The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 39 : Pengakuan


__ADS_3

Misha yang sangat kesal itu menaiki sebuah tangga putih katedral, naik menuju gerbang dan hendak kembali ke ruangan imam Renovic.


Saat itu pandangan sempat menghadap ke lantai, tetapi saat dirinya mengangkat pandangan ke depan, maka berpapasan lah dia dengan seorang perempuan berjubah putih dengan simbol agama di jubahnya itu. Ketika matanya perlahan sampai melihat wajah dari perempuan tersebut, maka terlukis lah wajah Tasya si pelayan dari pangeran.


Berpapasan dalam satu arah berhadapan. Mereka berdua terdiam dalam ribuan pertanyaan yang menyerbu benak keduanya. Dalam waktu sepuluh detik tetapan mata, mereka berdua hanya terus memikirkan tentang satu hal.


...Bagaimana bisa dia ada disini....


.............


...Lalu disusul dengan benak Misha yang emosinya ditambah menjadi lebih besar pada saat itu....


...Sebas..! bajing*n apa yang kau lakukan...!! mengapa perempuan ini malah ada disini.......


...Lantas dari dalam benaknya Tasya pun sangat bertanya-tanya....


...Apa yang dia lakukan di tempat seperti ini?! pangeran?! keluar istana?! dan terlebih lagi menggunakan jubah kuil, mengapa?! apakah dia bukan pangeran? hanya anak kecil yang kebetulan mirip dengannya?! tapi... bagaimana bisa....?...


Karena ingin memastikan segala serbuan pertanyaan di benaknya, dengan ucapan yang terbata-bata Tasnya memberanikan diri untuk bertanya. "Pa— pangeran...? ka–mu... tuan muda pangeran, kan?! apa yang anda lakukan disini...?"


...Menipunya juga sudah tidak mungkin.......


...Dia adalah Anji*g katedral, kesetiaannya itu sudah tidak bisa dijual....


...Latar belakangnya tidak aku ketahui, sulit untuk menembus emosinya....


...Satu jalan terakhir untuk membungkam orang ini....


...Yaitu dengan membunuhnya....


Sebuah rencana matang tiba-tiba tersusun dengan sendirinya dari balik pikiran. Misha sudah memutuskan, dan sekarang dia tinggal menggiring Tasya untuk masuk ke dalam lubang kematian.


"Tasya?! mengapa kau ada di sini...?" tanya balik Misha, dengan senyuman yang dipaksakan padahal hati sudah emosi besar.


"Eh..? aku... sedari berdoa di kuil, lalu tuan muda juga sedang apa di sini?" tanya Tasya lagi setelah menjawab dengan karangan ceritanya.


Tasya seketika berbisik pelan dan mendekatkan wajahnya di depan Misha, " tuan muda... sebaiknya kita cari tempat yang sepi, bisa bahaya kalau ada yang mengetahui anda keluar istana, yah..?" ajak Tasya, seolah-olah sedang merencanakan suatu hal.


Maka dari itu dibawalah Misha ke suatu tempat yang sepi, berlari-lari kecil memasuki gang sempit dan gelap di tengah kota sambil berpegangan tangan. Sampai suatu ketika mereka menemukan sebuah pintu kayu yang terlihat lapuk bertuliskan bar.


Tok... tok... tok...


"Ini aku, Tasya." Ucapnya setelah mengetuk pintu tersebut.


"Tasya, sebaiknya jangan di tempat ini... aku takut," ujar Misha memasang ekspresi ketakutan yang dibuat-buat.


"Tidak perlu khawatir... saya akan menjelaskan suatu hal penting kepada anda." Wajah yang teramat sangat serius ditunjukkan oleh Tasya pada saat ini.


Melihat keseriusan wajahnya, Misha sontak merasa penasaran dengan sesuatu yang ingin dia jelaskan padanya. Dalam hatinya ia berpikir.


...Menjelaskan apa?! mengakui kalau kau adalah mata-mata dari katedral?! dan sekarang ingin membunuhku saat ini juga di dalam sana?! tapi tunggu dulu......


...Mengapa dia terlihat sangat berbeda dari biasanya...? ini bukan wajah seseorang yang bermuka dua, apakah aku ikuti saja alur rencananya ini....


................


Track...!


Pintu lapuk itu terbuka, dibukakan oleh seorang pria paru baya dengan janggut hitamnya yang brewok.


"Oh Tasya ternyata, ku kira siapa... dan siapa anak ini?" Sambut Pria itu, kemudian menanyakan indentitas Misha.

__ADS_1


"Dia adalah kenalanku dari katedral." Jawab Tasya, kemudian bergegas masuk ke dalam tempat itu dengan tangan yang masih memegang erat tangan pangeran.


