
Kitab suci, surat pertama, ayat 120
'Barang siapa yang telah menyakiti keturunanku, maka hukumlah dia, siksa dia sampai ia mengakui kesalahannya, setelah itu baru bunuhlah dia. Tidak ada kata ampun bagi tuhan untuk orang-orang seperti mereka.'
Pupil emas bergetar melihat kutipan ayat dalam kitab suci, setetes keringat muncul dari dahinya, kemudian terlihat senyuman lebar melengkung, matanya menyipit, memperlihatkan sifat liciknya.
"Ku ucapkan rasa terimakasih kepada seseorang di masa lalu, yang mengarang omong kosong ini." Menatap lembaran buku, tersenyum jahat.
..............
...Kekaisaran Astria....
...Sebuah negara monarki tempatku berada, memiliki sistem pemerintahan monarki semi absolut dengan kaisar sebagai kepala pemerintahan....
...Namun negara ini memiliki sistem unik dengan satu pemimpin lainnya yang mengendalikan umat beragama. Rasul agung, adalah sosok pimpinan tertinggi katedral pusat yang memiliki andil besar dalam jalannya roda pemerintahan kekaisaran Astria....
...Ucap Misha, kala sedang membaca sebuah kutipan buku berjudul 'sejarah masyarakat' di dalam ruangan perpustakaan....
...........
Dalam waktu dua Minggu, Misha menghabiskan seluruh waktunya di dalam perpustakaan. Dirinya telah jatuh dalam kecintaan yang berlebihan, buku-buku itu bagaikan pemuas nafsu untuknya.
Saat ini dia telah menjelajahi lebih dari puluhan buah buku, banyak informasi telah ia dapatkan, jutaan kalimat telah tersimpan dalam memorinya. Otaknya itu bagaikan perpustakaan hidup, yang saat ini berusaha menyalin semua buku lewat mata penglihatannya. Namun, masih banyak informasi dan pengetahuan yang belum ia jelajahi.
...******...
Pagi hari telah tiba, Misha saat ini berada di dalam kamarnya bersama Sebas dan keempat pelayan yang merias wajahnya seperti biasa. Dandanan norak dengan bedak tebal, bibir merah pekat, alis hitam legam, bulu mata panjang serta wajah pasrah Misha yang terlihat polos dari luar.
"Sudah beres, pangeran terlihat cantik dan anggun." Puji Anna, tersenyum riang.
"Oh sungguh?!" Ujar Misha, meraba-raba parasnya di depan cermin.
"Tuan muda, sudah waktunya." Ujar Sebas, mengingatkan sesuatu.
Pagi ini Misha berniat pergi lagi ke perpustakaan, melanjutkan bacaannya yang sempat terhenti. Saat hendak pergi ke perpustakaan, tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Alangkah terkejutnya Misha setelah melihat sosok bocah yang tiba-tiba muncul di depannya. Bocah itu adalah luka, seorang pangeran tampan rupawan yang mengenakan pakaian mewah serba hitam, dengan aksesoris emas yang berkilauan. Dia datang bersama dengan dua prajurit bersenjata, mengenakan zirah besi di tubuhnya, berbadan tinggi besar dan terlihat sangat kuat.
Sontak Sebas ikut terkejut, dia terperangah melihat sosok pangeran Luka. Wajahnya seketika penuh keringat, tubuhnya gemetaran, seakan-akan dia terlihat menghawatirkan sesuatu.
...Astaga... pangeran luka....
...Gawat...! tuan muda pasti jengkel dengan bocah ini, bisa-bisa akan terjadi pertengkaran disini....
...Batin Sebas yang merasa resah, cemas, dan khawatir....
"Hei... Kemarin aku datang kesini loh, tapi kamu tidak ada. Ayo kita bermain," Ajak Luka, memasang senyuman palsu, "Kakak...!" senyuman itu seketika berubah menjadi seringai jahat.
"Ahh~ tuan muda Luka.... Ehh— pangeran hari ini... harus buru-buru, ada sesuatu yang harus ia lakukan..." Ucap Sebas mencoba mencari alasan, dia terlihat gugup.
"Memangnya ada urusan yang lebih penting dariku?!" Bentak Luka, sembari tersenyum licik.
.............
...Misha seketika keheranan, dalam batinnya ia berpikir....
...Pangeran Luka...? oh, jadi dia adalah salah satu saudaraku yah....
...hmm~...
...kesan awal yang harus ditunjukkan adalah bersikap ramah kepadanya....
__ADS_1
...ngomong-ngomong siapa yang lebih tua yah? soalnya tinggi ku sama dengannya....
