
Dalam waktu malam yang panjang, selembar kertas masih belum cukup untuk melukis angkasa, bahkan sudah bersusun puluhan kertas yang terlukiskan, dirinya masih menginginkan nikmatnya alam semesta.
Tengah malam telah tiba, Misha merasakan matanya mulai memberat, badannya terasa lemas, rasa kantuk terus menerus datang padanya, walau begitu hatinya tidak ingin tenggelam dalam hantaran rasa ngantuk.
"Tuan muda... Sebaiknya anda berisitirahat terlebih dahulu, tidak baik untuk kesehatan bila anda belum kunjung tidur." Saran Sebas yang juga merasa ngantuk.
...Apakah sebaiknya aku tidur...? Tidak baik juga untuk tubuh seorang anak kecil bila tidak tidur di waktu seperti ini....
...Ujar Misha dalam benaknya....
"Sebas, kau urus semua kertas-kertas ini, simpan di suatu tempat yang aman." Perintah Misha dengan suara lemas.
Druk... Bunyi suara hentakan kaki diatas kursi.
Misha tiba-tiba melompat turun dari kusen jendela, lalu berjalan sempoyongan ke arah kasurnya, kemudian terjun bebas dengan tangan terentang. Tenaga pikirannya telah terkuras banyak dalam lingkaran imajinasi alam raya.
Tidurlah dia, diatas kasur yang empuk dengan mimpi yang indah. Sebas menatap pangeran dengan senyuman kasih sayang, rasa kasih seperti seorang ayah kepada anaknya.
...Baiklah... saatnya menjalankan tugas dari beliau....
...Ucap sebas dalam batinnya, kemudian bergegas memungut satu persatu kertas yang berserakan di lantai....
...*****...
Di dalam kamar yang luar biasa megahnya, lebih luas dari kamar pangeran Misha. Di Sana terdapat motif bunga pada setiap dinding kamar, lukisan besar terpampang, jendela kaca dengan lukisan berwarna, rangkaian lampu sihir dengan pernak pernik emas disekelilingnya. Cahayanya sangat terang, melahap kegelapan malam yang mencoba masuk kedalam kamar.
Di dalam kamar tersebut, terdapat dua belas pelayan yang duduk meletakan lututnya di lantai, sehingga kaki terlipat kebelakang. Menunduk bagai robot tanpa perintah, tidak bergerak sedikitpun seperti orang yang ketakutan.
"Ayahanda...! kau tau, di sana ada laut...! sangat indah!" Ujar Luka, seorang pangeran kecil dengan suara lucu yang menggemaskan.
"Oh... Benarkah?" Balas sang ayahanda kaisar, tersenyum bahagia kepada putranya luka.
"Iya! di sana, aku bertemu orang-orang baik. Mereka selalu mencium kakiku setiap kali bertemu, dan aku merasa sangat senang." Papar Luka, yang sangat antusias menceritakannya.
"Hahaha~ memang harus begitu, mereka adalah orang-orang rendahan, wajib bagi mereka sujud pada anak-anakku." Ucap Kaisar tertawa keras, kemudian mengelus-elus rambut Luka anaknya.
Luka bagaikan anak yang ceria, sering tersenyum dan bersikap seperti anak penurut nan berbakti.
"Ayahanda...? Dimana ibunda? kenapa dia tidak datang?" Tanya Luka, wajahnya seketika berubah menjadi murung.
"Saat ini ibunda sedang ada urusan nak, dia sangat sibuk. Tenang saja... besok dia pasti pulang." Bujuk Kaisar, yang ikutan sedih. Tangan kekarnya mengelusi punggung putranya.
Luka tidak mengatakan apapun, hanya ada kesedihan yang terpampang diwajahnya.
Kaisar memegang pundak putranya, memandunya menuju kasur tidurnya, menyelimutinya dengan selimut tebal. Lantas kaisar berkata, "Tidurlah nak, besok ceritakan kembali kepada ayah, yah?"
"Baik ayah." Balas Luka, dengan senyuman yang dipaksakan.
