
Brak...! Brak...! brak...!
Bunyi pintu yang digedor-gedor.
"Tuan Bolyevic?! apakah anda ada di dalam?! Keluarlah!" teriak suara seorang pria dari luar pintu, memanggil pemilik rumah mewah dengan penuh emosi.
..........
Suasana saat itu memperlihatkan cahaya rembulan yang masuk lewat jendela kaca, di dalam sebuah ruang tamu dengan sedikit pencahayaan dari lampu redup seperti cahaya lilin.
Ada seorang pria dewasa yang berpakaian mewah layaknya bangsawan kaya, dia terlihat ketakutan sembari memegang pundak putranya dengan kedua tangan yang gemetaran.
"Hiks... Hiks... Hiks—" Isak tangis seorang anak kecil di depan sang ayah.
"Tenanglah... jangan menangis nak, ayah akan segera kembali," bujuk si ayah, dengan raut wajah sedih, seperti tidak ingin berpisah dengan anaknya.
"Tidak! aku tidak ingin berpisah dengan ayah! Hiks... hiks...," ucap sang anak, memeluk erat tubuh ayahnya.
Dengan berat hati sang ayah melepaskan pelukan anaknya. Air mata pilu membasahi pipi seorang ayah yang sangat mencintai putranya itu.
Lantas dengan mengusap air matanya itu, Sang ayah mengendong anaknya dan memindahkannya ke dalam sebuah lemari yang sangat besar berada tidak jauh dari ruang tamu itu.
"Ingat...! jangan keluar dari sini, ayah akan segera kembali..." Perintah sang ayah sembari menahan tangisannya, "Ayah menyayangimu nak." Ucapnya lagi dengan nada rendah dan bibir yang gemetaran.
Track...!
Pintu lemari itu ditutup olehnya, menyisahkan celah kecil bagi putranya itu untuk melihat ke luar.
Drak...! Drak...!! Drak...!!!
Suara gedoran pintu depan yang terdengar lebih keras.
Tiba-tiba...
Praaakkkk....!!!
Daun pintu yang seketika hancur berkeping-keping, ditendang oleh salah seorang prajurit berzirah dengan memegang sebilah pedang di tangannya.
Trap... trap... trap...
Bunyi rentetan langkah kaki puluhan prajurit yang beranjak memasuki ruang tamu. Mereka berbaris mengelilingi pemilik rumah itu dengan mengacungkan pedang mereka kearahnya.
Kala itu muncul salah seorang prajurit dengan rambut hitam panjang, berjanggut lebat, berkumis tipis dan berbadan gempal, orang itu terlihat seperti komandan dari beberapa prajurit yang mengepung si pemilik rumah. Dia masuk dari arah pintu sembari memegang gulungan kertas yang diikat dengan tali merah.
"Count Iskandar Bolyevic, ehh..." Pria gempal itu melepas ikatan tali merah dan membuka kertas tersebut, "Anda ditangkap atas kasus penggelapan dana pemerintah... Ini adalah titah Kaisar, saya harap anda mengakuinya dan segera menyerah." Ucapnya dengan santai.
"Saya... saya tidak melakukan hal seperti itu! tolong... tolong izinkan saya bertemu dengan Kaisar! saya telah dijebak! saya mohon—"
Belum sempat dia menjelaskan seluruh kalimatnya, tiba-tiba ucapannya terhenti.
"Argh—"
Tiba-tiba sebilah pedang menusuk lehernya, memuncratkan darah kental dari tenggorokan seperti air mancur di tengah alun-alun kota.
"Haha~ kami sebenarnya tidak diperintah untuk menangkap mu," Beber si pria gemuk itu sambil tertawa bahagia, "Tetapi... mengeksekusi dirimu wahai tuan count." Sambungnya dengan seringai licik diiringi tatapan sinis.
"Kweparat... argh..." Lontaran ucapan menjerit dari pria bernama Bolyevic. Terdengar kalimat yang kuras jelas karena leher yang digorok oleh sebilah pedang.
Tiba-tiba sebilah pedang yang menancap tenggorokannya dicabut paksa, sehingga mencurahkan lebih banyak darah yang keluar.
Saat itulah dirinya tersungkur jatuh diatas lantai, walau begitu masih ada setitik kesadaran pudar dalam dirinya. Di kondisi sebelum bertemu ajalnya, dengan mata yang menatap sebuah lemari persembunyian anaknya.
