
Sebuah patung besar setinggi enam meter berdiri di tengah pancuran air kolam. Patung dengan wujud seorang laki-laki bertubuh kekar tanpa busana, memiliki sayap yang mengepak lebar. Bagaikan sosok dewa langit yang gagah perkasa.
Terlihat bangunan dua sampai tiga lantai yang tertata rapi dengan bahan dasar batu bata halus berkualitas tinggi, terlihat kokoh dengan rangka struktur kayu yang juga berkualitas.
Masing-masing dari bangunan itu merupakan bar, kafe, restoran dan penginapan, serta rumah-rumah penduduk dari para saudagar kaya.
Ditempat itu suara keramaian terdengar jelas.
............
"Buah segar! buah segar...! ayo beli!"
"Ikan segar...! masih baru! hasil tangkapan barusan, ayo beli...!"
"Ayam panggang...! dengan bumbu yang lezat, silahkan beli!"
Teriak para pedagang yang berjualan di pinggiran alun-alun kota.
Melihat Misha yang terdiam dalam kagum, Sebas seketika berkata, "Tempat ini adalah pusat aktivitas masyarakat, ramai bukan? semua orang berkumpul disini... terutama para pedagang, mereka masuk dari tembok seberang sambil membawa barang dagangan mereka."
...Wajar saja tuan muda terlihat terpesona......
...Karena ini merupakan pertama kalinya dia keluar istana dan melihat keramaian seperti ini....
...baik itu dirinya yang sekarang, ataupun dirinya yang dulu....
...Batin Sebas, dengan perasaan haru....
"Sebas, aku ingin melihat-lihat sebentar." Ujar Misha, kemudian berjalan mendekati salah satu kedai makanan.
"Baik tuan muda." Balas Sebas, lalu mengikuti langkah Misha.
Misha seketika mengelilingi alun-alun kota dengan ekspresi riang gembira. Mengamati berbagai macam orang, melihat berbagai jenis dagangan, bahkan sampai menikmati berbagai aneka hidangan yang dijual mereka.
Misha menatap sebuah ayam Pagang yang dibakar diatas bara api sambil di kipas-kipas oleh si pedagang. Batinnya tergiur dengan aroma sedap yang dipancarkan.
"Paman, aku beli satu!" Pinta Misha, dengan setetes liur di bibirnya.
"Oh baik! tunggu sebentar." Balas sang paman penjual.
"Ini nak, harganya cuma satu koin perak." Ujar paman, sambil menjulurkan satu tusuk daging ayam panggang hangat.
Setelah mengambil makanannya, Misha menoleh kearah Sebas lalu bertanya, "Sebas, apakah kau bawa uang?"
"Ada tuan— ada nak." Balas sebas, yang hampir salah menyebut Misha dengan sebutan tuan muda.
Setelah transaksi, Misha kemudian menyantap ayam bakarnya dengan lahap dan berjalan-jalan menikmati setiap sudut kota.
.........
.........
.........
Waktu sudah berlangsung lama, sekitar satu jam dihabiskan di tempat itu. Karena sudah puas menikmati keramaian, Misha seketika mengajak Sebas untuk pergi menjenguk Danilo.
.........
Suatu ketika mereka telah sampai di depan pintu kediaman Hans, teman Sebas yang merawat Danilo.
Tok... tok... Bunyi ketukan pintu.
Tak lama kemudian pintunya terbuka.
"Iya tuan, ada keperluan apa—" Ucap gadis kecil yang bernama Hedara, seorang pelayan dari tuan Hans.
Ketika Hedara melihat wajah Sebas, seketika itu dia berjalan ke belakang sambil berkata, "Tunggu sebentar tuan, hamba segera memanggil tuan Hans. Silahkan masuk dan duduk sebentar." menundukkan kepalanya.
Lantas Misha dan Sebas masuk ke dalamnya, duduk di sebuah sofa empuk yang panjang, menunggu kedatangan pemilik rumah.
Tidak lama setelah itu Hans datang menemui mereka, melihat kedatangan Hans Sebas dan Misha langsung berdiri.
__ADS_1
"Hallo tuan Sebas! selamat datang lagi di kediamanku." Sambut Hans, dengan senyuman hangat namun tidak tulus.
"Hans, Bagaimana kondisinya?" Tanya Sebas, ekspresi datar.
"Oh tuan Danilo? berkat diriku dia sudah pulih kembali." Jawab Hans.
