
Misha tidak bisa membendung perasaan takjubnya, ingin mengeluarkan seluruh emosinya saat bola matanya melihat kobaran api yang sangat mendebarkan.
...Dari mana api itu muncul? Dimana ia menyembunyikan alat sulapnya? apakah ada bahan kimia yang mudah terbakar di tangannya? ataukah ini semacam delusi....
...Batin Misha dengan jantung yang terus berdebar, langkah kakinya sampai di penghujung nyala api itu, menatapnya dengan sangat seksama. Melihat Misha yang mendekat, Danilo merasa resah dan bingung....
...Apa yang bocah ini lakukan...?...
...Lintasan pertanyaan Danilo dalam benaknya....
.........
Dalam heningnya ruang kelas, rasa penasaran orang-orang tertuju pada Misha yang tiba-tiba berjalan menghampiri guru Danilo.
"Dari mana api ini muncul...?" tanya Misha, dengan wajah polos terkesima, matanya berbinar-binar.
"Hah...?!" Danilo tercengang, mulutnya melebar kebawah.
"Pftt—" Ejek Danilo, dengan tawa kecil merendahkan, lalu melanjutkannya dengan tawa lepas, "Whahahaha.......!!!" Suara tawa terbahak-bahak dari Danilo kemudian diikuti oleh murid-muridnya.
rasa keingintahuan Misha diejek habis-habisan oleh semua orang, seolah-olah Misha menanyakan pertanyaan konyol yang sudah jelas, padahal Misha sangat serius menanyakan hal itu.
"Aku pikir kau akan memukuli saya karena berbicara tidak sopan, ternyata... menanyakan suatu pertanyaan konyol?! whaha... Aku, aku tidak habis pikir!" tawa sinis dari Danilo dengan nada bicara mengejek.
"Whahahaha...! Oh iya, ayahku bilang dia tidak bisa menggunakan sihir. Makanya dia kayak orang kampungan saat melihat sihir..!" Ejek salah satu murid dari ujung kursi.
"Dari mana asal api itu? dari dalam celanaku mungkin? whahaha...!!!" Cibir murid lainnya, menganjurkan bibir bawahnya dengan mengolok-olok.
...Hei... bukankah itu sudah keterlaluan, bocah nakal....
...Batin Danilo saat mendengar muridnya ikut meledek Misha....
Disaat orang-orang sedang mencemooh dirinya, Misha memikirkan dan terus memikirkan apa sebab dari semua kejadian ini, dirinya terus bertanya-tanya, rasa ketidakpuasan melumuri nalarnya.
Sedangkan Sebas malah tertegun dengan tindakan yang Misha lakukan, ia tidak mengira bahwa pangeran kecil akan melontarkan pertanyaan seperti itu. Terlebih lagi, ia merasakan amarah mulai perlahan-lahan melahap dirinya, merasa tidak terima tuannya diejek habis-habisan seperti itu.
Pada saat yang sama Danilo sempat-sempatnya menatap wajah Sebas yang dibakar api kemarahan, melihatnya menjadi semarah itu Danilo takut memperburuk suasana.
"Hei...! Sudah cukup! Anak-anak dengar, aku tidak akan bilang disini, kalian juga pasti sudah dengar tentang kekurangan– tidak, maksudku keadaan pangeran. Maka dari itu, harap diam!" Teriak Danilo kepada murid-muridnya, mencoba menenangkan situasi saat ini.
...Lagian juga mengapa anak ini mempertanyakan hal seperti itu..?...
...hah~...
...aku sudah dengar banyak tentang anak ini, produk gagal dari kaisar yang diasingkan olehnya....
...bukanya saat ini ia sedang koma? itu berita terakhir yang aku ketahui....
...Ucap Danilo dalam benaknya, penuh penasaran....
"Hei Danilo...! kau jangan sok bijak, bukanya kau juga yang menertawakan anak itu? ayo ikutlah tertawa bersama kami, hahaha...!" Ujar salah seorang anak laki-laki yang duduk di kursi depan.
Anak itu memasang wajah sinis yang melebihi ledekan anak-anak lainya, kening sebelah terangkat keatas, tertawa dengan sudut mulutnya, menunjukkan hinaan yang berlebihan.
...Daniel sial*n..! jangan pikir kau adalah putra seorang baron, kau bisa selamat bila orang itu sudah mencapai kesabarannya....
...Batin Danilo yang setengah menatap Sebas, penuh waspada....
"Hei Daniel! jangan seperti itu!—" tegur Danilo yang ciut ketakutan, karena Sebas sudah mengeluarkan hawa membunuhnya.
"Tidak masalah. aku memang anak yang sering dihina, lagian aku tidak tersinggung kok." Sela Misha, membalik badannya dan memasang senyuman manisnya.
Beberapa murid seperti Yalfa dan murid berwajah baik lainnya terpesona akan senyuman yang menerangi hati mereka, terutama Yalfa yang semakin tertarik akan sosok pangeran kecil itu. Sedangkan kebanyakan murid malah membalas senyuman Misha dengan ekspresi mengejek, seolah-olah melihat Misha sebagai anak yang menjijikan.
