The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 38 : Aliran darah panas


__ADS_3

Jendela terbuka lebar, memancarkan cahaya pagi yang terasa hangat di sekujur kulit. Misha tiba-tiba terbangun dari tidurnya, dengan mata yang menyipit karena cahaya yang terlalu silau.


Berbaring di atas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Dengan kata berat ia mencoba beranjak turun dari atas ranjang, sehingga selimut yang menghangatkan tubuhnya semalaman terlepas. Sontak Misha amat terheran-heran, karena melihat dirinya tidak menggenakan busana.


...Dalam kebingungannya ia membatin....


Apa-apaan ini?! mengapa aku telanj*ng?! tch...


...ini pasti ulah jala*ng itu....


Aku tidak mengingat apa-apa, ingatan terakhirku hanya saat ia meraba-raba bagian terlarang.


...Selepas itu aku melupakan segalanya....


...Seolah-olah aku dihipnotis oleh pesona wanita itu. Apakah ini sejenis sihir? hal serupa rasanya pernah aku alami sebelumnya....


Misha sesungguhnya tidak benar-benar tertarik dengan pesona permaisuri, hal serupa juga ia alami sebelumnya, dia pasti akan kehilangan ingatannya saat-saat memasuki adegan utama dari permainan malam, seperti sebuah sihir pemikat yang sulit dilawan.


Namun pangeran tidak terlalu memikirkan soal itu, yang saat ini ia pikirkan ialah informasi rahasia yang dibeberkan kepadanya tadi malam.


Beberapa saat kemudian, Sebas masuk ke dalam kamar dengan membuka pintu seraya mengatakan, "Tuan muda? Danilo sudah menunggu di depan gerbang."


"Baiklah aku akan bersiap-siap, bagaimana dengan keempat pelayan itu?" Tanya Misha dengan wajah datarnya.


"Mereka berempat dalam pengawasanku tuan," balas Sebas.


"bagus! terus awasi dan jangan sampai mereka lepas dari pandanganmu," peringati Misha dengan eskpresi dingin.


"Baik tuan!"


...............


Beberapa hari sebelumnya, Sebas telah melaporkan hasil penyelidikannya tentang Anna beserta ketiga pelayan lainnya yang merupakan kacung pemimpin agama. Hal tersebut sangat diluar dugaan pangeran, karena informasi barusan telat sampai di telinganya sebelum ia memutuskan untuk masuk menemui sahabat Danilo.


...Seingatku anak ini tidak pernah keluar tanpa memakai riasan, semua bangsawan mengenali anak ini dengan dandanan noraknya....


...tapi ada satu hal yang paling aku khawatirkan, yaitu keberadaan Anna,Winna, Galina dan Tasya. Mereka adalah orang-orang yang bisa saja langsung mengenaliku....


...Terpaksa aku hanya bisa mengandalkan Sebas untuk mengawasi mereka berempat....


Ungkapan keresahan Misha dari dalam batinnya.


...***...


Singkat waktu Misha saat ini telah sampai di depan gerbang masuk katedral, bersama dengan Danilo yang menemaninya.


Teng...!


Bunyi suara lonceng yang terdengar sangat nyaring, ketika langkah kakinya menginjak lantai katedral.


Tak lama kemudian terdengar suara vokal panduan suara yang bergema di setiap dinding-dinding ruangan. Suara yang disemarakan oleh para penganut terpilih, nyanyian yang sangat indah dan merdu seperti lantunan puja-puji kepada tuhan.


Terpujilah engkau wahai tuhan kami Eliaha....


yang memimpin pasukan para dewa, menuju kuil surgamu....


bimbinglah para manusia, menuju kuil itu....

__ADS_1


...Bait nyanyian yang dilantunkan....


Misha dan Danilo disambut hangat oleh imam Renovic dan si biarawati Lilina yang telah menunggu kedatangan mereka.


"Puji tuhan! sang anak pengikut setia tuhan telah tiba, mari saya antarkan." Sambut imam Renovic dengan raut wajah riang gembira.