Tiba-tiba matanya melirik kepada Misha yang berdiri di samping Sebas, penasaran dengan sosok Misha yang mengenakan baju ala pelayan, Hans Seketika bertanya. "Hmm~ siapa gerangan pelayan kecil yang tampan ini?"
Tiba-tiba Hans menjulurkan tangannya di atas kepala pangeran Misha, mengelus-elus rambutnya sambil tersenyum. Melihat tindakan Hans barusan, Sebas seketika merasa geram padanya.
...Hans... akan ku bunuh kau bila macam-macam dengannya....
.........
"Oh dia ini... adalah pelayannya Danilo." Jelas Danilo, menahan emosinya.
"Hoh~ sayang sekali, kau sudah melayani orang lain..." Ucap Hans, dengan wajah sedih.
"Hei anak tampan, bagaimana kalau kamu kerja di tempatku saja? nanti aku kasih gaji yang banyak!" Tawar Hans, dengan nada bicara halus dan sopan.
Melihat tatapan dan ekspresi yang ditunjukkan Hans, Misha seketika merasa jengkel kepadanya.
...Haha~...
...wajah seperti ini, aku sangat mengenalinya....
...ciri-ciri orang munafik terpampang jelas dari raut wajahnya....
...Ungkap Misha dalam batinnya....
Sebas yang takut bila emosinya membludak, seketika merangkul pundak Hans lalu menggiringnya naik ke lantai atas.
"Haha... Ayolah Hans, aku tidak sabar menemui Danilo." Ujar Sebas, dengan senyuman paksa yang penuh kekesalan.
Sontak mereka semua naik ke lantai atas, tempat dimana Danilo beristirahat.
..........
Bunyi decitan engsel pintu yang terbuka.
Di dalam kamar tersebut, terlihat Danilo yang duduk diatas kasur. Wajahnya kelihatan sehat bugar, luka di lengannya yang terpotong sudah sembuh tanpa bekas. Lantas Danilo terkejut melihat kedatangan Sebas.
"Danilo... bagaimana kondisimu? apakah kau merasa baikan?" Tanya Sebas, berjalan mendekatinya.
"Tuan sebas, haha~ aku senang kau sampai repot-repot datang kemari hanya untuk menjenguk diriku." Balas Danilo dengan tawa.
Sesaat Danilo merasa penasaran dengan sosok anak kecil yang mengenakan seragam pelayan yang berdiri di belakang Sebas, dirinya tidak sadar bahwa anak kecil itu adalah sosok pangeran Misha yang menyamar.
Tidak ingin Danilo mengenali wajahnya, Misha seketika menundukkan kepalanya.
...Siapa anak ini? mungkinkah dia pelayan tuanku? umurnya masih sangat muda untuk melayani tuanku yang sangat menakutkan itu....
...Batin Danilo, mempertanyakan Misha yang menyamar....
"Jadi bagaimana? apakah dia sudah boleh pulang?" Tanya Sebas, menoleh kearah Hans.
"Tentu saja, dia sudah boleh pulang." Jawab Hans.
Mendengar ucapan Hans, Danilo seketika menggenakan pakaian miliknya yang terletak diatas meja kamar, sebelumnya pakaian itu sempat diantar Sebas beberapa hari lalu saat mengunjunginya.
Selepas itu, Mereka segera beranjak pergi keluar kamar tersebut, menuruni tangga dan sampai di depan pintu rumah.
"Hans, sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak." Ujar Sebas, sambil mengulurkan jabat tangan.
"Tidak perlu berterimakasih seperti itu, kau dulu juga sudah banyak membantuku." Balas Hans dengan senyuman palsu, membalas jabat tangan dari Sebas.
Seketika itu Danilo juga mengulurkan jabat tangan kepada Hans kemudian berucap, "Selama ini aku selalu dibantu oleh anda tuan Hans... saya tidak tau bagaimana caranya membalas kebaikan anda."
Dengan membalas jabat tangan dari Danilo, Hans kemudian berkata, "Haha~ tidak perlu seperti itu," Melirik kearah Misha, "tetapi... jika anda tidak keberatan, apakah boleh saya membeli pelayan anda?"
Ketika permintaan itu diucapkan oleh Hans, seketika itu Danilo terlihat sangat kebingungan. Namun yang lebih terkejut adalah Sebas yang tiba-tiba naik pitam, wajahnya terlihat menggeram, menunjukkan emosi yang meluap-luap.
