The Land Of Freedom

The Land Of Freedom
Chapter 41 : Melupakan perintah


__ADS_3

Kilatan petir yang menyambar kediaman Danilo, membuat mata semua orang tertuju pada tempat jatuhnya sang halilintar. Karna rasa penasaran, orang-orang mulai berdatangan bahkan seorang utusan kekaisaran dikirim ke sana.


Di balik tirai salah sebuah kamar, Filya dan Mertha sedang mengintip kumpulan orang-orang yang berkerumun di depan pagar rumah. Rasa cemas dan khawatir menyelimuti pikiran mereka berdua.


"Aduh, bagaimana ini! tu—tuan sedang tidak ada di rumah, apa yang harus kita lakukan!" ujar Filya yang teramat sangat panik.


"ba– bagaimana, kalau kita buka saja pintunya?!" saran Mertha yang juga sama paniknya.


"Kau sudah gila?! tuan pasti akan memarahi kita!" balas Filya, keberatan.


Tak lama kemudian, muncullah kereta kuda yang membawa kibaran bendera kekaisaran.


"Kan?! sudah kubilang dibuka saja! liat itu...!!! utusan kekaisaran malah datang!" Mertha yang awalnya tidak terlalu panik, seketika menjadi lebih panik dari pada Filya.


Mereka berdua kalang kabut untuk mengatasi masalah yang datang, tidak tau harus berbuat apa kala diliputi rasa bimbang dipikirkan keduanya. Ternyata di dalam kamar tersebut, tidak hanya kedua pelayan itu yang berada disana. Diatas kasur tidur, ada Ilyasa yang tak sadarkan diri.


Kondisinya terlihat lemah, pasalnya sebagian tubuhnya mengalami luka bakar. Luka yang cukup parah, menjalar dari leher sampai ke pusar, luka bakar itu membentuk ukiran bagaikan sambaran halilintar.


"Lalu bagaimana dengan Ilyasa?! kau ingat kan perintah tuan kepada kita?!" peringati Martha tentang perkataan Danilo.


...***...


Ingatan kedua pelayan itu saat Danilo masih berada di kediamannya.


"Martha, Filya. Awasi anak itu saat aku tidak ada di rumah, jangan izinkan dia berkeliaran di depan halaman rumah, apalagi sampai keluar. Intinya tidak boleh ada seorangpun yang melihatnya, kalian paham?" Perintah Danilo dengan tatapan yang sangat serius.


"Paham tuan!" balas keduanya secara bersamaan.


"tau sendiri kan, akibatnya bila kalian lalai menjalankan tugas?" ucap Danilo lagi, dengan tatapan mengancam.


"Ba— baik tuan! kami akan menjaga anak itu dengan segenap jiwa raga kami!!!" teriak kedua pelayan yang terlonjak ketakutan atas ancaman yang diberikan.


...***...


Kembali lagi di kondisi sekarang, masih dalam kebimbangan yang disertai kegelisahan di jiwa kedua pelayan.


Tiba-tiba dari balik kaca jendela kamar, mereka melihat pelayan tua bungkuk yang sedang berjalan ke arah gerbang kediaman. Seolah-olah hendak membuka pintu tersebut dengan gampangnya berpikir mereka bisa masuk ke dalam.


"Hah?! kakek sialan?! apa yang orang tua itu lakukan...!!!" ucap Filya, dengan urat-urat yang melintas di dahinya.


"Bukankah tuan sudah mengingatkan kakek itu untuk tidak menerima siapapun selama dia tidak ada disini...?!" tanya Martha di atas kepanikan.


"Mana mungkin dia mengingatnya tol*l...!" balas Filya yang ditimpal rasa kesalnya kepada si kakek.


Martha dan Filya sungguh tak habis pikir dengan kelakuan si kakek pikun itu. Namun sebuah rencana secara bersamaan muncul dalam benak mereka, yaitu menyembunyikan Ilyasa secepat mungkin sebelum orang-orang masuk ke dalam.


Karna memikirkan satu hal yang sama, mereka dengan sigap langsung mengendong anak itu untuk segera disembunyikan. Bingung ingin menyembunyikan anak itu dimana, entah terlalu bodoh atau apa mereka malah berpikir untuk menyembunyikan anak itu di dalam lemari barang-barang antik yang tergeletak di ruang tamu.


Mengeluarkan isi di dalam lemari, lalu meletakkan Ilyasa yang terluka parah di dalam lemari dengan posisi tengkurap, karena lemari itu sebenarnya sangat kecil, namun masih bisa dimasuki oleh tubuh Ilyasa yang kurus.

__ADS_1


Selepas itu, Martha menepuk-nepuk kedua tangannya seperti habis menyelesaikan tugas mereka.


"Nah kan beres, kalau seperti ini pasti aman!" ujar Filya yang tersenyum, disusul dengan perasaan lega.


Sedangkan Martha hanya bisa pasrah karena tidak memiliki solusi lain di pikirannya, dengan sisa-sisa rasa cemas Martha berkata. "Yah~ semoga saja begitu."


...*****...


Kembali di sebuah bar tua yang penuh debu, saat ini terlukis tampang ternganga Ludwig dalam rasa campur aduk di pikirannya.


...Hah~ kau pasti terkejut kan....


...Resah hati Tasya yang telah menduganya....


...Sedangkan Misha yang sedikit demi sedikit memahami maksud dari semua ini seketika merangkum satu hal di dalam benaknya....


...Tasya sudah pasti adalah bagian dari katedral, dan pria ini adalah rekannya, karena melihat dari tingkah laku mereka berdua yang sepertinya sudah saling kenal sejak lama....


