
Di dalam ruangan yang semakin gelap, Misha terlihat berdiri sambil menyandarkan punggungnya, menutup mata dengan keadaan tenang, menanti-nanti kedatangan Sebas.
Tak lama kemudian Sebas muncul dari balik pintu jeruji, sembari memegang satu lipatan baju di tangannya. Lantas ia berucap, "Saya telah kembali tuan muda."
Ketika Sebas mengangkat kepalanya dari posisi menunduk, pertama-tama dia tercengang melihat seluruh dinding ruangan yang berantakan, penuh retakan celah berbentuk lingkaran dari ukuran kecil sampai sangat besar.
Sebas tak habis pikir, ketika melihat bolongan dinding raksasa di depan Misha, dengan retakan besar yang menjalar hingga ke langit-langit ruangan.
"Pangeran..?! ada apa dengan semua ini....?" Ucap Misha dengan wajah terperangah.
"Oh Sebas...! Lihatlah apa yang barusan aku temukan!" Ujar Misha, tersenyum gembira.
Sebas hanya bisa terdiam, mulutnya terbuka dengan alis melipat keatas, tanpa sadar menjatuhkan pakaian milik Misha ke lantai. Selepas itu Sebas berucap, "A–pakah... anda yang– melakukan–nya...???" Terbata-bata.
"Hahaha~ Memangnya siapa lagi?" Ucap Misha yang tertawa, dengan ucapan bernada tengil.
Misha berjalan mendekati Sebas, ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sangat serius, alisnya mendatar, ujung mulutnya sedikit menekuk kebawah, tatapan dingin tergambar dari bola matanya.
"Sebas, aku ingin bertanya sekali lagi padamu. Seberapa besar kesetiaan mu itu?" Tanya Misha, wajahnya menghadap ke arah Sebas.
Dalam pikiran yang masih kebingungan, sontak ia menjawab, "Se– seberapa... besar?" Sebas tiba-tiba menundukkan lututnya di lantai, "kesetiaanku sangatlah besar, saking besarnya aku rela mengoyak perutku sekarang juga demi anda...!" Nada bicara terdengar sedikit tinggi.
"Demi aku...? maksudnya aku yang sekarang? atau aku yang sebelumnya? si pecundang lemah yang hanya bisa menunggu dibunuh oleh saudara-saudaranya." Desak Misha dengan rentetan pertanyaan, matanya melebar dengan penuh tekanan pada Sebas.
"kalau itu—" Ucapan Sebas tertahan di dalam mulutnya, seolah-olah sedang dalam kebimbangan.
Melihat kebimbangan di wajah Sebas, Misha seketika memasang wajah kecewa, menghembuskan nafas keluh dan berucap, "Huft~ anda hanya besar mulut saja."
Melihat wajah Misha, Sebas seketika tertampar oleh rasa bersalah, dengan menarik nafas panjang dengan tubuh yang gemetaran ia berucap dengan lantang.
"Tentu saja...! kesetiaanku ada pada tuan muda yang saat ini...! seperti yang aku katakan sebelumnya, aku... rela mati demi anda...! jika tuan muda tidak percaya—" Sebas tiba-tiba mengambil sebilah pisau dari balik pakaiannya, " untuk menunjukkan kesetiaanku padamu, sekarang... satu ini..! disini...!!! saksikanlah wahai tuanku...!!!" Teriak Sebas, sambil melayangkan sebilah pisau itu kearah perutnya.
dalam arah pisau tajam yang akan terhunus, tangan Misha menangkap pisau tersebut, mengehentikan bunuh diri seorang pelayan setia.
"Hahaha~ sudah cukup Sebas, aku percaya padamu" Ucap Misha seraya menunjukan senyuman tulus.
Percikan darah terlihat di telapak tangannya, memunculkan perasaan terharu berbalut kekaguman pada diri Sebas.
"Tuan muda?! tangan anda... berdarah—" Ujarnya sambil gemetar, dengan wajah sedih berkaca-kaca.
...Oh Sebas.......
...Sekarang kau bukanlah pion....
...melainkan seorang menteri dalam papa catur ku....
__ADS_1
...Batin Misha yang kegirangan. Kepuasaan dalam mengendalikan orang lain bersemayam dalam emosinya....
"Bila kau berani menusuk perutmu demi diriku, maka setetes darah di tangan ini bukanlah masalah besar bagiku." Jelas Misha, pesona memperdaya keluar dari wajahnya.
Misha kemudian berdiri seraya bertanya, "Pakaianku mana?"
Dengan pikiran yang mulai tenang, Sebas lantas berdiri sambil berbalik ke belakang, ia melihat pakaian yang jatuh diatas lantai seraya berkata, "akan saya ambilkan tuan muda, maaf, sepertinya tadi aku menjatuhkannya."
Setelah memungut pakaian itu, Sebas memberikannya kepada Misha, sambil berkata, "Keadaan Danilo cukup parah, tetapi anda tidak perlu khawatir, ia sedang dirawat oleh kenalan saya yang ahli dalam pengobatan."
"Syukurlah~ lantas bagaimana dengan para pelayan itu? apakah mereka ada saat kau mengambil pakaian ini?" Tanya Misha sembari membuka kancing baju yang berlumuran darah.
"Tidak ada seorangpun di dalam kamar, saya sudah memastikannya." Jawab Sebas sambil menunduk.
"Kerja bagus." Puji Misha yang saat ini terlihat telanjang bulat.
