The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 15 : Pengorbanan seorang guru


__ADS_3

Tumpahan darah merah yang kental meleleh lewat daging dan tulang legan manusia, terpotong dengan rapi, seperti sebuah apel yang dibelah dengan pisau dapur.


Danilo merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Seluruh tubuhnya menjadi lemas, kepalanya terasa pusing, penglihatannya mulai kabur, tulang belikatnya terasa ngilu. Merasakan sensasi ganjil karena kehilangan organ tangan sebelahnya, yang padahal sebelumnya masih ada.


Kesadarannya mulai hilang, Danilo bahkan tidak mampu berpikir jernih pada saat itu, dirinya diliputi perasaan pasrah akan keadaannya. Dengan sedikit tenaga yang dimilikinya, ia mengucapkan sebuah mantra sihir dengan suara yang lemah.


Sebuah lingkaran cahaya hijau muncul dari tangan kanan yang tergeletak, kemudian meletakkan cahaya itu di lengan kirinya yang hilang. Hanya sepuluh detik, dalam kurun waktu sesingkat itu, Danilo kehilangan seluruh kesadarannya, sontak dirinya jatuh tersungkur diatas lantai, bersama dengan pangeran kecil yang berada diperlukannya.


...Yah~...


...Kuharap hal ini sudah setimpal....


...Sebuah Ucapan terakhir dari dalam hatinya, sebelum kehilangan kesadaran....


...****...


Di suatu koridor istana, Sebas terlihat berlari tergesa-gesa, kegelisahan serta kepanikan meliputi wajahnya.


"Tuan muda... sebenarnya anda ada dimana?!" gumam Sebas, sembari berlari dengan nafas terengah-engah.


..........


...Kenapa dia tidak ada saat aku kembali?! Tidak ada satupun orang di dalam perpustakaan....


...apakah mungkin ini ulah Danilo...?...


...bila saja terjadi sesuatu kepada tuanku, akan ku buat dirimu tidak bisa melihat dunia lagi....


...Ancam Sebas dalam batinnya, kekhawatiran terus menerus bergejolak dalam pikirannya....


Track...! Bunyi suara pintu yang terbuka tiba-tiba.


"Tuanku...?!" Ucap Sebas, dengan mata yang melebar.


Sebas sampai di kamar tuanya, namun dia hanya melihat sosok Galina di tempat itu sembari menyapu lantai, dengan wajah bingung saat melihat Sebas yang kepanikan.


"Tuan Sebas? ada apa tuan?" Tanya Galina dengan heran, setetes keringat muncul diwajahnya.


"Ah~ tidak, aku hanya— disuruh pangeran, untuk...." Sebas terlihat kebingungan mencari alasan, matanya memutar, "Mengambil buku!" Ucap Sebastian, dengan kalimat yang terbata-bata, setelah melihat sebuah buku hijau yang tergeletak diatas meja.


Sebas tidak ingin Galina mengetahui tentang pangeran yang tiba-tiba menghilang dari pengawasannya, setelah mengetahui keempat pelayan itu adalah para mata-mata, termasuk Galina yang bersikap polos selama ini. Sebas kemudian pergi meninggalkan kamar, berjalan cepat dengan terburu-buru di sebuah koridor istana.


Galina kemudian mengintip di kusen pintu kamar, menatap Sebas penuh curiga seraya berkata, "Anda tidak hebat dalam berpura-pura tuan Sebastian."


Dalam gejolak hati yang tidak karuan. Sebas berjalan sambil mengigit jari-jarinya, kegelisahan tidak pernah berhenti berkecamuk.


...Di kamar tidak ada, di perpustakaan juga tidak ada....


...kau bawa kemana tuanku....


...Danilo...!...


...Geram Sebas, api amarah melapisi wajahnya yang merah, seakan-akan mengeluarkan asap panas dari atas kepalanya....


...ΩΩΩΩΩΩ...


Hari telah berlarut lama, cahaya senja terlihat bersinar dari balik cakrawala, memancarkan cahaya oranye yang menembus kaca-kaca istana.


Sebas masih saja berlarian entah kemana, dengan wajah panik yang masih saja sama. Dirinya telah berkeliling di setiap tempat di istana. Sebas berlarian tanpa arah, kemudian berjalan seperti biasa ketika berpapasan dengan orang lain.


