
Keesokan harinya
Kakek Tama dan Kiya sudah keluar atau check out dari hotel dan pergi menaiki taksi untuk pergi ke sebuah Bank yang ada di sana. Mereka turun dan masuk ke Bank itu, tapi pihak Bank tidak melayani mereka dengan baik bahkan mereka menatap Kiya dan Kakek Tama dengan tatapan jijik. Kakek Tama dan Kiya tidak memperdulikan itu, mereka masuk dan menemui satu-satunya pegawai yang menatap mereka dengan tatapan yang sama seperti menatap orang lain
"Permisi" kata kakek Tama
"Iya ada yang bisa dibantu" kata pegawai itu ramah, dia satu-satunya pegawai yang menatap Kiya dan kakek Tama dengan tatapan biasa saja malahan tatapannya sama seperti menatap tamu lainnya
"Aku memiliki sesuatu yang ingin aku jual" kata kakek Tama
"Boleh saya lihat" kata pegawai itu
"Ini" kata kakek Tama menyerahkan sebuah kotak yang dibalut dengan kantong plastik
Pegawai itu membuka bungkusan itu, dan saat dibuka ekspresi dari pegawai itu membuat mereka yang ada disana merasa heran sekaligus penasaran. Sebenarnya apa isi dari kantong itu, sampai-sampai pegawai itu terkejut.
"Ahk maaf pak saya harus berbicara dulu dengan atasan saya dulu, silahkan duduk dan tunggu sebentar" kata pegawai itu kemudian memberikan bungkusan itu pada kakek tama dan kemudian melangkah pergi,
Kiya dan kakek Tama pun memilih duduk, saat duduk banyak saja ocehan yang orang-orang sekitarnya sampaikan. Mereka secara terang-terangan mengejek Kiya dan Kakek Tama karena berpenampilan sangat lusuh, banyak ocehan yang membuat Kiya sangat kesal
"Jika saja elemen ku masih bisa digunakan, aku akan membakar mulut orang-orang itu tanpa sepengetahuan siapapun" batin Kiya kesal
Tak lama pegawai itu datang dengan seorang pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan kakek Tama, bahkan mungkin mereka seumuran.
"Selamat pagi pak" kata pria itu yang merupakan atasan pegawai yang tadi
"Pagi" kata kakek Tama
"Bisa saya lihat benda yang ingin bapak tukar" kata pria itu
"Ini" kata kakek Tama sambil menyodorkan bungkusan yang tadi di berikan pada pegawai itu
Atasannya itu membuka bungkusan itu, dan setelah bungkusan itu dibuka ekspresi dari atasannya itu melebihi ekspresi yang di tunjukan oleh pegawainya tadi.
"i....ini" kata pria itu
"Itu peninggalan orang tua saya pak, saya baru menemukannya setelah saya merenovasi rumah saya dan menemukan surat peninggalan orang tua saya" kata kakek Tama berbohong
Ya dia bukan orang bodoh yang akan secara langsung bilang bahwa dia menemukannya dihutan, meskipun kakek Tama tinggal di desa dan tidak memiliki teman namun dia sosok yang cukup pintar untuk memahami lingkungan sekitar. Ya sebenarnya sebelum kakek Tama tinggal di desa, kakek Tama sudah mengalami tinggal dikota dan kerasnya kehidupan kota. Meskipun begitu dia tetap pergi ke kota agar Kiya mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi, ya dia juga tau baik buruknya tinggal dikota seperti apa resiko tinggal di kota.
"Kakek sepertinya tidak sederhana" batin Kiya
"Ba... baiklah pak sebentar saya bikin kan dulu tabungannya" kata orang itu lagi
Setelah mengikuti prosedur yang di berikan untuk membuka tabungan dan di isi dengan hasil penjualan dari benda yang kakek Tama temukan, Kakek Tama terkejut melihat kartu kredit yang di berikan oleh orang itu karena merupakan kartu yang sangat jarang dimiliki oleh orang-orang dan jika ada yang memilikinya itu artinya dia bukan orang sembarangan. Dia meminta agar dibuatkan 2 kartu, satunya untuk digunakan Kiya dikemudian hari. Setelah selesai atasannya itu memberikan kartu itu pada Kakek Tama
"Terimakasih" kata kakek Tama sambil menerima kartu itu
"Sama-sama pak" kata orang itu
Kakek Tama dan Kiya pun keluar dari Bank itu, dan saat dia akan keluar barulah pegawai disana menghormatinya dan tersenyum ramah. Kiya dan kakek Tama mengabaikan itu dan memilih untuk pergi, mereka awalnya pergi untuk membeli sebuah mansion untuk mereka tinggal di kota ini.
__ADS_1
"Kakek kita mau kemana lagi" kata Kiya
"Kita akan membeli rumah" kata kakek Tama
"Rumah yang sangat besar, rumah yang memiliki bibi pekerja dan memiliki kolam renang kan kek" kata Kiya
"Darimana kamu tau" kata kakek Tama
"Ya bukan tahu, aku hanya menginginkan rumah yang seperti itu. Jika kita punya rumah seperti itu, kakek yang jadi Raja dan aku tuan putri nya" kata Kiya sambil tersenyum lebar
"Baiklah, mari pergi cari rumah yang kamu inginkan" kata kakek Tama sambil mengelus kepala Kiya
Merekapun pergi ke sebuah perusahaan yang memang bekerja di bidang itu, tapi sebelum itu dia pergi ke Mall untuk makan dan membeli makanan. Setelah selesai dengan membeli makanan dan pakaian juga membeli kediaman untuk mereka, mereka memilih untuk pergi ke rumah baru mereka pasalnya hari sudah siang bahkan mungkin beranjak malam.
