. Di dalam tenda tersebut terdapat seorang pria dewasa dengan pakaian serba mewah bagaikan seorang bangsawan.

__ADS_1


Membuka tirai tenda, "Tuan... aku berhasil menemukan anak ini!" Ujar prajurit gendut dengan tersenyum senang.


"Kerja bagus!" Balas pria itu, kemudian melempar sekantong benda yang menggericik seperti suara koin emas.


"Ini untukmu."


"Terimakasih tuan!" menangkap kantong emas itu dengan kegembiraannya lalu beranjak pergi dari tenda itu.


.............


Ilyasa tersungkur diatas tanah, bola matanya terlihat kosong dan hampa karena baru saja kehilangan segalanya. Kala itu si pria yang merupakan seorang bangsawan menatap dingin sosok Ilyasa yang kehilangan emosinya.


"Vulsan? masuklah..." Ujar si pria bangsawan, lalu tak lama kemudian muncul seorang prajurit bersenjata dari balik tirai tenda.


"Iya tuanku?" Balas Vulsan, si prajurit muda dengan rambut hijau tua.


"Selundupkan anak ini ke pedagang budak, palsukan identitasnya, ganti semua pakaiannya dengan pakaian budak." Perintah pria bangsawan, dengan rasa iba kepada Ilyasa.


...Iskandar......


...Kau telah kalah dalam perang politik....


...Mungkin hanya ini caraku untuk membalas utang budiku padamu....


..........


...Anak yang malang......


...Ucap si pria bangsawan dari dalam batinnya....


............


Singkat cerita diketahui bahwa pria bangsawan itu adalah seorang kepala kepolisian negara, yang diutus oleh kaisar untuk mengeksekusi mati semua anggota keluarga Bolyevic, termasuk ibu dan kedua adik yang tewas di dalam kereta kuda.


...****...


Dengan penuh rasa amarah dan kesedihan Ilyasa menceritakan terang-terangan kepada mereka semua. Hari dimana ia melihat ayahnya tewas di depan matanya, hari dimana dia diseret paksa, hari dimana rumahnya dijarah, dan hari dimana ia tiba-tiba berada di dalam kurungan besi dengan rantai yang melilit lehernya.


"Hari itu, aku tiba-tiba tersadar dan sudah berada di dalam penjara besi bersama para budak." Pungkas Ilyasa, dalam raut kesedihannya.



Ilustrasi seorang prajurit gemuk yang menangkap basah anak bangsawan yang bersembunyi di dalam lemari.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2