The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 35 : Percikan petir


__ADS_3

Anna dengan jubah sucinya, berjalan memasuki sebuah ruangan di dalam bangunan Katedral.


"tuan uskup, hamba datang menyampaikan laporan." Ujar Anna yang seketika bertekuk lutut kepada seseorang.


Orang yang dipanggil uskup oleh Anna itu terlihat menggenakan pakaian jubah putih panjang yang dipenuhi banyak aksesoris dan simbol-simbol agama.


"Mengapa kau sampai datang kemari? bukankah lebih baik mengirim lewat merpati?" Tanya balik sang uskup itu, dengan tatapan datar.


Anna hanya bisa terdiam, takut menyampaikan alasannya kepada uskup itu.


"Sudahlah... jadi, apa laporanmu?"


.............


...******...


Saat ini pangeran sedang berjalan bersama Danilo di suatu jalanan kota yang sangat ramai.


"Sekarang kita akan kemana tuan?" tanya Danilo, penasaran.


"Aku hendak melihat Ilyasa, hmm~ kira-kira apakah dia nyaman berada di tempatmu atau tidak." Jawab Misha, melirik curiga kepada Danilo.


"Haha~ tentu saja nyaman tuan," mengacungkan jempol, "dia aku perlakukan dengan sangat baik kok." Balas Danilo, tertawa paksa.


"Oh iya, apakah kau sudah mengajarkan sihir padanya?" tanya Misha lagi.


"maaf tuan, kemarin aku belum sempat karena ada jam mengajar. Hehe~" tutur Danilo, dengan tawa kecil.


"Sekarang kau tidak sibuk kan? jadi ini kesempatan yang bagus untuk melatihnya." Pungkas Misha, dengan senyuman licik.


..............


Singkat waktu mereka telah sampai di kediamannya Danilo, disambut oleh para pelayannya kemudian beranjak masuk ke dalam. ketika hendak pergi menemui Ilyasa, Misha tiba-tiba terkejut melihat anak itu kedapatan sedang mengepel lantai di ruang tamu.


...Dengan jengkel Misha berucap di batinnya....


...Perlakukan dengan baik yah~...


...Sampai menyuruhnya mengepel lantai....


Kemudian Misha menoleh ke arah wajah Danilo, tatapan mengancam ditunjukkan oleh pangeran. Sedangkan Danilo, hanya bisa membuang muka sambil bersiul, seolah-olah dia tidak tau apa-apa.


Karena merasa takut mendapatkan amarah Misha, Danilo seketika hendak menjelaskan kejadian sebenarnya.


"Tuan... maafkan aku, dia sudah ku larang membersihkan rumah, tapi dia bersikeras untuk itu. Makanya—" Jelas Danilo, dengan terbata-bata dan diiringi rasa gugupnya.


Penjelasan itu dibalas dengan tatapan dingin, seakan-akan tidak memperdulikan alasan tersebut.


Ketika Ilyasa melihat kedatangan Misha yang berdiri di depan pintu kediaman, lekas ia berlari menghampirinya dengan ekspresi ceria.


"Tuan! selamat datang tuan!" sambut Ilyasa, senang bukan main saat menatap wajah Misha.


...Eh...? tapi aku kan pemilik rumah ini? dan aku juga yang membelinya. ......


mengapa malah pangeran yang disambut sih...


...Ah~ sudahlah....


...Resah hati Danilo dalam batinnya, namun selalu pasrah akan keadaan....


"Siapa yang menyuruhmu menyapu?" Tanya Misha, dengan senyum sedih.


"Ti– tidak ada yang menyuruhku tuan. Malah, aku yang ingin mengepel lantai, padahal tuan Danilo sudah melarang ku." Balas Ilyasa, yang takut bila tindakannya membuat pangeran marah.


"Kan sudah kubilang tuan." Celetuk Danilo, dengan nada bicara yang lesu.


Karena Ilyasa lebih tinggi darinya, Misha seketika memberikan instruksi lambaian tangan kearah bawah untuk membungkuk di depannya. Mengerti akan hal itu Ilyasa seketika menunduk, dengan rambut kepala berada sejengkal dari wajah Misha.