"Hei, hei...! dari katedral katamu? apakah kau sudah gila?!" Protes pria itu dengan murka.


"Tch..! dia hanya anak-anak, tidak usah khawatir!" balas Tasya dengan nada tinggi kemudian mendecak kesal kepada pria itu.


Melihat raut wajah Tasya yang terlihat kesal itu, Misha baru menyadari dan pertama kali melihat seorang pelayannya yang pendiam bisa menunjukkan ekspresi seperti itu.


"Anak-anak katamu? hei—"


Track...!


Tasya membawa Misha masuk ke salah sebuah ruangan di dalam bar tersebut, masuk lalu mengunci pintunya rapat-rapat.


Brak...! brak...! brak...!


Suara pintu yang digedor-gedor oleh si pria.


"Tasya dengarkan aku! bahaya membawanya kesini, tempat ini sudah susah payah aku carikan! kau paham maksudku kan?! sini ,biar aku singkirkan anak kecil itu..!!!" Teriak si pria yang tidak terima dengan kehadiran pangeran.


...Misha yang sedari tadi mengamati segala tindakan yang terjadi seketika itu memikirkan dari batinnya....


...Reaksi macam apa ini?! bukannya mereka adalah rekannya Tasya? yang seharusnya mereka sama-sama berasal katedral....


...Tapi ketika melihat kedatanganku orang itu terlihat panik, seolah-olah mengira bahwa aku adalah salah seorang dari katedral yang tidak terikat dengan kelompok mereka....


...Hmm~...


...Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan....


.............


Saat ini Tasya sedang duduk berhadapan dengan pangeran di dalam ruangan itu, wajah serius Tasya membuat Misha bertanya-tanya sebenarnya apa yang akan dia katakan.


"Selama ini aku bersama Anna, Winna dan Galina diutus untuk memata-matai anda." Beber Tasya dengan alis yang menekuk, sebuah tanda dari pengakuan yang bersungguh-sungguh.


"Mengapa kamu mengatakan hal seperti itu padaku?" balas Misha dengan wajah yang masih berpura-pura polos.


Dengan menghaluskan suaranya Tasya kembali menerangkan, "pangeran... selama ini saya tau bila anda adalah orang yang berbeda sejak hari itu."


Mendengar kata-kata barusan membuat Misha kala itu sulit menerima pengakuan Tasya. Pasalnya dirinya tidak dapat membaca raut wajah dari Tasya si pelayan, karena sedari awal dia hanya menganggap semua pelayanan perempuan itu sama Kebusukannya, termasuk Tasya yang membaur dengan mereka tanpa banyak bicara.


"Tunggu dulu—" Ucapan spontan Misha yang terlihat sedikit panik, kemudian tidak jadi melanjutkan perkataannya.


"Pangeran, aku menyaksikan hari dimana kau dan Sebas pergi secara diam-diam ke akademi, awalnya aku mengira anda hanya jalan-jalan walaupun hal tersebut memang tidak biasa anda lakukan," mengehentikan sedikit ucapannya, lalu menarik nafas panjang.


"Tapi setelah sering melihat anda masuk ke dalam perpustakaan, sendirian di dalam sana sembari membaca buku-buku, lantas saya merasa heran pangeran.... Setahu saya anda adalah... mohon maaf, anak yang berkelainan aneh untuk seorang anak laki-laki, tidak bisa membaca dan menghabiskan waktunya untuk bermain." Penjelasan sopan Tasya secara panjang lebar, raut wajahnya terlihat sangat serius.


Mendengar setengah penjelasan Tasya, seketika itu pangeran menunjukkan raut wajah aslinya. Sebuah tatapan dingin yang dipenuhi tekanan. Sudut matanya menekuk, namun alisnya mendatar, mata emas itu seolah-olah sedang menyala seperti api, sambil menyilangkan kedua kakinya dengan sebelah tangan mengepal dan menopang rahangnya.


"Apa lagi yang kau tau?" Taya Misha, yang sempat berpikir akan segera memporak-porandakan tempat ini.


...Apakah dia juga tau soal kekuatanku...? kalaupun iya sudah pasti dia tidak akan mengakuinya....


...perempuan ini sebenarnya berbahaya......


...Dia tidak seperti lainnya yang dengan mudahnya ditebak....


...jenius yang memata-matai diriku dari balik bayangan, bahkan aku sendiripun tidak sadar akan orang ini....


...Lintas pikiran Misha dari dalam batinnya, disertai perasaan waspada....

__ADS_1


..............