Beberapa langkah menuju suatu tempat, mereka akhirnya sampai dengan membuka sebuah pintu bermotif simbol agama. Dibukalah pintu itu hingga memperlihatkan ruangan yang dipenuhi jejeran kursi dan meja yang memanjang menghadap mimbar di atas podium.


terlihat sangat luas dengan kaca bercorak warna-warni dengan gambar dewa-dewa bersayap. Cahaya matahari yang menembus kaca hingga membiaskan cahaya menjadi warna merah, kuning, hijau dan biru.


"Mari nak... silahkan ikuti saya." Ajak imam Renovic, kemudian mempersilahkan pangeran untuk duduk di salah sebuah kursi di tempat itu.


Danilo hendak mengikuti mereka, namun dengan sentuhan tangan Lilina telah menahan langkah kaki Danilo. Seketika itu juga Danilo menatap wajah cantik Lilina dengan pipi yang mera merona.


Tak lama kemudian, dari arah kanan di pintu masuk lainnya terdengar suara langkah kaki seseorang, waktu Misha menoleh ke samping dia melihat sosok wanita cantik yang menggenakan jubah panjang beserta ornamen emas di jubahnya itu.


Datanglah dia bersama empat orang bawahannya yang mengikuti dari belakang. Sosok wanita anggun berkulit putih terang, bermata abu-abu dan rambut kuning keputihan yang memanjang kebawah sampai-sampai hampir menyentuh tanah. Wanita itu terlihat memegang sebuah wadah emas di tangan kirinya, dan sebuah wadah perak di tangan kanannya.


Sontak dengan tiba-tiba imam Renovic berdiri sambil memberi salam hormat kepadanya, "Selamat datang, wahai uskup Reisya..."


Melihat Sambutan menunduk yang ditunjukkan Renovic, Misha pun ikut memperagakannya walau ucapannya berbelit-belit saat menyambut wanita itu.


...Oh jadi dia seorang uskup yah... hahaha~ tapi dia kan wanita?! hmm~ sedikit berbeda rupanya dengan zaman kegelapan Eropa....


...Batin Misha yang merasa sedikit terkejut dan merasa lucu dengan hal tersebut....


Berjalan dalam keanggunannya saat menaiki podium, kemudian berdiri diatas mimbar dengan tatapan penuh martabat. Uskup itu meletakan kedua wadah yang dibawahnya di atas mimbar, dan tak lama kemudian bawahannya menghampiri wanita itu sambil bersimpuh lutut seraya menyerahkan sebuah botol kaca berisikan cairan darah kental.


Uskup wanita itu sedang melakukan ritual dengan melantunkan sebuah ayat suci dengan nada yang merdu dan mengambil botol yang diserahkan kepadanya kemudian menuangkan setetes darah itu ke dalam wadah emas lalu mencampurkannya dengan sebuah cairan yang mengeluarkan uap panas dari wadah perak.


Dicampurkan lah antara darah dan air panas di dalam wadah emas itu, bersatu dan berubah warna merah bening. Tak lama kemudian, dia mengangkat wadah itu setinggi-tingginya seraya mengucapkan, "Berkatilah kami wahai tuhan Eliaha, melalui perantara darah suci rasul agung."


...........


semua orang selain Misha terdiam sepuluh detik dengan memejamkan matanya.


Kemudian sang Uskup wanita membuka kembali matanya seraya berucap dengan suara halusnya, "Kemarilah nak..."


Mengerti maksud dari panggilan itu Misha sudah menduga jika ia akan dipaksa meminum cairan tersebut. Lantas ia berjalan mendekat sambil menundukkan kepalanya, dan menghampiri sang Uskup wanita itu sambil berlutut dihadapannya.


Tangan halus dan bersih, menyentuh rahang pangeran seraya memberi perintah dengan wajah dinginnya, "buka mulutmu."


Blup... blup... blup....


Aliran campuran darah panas yang mengalir lewat tenggorokannya, merebus saluran pencernaannya seperti sebuah bara api yang berkobar sampai ke lambung.


Misha hanya bisa menahan rasa sakit itu tanpa sekalipun menunjukkan ekspresi keengganannya, menelan penuh cairan dari dalam wadah dengan batin yang tersiksa. Lontaran makian menggonggong sedari tadi karena menahan derita.


Semua orang tersentuh akan kegigihan Misha yang mampu menelan habis semua cairan itu.