...Mereka seperti sebuah kelompok yang sedang merencanakan sesuatu secara diam-diam....


...Jika dilihat kembali, Tasya seolah-olah mengambil peran sebagai bawahan katedral, lalu pria ini juga memiliki peran lain yang entah apa tugasnya....


...Semua ini aku simpulkan dari reaksi penolakan pria ini karena mengira aku berasal dari katedral....


...Seolah-olah sedang menyusup di tempat itu secara diam-diam... ya ini masih dugaan....


...Tapi ada satu hal yang masih belum ku pahami....


...............


Sampai sekarang juga, di empat puluh empat detik berlalu sejak mendengar pernyataan Tasya soal identitas anak kecil yang merupakan seorang pangeran, Ludwig masih terperangah, mematung tanpa bicara seakan-akan jiwanya sedang terlepas dari raganya untuk sementara.


"Pangeran, perkenalkan juga... dia ini adalah Ludwig, seseorang yang sama sepertiku. Bekas tentara kerajaan Velian." Jelas Tasya lagi.


"Tasya... sebenarnya mengapa kau mengatakan semua ini padaku?" tanya Misha dengan wajah mendatar, mencoba memastikan hipotesisnya.


"karna kau adalah garis keturunan terakhir dari keluarga kerajaan Velian yang telah runtuh." Pungkas Tasya, terlukis keseriusan diwajahnya.


...........


.........


........


.......


"Hah...?!" saat itu juga, Misha ikut terperangah atas pernyataan mengejutkan yang keluar dari mulut Tasya.


...******...

__ADS_1


Kreng... krekeng...


Suara gemericik gembok besi pagar kediaman Danilo.


"Hehe~ selamat datang tuan di kediaman bangsawan Lukashenko," sambut si pelayan kakek tua dan tersenyum hangat kepada sosok prajurit di seberang pagar rumah, sambil membukakan gembok pintu pagar tersebut.


Kreeeeng....


Bunyi decitan engsel pintu yang telah dibuka.


"Kami dari kepolisian negara, hei pelayan. Apakah tuan Danilo ada di dalam?" tanya seorang prajurit bersenjata dengan tatapan sinis kepada kakek tua yang rentah.


"Maaf tuan, tetapi... tuan kami sedang tidak berada di kediaman, mohon tunggulah sebentar sampai ia kembali tuan..." balas si kakek, dengan senyuman sopannya.


Tiba-tiba dari arah belakang, muncul seorang pria berbusana layaknya bangsawan yang maju ke depan sambil menyambar si kakek tua dengan kasar, hingga si kakek terkapar jatuh diatas lantai batu.


Lantas bangsawan yang terlihat angkuh itu berkata, "alah...! aku tidak perduli mau dia ada atau tidak, intinya masuk saja! selidiki seisi rumah!" perintah bangsawan itu, tanpa rasa peduli dengan jatuhnya seorang kakek tua itu.


"Laksanakan tuan!" balas beberapa prajurit yang seketika itu juga ikut melangkah masuk ke dalam rumah.


Sedangkan si kakek tua, saat ini mengalami luka yang memancarkan darah di kepalanya akibat benturan keras yang mendarat tepat di tulang tengkorak si kakek, dan darah itu sampai menetes tanpa henti.


Rasa sakit teramat perih dirasakan olehnya, kepalanya saat itu pusing, pandangan buram namun masih mencoba berdiri tegap tetapi dirinya tidak sanggup. Kesadarannya mulai hilang, walau begitu ia masih merangkak ke arah pintu rumah dengan niatan untuk menghentikan kedua orang itu.


bruk...


si kakek kembali terkapar dalam ketidakberdayaan dirinya.


Maka berkatalah si kakek di detik-detik kesadarannya, "jangan... ma— suk... sampai... tuanku... tiba," desis seorang kakek tua, lalu kehilangan seluruh kesadarannya diatas lantai batu, yang dilalui langkah kaki para prajurit berzirah, bahkan ada yang sampai menginjak kepalanya.


Ada sebuah ingatan terakhir sebelum si kakek hilang kesadaran. Yaitu ingatan tentang Danilo kecil yang sangat menggemaskan. Dia tersenyum kepada si kakek, dan si kakek tersenyum kepadanya.


...Maafkan aku tuan... lagi-lagi aku melupakan perintahmu......


...Batin terakhirnya, kemudian menghembuskan nafas hilang kesadaran....


...****...


Sedangkan saat ini, di dalam ruangan teman lama Danilo, si imam Renovic yang mulai merasa khawatir dengan Misha yang tidak kunjung kembali selama setengah jam setelah dia pergi meminta izin buang air.


Dan di ruangan tersebut, Danilo menunjukan tampang mesam-mesem menatap Lilina si biarawati dengan pipi yang merah merona. Melihat tatapan itu, Lilina si barawan membalas senyumannya dengan tulus.


Danilo tidak menyadari, bahwa di saat yang sama, kediamannya kedatangan sosok tamu yang tidak diundang. Seluruh pikirannya hanya ada wajah cantik Lilina yang terus membutakan pikirannya, bahkan melupakan sosok Misha yang sedari tadi tidak kembali ke dalam ruangan.


............



Ilustrasi sosok pelayan kakek tua, yang menyambut hangat kedatangan kepolisian negara dengan senyuman tulusnya.

__ADS_1


Dia digambarkan memiliki janggut putih yang panjang, kulit keriput dan sering berjalan dengan punggung yang membungkuk sambil menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung bawah. Seorang pelayan yang telah melayani Danilo berpuluh-puluh tahun sejak Danilo masih kecil.


...*****...


__ADS_2