The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 19 : Langit malam


__ADS_3

Seorang prajurit berseragam merah yang dilapisi zirah besi di bagian dada, siku, dan lutut. Terlihat berlari diatas karpet merah yang dihamparkan, di suatu ruangan takhta yang Gilang gemilang.


Prajurit itu tiba-tiba menundukkan lututnya, menghadap seorang Kaisar yang duduk diatas kursi takhtanya sembari menopang kepalan tangan di di pipinya.


"Salam sejahtera wahai Kaisar.... Izin menginformasikan, bahwa saat ini pangeran ke lima telah tiba dari perjalanannya." Lapor prajurit itu, tertunduk dengan dagu yang menyentuh leher.


Sontak kaisar pun berdiri, merentangkan kedua tangannya sambil berjalan menuruni podium mendekati prajurit itu.


Lantas kaisar bertanya, "Putraku sudah disini?! dimana dia sekarang?!"


Tiba-tiba gerbang ruang takhta di hilir karpet merah terbuka lebar, seketika seorang prajurit lain yang berdiri di samping gerbang berseru, "Pangeran kelima, Luka Gregory De Astrana telah tiba...! salam sejahtera untuk kaisar dan putranya."


Prajurit berseragam merah seketika menyingkir dari karpet merah, berjalan mundur perlahan ke arah samping dengan posisi yang masih tertunduk.


Pangeran dengan nama Luka terlihat bersama seorang pelayan wanita disampingnya, pelayan itu tunduk hormat kepada kaisar dari depan gerbang.


Dan ketika Luka melihat wajah kaisar dari jauh, seketika itu dia berjalan cepat kearah kaisar, terlukis wajah rupawan pada dirinya, berambut hitam, bermata sipit dengan lensa berwarna merah terang serta memiliki kulit putih pucat. Pangeran itu terlihat bertubuh kecil, lebih kecil dari tubuh pangeran Misha.


Dengan suara lucu yang terdengar Luka berseru, "Salam sejahtera wahai Kaisar...!"


"Oh putraku...!!! datanglah padaku...!!!" Sambut Kaisar dengan tawa gembira, sambil merentangkan kedua tangannya.


Perasaan bahagia terpampang di wajah pangeran Luka, sontak dirinya berlari kegirangan kearah kaisar, kemudian melompat di pelukannya.


"Ayahanda...! aku rindu sekali padamu." Ucap Luka yang tersenyum gembira, di pelukan erat sang kaisar.


"Aku juga merindukanmu wahai putraku...!" Balas Kaisar yang memeluknya dengan hangat.


Pelukan bagaikan keluarga yang bahagia, seorang ayah menyayangi anaknya, dan anak yang menyayangi ayahnya.


"Ceritakan padaku bagaimana kisahmu saat berkunjung ke selatan...!" Ujar Kaisar dengan senyuman gembira, dengan mengakhiri pelukannya.


"Ya ayah..!" Balas luka, dengan pipi merah yang sangat bersemangat.


...*****...


Sedangkan di lain tempat dengan waktu yang sama, Misha telah keluar dari ruangan bawah tanah. Sampailah ia ke permukaan, disambut dengan langit malam yang sangat begitu indah.


Misha terpanah, akan pesona cahaya bintang di langit, berkumpul bagaikan bui ombak di lautan, menerangi gelapnya malam hari. Dirinya berhenti tepat di pintu masuk ruangan bawah tanah, sehingga membuat sebas ikut berhenti.


Dengan menoleh kebelakang Sebas seketika bertanya, "Ada apa tuan muda?"


"Apakah langit memang seterang ini—" Gumam Misha, yang seketika berpikir.


"Langit? oh.. benar juga, manusia pasti akan terpesona setiap memandang langit malam, karena diatas sana ada para dewa yang bersemayam." Tutur Sebas, dengan senyuman di wajahnya.


Memandang kumpulan bintang yang berpijar. Dari dalam hatinya Misha bertanya pada dirinya sendiri.


...Dimana bintang Sirius...? rasi Orion..? Taurus...?...


...Mengapa semuanya tampak berbeda dari sebelumnya......


Misha Tiba-tiba terdiam mematung, jantung yang kembali berdebar kencang, sorotan bola mata yang berguncang, beserta getaran tubuh yang diliputi rasa bertanya-tanya pada dirinya, kembali terheran-heran akan dunia yang ditempatinya.