...Hiduplah... wahai matahari kecilku....
__ADS_1
...Batin sang ayah, kemudian menghembuskan nafas terakhir dalam genangan darah kental yang menodai lantai....
Sedangkan dari balik celah lemari, sang anak hanya bisa menutup rapat-rapat mulutnya. Tentu saja ketakutan telah menelan jiwanya, kesedihan telah meremas hatinya, kemarahan telah melilit pikirannya. Sekujur tubuhnya gemetaran, keringat membasahi pakaiannya, matanya melebar dengan segala perasaan saat menatap ayahnya yang bermandikan darah.
.........
.........
Si pria gemuk itu berjalan mendekati mayat sang count, lalu meludahinya dengan tatapan penuh sinis.
"Cuih..! Hah~ kalau saja kau tidak menghalangi orang itu, mungkin kau masih selamat." Ucap si pria gemuk, merasa miris sekaligus senang dengan penderitaan yang menimpah mayat di depannya.
"Cari semua orang yang bersembunyi di dalam ruangan ini! lalu bawakan di halaman rumah!" perintah si pria gemuk lalu beranjak pergi keluar rumah.
Tiba-tiba pria gemuk itu berhenti, lalu mengatakan. "Ah..! terutama anak dari si kepar*t ini, cari dia!"
Sebuah akhir tragis dari keluarga bangsawan yang menemui malapetaka.
...****...
Danilo, Sebas dan Misha terlihat berjalan di pinggiran jalanan kota.
"Maaf tuan Sebas, tetapi siapa anak ini?!" Tanya Danilo, menunjuk Misha dengan Ekspresi terheran-heran.
"Hahaha~ kau tanya sendiri pada orangnya langsung," Balas Sebas dengan tawa usil.
"Eh...?" Kaget Danilo, kemudian menoleh kearah Misha seraya bertanya, "Jadi... anda siapa bocah cilik?" Tersenyum lebar.
"Tch! Pelayan macam apa yang tidak mengenali wajah tuannya sendiri." Keluh Misha dengan wajah kesal penuh kekecewaan.
...Yah... walaupun aku sudah menduganya kau takkan mengenali wajah ini....
...Namun berkat ketidaktahuan itu, drama yang aku buat sukses besar untuk menipu seekor rubah bernama Hans....
"....." Danilo seketika terdiam, terperangah saat mendengar pernyataan Misha.
"Hah?! Tu— tuanku?! Tuanku pangeran—" Teriak Danilo yang tiba-tiba terkejut bukan main.
"Sst...! kecilkan suaramu." Tegur Misha dengan wajah kesal.
Danilo langsung menutup mulutnya, tidak menyangka bahwa sosok anak kecil yang bersandiwara bersamanya tadi adalah tuanya sendiri.
"Saya merasa senang bila anda repot-repot datang menjenguk saya, tetapi mengapa anda berpura-pura tadi itu?" Ucap Danilo dengan suara pelan berbisik.
"Iya benar, saya juga penasaran akan hal itu tuan muda." Sela Sebas, dengan suara bisikan.
Keduanya mendekatkan telinga mereka ke wajah Misha.
"Hans, dia adalah seekor rubah. Orang seperti itu tidak boleh mengetahui bahwa aku adalah pangeran." Balas Misha dengan bisikan.
"Rubah?" Tanya Sebas dan Danilo secara serentak.
"Maksudnya orang munafik, wajah seperti itu adalah sosok orang yang licik." Terang Misha, dengan wajah kesal.
"Sebas, kau kenalannya kan? jauhi orang itu." Tegas Misha, memperingati sebas.
"Baik tuan muda, akan tetapi... walaupun Hans orangnya memang licik dari dulu, saya rasa dia bukanlah orang yang berbahaya." Ungkap sebas, dengan wajah bingung.
"Itu yang kau rasa! yang aku rasa lain lagi." Bantah Misha, dengan penuh resah.
"Iya juga, walaupun dia orangnya terlihat baik tetapi aku merasa seperti ada sesuatu pada dirinya." Ujar Danilo.
"Intinya seperti itu, aku tidak pernah salah menilai orang." Tegas Misha dengan wajah yang semakin tampak kesal karena kedua orang disampingnya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kita akan kemana tuanku?" Tanya Danilo yang penasaran.