__ADS_1
...Apa maksud tuan Hans? padahal anak ini bukan pelayan ku... lagian siapa juga yang memberitahunya....
...Apakah Sebas yang mengarang omong kosong ini? Tapi kenapa......
...Lintas pikiran Danilo dalam benaknya....
Seketika itu Danilo melirik wajah Sebas yang terlihat sangat marah, kemarahan itu sangat nampak, tetapi seolah-olah ditahan-tahan olehnya.
Sedangkan Misha pada saat itu melihat ekspresi Sebas yang ditelan emosi dan Danilo yang kebingungan, tiba-tiba Misha berlarian kearah Danilo, memeluk paha Danilo sembari menunjukkan wajah sedih.
"Tuan...! hamba tidak ingin berpisah... tolong– olong jangan jual hamba..." pinta Misha, memeluk erat bagian kaki Danilo dengan air mata yang mengalir tiba-tiba di pipinya.
Air mata buaya ditampilkan oleh Misha kepada Mereka, bagaikan seorang tokoh drama yang masuk tiba-tiba ke dalam panggung sandiwara.
...Hah?! Aku sungguh tidak mengerti! apa yang sebenarnya terjadi....
...Batinnya, melihat tindakan Misha yang seolah-olah bersikap seperti pelayannya....
...Wajah Sebas terlihat emosi, apakah ini karena perkataan tuan Hans? Apakah akan terjadi sesuatu yang buruk bila aku bersikap tidak tau apa-apa?...
Setelah menimbang banyak hal dari pikirannya, Danilo seketika paham maksud dari semua ini. Seolah-olah ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sebas, melihat ekspresinya yang sangat marah.
Danilo kemudian menundukkan badannya kebawah, memegang kedua bahu Misha seraya berkata, "Haha~ tidak... aku tidak akan menjual mu... Eh— Daniel! yah... Karena kau adalah pelayan setiaku."
Danilo tiba-tiba berakting dengan mengarang nama pangeran menjadi Daniel, nama itu tiba-tiba muncul di kepalanya ketika mengingat sosok muridnya Daniel yang sangat menjengkelkan.
Saat melihat sandiwara yang dibuat Danilo, Sebas seketika menjadi tenang kembali.
...Ah~ aku merasa tidak enakan kepada tuan Hans....
...Ucapnya dari dalam hati....
Dengan senyuman yang tidak enakan, Danilo kemudian menoleh kearah Hans sembari berkata, "Mohon maaf tuan Hans, tetapi anak ini sangat spesial bagiku... kalau boleh, apakah saya bisa mengabulkan permintaan yang lain selain anak ini?"
Mendengar perkataan Danilo, Raut wajah Hans tampak sangat kecewa, lantas dirinya berkata.
"Haha~ tidak usah tuan Danilo, sebenarnya saya hanya menginginkan anak ini, tetapi karena tuan sangat menyayanginya maka aku tidak berhak memaksanya." Ucap Hans sambil tersenyum paksa.
"Sekali lagi saya ucapkan rasa terimakasih sekaligus permohonan maaf." Ucap Danilo, menundukkan kepalanya dengan sopan.
"Tidak masalah tuan Danilo, saya ikhlas." Balas Hans.
"Kalau begitu, kami pamit dulu tuan Hans." Ujar Sebas, beranjak keluar rumah tersebut.
Setelah itu mereka bertiga pergi meninggalkan kediaman Hans.
Sedangkan Hans yang melihat mereka yang sudah berjalan jauh dari pandangannya, memasang ekspresi licik dengan seringai jahat, seolah-olah sedang merencanakan sesuatu.
...Sangat disayangkan yah tuan Danilo......
...Kupikir kau akan memberikannya kepadaku, padahal aku sudah susah payah menyembuhkan lukanya itu....
...Hah~...
...Matanya yang bersinar bagaikan emas murni......
...Alisnya yang tebal......
...kulit putih pucat nan halus......
...bibir merah yang seksi......
...Ahh~...
...Aku ingin mendapatkannya!...
...Tenang saja tuan Danilo... sebentar lagi akan aku rebut anak itu dari genggamanmu....
...apapun yang terjadi aku harus mendapatkannya....
...Ucap Hans dalam batinnya, dengan niat jahat. Seolah-olah ingin merebut paksa sang pangeran....
__ADS_1
...*****...