...Hah~...
...Aku tak habis pikir, seharusnya orang normal akan kesal bila diejek habis-habisan seperti itu kan....
__ADS_1
...Ucap Danilo dalam benaknya. Tanpa ia sadari, dirinya merasa sedikit iba kepada Misha....
Sekilas Danilo menatap kembali wajah Sebas untuk memastikan suasana hatinya.
...Loh..? kenapa dia malah tersenyum seperti itu...?...
...menjijikan...! Sebastian yang dikenal sadis dalam peperangan malah menunjukkan senyuman baik hati yang berbunga-bunga....
...Ucap Danilo lagi dalam batinnya, menunjukkan ekspresi jijik kepada Sebas....
"Guru Danilo! Apakah guru bisa menjelaskan kepadaku cara kerja sihir itu?" Pinta Misha, memandangi Danilo dengan mata yang berkilauan.
...Hei-hei... Jangan menatapku seperti itu....
...Batin Danilo lagi, merasa jijik sekaligus tidak tega....
"Ekhem..! baiklah karena tuan muda merasa penasaran mengapa tiba-tiba ada api di tangan saya, itu karena saya mengucapkan mantera sihirnya, jadi—" Jelas Danilo dengan nada angkuh, tapi kalimatnya terpotong diakhir.
"Tidak... bukan seperti itu, maksudnya bagaimana mekanisme– tidak, tapi cara kerjanya? tadi guru mengatakan bahwa 'mana' ditarik ke dalam tubuh kan? cara menarik mana itu bagaimana?" sanggah Misha, disusul rentetan pertanyaan yang diliputi keingintahuan.
...Pertanyaan rumit macam apa ini? ini terlalu berat untuk dicerna, mengapa dia memberiku tekanan hanya dalam kalimat pertanyaan seperti ini....
...wajah itu......
...Danilo tertegun keheranan, bahkan dirinya bingung untuk menjawab pertanyaan Misha....
...Wajah itu mirip sekali dengan profesor Ivan....
...Batin Danilo dengan pikiran yang berputar-putar dibalik pertanyaan....
Danilo untuk pertama kalinya merasakan tekanan yang luar biasa, dalam artian yaitu perasaan terpojok yang merendahkan ilmu sihirnya. Sikap skeptis dan lontaran pertanyaan Misha membuat kepalanya berputar-putar, seperti sedang menjalani ujian dari gurunya sendiri.
...............
Cring...!!! Cring...!!! Suara ketukan lonceng yang berbunyi.
"Horey...! Pelajaran membosankan telah berakhir!" Seru Daniel, mengangkat kedua tangannya dengan penuh gembira.
Plak..!
Bunyi keras dari tamparan Daniel yang mendarat di tengkorak belakang Misha.
"Hahaha..! lain kali belajar sana yang banyak dasar anak haram...!" Hina Daniel, menjulur lidahnya sambil menarik sebelah matanya kebawah.
Melihat adegan penghinaan yang dilakukan daniel terhadap Misha, telah memutuskan rantai kesabaran Sebas, dia yang sedari tadi berdiri di samping pintu kelas telah siap siaga menangkap leher bocah itu dengan satu cengkraman tangannya, aura membunuh lagi-lagi terpancar-pancar dari tubuhnya.
Akan tetapi ada sebuah tekanan yang lebih mengerikan dari itu, yaitu tatapan Misha kearah Daniel. Seakan-akan memperlihatkan sosok bayangan iblis hitam yang mengerikan dari pundaknya.
Sebas dan Danilo seketika tertegun, mereka diam membeku untuk beberapa saat. Dalam batinnya mereka serentak berpikir.
...Tekanan yang luar biasa...!...
..............
"Sampai jumpa lagi Pangeran Misha!" Sahut Yalfa kepadanya, dengan senyuman yang tak kala manis.
Sedetik kemudian Misha dengan sigap langsung memperbaiki tatapan dan niatnya, meredam aura iblis yang mencekam itu kembali ke dalam tubuhnya. Misha sungguh tidak menyadari bila ia telah mengeluarkan tekanan yang sangat besar, sejenis kekuatan mistis selain sihir. Yaitu aura.
"Ya..! sampai juga lagi Yalfa," balas Misha, dengan senyuman yang dipaksakan.
Sedangkan di lain sisi, tepatnya delapan detik yang lalu. Daniel tidak merasakan tekanan apapun. Ia hanya merasa ngeri melihat wajah Misha yang tiba-tiba menjadi sangat menakutkan.
...Apa-apaan tatapan itu...?...
...Batin Daniel yang menatap Misha selama dua detik, kemudian ia memejamkan matanya sekali....
...Ternyata firasatku saja...! dasar anak rendahan....
__ADS_1
...Batin Daniel lagi, sesaat ia membuka matanya kembali dan melihat wajah bodoh Misha yang menyapa gadis itu....