"Luar biasa, selamat... kau satu-satunya orang yang menerima darah sang rasul agung kita tanpa merasa sedikit kesakitan." Puji Uskup itu, dengan sedikit senyuman yang dikeluarkannya.


"Terimakasih... atas pujiannya wahai uskup." Ucap Misha yang terus tertunduk.


...*****...


Byurr....!

__ADS_1


Cairan merah beserta sisa-sisa makanan dimuntahkan oleh Misha.


Dicurahkan di dalam gentong kosong yang terletak di sebuah gang sempit yang sangat dengan minim pencahayaan.


"Tch...! Bajing*n! kepar*t...! saus tartar...!!" Cercah Misha, dengan rasa kesal yang berada di puncak, menggeram dalam amarah seperti kobaran lahar panas.


Kemudian dia menarik nafas panjang serta menghembuskannya kembali, lalu Memperbaiki ekspresi kesalnya menjadi senyuman tulus yang sebenarnya palsu. Lalu ia berjalan keluar dari gang itu, hendak kembali ke dalam ruangan katedral.


...******...


Setelah sang Uskup wanita melakukan ritualnya kepada Misha, dia langsung memandu Misha untuk mengucapkan sebuah sumpah sakral di depan sebuah simbol agama yang dibawa oleh salah satu bawahan sang uskup.


"Aku bersumpah," Pandu sang uskup Reisya dengan suara lemah lembutnya.


"Aku bersumpah," Ulang Misha.


"Akan setia kepada tuhan sampai ajal menjemput."


"Akan setia kepada tuhan sampai ajal menjemput."


"Dalam nama suci Eliaha sang maha pencipta."


"Dalam nama suci Eliaha sang maha pencipta."


"Aku tidak akan menyembah tuhan lain selain dirinya."


"Aku tidak akan menyembah tuhan lain selain dirinya."


"Berkatilah diriku wahai sosok tuhan satu-satunya di dunia."


"Berkatilah diriku wahai sosok tuhan satu-satunya di dunia.


Berakhirlah sumpah suci yang pada akhirnya pasti akan diingkari anak itu. Kemudian sang uskup pergi meninggalkan mereka bersama para bawahannya. Setelah sang uskup sudah tidak berada di dalam ruangan, Renovic berlari menghampiri Misha sambil memeluknya dengan erat.


"Selamat yah...! selamat! kau tidak hanya luar biasa, tapi sangat luar biasa! mendapatkan pujian dari beliau adalah suatu hal yang mulia, bahkan dia sampai tersenyum padamu nak!" puji Renovic dengan senyuman terbuka yang teramat sangat bangga akan Misha.


Selepas dari situ, Renovic mengajak Misha dan Danilo untuk menghadiri jamuan makan siang yang disiapkan khusus untuk mereka.


Hidangan yang terlihat lezat, beraneka macam masakan tergeletak diatas meja panjang di dalam ruangan sang imam Renovic. Danilo sangat menikmati makanan itu, namun lain halnya dengan Misha yang dari dalam batinnya sangat emosi karena menahan perih di lambungnya.


Tidak ingin menyinggung perasaan Renovic, Misha memakan sepiring makanan yang telah disajikan, lalu tak lama kemudian ia meminta izin keluar dengan alasan buang air.


Karena kalang kabut mencari letak pembuangan tinja atau kamar kakus di luasnya bangunan katedral, Misha dengan terpaksa mengambil jalan lain dengan keluar dari bangunan dan mencari gang sempit.


Dan begitu ceritanya kenapa dia berakhir dengan memuntahkan sisa-sisa makanan bersamaan dengan cairan darah yang sedari tadi menyiksa lambungnya.


...............


...Dalam perjalanan kembali ke tempat Danilo dan sang imam menikmati makanan, saat itu terdengar batin amarah Misha....


...Akan kuingat wajahmu... uskup sialan, siapa dulu namanya......


...Ah...! Reisya... aku pastikan hal yang sama akan kulakukan kepadamu suatu hari nanti....


.................


__ADS_1


Ilustrasi sosok uskup perempuan yang mengukuhkan pangeran dengan ritual suci keagamaan.


...********...


__ADS_2