"Tunggu dulu... Ini adalah dunia lain.., lantas mengapa aku berpikir tempat ini masihlah bumi dengan matahari sebagai bintang...? apakah karena terlalu mirip..? sehingga aku tidak menyadarinya—" Gumamnya, dengan suara pelan layaknya seorang yang sedang berbisik.


"Tuan muda? apakah anda mengatakan sesuatu?" Tanya Sebas, yang sempat mendengar suara bisikan pangeran.


Misha menunda rasa penasaran dalam benaknya, lantas ia berucap, "Tidak– cepatlah, hari sudah terlalu larut."


"Baik tuanku." Balas Sebas, melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


.............


Sebas membawa pangeran mengikuti sebuah terowongan kecil nan sempit, di sana sangatlah gelap, mereka berjalan dan terus berjalan sampai tembok di depan terowongan seketika bergeser, mereka tembus ke koridor istana yang dekat dengan kamar pangeran Misha.


...Hebat juga, apakah tembok itu bergerak karena mesin? ah~ palingan sihir...


...Ucap Misha dalam benaknya....


"Tuan muda, saya akan memeriksa keadaan kamar, untuk saat ini mohon tunggulah saya disini." Ujar Sebas, dengan suara pelan.


Misha kemudian mengangguk setuju, pintu itu kembali tertutup perlahan, meninggalkan Misha di dalam terowongan rahasia yang sangat gelap.


...........


Sebas sudah sampai di depan pintu kamar, lantas ia membukanya dengan perlahan. Ia melihat Galina sedang tiduran diatas kasur.


Sebas menggoyangkan badan Galina, berusaha untuk membangunkannya.


"Galina...! bangunlah, kenapa kau hanya tiduran disini?" Ucap Sebas yang kesal.


Kelopak mata Galina terbuka perlahan, rasa ngantuk masih mengelilingi kesadarannya. Dalam keadaan setengah sadar dengan kantung mata yang terasa begitu berat, seketika berteriak, "Apa lagi..!!!"


...........


Wajah kesal sebas yang meluap-luap terlihat di matanya.


"Hah..?! tuan sebas!" Sontak Galina terperanjat, panik melihat sosok sebas yang tiba-tiba berada dihadapannya, dengan cepat ia langsung berdiri sambil menunduk.


"Maafkan saya tuan Sebas, saya telah lancang maafkan saya." Mohon Galina dengan rambut yang acak-acakan, sambil membungkuk tiga kali.


"Dimana Anna?! Tasya dan Winna?! " Tanya Sebas yang emosian, "Panggilkan mereka kemari, Beritahu bahwa tuan muda akan makan malam ini, segera persiapkan semuanya." Perintah Sebas dengan bentakan.


"Untuk apa kau bertanya?!" Teriak Sebas yang semakin emosi.


"Hikh—" Kecut Galina, "Ba– baiklah tuan Seb–as, saya akan segera menyiapkannya...." Balas Galina, terbata-bata. sambil ketakutan ia berlari meninggalkan kamar.


"Sebas sialan...! kau pikir kau siapa...!" Cibir Galina dengan suara pelan, setelah posisinya berada jauh dari Sebas.


"Hmm~ dimana Anna?" Gumam sebas yang bertanya kepada dirinya.


...Sepertinya Galina butuh waktu lama untuk kembali....


...saatnya memberitahukan tuan muda....


...Ucapnya lagi di dalam hati....


...****...


Dinding batu koridor istana bergeser kembali, memperlihatkan sosok Misha yang merasa resah karena terlalu lama menunggu. Sembari mengulurkan tangan Sebas berucap, "Keadaan aman tuan muda."


...........


Pangeran kembali ke kamarnya, tempat dimana ia tersadar dari mimpi panjang di dunia sebelumnya. Dalam diam ia berjalan memasuki kamar mandi, melepaskan pakaiannya dan berendam di dalam bak pemandian berisikan air hangat.


...Ahh~...


...Jika rasi bintang terlihat berbeda dari biasanya, maka hanya ada satu kesimpulan yang aku dapatkan....


...tempat ini, daratan ini bukanlah planet bumi yang aku kenal....


...bisa jadi... diantara milyaran bintang, entah di galaksi mana aku berada, pasti sangat jauh dari bumi....

__ADS_1


...aku ingin sekali mengamati langit malam ini...! rasanya tidak ingin tidur....


Ucap Misha dalam benaknya, api semangat membara dalam hatinya, melepaskan keingintahuannya terhadap dunia ini.