Tiba-tiba Misha mengelus-elus rambut anak itu dengan pelan, tersenyum hangat padanya bagai keluarga sungguhan.


"Lain kali tidak usah melakukan hal seperti itu, kamu harus banyak istirahat. Jadi, jangan pernah menganggap dirimu pelayan apalagi budak. Karena sekarang kau keluargaku, paham?" Terang Misha, dengan menasehati anak itu menggunakan ucapan lemah lembut.


Kejadian saat ini seperti menggambarkan sosok kakek-kakek tua yang sedang menasehati cucunya. Walaupun secara biologis usia Ilyasa berbeda enam tahun dengannya, namun jiwa di dalam dirinya terlampau jauh usianya.


Danilo hanya bisa menatap haru saat melihat adegan tersebut. Dalam batinnya ia sempat berpikir.


...Ah, aku juga pengen dielus-elus seperti itu.......


...Ucapan hati itu spontan dipikirannya, lalu tiba-tiba tersadar, seolah-olah habis berpikir hal ngawur....


...Haha~ becanda....

__ADS_1


...Sial, apa sih yang kupikirkan....


.........


"Baiklah, bagaimana kondisimu? apakah kamu merasa baikan sekarang?" Tanya Misha, karena khawatir dengan Ilyasa yang selama ini pasti merasakan lelah yang teramat sangat karena menjadi budak.


"Ya tuan! aku sekarang sudah merasa baik-baik saja!" jawab Ilyasa, tersenyum manis dengan pipi yang memerah.


"Baguslah kalau begitu." Ucap Misha, membalas senyuman itu.


Lalu memegang kedua pundak Ilyasa, mengintruksikan anak itu untuk kembali berdiri. Selepas itu Misha menoleh ke arah Danilo seraya bertanya, "Bagaimana? apakah dia bisa diajarkan sekarang juga?"


"Tentu tuanku" Jawab Danilo, menundukkan kepalanya.


..........


Singkat waktu Danilo mengajak mereka ke halaman belakang rumahnya, yang dikelilingi bangunan lain dengan pohon-pohon yang rindang. Penuh banyak tanaman disertai aroma udara segar yang menyejukkan.


Di halaman yang sangat luas, seperti sebuah lapangan basket. Lantainya beralaskan susunan balok batu yang tersusun dengan rapi.


"Ilyasa, hari ini kamu akan belajar tentang ilmu sihir. Apakah kau bersedia?" Ujar Misha seraya menanyakan kesiapannya.


Beberapa saat Ilyasa sempat merasa ragu, ragu bila dirinya tidak berhasil menguasai sihir dan malah mengecewakan Misha. Akan tetapi karena tatapan dan senyuman Misha yang terus menyentuh hatinya, sebuah tekad bulat tiba-tiba muncul di dalam jiwa anak itu.


"Aku siap bersedia tuan!" Seru Ilyasa dengan lantang.


"Anak pintar!" Puji Misha.


melihat kesiapan yang ditunjukkan oleh anak itu, Danilo kemudian mengajaknya ke tengah-tengah halaman atau lapangan luas itu. Kemudian dia bertanya, "Sebelumnya apakah kau sudah pernah belajar tentang sihir?"


"Eh... dulu ayahku pernah sekali mengajariku, namun saat itu aku hanya bermain-main dan tidak serius belajar," Ungkap Ilyasa dengan wajah yang seketika sedih.


"Tidak apa! sekarang kau akan serius mempelajarinya, karena di depanmu sekarang ada seorang guru hebat dalam hal ilmu sihir." Tutur Danilo yang menenangkan anak itu, sambil memasang wajah yang menyombongkan diri.


Dari jauh, dibawa bayangan pohon. Misha menyaksikan mereka dengan tatapan serius, seolah-olah ikut belajar lewat pengamatannya.