"Tidak usah banyak tanya, intinya ikuti saja tuan muda." Sosor Sebas, dengan wajah datar.
..........
Kemudian Mereka bertiga terus berjalan tanpa arah di tengah-tengah kota, tiba-tiba secara tidak sadar mereka telah sampai di sebuah gerbang lain yang berjarak cukup jauh dari gerbang istana. Gerbang tersebut diapit oleh dua tembok yang cukup besar, dengan ketinggian sekitar enam meter.
Sama seperti gerbang sebelumnya, gerbang tersebut juga dijaga oleh beberapa prajurit, namun prajurit yang berjaga di tempat itu lebih sedikit dibandingkan gerbang sebelumnya.
Dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah gerbang itu, Misha seketika melontarkan pertanyaan, "Hei... gerbang apa itu?"
"Oh itu... itu adalah gerbang kedua dari kota, di seberang sana adalah tempat tinggal bagi masyarakat kelas menengah, sedangkan tempat ini adalah kediaman masyarakat kelas atas." Tutur Danilo, menjelaskannya kepada Misha.
...Yah benar... Sistem stratifikasi sosial....
...Aku pernah membacanya beberapa hari lalu, bahwa di negeri ini Sistem kasta masih diterapkan....
...Jika ada kasta menengah, maka ada kasta rendahan....
...Aku penasaran, bagaimana kondisi mereka dibandingkan kehidupan mewah di tempat ini....
...Pikir Misha dalam benaknya, terbesit rasa penasaran untuk pergi ke tempat itu....
"Ayo kita kesana!" Ajak Misha, beranjak melangkahkan kakinya menuju gerbang tersebut.
Tanpa banyak tanya keduanya langsung mengikuti langkah kaki pangeran Misha, mereka berjalan melewati gerbang tersebut tanpa hambatan sedikitpun.
Misha melihat sendiri perbedaan dari kedua tempat tersebut, antara di dalam gerbang dan di luar gerbang. Mulai dari bentuk-bentuk rumahnya yang terlihat lebih sederhana, ada yang terbuat dari susunan batu bata merah sampai rumah yang semuanya terbuat dari kayu.
Bangunannya terlihat masih layak untuk ditinggali, bila tempat sebelumnya jalannya terbuat dari susunan balok batu yang rapi, jalan di tempat ini hanyalah hamparan tanah biasa dengan jejak roda kereta dan pejalan kaki.
Mereka terus berjalan menyusuri seluk beluk kota tersebut, banyak pria, wanita dan anak-anak lalu lalang disekitar mereka, melakukan berbagai macam aktivitas walau tidak seramai alun-alun kota.
...........
Dalam perjalanan mereka, Lama kelamaan bentuk dari rumah-rumah penduduk menjadi tidak enak dipandang. Rumah dengan kayu lapuk dan atap jerami tua, seperti sebuah tempat kumuh dengan orang-orang berwajah suram.
Banyak gelandangan terkapar di setiap sudut gang. Mulai dari pengemis, orang cacat, pemabuk dan kriminal berkumpul di tempat itu. Mencerminkan kehidupan masyarakat kelas rendahan yang kurang dalam finansial.
Disaat mereka sedang berjalan kaki, tiba-tiba Danilo berkata kepada Misha.
"Tuanku, ini adalah tempat yang berbahaya. Sebaliknya kita kembali saja." Saran Danilo, merasa khawatir bila terjadi sesuatu kepada Misha.
"Tidak, ini adalah observasi... Aku harus menyelesaikannya." Balas Misha dengan wajah dingin.
..........
...Akhirnya... aku menemukan tempat ini!...
...Sebuah sisi kelam dari suatu negara, yaitu mereka yang lemah, mereka yang miskin, mereka yang tidak beruntung....
...Sedangkan yang lainnya, hidup mewah dengan kelimpahan harta mereka....
...Ucap Misha dalam benaknya, merasa miris akan nuansa keterpurukan masyarakat sosial kelas rendah....
...Misha tiba-tiba tertawa kecil, seolah-olah mengigat akan suatu hal dalam benaknya....
...Tempat seperti ini... dengan masyarakat kelas pekerja yang tampak suram....
...Sepertinya sangat bagus untuk sebuah revolusi bolshevik terjadi pertama kalinya di dunia ini......
...Hahaha~...
__ADS_1
...*******...