"Hai saudaraku... apa kabarmu hari ini—" Belum sempat Misha menyapanya, hal yang tidak terduga terjadi.
Tanpa disadari telapak tangan Luka tiba-tiba mendarat di pelipisnya, mencengkram rambut-rambutnya dengan kasar, menariknya kebelakang seraya memasang tatapan sinis dengan senyuman licik.
Sontak para pelayan terkejut bukan main, mereka merasa iba kepada pangeran, namun tak berani menolongnya. Termasuk Sebas yang saat ini hanya bisa diam melihat tuanya diperlukan seperti itu.
Awalnya Misha masih bisa menahan rasa sakit yang tidak seberapa itu, tetapi tak lama kemudian cengkraman Luka tiba-tiba terasa lebih kuat dari sebelumnya. Seakan-akan pelipisnya diiris dengan sayatan pisau dapur yang sangat tajam.
"Arghh....!" Jerit Misha yang kesakitan, mencoba melepaskan cengkraman luka dengan tangannya.
"Berani-beraninya kau bicara tidak sopan kepada adikmu?! Hei... Kakak! seharusnya kau memanggilku dengan sebutan tuan kan?!" Teriak Luka, seringai jahat melapisi ekspresinya.
"Hentikan... Sa–kit... Argh...! tolong hentikan." Ucap Misha yang memohon ampun, perlahan-lahan air mata muncul dari matanya.
Misha tak mampu membendung rasa sakit yang diterimanya, berusaha sekuat tenaga mencoba melepaskan cengkeraman itu dengan kedua tangannya, namun ia tidak mampu melepaskan cengkraman Luka yang sangat kuat, dalam benaknya Misha berpikir.
...Apa ini...! kekuatannya sangat besar, rasanya seperti dicengkeram orang dewasa....
Misha diseret paksa keluar ruangan, menariknya secara kasar hingga tubuhnya jatuh tersungkur, cengkraman itu seketika terlepas, sehingga dagunya terbentur keras ke lantai.
Prak...!
seketika Misha merasakan rahang bawahnya mati rasa, terasa ngilu sampai keseluruhan tengkorak kepala.
"Tuan muda...! apakah anda baik-baik saja." Teriak Sebas dengan panik, ia menghampiri Misha kemudian berusaha menolongnya.
"Hei pelayan...! akan aku peringatkan kau, jangan menyentuh mainanku. Kau tau akibat bila menentang ku kan? paham kau?!" Ancam Luka dengan bentakan, tatapan sinis terukir diwajahnya.
Tiba-tiba kedua prajurit yang berdiri dibelakang Luka mengacungkan sebilah tombak kearahnya secara bersamaan. Sebas seketika bimbang, pikirannya berputar sepuluh kali lipat dari biasanya, bukan karena sebilah tombak yang mengancam nyawanya, melainkan keraguan akan dirinya bila melawan sosok berkuasa dibalik pangeran Luka.
Air mata berlinang di wajah Sebas, merasa kasihan namun tak mampu berbuat apa-apa. Rintihan rasa sakit terdengar dari mulut Misha, dengan bibir yang berat Misha mendesis, "Ti– tidak usah... aku... baik-baik saja..."
Luka kembali menjulurkan tangannya, mencengkram erat rambutnya, meremasnya dengan kasar, menariknya dengan kuat, sehingga Misha terus merintih kesakitan.
"Arghhh....! Hah... hah... Arrghh...! mengapa kau– melakukan ini?!" Jerit Misha untuk kedua kalinya, ekspresinya benar-benar terlihat seperti seseorang yang kesakitan.
...Bajing*n, bocah teng*k...! ini benar-benar sakit Anji*g......
...Akhh...! apa yang harus kulakukan jika seperti ini?! menahannya?! sepertinya begitu, tapi sampai kapan....
...Cibir Misha dari batinnya, kemarahan membludak di dalam perasaanya, tetapi tertahan oleh akal pikirannya....
"Hei... hei... mengapa kau baru mengeluh sekarang?! bukanya kita sudah biasa melakukan ini? hah?!" Bentak Luka, seringai liciknya terlihat menikmati penderitaan Misha.
Druk...!
Luka merasa jengkel, ia tiba-tiba menendang perut Misha dengan kencang, rasa mual tiba-tiba dirasakan olehnya, serasa ingin muntah.
"Aarghkk...! Hentikan...!" Teriak Misha, menjerit kesakitan.
Druk...! Druk...! Druk...!
"Whahaha...! rasakan ini..! dasar...! tidak tau diri...! anak haram...! mati kau...!" Cecar Luka, sambil menendang-nendang perut Misha dengan bengisnya.
...Ahh~...
...Jadi ini yah, yang selama ini kau rasakan...? Misha......