Sambil berlarian Daniel kemudian melewati Sebas bersama anak-anak lainnya, yang saat ini Sebas telah terdiam mematung tanpa bersuara sedikitpun.
.................
Ruang kelas menjadi sunyi, pancaran mentari pagi seketika hilang ditelan awan, hingga membuat seisi ruangan setengah gelap. menyisahkan Misha, Danilo dan Sebas. Perasaan canggung terjadi selama beberapa detik.
"Ba– baiklah...! karena, karena pelajaran sudah selesai... aku harus pergi dulu." Ujar Danilo, kalimatnya bertele-tele.
Track...! Suara pintu yang ditutup oleh Sebas.
"Hei...!!! enak saja kau langsung cabut begitu saja, apakah kau tidak bisa menjawab pertanyaan dariku?" Sindir Misha dan memasang senyuman licik andalannya.
"Kau— apa yang anda katakan tuan muda..." Balas Danilo, merasa kesal dengan nada bicara Misha yang tiba-tiba berubah menjadi sangat angkuh.
Misha terus menatap wajah Danilo sambil duduk diatas bangku pelajaran, mengangkat kaki sebelahnya lalu menunjukkan tatapan dingin, seolah-olah mengeluarkan gumpalan es yang teramat sangat dingin.
Hei... Danilo namamu kan? jadilah bawahanku, ajari aku trik sulap seperti tadi. Jika kau mau... Akan kuberikan kau tempat di masa depan!" Tawar Misha, menampilkan wajah penuh Ambisi.
"Hahaha~ candaan macam apa ini tuan pangeran, aku tau kau memiliki kekurangan, tapi—" Balas Danilo, mencoba melawannya dengan bersikap meremehkan Misha.
Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sebilah pisau sudah melekat di lehernya. Danilo terkejut bukan main,Sebas tiba-tiba berada dibelakangnya sembari memegang pisau kecil yang saat ini mengancam nyawanya.
Badannya gemetaran, ketakutan akan kematian terngiang-ngiang dalam pikirannya. Sempat terpikir bahwa ini hanyalah gertakan semata, tapi pisau dilehernya seolah-olah mengatakan bahwa ini bukanlah candaan namun ancaman yang benar-benar akan terjadi.
"Tentu saja bila kau menolak kau akan dibunuh oleh Sebas, kau takut padanya kan? Hahaha~ Sebas, kau juga luar biasa, memiliki teman yang pintar seperti Danilo." Ucap Misha, dengan candaan mengerikan terlukis dari dirinya.
...Gila...!!! Ini sungguh gila..!!!...
...Pangeran kecil itu berani-beraninya mengancam seorang dengan gelar guru sepertiku....
...tapi, Sebas...!...
...aku tidak bisa menang melawannya..!...
...karena diriku ini sudah berkali-kali hampir dibunuh olehnya....
...Batin Danilo yang dipenuhi rasa kesal....
"Berani-beraninya dia mengancam diriku.... kira-kira seperti itu kalimat yang terlintas di kepalamu kan?" Tanya Misha yang duduk diatas bangku sambil menggoyang-goyangkan satu kakinya.
Danilo tidak bisa melawan anak kecil yang saat ini di depannya, walaupun dirinya sebenarnya takut karena pisau milik Sebas sedang menempel di lehernya. Dirinya juga sekaligus lebih ketakutan melihat wajah Misha yang menunjukkan sosok lain, seakan-akan mencerminkan aura penguasa.
"Sebenarnya apa yang membuatmu meremehkan diriku? karena aku lemah? karena aku terlihat seperti bocah dengan kelainan mental? atau karena aku sering diejek?" Tanya Misha dengan nada bicara imut yang dibuat-buat.
"Jika kau menganggap ku lemah, maka jadikan aku yang terkuat..! jika aku memiliki kelainan mental maka bantulah aku menyembunyikannya, dan bila diriku sering dicemooh, maka bantulah aku membantai mereka suatu hari nanti...!" Jelas Misha, Memasang kembali senyuman mengerikan, dengan kelicikan serta kebusukan tergambar diwajahnya.
...Apa-apaan ekspresi itu..? apakah selama ini dia hanya bersandiwara...?...
...seorang bocah yang dianggap aib kekaisaran, sekarang menunjukkan sikap layaknya seorang penguasa......
...hahaha.... aku pasti sedang bermimpi....
...Batin Danilo, dalam kebimbangannya....
"Bagaimana? apakah anda tertarik?" Ujar Misha, mengulurkan tangannya kearah Danilo.
...Tangan anak ini......
...dirinya seperti sosok dewa balas dendam yang mengulurkan tangannya kepada ciptaannya....
...Ahh.......
...Sebas, jadi ini alasan kau sangat setia kepadanya....
...Ucap Danilo dalam Benaknya, bola matanya mengarah keatas, menyisakan warna putih. gambaran dari rasa takjubnya kepada sosok master yang saat ini berada di hadapannya....
__ADS_1
Ilustrasi Suasana ruang kelas.