Kemudian mengenakan satu persatu pakaian yang bersih, mengusap-usap wajahnya, supaya riasan di wajahnya hilang. Setelah itu ia menjilati telapak tangan yang terluka, mengoleskannya ke rambut dari atas sampai belakang.
"Perhatikanlah Sebas, aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu." Lontarnya, sembari tersenyum lebar.
Misha mengulurkan tangannya ke depan, membuka telapak tangan sambil menutup mata selama tiga detik. Seketika ia menunjukkan kepada Sebas, wujud kekuatan misterius yang berbentuk bola hitam bagai gelembung mengerikan.
Tercengang, tertegun, terpesona, menyelimuti pikirannya. Dalam hatinya Sebas berucap.
...Lagi dan lagi......
...aku yakin sekali.... ini bukanlah sihir....
...mengapa tuan muda memiliki kekuatan seperti ini....
Sebas mencoba menenangkan pikirannya, karena selalu saja dibuat heran oleh segala tindakan Misha. Maka dirinya menarik nafas panjang, memperbaiki ekspresi terheran-heran, kemudian berkata, "kekuatan apa ini tuanku?"
"Mana aku tau... aku sengaja menunjukkan ini padamu, karena kupikir kau tau sesuatu." Ungkap Misha yang keheranan juga, "menurutmu apakah ini sejenis sihir..?" Sambungnya.
"Aku– tidak pernah melihat sihir seperti ini tuan muda...." Balas Sebas, dengan sedikit terbata-bata di awal.
"Sejujurnya saya tidak begitu paham mengenai sihir, sebaiknya kita tanyakan kepada Danilo ketika ia siuman." Saran Sebas, dengan wajah sedikit murung.
...Danilo yah~...
...Sedangkan dirinya terlihat seperti ketakutan saat melihatku tadi......
...ternyata dugaanku benar, ini semacam kekuatan misterius yang tidak dikenali....
...Hmm.......
__ADS_1
...Sekarang sudah masuk akal....
...Pikir Misha dalam hatinya....
Misha tiba-tiba mengarahkan gelembung kecil ditangannya ke lantai, menciptakan rongga lingkar sempurna yang membuat Sebas tersentak seketika.
Melihat itu Sebas berjongkok sambil menyentuh pola rongga di lantai, seraya berucap dengan nada pelan, "Pola ini... bukankah persis seperti pola yang ada di dinding ruangan ini."
"Iya kau benar, akulah yang membuatnya. Termasuk celah besar di belakang sana." Ungkap Misha, menunjuk kearah belakang, tepatnya celah ruang tersembunyi yang dipenuhi emas.
Tanpa memperdulikan rasa penasarannya Sebas seketika kegirangan bukan main, merasa sangat terpesona oleh kekuatan misterius milik tuannya.
"Tuan muda...! kekuatan anda ini sangatlah luar biasa, dengan kekuatan ini anda tidak terkalahkan...!!! menguasai negara ini bukanlah perkara sulit." Puji Sebas dengan mata yang berbinar-binar, wajah penuh harap terpampang.
"Hah..? Aku tidak akan melakukan hal yang mencolok seperti itu." Ucap Misha, alis sebelahnya terangkat, kemudian menggelengkan kepalanya, "justru sebaliknya...! aku berencana melakukan pergerakan dari balik bayangan." Sambung Misha dengan senyuman lebar.
Sebas hanya bisa diam mendengar ucapan pangeran, dalam benaknya ia berkata.
...Benar juga, tuan muda yang sekarang bukanlah orang yang ingin terlihat mencolok....
"Sebas kemari dan lihatlah ini." Ucap Misha, sembari berjalan ke arah ruangan tersembunyi yang dipenuhi harta benda.
Misha berhenti di depan celah tembusan, lantas ia menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah ruangan itu seraya bertanya, "Apa kau tau sesuatu tentang lorong ini?"
"Sebenarnya tempat apa ini... aku tidak menduga ada jalan rahasia dibalik tembok ruangan terbengkalai seperti ini ." Gumam Sebas yang terperangah, menoleh ke ujung lorong penuh kegelapan.
"Aku juga tidak habis pikir, ketika aku mencoba menguji kekuatan tadi, tiba-tiba aku menemukan sebuah celah, dari celah itu muncul ruangan tersembunyi." Ungkap Misha, dengan wajah datar.
Dalam rasa penasaran, Sebas berjalan beberapa langkah ke dalam lorong gelap itu, memeriksa seluruh sudut ruangan, kemudian kembali lagi ketika matanya tidak mampu melihat jalan.
...Sepertinya ini terowongan rahasia yang mengarah ke suatu tempat......
...Pikir Sebas dalam benaknya....
"Sebas... ayo kembali, hari sudah malam." Ajak Misha, berjalan perlahan ke arah pintu jeruji besi.
Sebas menoleh kearah pangeran, "Ah... baik tuan muda, lalu bagaimana dengan ini? apakah tidak masalah membiarkannya seperti ini?" Tanya Sebas sambil menunjuk lorong tersembunyi itu.
"Nanti besok saja, aku butuh istirahat. Lagian bila aku tidak kembali dalam waktu dekat, para pelayan itu akan mencurigai kita." Tutur Misha, sambil berjalan ke arah pintu ruangan.
...........
Creeenggg....! Bunyi suara jeruji besi yang menutup.
Sebas dan pangeran berjalan pergi meninggalkan ruangan itu, berjalan dalam gelapnya ruangan dengan menaiki tangga yang melingkar kepermukaan.
__ADS_1
...********...