Sampai suatu ketika, saat matahari telah terbenam, Sebas akhirnya berhasil berjumpa dengan tuanya di suatu tempat yang tidak jauh dari perpustakaan.


Pertama kali melihat sosok tuanya, Sebas merasakan rasa syukur yang menenangkan seluruh kegelisahan dalam batinnya. Namun perasaan itu tidak berlangsung lama, ketika matanya melihat pangeran kecil yang mengenakan jubah hitam, membungkus dari atas sampai bawah dengan sedikit noda darah di tangannya.


"Sebas, kemari lah..." Ucap Misha dengan wajah datar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Tuan muda?! anda dari mana saja?! aku sedari tadi mencari anda... aku—" Ucapan kekhawatiran Sebas seketika terpotong.


"Kau masih saja seperti itu...! bersikap panik, gegabah, dan mudah terbakar api amarah. Suatu saat kepribadianmu itu akan membawa dirimu pada kematian." Ujar Misha, matanya melebar. Memasang wajah dingin tanpa perasaan.


Mendengar ucapan Misha, Sebas seketika terdiam dalam rasa bersalah. Seolah-olah telah melakukan kesalahan yang sangat fatal, kalimat dari Misha terus terbayang-bayang dalam pikirannya.


"Maafkan aku Sebas, aku menghargai kekhawatiranmu itu." Ucap Misha sambil tersenyum.


Melihat senyuman tulus yang tergambar di wajah tuanya, Sebas seketika tersadar dari rasa bersalahnya.


"Tidak— seharusnya saya yang minta maaf tuan muda..." Balas Sebas, dengan wajah gugup.


Misha kemudian membalik badannya, "Ikuti aku, ada yang ingin aku tunjukkan padamu." Ajak Misha.


"Baik tuan muda." Balas Sebas dengan wajah kegirangan.


...*******...


beberapa saat yang lalu, di mana Misha dan gurunya Danilo masih terkapar diatas retakan lantai yang terbongkar, dilapisi corak darah yang berlumuran dimana-mana.


Di dalam keheningan yang semu, di sebuah ruangan yang setengah hancur. Kesadaran dari kedua jiwa tersebut telah hilang dari raganya, terkapar di dalam sana dalam kesunyian.


Selang satu jam berlalu, kelopak mata Misha seketika terbuka perlahan. Seluruh bagian tubuhnya terasa keram, ia mencoba membangunkan tubuhnya, namun tenaganya tidak mampu menopang tubuhnya yang melemah.


Misha terheran-heran ketika melihat darah yang berlumuran di sekujur pakaiannya, dalam benaknya dia berkata.


...Kegilaan apa lagi ini......


...darah...?...


...milik siapa...?...


Sontak kedua tangannya langsung menggeledah seluruh badannya, meraba-raba dengan seksama, merasa takut bila sanya ada luka dalam di tubuhnya.


Kabar baiknya luka dalam itu tidak ditemukan, yang ada hanya gumpalan darah kental yang mengalir dari suatu tempat yang tidak jauh darinya.


dengan sedikit tenaga yang terkumpul, Misha membangkitkan tubuhnya, kemudian merangkak ke arah Danilo yang sekarat. Memandang Danilo dengan tatapan dingin, merasa miris akan musibah yang terjadi padanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu Danilo." Gumam Misha, sembari meremas pakaian Danilo.


Misha merobek pakaian Danilo, melilitkannya di antara legan yang terpotong, mengikatkannya dengan erat, hingga menghentikan lumuran darah yang mengalir.


...apa penyebab semua ini......


...apakah ini ulah seseorang..? tetapi tidak ada satupun orang di tempat ini....


...apakah mungkin karena ulahku..?...


...tapi bagaimana bisa aku berbuat seperti itu..?...


...bayangan hitam, suara hitam..? mungkinkah semuanya berhubungan....


...Ucap Misha dalam batinnya....


Selepas membalut luka yang dialami Danilo, Misha tiba-tiba berdiri. membalik badannya kearah pintu jeruji, berjalan pergi meninggalkan Danilo yang sekarat dengan darah yang berhenti mengalir.


...*******...