Sontak kaisar beranjak keluar dari kamar putranya, seraya berkata di depan pintu kamar, "Jagalah putraku dengan nyawamu, mengerti?" Menoleh kearah prajurit bersenjata yang berdiri di depan pintu.
"Hamba akan melaksanakan tugas dengan nyawa hamba wahai Kaisar." Balas prajurit itu, yang membungkuk serendah-rendahnya.
...******...
Pancaran cahaya merah menyingsing dari cakrawala timur, berbunyi lah lantunan burung yang berkicau, udara sejuk masuk lewat celah jendela yang terbuka lebar, tertiup masuk hingga terhirup oleh pangeran Misha yang tertidur.
Perlahan kesadarannya terbangun, dengan mata yang masih tertutup, Misha merasakan sentuhan jari yang menyentuh kulit sebelah tangannya.
Matanya terbuka perlahan, memperlihatkan pandangan silau dari mentari pagi dari arah jendela kamar. Dengan penglihatan yang sedikit buram, Misha menoleh kearah kiri.
Alangkah terkejutnya ia ketika melihat wajah Aliyah saudarinya yang tersenyum duduk disamping kasur tidurnya.
"Misha..? hehehe~ apakah Misha sudah bangun? ayo bermain dengan Aliyah..." Ucap Aliya yang tersenyum bahagia, kedua telapak tangannya menopang dagu.
Beberapa detik kemudian, penglihatan Misha mulai terlihat jelas, lantas ia berucap dalam benaknya.
...Hah...? Orang ini, kalau tidak salah......
...Ah~ benar, saudariku Aliyah....
...Mengapa dia ada disini..?...
"Ayolah Bagun... Misha... bangunlah..." Ujar Aliya dengan suara imut yang bermanja-manja.
__ADS_1
"Ah– iya..." Balas Misha yang terlihat bingung akan berekspresi seperti apa.
"Misha...? apakah Misha masih bermimpi?" Tanya Aliya dengan wajah yang seketika kebingungan.
...Gadis ini... dia adalah orang yang sangat memahami sifatku....
...Hmm~...
...Aku harus berperan seperti apa yah....
...Pikir Misha dalam batinnya....
"Kak Aliyah..?!" Ujar Misha, mengusap-usap kedua matanya, "Kak Aliyah...!" Memeluknya tiba-tiba.
"Misha...! hehe~ apakah Misha merindukan kakakmu ini?" Tanya Aliya dalam pelukan hangatnya, terpampang senyuman melengkung yang bahagia.
"Iya kak...! aku sangat merindukan kakak." Pelukannya terasa sangat erat.
"Khk— Mi–sha.. Aliyah tidak bisa ber..napas." Ucap Aliyah, yang tercekik dalam pelukan adiknya.
Sontak Misha melepaskan pelukannya menggaruk kepalanya sambil berkata, "Hehe~ Maaf kak."
"Hari ini kita akan bermain apa kak?" Tanya Misha, dengan wajah riang gembira.
"Bagaimana kalau main pesta teh?" Ajak Aliyah yang terlihat sangat senang antusias.
"Ayuk...!" Ucap sebas setuju.
Tiba-tiba Aliyah memegang erat tangannya, lekas mereka pergi berlarian keluar kamar. Di depan pintu mereka berpapasan dengan Anna yang hendak memasuki kamar.
"Tuan putri?!" Ujar Anna yang terkejut.
"Sampaikan kepada Sebas kalau Misha bersama Aliyah." Teriak Aliyah dengan wajah bahagia, berlarian di koridor istana sambil menggenggam tangan Misha.
"Ah– baik tuan putri." Balasnya sembari menundukkan kepalanya.
"Tch...!" Kesal Anna, setelah Aliyah dan Misha terlihat jauh darinya.
.........
...Tanya Misha dalam benaknya, tampang penuh kesal sempat terlihat....
...*****...
Di pagi hari yang cerah, sebuah bangunan besar menjulang tinggi bagai menara pencakar langit. Berwarna putih dengan dekorasi patung manusia bersayap, berdiri mengelilingi bangunan itu.