"Sepengetahuanku, keluarga Bolyevic adalah bangsawan yang ahli dalam sihir elemen petir, tentu kau yang merupakan garis terakhir keturunannya pasti menguasai elemen yang sama." Ucap Danilo, menerangkan pelajarannya kepada Ilyasa.


"Tetapi pertama kamu harus belajar tentang pengendalian energi mana."


Danilo terus menerus menjelaskan kepada Ilyasa dengan bahasa yang sebenarnya cukup sederhana, namun masih kurang. Sulit bagi Ilyasa yang daya tangkapnya sangat lemah, berkali-kali dijelaskan namun tidak kunjung paham. Lain halnya dengan Misha sang jenius, yang mampu menangkap penjelasan Danilo dalam satu kali penjelasannya.


Melihat Ilyasa yang sulit memahami tentang penyerapan energi mana, Misha seketika mendekatinya dan berniat membantu Danilo yang sudah frustasi karena dari tadi anak itu tak kunjung paham.


"Ilyasa, apakah kau tau spons?" Tanya Misha.


"Tidak tuanku, apa itu spons?" Tanya balik Ilyasa, kebingungan.


...Ya, aku juga tidak tau apa itu spons....


...Lintas pertanyaan Danilo dalam benaknya....


"Eh— maaf, hmm..." memikirkan sebuah contoh, "Ah pasir! tentu kau tau itu kan." mendapatkan sebuah metafora yang sederhana.


"Iya tuan."


"Apa jadinya bila pasir yang kering, disiram dengan air?"


"Pasirnya akan basah." Jawab Ilyasa, dengan tatapan yang serius.


"Nah benar sekali! lalu kemana air itu?" Tanyanya lagi.


"Ehh... didalam pasir mungkin?" Jawab Ilyasa lagi, ragu akan jawabannya namun ingin memastikan apakah benar atau tidak.


"Tepat! nah, sekarang coba bayangkan kalau kau adalah pasir itu, dan energi mana itu adalah air." Ucap Misha, yang mengintruksikan anak itu untuk segera mencobanya.


Ilyasa saat itu seketika duduk bersila, dan mulai menutup matanya.


"Ingat, konsentrasi! fokus! jangan pikirkan apa-apa selain kau adalah pasir dan mana adalah air." Jelas Misha sambil berjalan mengelilingi anak itu dan memperhatikan Ilyasa secara seksama.


Sesaat mendengar arahan barusan, Ilyasa kemudian menjadi sangat berkonsentrasi, diam dalam ketenangan lalu mengatur pernafasannya dengan stabil.


...Aku pasir......


...Aku pasir......


...Dan aku akan menyerap air....


...Serap dan terus serap....


...Lintas pikiran Ilyasa, yang terus menerus membayangkan dirinya sebagai pasir yang menyerap air....

__ADS_1


............


Dalam lima menit kemudian, tiba-tiba dari area sekitar anak itu duduk, muncul sebuah energi mana yang meluap-luap. Berwarna biru menyala bagaikan percikan listrik.


Danilo seketika itu menatap kagum, dia tidak menyangka penjelasan sesederhana itu bisa membuat anak itu langsung paham dengan sekali penjelasan pangeran.


......Gila...! langsung bisa. ......


...Padahal aku menjelaskan menggunakan contoh yang sama, tetapi hasil yang ditimbulkan berbeda. Kira-kira apa yah yang membuat anak ini tidak paham dengan penjelasanku....


...Tiba-tiba menoleh kearah Misha....


...Sungguh luar biasa! tuanku tidak hanya anak yang jenius. Melainkan seorang guru yang berbakat....


...Ucap Danilo dari benaknya dengan terperangah....


"Baik, sudah cukup nak." Ucap Danilo, karena energi mana di dalam tubuh anak itu sudah terisi.


Seketika itu juga Ilyasa membuka matanya, dari dalam dirinya ia merasakan sebuah sensasi misterius yang menyelimuti setiap bagian tubuhnya. Dengan heran ia menatap pergelangan tangan, dada dan kakinya. Seolah-olah ada sesuatu yang bersemayam di dalamnya.