Tasya menarik nafas panjang lagi kemudian kembali menjelaskan kepada pangeran, "Saya sempat mengikuti anda yang berjalan bersama salah seorang guru di akademi..."


Matanya seketika itu juga melebar, terkejut karena perkataan Tasya tadi. Rasa penasaran akan kalimat selanjutnya terbayang di pikiran Misha.


"Namun saya kehilangan jejak anda, karena pada saat itu...."


...****...


Suatu waktu dimana Tasya sedang membuntuti pangeran yang berjalan bersama Danilo di sebuah koridor halaman istana, dekat dengan bangunan akademi. Mengendap-endap dari jarak yang cukup jauh, berpura-pura menyapu lantai tetapi pandangan terus terjaga ke arah mereka.


Tiba-tiba, tak lama kemudian muncul Galina yang seketika mengangetkan Tasya dari belakang.


"Bwahhh...!!!"


"Whaaa..!!!" Kaget Tasya, terperanjat seperti jiwanya akan lepas.


"Galina?!" ucap Tasya dengan nada bicara pelan, tanpa merasa emosi atas keusilan Galina.


"Hahaha~ kau terkejut Tasya, aku pikir kau akan bersikap santai, tidak biasanya kau seperti ini." Ujar Galina sambil tertawa terbahak-bahak, puas akan reaksi yang Tasya tunjukkan.


Karena Galina Tasya kehilangan pengawasannya terhadap pangeran dan Danilo yang seketika itu tidak terlihat sama sekali.


...Dalam benaknya Tasya mengeluh....


...Yah... kan, gara-gara dia aku kehilangan mereka....


Dari reaksi Tasya bisa diketahui bahwa selama ini dia adalah orang yang tidak mudah marah dan selalu menunjukkan senyuman kepada siapapun tanpa banyak bicara.


...********...


"Dari situlah saya kehilangan jejak anda tuan muda," pungkas Tasya.


Lalu dia kembali melanjutkan penjelasannya, "ada satu hal yang membuat saya sangat yakin dengan perbedaan sifat anda, yaitu hari ketika saya mengikuti anda, sebas dan seorang guru akademi itu keluar istana dengan menyamar sebagai seorang pelayan."


"Apakah kau mengikuti kami sampai di pasar budak?" Tanya Misha dengan rahang yang mengeras, sambil membunyikan gesekan giginya.


"Benar tuan, bahkan saya tau bila anda membeli seorang budak dari pasar itu... dan satu hal yang saya simpulkan dari semua kejadian yang selama ini saya lihat..." suaranya menekan dengan nada rendah, seperti seseorang yang berbisik, "bahwa anda bukanlah sosok pangeran Misha yang aku kenal."


Akhir kalimat Tasya membuat Misha spontan tertawa terbahak-bahak, dirinya saat ini telah tersudutkan untuk pertama kalinya di dunia ini.


"Whahahaha....! wha... hahaha....!!!" Suara tawa kencang kemudian memudar perlahan-lahan, lalu kembali memasang senyuman licik yang biasa ia tunjukkan.


"Terus... memangnya kenapa?!" Mata lebar yang mencekam telah diperlihatkan kepada pelayan itu.


Hawa membunuh yang berterbangan begitu jelas sampai dirasakan oleh Tasya sendiri. Bahkan hawa itu sampai terbang keluar sela-sela pintu ruangan dan menyentuh firasat seorang pria yang ada di luar sana.


Tasya hanya bisa menunjukkan ekspresi tenang tanpa sekalipun merasa tertekan, seolah-olah sudah paham dan mengerti akan kondisi seperti ini. Tetapi lain halnya dengan seorang pria brewok di luar sana, dia tau bahwa Tasya sedang dalam bahaya maka seketika itu juga....


Braaaakkk....!!!


"Tasya?! apa yang terjadi...!!! apakah kau baik-baik saja?!" Teriak pria itu, menggeram dan diselimuti amarah besar.


Suara pintu kayu ruangan yang hancur berkeping-keping, akibat satu layangan tendangan kaki pria brewok yang langsung menghempaskan sisa-sisa kayu ke arah Misha dan Tasya. Beruntungnya kepingan kayu yang berterbangan tidak menyentuh tubuh sang pangeran yang saat ini dilanda hawa menyeramkan.


.....................



Ilustrasi sosok Tasya si pelayan yang keberadaanya tidak terlalu nampak. Dia selalu diam dan sulit ditebak.

__ADS_1


Dirinya terlihat seperti seorang wanita kurus dengan rambut pendek berwarna hitam kecoklatan, memiliki mata berwarna gelap dengan hidung yang tidak tinggi. Wajah seperti menggambarkan perempuan dari benua Asia.


...********...


__ADS_2