Gerbang besar dari bangunan megah seketika terbuka, memperlihatkan sosok permaisuri yang keluar dengan anggunnya, ditemani dua prajurit berbadan besar dengan otot-otot yang kekar berjalan di samping kiri kanan.
Permaisuri berjalan menuruni sebuah tangga beralaskan karpet merah, di penghujung karpet itu terdapat sebuah kereta kuda yang besar, menunggu sosok permaisuri yang keluar dari bangunan putih. Beberapa prajurit bersenjata terlihat berjaga di sekeliling kereta itu.
Beberapa saat kemudian, muncul sosok pria tua dengan janggut putih panjang kebawah, menggenakan pakaian serba putih dengan mahkota perak berbentuk trapesium.
Pria tua itu terlihat berjalan mengikuti permaisuri dari belakang, dengan punggung yang bungkuk, berjalan perlahan-lahan dengan bantuan tongkat, ditemani beberapa pelayan dengan pakaian yang kurang lebih serupa.
Permaisuri telah sampai di depan kereta kuda, lantas ia menoleh kepada orang tua tadi seraya berkata, "Terimakasih tuan uskup Greirov, saya akan berkunjung lagi lain kali."
"Puji Tuhan kami Eliaha, semoga berkatnya menyertai yang mulia permaisuri." Balas sang uskup bernama Greirov, dengan senyuman palsu terpampang diwajahnya.
crack...! Bunyi cambukan yang menebas punggung kuda.
"Hiaahk...!" Teriak seorang kusir, mengendarai kereta kuda yang ditempati permaisuri.
Trap... trap... trap.... Terdengar suara hentakan kaki prajurit yang mengikuti kepergian permaisuri dari kuil suci.
Setelah rombongan permaisuri terlihat menjauh, sontak senyuman di wajah sang uskup itu pudar, berubah menjadi watak dingin yang mencekam.
"Katedral memiliki pengaruh besar... jangan sampai para bangsawan menghalangi rencana kita, segera persiapkan semuanya... sampaikan kepada seluruh ordo kita akan mulai bergerak." Perintah sang uskup itu, hawa mencekam keluar dari ucapannya, membuat setiap pelayannya gemetar ketakutan.
"Dilaksanakan tuan...." Balas para pelayannya secara serentak.
...*****...
Di dalam sebuah kamar yang luas, kamar yang penuh ornamen yang bergelantungan. Setiap dinding kamar di cat dengan warna pink kemerahan, membentuk motif bunga yang menjalar. Para pelayan terlihat berdiri di setiap sudut sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Di dalam kamar itu, terlihat wajah pangeran Misha yang tiba-tiba mengenakan riasan yang tidak ia sukai. Bibirnya terlihat merah dengan bedak tebal menempel di kulit wajahnya, terlihat cantik bagaikan seorang anak perempuan. Tak hanya itu, Misha juga terlihat menggenakan gaun berwarna pink kemerahan, memakai perhiasan di lehernya, dengan pita merah merah yang terikat di kepalanya.
..............
"Halo tuan– eh... maksudnya, nona Misha... ini tehnya, silahkan diminum." Ucap Aliyah, dengan tampang senyum.
"Terimakasih nona Aliyah." Balas Misha dengan wajah bodohnya, mengeluarkan nada bicara feminim, layaknya seorang anak perempuan.
Syruuup.... Bunyi seruputan teh hangat.
Misha saat ini telah duduk bersama dengan Aliyah diatas meja yang berisikan empat kursi. Dua kursi untuk mereka berdua, dan sisanya lagi untuk boneka beruang dan satu boneka anak perempuan dengan pita merah.
"Ehem... Nona Aliyah..! tidak sopan bila kedua tamu kita, nona beruang dan nona boneka tidak diberikan teh juga." Ucap Misha dengan wajah cemberut.
"Ahh iya... Aliyah lupa.. hehe~ ini silahkan dinikmati nona-nona." Ujar Aliyah yang tersipu malu, lalu menyodorkan dua cangkir teh kepada benda mati yang duduk diatas kursi.
