
Dua puluh tahun lalu, tepatnya tahun 1203 Elion. Adalah zaman dimana kerajaan Velian menemui keruntuhannya. Pemimpin kerajaan itu menghilang entah kemana, sedangkan sisa-sisa rakyatnya dibantai habis-habisan oleh kesultanan Mediah di timur tengah.
Yang tersisa hanyalah mereka yang dijadikan budak dan mereka yang melarikan diri pada saat malapetaka terjadi di negeri itu. Sesungguhnya iblis telah turun di hati setiap manusia, hingga mereka tidak sanggup lagi untuk membedakan mana kebaikan dan kejahatan.
Dua paragraf awal di dalam buku sejarah dunia. Dilihat dan dibaca oleh dua pasang mata seorang anak kecil di luasnya lautan buku perpustakaan.
...*****...
Seorang wanita cantik jelita dengan rambut hitam lurus, kulit putih pucat, lekukan tubuh yang indah, lensa mata emas menyala, bibir merah mempesona dan mahkota perak yang menduduki kepalanya, bagaikan seorang ratu dari sebuah kerajaan. beliau saat itu sedang duduk diatas kursi takhta sambil memasang wajah gelisah yang tidak bisa tenang.
mengigit-gigit bibir bawahnya, dengan sebelah tangan memijat pelipisnya akibat terlalu banyak pikiran. Kemarahan, kesedihan serta keresahan di dalam hati pikirannya, karena memikirkan sebuah solusi dari suatu permasalahan yang dialaminya saat ini.
Tiba-tiba dari arah pintu depan ruang takhta, muncul seorang lelaki muda bernama Sebas, namun kali ini dia bukanlah sosok pria tua, melainkan seorang pria remaja dengan rambut yang masih berwarna hitam disertai wajah tampannya yang menawan. Sebas saat itu tidak menggunakan baju pelayan, melainkan sebuah zirah baja dengan sebilah pedang yang menempel di sabuk pinggangnya.
................
"Yang mulia...!!! kita harus secepatnya pergi dari sini! pasukan kesultanan telah melewati perbatasan kota siedlev! ibu kota sudah tidak aman yang mulia...!!!" Teriak Sebas yang diliputi rasa panik, keringat membanjiri sekujur tubuhnya.
"Apa maksudmu...?! apakah aku juga harus meninggalkan rakyatku mati di tempat ini?!" balas ratu itu, dengan mata melingkar seperti sedang dilanda amarah besar.
"Yang mulia...! cepat atau lambat mereka pasti akan tiba dan membunuh semua orang, termasuk anda yang mulia...!" peringati Sebas lagi, yang menunjukkan ekspresi tangisan rasa cemas yang berlebihan.
Tiba-tiba sang ratu berteriak, "Justru itu...!" tak lama kemudian wajahnya menjadi sedih, dengan suara seperti meringis ia berucap kembali. "Justru itu, kita tidak boleh meninggalkan mereka—"
Plak...!
Suara benturan benda tumpul yang menabrak tulang kepala.
Mata sang ratu memutih, dalam sekejap hilanglah kesadarannya. seketika itu juga beliau jatuh tersungkur dari kursi takhta, karena benturan benda tumpul yang mengguncang otaknya.
Dan pelaku yang melakukan hal itu adalah empat orang misterius yang menggenakan jubah hitam dengan wajah yang ditutupi topeng. Mereka berdiri di belakang kursi takhta seperti berkamuflase dengan bayangan.
Sebas yang menyaksikan kejadian di depannya langsung ditelan kemurkaan yang berapi-api. Hendak melawan keempat orang tersebut dengan ancang-ancang menyerangnya.
"Tidak perlu risau Sebas, kami adalah prajurit bayangan kerajaan." Ujar salah satu dari keempat orang misterius itu, terdengar suara maskulin layaknya seorang pria dewasa.
"Lantas mengapa kalian berbuat seperti itu...!!!" geram sebas, dengan suara yang menekan.
"Kau tau sendiri kan, kalau yang mulia sulit dibujuk? hanya ini satu-satunya cara membawanya pergi dari sini," jelas orang misterius yang lainnya, dengan suara feminim yang dingin.
Karena sadar akan keputusan yang tepat, Sebas pun meredam emosinya, kemudian bersepakat untuk mengikuti arahan para orang-orang misterius yang menyebut diri mereka prajurit bayangan kerajaan.