Mereka sampai di depan rumah mewah mereka dan saat turun dari taksi dan mendekati rumah itu, ada seseorang yang membukakan gerbang.
"Siang pak" kata orang itu yang sepertinya seorang satpam
"Siang pak" kata kakek Tama
"Bapak siapa yah" kata satpam itu
"Saya pemilik baru rumah ini" kata kakek Tama
"Benarkah?? Bisa saya lihat bukti pembelian dan bukti kepemilikan nya" kata satpam itu
Kakek Tama memberikan buktinya, ya bukti pembelian yang diberikan oleh perusahaan itu.
"Ahk maaf tuan jika saya tidak sopan menyambut kedatangan tuan" kata satpam itu kemudian menunduk
"Selamat datang Tuan dan nona muda" kata satpam itu
"Siapa yang paman panggil nona muda" kata Kiya polos
"Tentu saja anda nona" kata satpam tersebut
"Paman aku tidak mau dipanggil nona muda" kata Kiya
"Lalu saya harus memanggil nona apa" kata satpam itu sambil tersenyum kearah Kiya
"Tuan putri" kata Kiya
"Baiklah, selamat datang tuan putri" kata satpam itu sambil tersenyum karena melihat Kiya yang sangat lucu
Merekapun memilih untuk masuk, dan saat memasuki gerbang Kiya dan kakek Tama disuguhi oleh pemandangan sebuah rumah mewah yang sangat-sangat mewah dan sangat luas. Bangunan yang memiliki dua lantai itu terlihat mewah menurut banyak orang, namun menurut Kiya bangunan itu biasa saja. Bagaimana tidak biasa saja, dia adalah orang terkaya di kedua kehidupannya jadi ya ini adalah hal biasa baginya.
Tapi dia menunjukkan ekspresi yang sangat senang dan juga ekspresi kagum karena bangunan indah itu, alasannya agar kakeknya tidak merasa keheranan sebelum dia memberitahu kebenaran.
"Kau suka Kiya" kata kakek Tama
"Tentu saja kek" kata Kiya tersenyum lebar
__ADS_1
"Mari masuk tuan putri" kata satpam itu
Merekapun masuk ke rumah itu, perjalanan dari gerbang menuju ke depan pintu cukup jauh, ya sekitar 2 menit dengan berjalan sambil mengobrol hingga akhirnya sampai di depan pintu. Saat membuka pintu mereka di suguhi dengan pemandangan yang sama indahnya saat mereka melihat rumah itu dari luar, sangat indah dan mewah bagi orang yang baru seperti kakek Tama. Tapi Kiya?? Jangan ditanya lagi, hal ini hal biasa bagi Kiya
"Sebentar Tuan saya akan memanggil para pekerja disini" kata satpam itu
"Tuan dan tuan putri bisa duduk terlebih dahulu" kata satpam itu sambil menunjuk sebuah sofa di ruangan yang sepertinya ruangan keluarga
"Baik" kata kakek Tama
Kiya dan kakek Tama pun duduk di sofa itu, dan satpam itu sepertinya pergi ke belakang. Tak lama satpam dan beberapa wanita datang dari arah belakang
"Tuan" kata satpam itu, kakek Tama berdiri dan menghampiri mereka
"Iya" kata kakek Tama
"Ini tuan, mereka pekerja yang di pekerjaan dirumah ini. Sebelum tuan membeli rumah ini, kami sudah disini dan di tugaskan untuk membersihkan rumah ini dan kami di gaji oleh perusahaan yang tuan datangi saat membeli rumah ini" kata satpam itu
"Ada berapa orang" kata kakek Tama
"Kami ada 10 orang tuan, saya satpam berdua, sopir 2 dan sisanya untuk membersihkan rumah memasak juga tukang kebun" kata satpam itu
"Paman" kata Kiya sambil berdiri dan menghampiri kakek Tama
"Iya tuan putri" kata satpam itu
"Bolehkah Kiya tahu nama paman dan bibi?? Biar nanti kalo Kiya butuh sesuatu Kiya bisa manggil paman atau bibi" kata Kiya
"Tentu saja tuan putri" kata satpam itu
"Ini adalah majikan kita yang baru, Ini adalah tuan Tama pemilik rumah dan ini cucu nya tuan putri Kiyara" kata satpam itu pada para pekerja
"Dan tuan putri nama paman Bimo satpam disini, dan itu paman Boming (satpam), paman Gun (sopir), paman Deni (sopir), paman Dadang (tukang kebun), paman Agis (tukang kebun), dan itu ada bibi Reni, bibi Rani, bibi Inem dan bibi Nani" kata satpam yang tadi menyambut mereka yang diketahui namanya adalah Bimo
"Ouh makasih paman Bimo" kata Kiya sambil tersenyum
"Tuan apa tuan mau berkeliling dulu" kata bi Rani yang sekitar berusia 35 tahun
"Boleh" kata kakek Tama
"Biar Rani saja pak Bimo yang anter keliling" kata bi Rani
"Baik Rani" kata pak Bimo
"Mari pak" kata bi Rani
Akhirnya merekapun memilih untuk berkeliling, kakek Tama dan Kiya di tunjukan setiap ruangan yang ada di rumah itu. Mulai dari ruang kerja, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar utama, kamar tamu dan kamar lainnya, juga beberapa ruangan yang lain.
Setelah itu selesai, kakek Tama dan Kiya memilih kamar untuk mereka dan memilih untuk istirahat sebelum menjalankan kegiatannya besok.
Hai guys author comeback nih
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote yah
Bye-bye