Tenggelam dalam air yang menghangatkan sekujur tubuh, Misha bangkit setelah berendam cukup lama. Berdiri dengan telanjang, keluar kamar mandi, membuka lemari, memilih pakaian dan langsung mengenakannya di depan cermin.


"Sebas, kunci pintunya." Perintah Misha, yang duduk manis bersila diatas kasurnya.


Setelah Sebas melakukan perintahnya, Misha seketika berucap, "Bagaimana soal keempat pelayan itu?"


"Saya telah menyelidiki mereka, pertama-tama Anna. Dirinya terlihat mengirimkan sepucuk surat kepada seseorang dan itu bukan surat biasa, karena ia terlihat sembunyi-sembunyi saat menerbangkan surat itu melalui merpati." Papar Sebas kepada Misha, Kekesalan kepada Anna terpampang di wajah Sebas yang menggeram.


...Kan... Sesuai dugaanku....


...Ucap Misha dalam batinnya....


"Tenanglah sebas, ada saatnya untuk menyingkirkan mereka." Tutur Misha dengan wajah dingin, bahkan Sebas sendiri merasa takut melihat tatapan itu, seolah-olah amarahnya lebih besar darinya.


.............


Track...! suara pintu kamar yang terbuka perlahan, Sosok Anna, Winna dan Galina keluar dari balik pintu, sembari menenteng piringan berisikan makanan-makanan lezat.


Anna berlari menghampiri Misha yang duduk diatas kasur, ia duduk diatas lantai sembari memegang kedua tangan Misha.


"Pangeran...? Ahh.. maafkan hamba pangeran, hamba tadi merasa cemas karena pangeran belum saja tiba di kamar, maka dari itu hamba berniat mencari pangeran, takutnya terjadi apa-apa kepada anda." Ujar Anna dengan rasa bersalah, rasa khawatir, rasa cemas terlihat di wajahnya.


...Hahaha...! Kau melakukan drama yang buruk Anna....


...Akan kuberikan contoh bagaimana cara berpura-pura seakan-akan terlihat nyata....


...Lintasan kata Misha dalam hatinya, merasa sangat jengkel akan Anna yang bersikap seolah-olah tidak bersalah....


Melihat Sosok Anna di depannya, air mata tiba-tiba muncul dari pipinya, mengalir deras perlahan-lahan, seolah-olah memperlihatkan sosok anak cengeng yang menagis sejadi-jadinya dengan keras.


"Hh– Hwaa... whaa...!" Suara nyaring dari tangisan Misha.


Sontak Anna langsung memeluk erat pangeran mengusap-usap kepalanya seraya berucap "Hush.. hush... tenanglah pangeran, apa apa...? apakah ada yang menyakitimu...? ceritakan kepada Anna."


Jari telunjuk Misha tiba-tiba mengarah kepada Sebas yang berdiri di sampingnya, lantas Misha mengadu dalam tangisannya, "Sebas...! Dia meninggalkan aku sendirian di depan taman...! Hiks... hiks... tadi aku tersesat, aku sangat ketakutan! Anna..."


Sebastian terheran-heran, dalam benaknya ia berucap.


Ada apa ini...? ada apa dengan tuan muda..?!


"Tuan Sebas? apakah terjadi sesuatu?" Tanya Anna dengan wajah sedih.


"Aa– a... Tadi... aku mengajak tuan muda ke taman... lalu– aku hanya pergi sebentar... dan saat aku kembali.... tuan muda sudah tidak ada..." Jawab sebas yang terbata-bata, terlihat jelas dia berusaha mencari alasan.


"Mohon maaf bila saya lancang tuan Sebas, tetapi kejadian seperti ini sangat berbahaya... Hamba akan melaporkannya kepada yang mulia permaisuri." Ancam Anna secara halus, sembari memeluk pangeran kecil dengan erat.


Sedangkan Winna dan Galina terdiam, dalam hati mereka terkuak perasaan jijik melihat drama yang ditunjukkan Anna.


...Sebas meninggalkan pangeran sendirian? ini tidak masuk di akal....


...Galina mengatakan Sebas terlihat kepanikan saat bertemu dengannya tadi sore, apakah terjadi sesuatu?!...


...Pikir Anna dalam hatinya, sekilas eskpresi kekesalan muncul dari wajahnya....


"Winna, Galina letakan itu diatas meja. Hari ini... pangeran harus terlihat cantik, tidak baik menangis, yah~" Bujuk Anna, mengusap air mata palsu di wajah Misha.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2