Dibawa lari lah sang ratu untuk segera diselamatkan, menyusuri seluk beluk ibu kota sampai melakukan perjalanan jauh ke negeri orang. Karena semua sadar bahwa tempat tersebut sudah tidak ada harapan lagi.
__ADS_1
...*****...
bulu kelopak mata Indah dari sang ratu, terpejam dalam jiwa yang tertidur, berbaring di suatu gubuk kayu yang rapuh di tempat yang antah berantah. Terpisah jauh dari rakyatnya yang tercinta serta meninggalkan mereka dalam neraka pembantaian, walau hati ini juga ingin merasakan derita yang sama, tetapi takdir tidak ingin melepaskannya begitu saja.
Maka kemudian kelopak mata itu terbuka dengan raut wajah lemahnya, melihat wajah sebas yang sedih dari bola mata emas yang mengkilap.
Lantas Sebas berkata dalam rasa syukurnya ketika melihat mata sang ratu yang tiba-tiba tersadar dari keadaan pingsan. "Syukurlah~ anda sudah sadar yang mulia."
"D— di– dimana ini...?" tanya sang ratu, mendesis lemah.
"Ah— itu...," Sebas tak sanggup menjawabnya.
Tiba-tiba salah satu dari prajurit bayangan menghampiri sang ratu yang telah sadar.
"Yang mulia, saat ini kita berada di wilayah kekaisaran. Harap tenang dan ikutilah kami, tuan Danya telah menunggu kedatangan anda di kediaman beliau." Terang si prajurit itu, membujuk sang ratu dengan harapan dirinya akan mengikuti arahan.
Tak terima atas segala tindakan semena-mena mereka, walau dalam kondisi lemah, sang ratu berusaha membangunkan tubuhnya sambil memasang ekspresi gahar karena amarah yang seketika membludak.
"apa yang kalian pikirkan Ludwig...!!! apakah aku pernah memberi perintah seperti ini?!" bentak sang ratu, dengan gusar menatap si prajurit itu.
Usut punya usut ternyata identitas si prajurit bayangan itu adalah Ludwig, si pria brewok yang mungkin saja saat ini masih belum menumbuhkan janggut lebatnya, namun hal tersebut belum bisa dipastikan, karna dia kala itu menutupi wajahnya dengan topeng.
"Saya tidak peduli perintah anda yang mulia, saat ini saya hanya ingin menyelamatkan nyawa anda," Ludwig kemudian berjalan menjauh ke suatu tempat, sambil berucap. "Tentukan hukuman saya ketika anda sudah benar-benar aman, saya siap menanggung segala hukuman dari anda."
Sebas yang melihat kondisi lemah sang ratu dengan sigap langsung merangkul dirinya saat hendak berdiri. Dengan tampang cemas sebas menyarankan, "sebaiknya jangan yang mulia, aku tau kalau anda sangat khawatir dengan kondisi ibu kota. Tapi... semuanya sudah tidak bisa tertolong lagi."
Sebenarnya sang ratu pun sadar akan lemahnya dirinya, namun hati ini sulit menerima segala rintangan di depan matanya. Hendak melawan namun tak memiliki kekuatan, hendak bersuara namun tak ada yang mendengar, hendak menyerah namun tak sanggup membendung rasa sakit dari penderitaan rakyatnya yang sangat ia cintai itu.
Lantas tertunduk lah dia dalam rasa keputusasaan, jatuh dengan lutut yang membentur ke tanah, menatap hamparan tanah dengan tatapan kosong karena lemahnya dirinya. Matanya melebar, menunjukkan wajah kesedihan yang amat teramat sangat. Tak lama kemudian menangislah dia sejadi-jadinya, di tempat antah berantah yang sunyi tanpa seorangpun. Di dekat gubuk kayu yang dikelilingi hutan lebat tanpa arah.
Dan Sebas hanya bisa menyaksikan air mata kesedihan itu, menatap dengan rasa iba yang mengalir dari hatinya. Tak sanggup atas penderitaan sang ratu, hendak ingin memeluknya namun dirinya merasa tak berhak menjadi tempat bersandar beliau.
Tiba-tiba tak lama setelah tangisan itu dicurahkan, salah seorang prajurit bayangan datang dari arah depan.
"Yang mulia, kami menemukan pemukiman di sekitar sini, mari kita istirahat sejenak disana." Ajak prajurit itu, dengan suara feminim layaknya seorang gadis muda.