...Batin Misha, dalam keadaan hampir kehilangan kesadarannya....
__ADS_1
"Uhuk... uhuk... byurr...!" Suara batuk yang diiringi muntah darah yang mengalir dari mulutnya.
Kondisi Misha terlihat sangat parah, dia memuntahkan darah di lantai, namun tidak ada rasa iba sama sekali diwajahnya anak yang bernama Luka.
Tiba-tiba satu tendangan kaki bocah itu melayang kearahnya, mendarat tepat di perut Misha seraya berkata, "Siapa yang suruh kau pingsan dasar anak haram...!"
Bruk...!
Sebas hanya bisa memalingkan pandangannya, menutup matanya, dengan harapan keselamatan Misha dari lubuk hatinya.
Misha telah kehilangan kesadarannya, jatuhlah ia dalam ruang hampa bawah sadar. Tenggelam dalam kegelapan tanpa dasar, seolah-olah telah menemui ajalnya untuk kedua kalinya.
...*****...
Dari balik gelapnya alam bawah sadar Misha membuka matanya, ia melihat sosok anak kecil yang sedang duduk dengan memeluk kedua betisnya sambil menangis terisak-isak.
"Hiks... hiks... tolong.. tolong aku..."
Misha kemudian mendekatinya dengan rasa penuh iba, lantas dia penasaran mengapa anak ini menangis.
"Ada apa nak?" Menepuk pundaknya.
Anak itu menoleh kearahnya, perlahan dan perlahan hingga dirinya terperanjat ketakutan, seluruh tubuhnya bermandikan keringat, badannya gemetar, bibirnya bergetar. Dia tersungkur dalam kegelapan, merangkak mundur menjauhi anak itu dengan rasa panik.
Misha melihat wajah mengerikan dari anak itu seperti sosok iblis yang kehilangan bola mata, berlumuran darah bagai monster buruk rupa.
"Aaahhh...! siapa kau...! menjauh lah, jangan mendekat." Teriak Misha, wajahnya dilumuri rasa panik yang menjadi-jadi.
Lantas bocah itu Berdiri sambil mendekatinya, berjalan perlahan seraya berkata dengan suara serak bagai monster, "Apakah kau lupa denganku? aku adalah Misha, akulah pemilik tubuh ini."
Sosok buruk rupa itu seketika tersenyum lebar, darah mengalir dari celah kosong tanpa bola mata, berlinang di pipinya bagai tetesan air mata.
"Hah?! apa maksudnya?! Misha?!" Ujar Misha dengan bibir gemetaran.
Seketika wajah mengerikan dari anak itu berubah menjadi pangeran tampan dengan bola mata emasnya yang indah, memperlihatkan sosok yang tidak asing baginya.
"Hai Lazor," Sapa anak itu dengan senyuman hangat.
Setetes cahaya jatuh ke dalam gelapnya ruangan, merubah seluruh penjuru alam bawah sadarnya menjadi putih terang nan bercahaya.
"Mengapa wajahmu mirip denganku— tunggu dulu, dari mana kau tau namaku?!" Ucap Lazor. Rasa penasaran memuncak di dirinya.
...******...
Misha kembali tersadar, matanya terbuka lebar dengan noda darah yang memenuhi bibirnya. Dengan penglihatan setengah buram ia merasakan kedua tangannya terikat, tubuhnya tidak bisa bergerak.
Saat ini Misha mendapati dirinya telah berada di dalam ruang gelap tanpa cahaya, ruangan itu dipenuhi beda-beda aneh, besi rantai bergelantungan, sajam, serta alat tajam bergeletakan diatas meja di ruangan itu, seperti ruang penyiksaan seorang algojo.
Kedua tangannya terikat dengan borgol besi yang menancap di dinding, rasa dingin terasa di seluruh tubuhnya. Terlihat Misha yang lemah bergelantungan di tembok ruangan dengan tubuh tanpa busana, goresan memar bergaris-garis merah menempel di tubuhnya, seakan-akan habis disiksa dengan cambuk besi.
"Hei...! jangan melamun dasar kepar*t...!" Hina Luka dengan tatapan tak berperasaan.
Track...!
satu pukulan lagi-lagi mendarat di perutnya.
"Arrghh...!" Jerit Misha dengan teriakan, rasa mual kembali dirasakannya.
Mendengar dan melihat jeritan rasa sakit yang ditujukan Misha, Luka seketika merasa gembira. Sebuah perasaan lega tiba-tiba mencuat dari lubuk hatinya.
"Baiklah... karna kakak sudah sadar saatnya ronde kedua dimulai." Ucap pangeran luka, dengan seringai jahatnya.
__ADS_1
...*******...