Anna terlihat memasuki kamar pangeran kecil, dia melihat Galina yang saat ini sedang duduk sambil menyisir rambutnya yang panjang, sembari menyanyikan sebuah nada lagu dengan mendengung.


"Galina, kenapa kau hanya di sini? di mana anak br*ngsek dan si tua bangka itu berada?!" tanya Anna dengan emosi tinggi.


Sembari menyisir rambutnya Galina menjawab,"Tasya dan Winna sudah menyelidikinya dari tadi, aku hanya bertugas menjaga kamar ini... dan juga Sebas baru saja dari sini."


"Sebas? apakah dia sendirian?!"

__ADS_1


"Dia datang sendirian, katanya disuruh mengambil buku. Tetapi... wajahnya terlihat seperti kepanikan, dan hal yang lebih mengejutkan lagi, meninggalkan pangeran sendirian bukanlah sikap Sebas yang biasanya kan? aku mencurigai sesuatu, sepertinya ada yang dia sembunyikan." Jelas Galina dengan wajah santai.


"Tch...! kemana perginya mereka berdua?" Gumam Anna dengan wajah kesal.


"Palingan bersama permaisuri." Ucap Galina.


...Ya, ada kemungkinan seperti itu....


...Anna dalam batinnya....


...*****...


Kembali di tempat Misha dan Danilo berjalan, disebuah lorong yang gelap, melewati sebuah tangga yang menurun kebawah. Sebas terus menatap noda darah yang menempel di tangan sang pangeran, dirinya hendak bertanya, namun enggan mengucapkan pertanyaan tersebut.


...Sebenarnya apa yang sedang terjadi kepada tuanku....


...Noda darah? apakah ada yang melukai beliau......


...berjalan ke istana dengan menyembunyikannya, mustahil untuk tidak ketahuan para penjaga istana....


...tuan muda......


...anda harus menceritakan semuanya kepadaku....


... Batin Sebas yang dipenuhi rasa penasaran yang mendalam....


mereka sampai di ruangan itu, melewati pintu jeruji besi dan tiba di ruangan yang setengah hancur. Mata Sebas melebar, terkejut melihat kejadian di depannya.


...aku yakin, telah terjadi pertarungan disini....


...siapa yang bertarung..? pangeran? tidak— tidak mungkin....


...lalu siapa......


...dan juga, bukankah ini fasilitas bawah tanah akademi sihir? mengapa tuan muda tau tempat ini....


...ini pasti ulah Danilo....


...Batin Sebas yang tertegun melihat semua keanehan ini....


"bukan itu yang ingin aku tunjukkan, lihatlah ini," ajak Misha sembari berjalan ke sudut ruangan yang gelap.


Misha mengajaknya masuk lebih dalam lagi, di sudut ruangan yang penuh kegelapan. Terlihat tubuh Danilo yang tersandar di dinding ruangan, tak sadarkan diri dengan lumuran darah dimana-mana.


"Inilah yang aku maksud, bisakah kau memindahkannya? terserah dimana, yang penting tempatnya aman." tunjuk Misha, dengan wajah datar tanpa menunjukkan emosi.


melihat Danilo yang sekarat, Sebas sangat-sangat terkejut, dirinya mematung sejenak, memikirkan apa yang terjadi kepada Danilo, dalam batinnya ia berpikir.


...Danilo......


...siapa yang membuatmu seperti ini......


...apakah ini ulah tuan muda..? tidak mungkin kan......


...pasti ada seseorang yang bertarung dengannya..? apakah tuan muda mengetahui detail kejadiannya....


"Tuan muda? apa yang terjadi kepadanya?!" Tanya Sebas, penasaran. Perasaan ketidak terduga mengelilingi pikirannya.


"mana aku tau, sudahlah... kejelasan saja nanti, untuk sekarang amankan dulu orang ini." Ujar Misha dengan wajah yang sama.


Tanpa banyak tanya lagi, Sebas dengan sigap langsung mengangkat tubuh Danilo. membawanya keluar ruangan.


...Danilo... sepertinya kau selalu saja sial yah....


...hahaha~...

__ADS_1


...Ejek Sebas dalam batinnya, sembari tersenyum lebar disertai perasaan prihatin atas penderitaan Danilo....


...********...


__ADS_2