Lantas pergilah mereka dari gubuk kesedihan. Karena dilanda monster keputusan, dia hanya bisa terdiam dengan bola mata emas yang redup, bahkan berjalan saja sudah tidak sanggup, beruntungnya ada Sebas yang selalu setia menemani wanita yang telah kehilangan segalanya.
...........
"Apakah kau sudah menemukan tempat yang aman?" tanya salah seorang prajurit wanita kepada sosok Ludwig yang bersandar di batang pohon.
"Iya, yang lainnya sudah mengecek keadaan. Semuanya aman."
__ADS_1
...***...
Selang tiga hari berlalu, rombongan permaisuri yang melarikan diri dari kerajaannya telah sampai di sebuah kota besar bernama Kutzka. Kota yang sangat ramai dan dipenuhi orang-orang yang sejahtera.
Saat itu sang ratu menggenakan baju lusuh yang compang-camping, hal tersebut untuk menghindari kecurigaan orang-orang terhadap indentitasnya, karena diketahui bahwa tentara kesultanan sedang melakukan penyelidikan atas hilangnya ratu kerajaan Velian, bahkan mereka sampai memeriksanya di kekaisaran Astria.
Berjalan di tengah-tengah ramainya kota Kutzka, ditemani sosok Sebas yang tidak pernah berpisah dengan sang ratu. Menerima tatapan sinis dari orang-orang yang melintas, walau begitu tatapan keputusan itu masih saja belum hilang dari bola matanya yang indah.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan kaki kuda yang berlari sambil menarik roda kereta di belakangnya.
Tak... tik... tuk... tak...
tiba-tiba....
Seekor kuda yang menarik kereta tiba-tiba menghentikan ketukan langkah kakinya, bersuara nyaring karena jalannya dihadang oleh seseorang.
Dan ternyata orang tersebut adalah sang ratu yang entah mengapa berdiri di tengah jalanan sambil menatap langit dengan kekosongan jiwanya.
Saat itu Sebas lalai untuk mengawasi sang ratu, kala dirinya hendak membeli sepotong roti di kedai. Tanpa sadar sang ratu telah menemui masalah besar.
Pasalnya kereta kuda tersebut membawa bendera kekaisaran Astria yang tertancap di kereta kuda, bukan hanya itu, sebuah simbol kaisar terukir di pintu kereta kuda. Menandakan bahwa kaisar lah sosok yang berada di dalam.
"Hei wanita miskin...! menjauh dari situ! tidak sadarkah kau telah menghalangi jalan seorang kaisar!" bentak salah seorang kusir kuda dengan tatapan sinis.
Sedangkan sang ratu tidak menyadari keberadaan kereta kuda di depannya, jangankan menyadarinya, dirinya pun saat ini sudah kehilangan kejiwaannya. Seperti seorang wanita yang berada di penghujung kejiwaan yang sebentar lagi akan segera kehilangan akal sehatnya.
Sedangkan di dalam kereta kuda, kala itu kaisar sedang duduk bersama seorang wanita cantik yang juga mempesona, dengan rambut putih bersih, kulit halus, memiliki mata biru langit, dengan menggenakan gaun putih yang elegan.
Karena kereta kuda tiba-tiba berhenti berjalan, mereka seketika terlonjak keta hentakan kereta kuda yang berhenti tiba-tiba. Disusul dengan keributan yang terjadi di luar, maka sang kaisar yang merasa jengkel langsung membuka pintu kereta dan berjalan keluar untuk mengatasi masalah yang terjadi.
Ketika kaisar melihat rupa seorang wanita cantik nan jelita, namun telah kehilangan sebagian besar kecantikannya karena penampilannya seperti rakyat jelata yang dipenuhi debu kotor di kulitnya yang putih. Mengakibatkan debaran jantung yang menggelegar di dalam diri seorang kaisar.
Penampilan rendahan tidak menghentikan pesona dari sosok ratu yang telah kehilangan segalanya. Kaisar menatap lama sang ratu dengan mata hati yang seketika terpanah akan keindahannya. Ini merupakan sebuah kisah pertemuan tidak terduga antara dua insan yang dipertemukan oleh sang dewa takdir.
Lantas berjalanlah kaisar menghampiri sosok indah yang menatap langit, dengan pipi yang merah merona kaisar berucap. "Hai nona, apakah terjadi sesuatu padamu?"
.............
Iustrasi seorang ratu kerajaan Velian. sosok menawan yang dicintai ribuan rakyatnya.
...******...
__ADS_1