...Seumur hidupku,...
...aku tidak pernah mengalami penghinaan yang melebihi ini....
...Bermain boneka...? pesta minum teh...? kenapa aku harus melakukannya...!...
...Masih banyak buku yang belum aku baca....
...masih banyak pengetahuan yang harus aku gali, masih banyak informasi yang perlu aku cari, masih banyak lagi yang belum aku pelajari....
...Ungkapan kekesalan Misha dalam batinnya, di luar sandiwara yang dibuat-buat olehnya, ia merasa sungkan kepada Aliyah, perasaan cinta yang hangat muncul dari hatinya, seakan-akan telah mengenalnya dari lama....
...********...
Waktu demi waktu telah berlarut dalam permainan sandiwara seorang gadis perempuan, Misha berperan layaknya anak-anak seusianya dengan sifat feminim yang dibuat-buat.
Rahangnya terasa keram, menahan gestur wajah yang ia buat. Tenggorokannya terasa serak, karena memaksa menghaluskan suaranya. Batinnya tersiksa, karena terus melakukan tindakan konyol lebih dari beberapa jam.
Misha berusaha menghindari kecurigaan Aliyah, sering melemparkan topik berbeda, ketika muncul pertanyaan yang tidak bisa dijawab olehnya.
Hingga suatu ketika Sebas datang menjemputnya, dengan dalih Misha butuh waktu untuk istirahat.
"Permisi tuan putri Aliyah, hamba Sebas datang menjemput pangeran." Ujar Sebas sembari memberi hormat, berdiri di depan pintu kamar yang terbuka.
"Eeehh...?! padahal Aliyah masih pengen main sama Misha." Ungkap Aliyah, dengan wajah cemberut.
"Tuan muda baru sembuh, tabib bilang beliau butuh waktu istirahat yang banyak. Mohon pengertiannya tuan putri." Papar Sebas yang menundukkan kepalanya, dengan nada bicara halus dan sopan.
"Misha masih mau main...! Himp...!" Cetus Misha, wajah merajuk ditunjukkan olehnya.
"Aliyah juga masih pengen main, tapi... Misha harus cepat sembuh dulu yah... harus banyak istirahat. Nanti kalo sudah sembuh lagi, Aliyah dan Misha bisa bermain lagi sepuasnya. Yah..?" Bujuk Aliyah, wajah sedih berkaca-kaca.
Misha kemudian mengangguk setuju, memasang senyuman terpaksa, seolah-olah benar-benar berasa sedih bila berpisah dengan kakaknya.
Misha sontak berjalan mendekati Sebas, sambil melambaikan tangannya kearah Aliyah. Dia pun berucap, "Sampai juga lagi kakak Aliyah."
"Ya...! sampai jumpa lagi adik Misha." Balas Aliyah dengan senyum lebay penuh haru.
Kerja bagus Sebas...! kau telah menyelamatkan mentalku.
...Demi apa aku tidak Sudi melakukan hal itu lagi....
...Syukur Misha dalam batinnya, rasa lega muncul di dadanya....
..........
"Sebas, kau lama sekali... apa yang membuatmu datang kelamaan?" Keluh Misha, sembari berjalan bersama Sebas di sebuah koridor istana.
"Maafkan saya tuan muda.... saya terlambat." Ucap sebas dengan raut wajah murung, sambil menundukkan kepalanya.
"Ah~ sudahlah, tidak perlu merasa bersalah begitu." Ucap Misha, ketika melihat wajah murung Sebas.
Sebas seketika tersenyum seraya bertanya, "Hari ini tuan muda rencananya mau kemana?"
"Perpustakaan. Aku butuh bacaan yang banyak hari ini." Jawab Misha, merasa resah karena telah membuang-buang waktu berharganya dengan pesta minum teh.
__ADS_1
Gambar ilustrasi, Misha yang dipaksa menggenakan Gaun indah oleh saudara perempuannya.
...****...