"Kau sekarang menjadi pasir basah, di tubuhmu penuh dengan air. Dengan kata lain penuh dengan mana." Ujar Misha, menatap bangga anak itu.


Tiba-tiba Danilo menyambung penjelasan Misha, "Nah sekarang, coba ucapkan sebuah mantra, "Wahai Petir—" kalimatnya tiba-tiba terpotong.


"Tidak... bukan seperti itu Danilo." Potong Misha, menyalahkan penjelasan Danilo yang cukup rumit itu.


Mendengar teguran dari pangeran, Danilo kembali merasa sedih, seolah-olah dirinya tidak dibutuhkan disini. Namun untuk sesaat Danilo bertanya kepada dirinya sendiri dari lubuk hatinya.


...Memangnya bisa seseorang menggunakan sihir tanpa rapalan mantra? hah~...


.............


"Sekarang bagaimana cara agar air itu hilang? dan pasir menjadi kering kembali?" Tanya Misha.


"Eh.... menjemurnya kah tuan?" Tanya Ilyasa balik.


"Yap anak pintar! kalau menjemur pasir berarti harus di taru di sinar matahari yang panas kan. Jadi, coba bayangkan kau adalah pasir tetapi kau juga matahari itu, dan kau berusaha mengeringkan air di dalam tubuhmu." Terang Misha, dengan sangat antusias saat menjelaskan.


...Mendengar penjelasan pangeran, Danilo dengan resah berucap dalam benaknya....


...Sihir bukan kekuatan fisik yang mekanismenya seketika muncul....


...........


Misha tiba-tiba memegang tangan Ilyasa, mengarahkan tangan itu merentang ke depan dengan telapak tangan yang terbuka.


"Setelah membayangkan air itu kering, coba bayangkan lagi kalau air yang kering itu hilang dan mengalir melalui telapak tanganmu." Terang Misha untuk kesekian kalinya.


Ilyasa kembali memejamkan matanya, membayangkan sesuatu seperti yang pangeran ucapkan dalam kondisi mata yang terpejam dan konsentrasi penuh.


Tidak lama kemudian, sebuah Sambaran petir berwarna kebiruan muncul bersamaan dengan sebuah lingkaran sihir, muncul dan lewat dari telapak tangan anak itu. Sebuah kilatan memanjang dengan ukuran sekitar 1,5 meter keluar sekilas dalam lima detik lalu menghilang secara tiba-tiba.


Danilo melihat adegan itu seketika terheran-heran, dan Misha yang melihat adegan itu seketika berbangga diri.


...Tidak disangka! ini baru beberapa jam, tetapi anak itu sudah mampu mengeluarkan sihir dari tubuhnya....


...Tidak.......


...bukan anak ini yang luar biasa, tetapi seseorang yang mengajarkannya yang luar biasa....


...Pujinya dari dalam hati, menatap pangeran dengan rasa kagum....


...Tapi... tunggu dulu! bagaimana bisa dia menggunakan sihir tanpa mengucapkan mantra?! gawat! ini bukanlah sesuatu yang wajar....


...Lintas ucapan batin Danilo, yang terkagum-kagum sekaligus panik gemetaran saat menyadari sebuah kejanggalan....


Karena merasakan sesuatu keluar dari tubuhnya, Ilyasa seketika membuka matanya dan sempat melihat sebuah sambaran petir keluar dari telapak tangannya itu. Dengan spontan ia langsung berdiri dan melompat kegirangan.


"Yey! aku berhasil! tuan, aku berhasil!" Sorak Ilyasa, yang merasa senang bukan main.


Senyuman lebar terpampang di wajah Ilyasa, bukan karena dirinya berhasil mengeluarkan sihir, tetapi kegembiraan karena berhasil memenuhi harapan pangeran Misha merupakan suatu hal yang paling membuatnya senang.


Sedangkan Danilo masih terdiam kebingungan, tertegun dalam heran kemudian bertanya, "Tuanku, bagaimana bisa dia menggunakan sihir tanpa rapalan?"


..............



Ilustrasi Ilyasa yang berhasil menggunakan sihir elemen petir.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2