Timeless Love

Timeless Love
Kim Hagi


__ADS_3

Matahari musim panas adalah matahari yang paling di benci Hagi, beberapa kali dia menggerutu kecil ketika keringat menetes menghalangi pandangan matanya pada papan fokus memanah. Sudah sejak tadi pagi ayahnya melatih memanah dan kali ini semakin sulit untuk Hagi karena dia harus mengenai dupa yang sengaja ayahnya letakan di tengah papan memanah, sedikit menyesal karena menantang ayahnya tadi pagi mengingat dia sudah berulang ulang memenangkan kejuaraan tapi entah kenapa sejak pagi busur panah selalu meleset karena tangannya yang bermasalah setelah meladeni ayahnya bermain pedang kemarin walaupun cedera itu tidak terlalu parah.



Selalu begitu setiap hari, setelah pulang kuliah Hagi mau tidak mau harus menjalankan tradisi keluarganya, Hagi tidak pernah benar-benar memiliki hidup normal layaknya remaja gadis seusianya, bergosip dengan teman atau kegiatan di luar kuliah semua itu bukanlah sesuatu yang bisa ia lakukan, belum lagi malam harinya akan dia habis kan untuk berlatih bermain semua alat musik tradisonal yang di ajarkan ibunya.



Ada kalanya Hagi merasa iri pada kakaknya Kim Jong Won yang sedikit mendapat kelonggaran waktu dari orang tua mereka karena oppanya hanya harus menguasai apa yang di ajarkan ayahnya. Tentu saja mudah bagi oppanya yang seorang pria untuk menjalani kegiatan yang ayahnya berikan, selain stamina kakaknya juga fokus pada perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang perhotelan dan juga ekspor impor barang-barang antik dan juga pengelolaan sandang pangan. Berbeda dengan Hagi dia masih seorang gadis umur 20 tahun yang sibuk di semester ke lima nya di jurusan kedokteran, cukup bersyukur tahun depan dia sudah mulai magang hingga dia tidak perlu lagi menjalani tradisi keluarga yang membuatnya kehilangan banyak hal di usia mudanya.



Walaupun Hagi selalu menyukai apapun yang ayahnya ajarkan seperti memanah, berkuda dan bermain pedang semua itu kegiatan yang menyenangkan baginya tapi dengan kesibukannya sekarang semua terasa benar-benar mencekiknya, pengecualian untuk apa yang ibunya ajarkan, menari, bermain musik, tatak rama semua benar-benar membuatnya kesal. Hagi kembali menghelah nafas frustrasi ketika busur panahnya tidak mengenai sasaran, ayahnya mencibir dari kejauhan membuat Hagi kesal karena sudah mulai kelelahan.



"Ayah ingin kau mengikuti kejuaraan memanah Hagi, ayah juga sudah mendaftarkanmu mejadi peserta, jadi kau harus serius." Sesaat Hagi menghentikan aksi memanahnya, memandang terkejut pada ayahnya yang duduk di bawah pohon rindang bersama ibunya, tidak peduli dengan nasib anak perempuannya yang terpanggang oleh matahari di musim panas.



"Kenapa ayah tidak bertanya dulu padaku, ayah tau kan aku sedang sibuk untuk persiapan magangku tahun depan." Hagi menghentikan latihannya, mendekat pada kedua orang tuanya sudah tidak peduli dengan ayahnya yang membulatkan matanya tidak setuju, Hagi duduk di tengah orang tuanya sedikit bersandar pada ibunya, Nyonya Kim menyodorkan sebotol air mineral pada Hagi yang di terima suka cita olehnya walaupun lagi-lagi ayahnya mendelik tidak suka padanya.



"Aku lelah dan haus ayah, kenapa kau tega sekali pada anakmu yang cantik ini." Tuan Kim mendengus sebal, karena biasanya Hagi tidak akan minum atau berhenti tanpa di suruh, kebetulan sekali Nyonya Kim hari ini ikut, semalam istrinya yang cantik itu mengeluh padanya jika anak perempuannya itu sering tertidur mendengarkan silsilah keluarga yang di ajarkan pada malam hari karena terlalu lelah di latih ayahnya.



"Sudahlah sayang kau jangan terlalu keras padanya, lagi pula Hagi harus istirahat dia juga masih ada latihan gayageum denganku nanti malam, oh iya Hagi kau gunakan sunblockmu? Ibu tidak mau kulitmu merah-merah lagi seperti tempo hari." Hagi hanya menunjukan ibu jarinya, merasa sudah tidak ada tenaga untuk bersuara membuat Tuan Kim reflek memukul kepala Hagi dari belakang.



"Mana tatak ramamu pada ibumu?"



"Aboeji!!!!" Tuan Kim kembali melotot dan siap memukul kepala Hagi tapi dengan sigap dia bersembunyi di belakang punggung ibunya.



"Sudahlah sayang anakmu itu sudah kelelahan, biarkan dia istirahat dulu." Tuan Kim menghembuskan nafasnya lemas, dia bukanlah lelaki yang mau berdebat dengan istrinya yang cantik.



"Baiklah tapi jika dia gagal di kompetisi memanahnya aku tidak akan segan-segan menghukumnya. Kau ingat itu Hagi." Hagi mengembungkan pipinya kesal ayahnya ini selalu memaksakan kehendak, tidak peduli seberapa banyak pengorbanan putri cantiknya itu, jika dia gagal dia tidak akan segan-segan menghukumnya dia tau betul hukuman yang ayahnya sebutkan, kadang dia menyesal dilahirkan sebagai anak perempuan di keluarga Kim. Akan lebih baik dia jadi anak lelaki, sekalipun ayahnya tetap keras, setidaknya Hagi masih di beri kesempatan untuk mengenal dunia luar seperti kakaknya Kim Jong Won.



"Aku mengerti, tapi hadiah apa yang ingin ayah berikan padaku jika aku menang?" Untuk sesaat tuan Kim nampak merenung lalu menatap Hagi dalam.



"Hadiah tentu saja ada. Hanya ayah tidak tau ini cocok untukmu atau tidak." Hagi mengangkat alisnya penasaran, tapi tidak bertanya kembali ketika ayahnya mulai berdiri dan bersiap masuk kedalam rumah.


__ADS_1


"Ada apa dengan ayah, bu?" Nyonya Kim menatap sayang pada Hagi, mengelus rambut putri bungsunya lalu menatap Hagi sama seperti ayahnya berikan tadi.



"Kau akan tau nanti sayang, jika hadiah yang ayahmu berikan padamu nanti cocok, kelak jika kau punya anak kau tidak harus melanjutkan tradisi keluarga Kim." Nyonya Kim ikut bangkit meninggalkan Hagi sendirian, meninggalkan Hagi yang kebingungan. Ponsel yang bergetar membuat Hagi tersentak dari lamunannya, sedikit malas Hagi mengangkat panggilan yang ternyata dari kakaknya.



"Masih berlatih?"



"Sudah tidak, wae? Oppa tidak sibuk?"



"Oppa mau makan siang, kau mu ikut? Oppa jemput di rumah?" Hagi nampak berpikir lalu mengangguk ini kesempatan baginya untuk merasakan akhir pekan di luar.



"Baiklah aku juga ingin bertanya sesuatu pada oppa."



"Oky oppa jemput sekarang." Sambungan terputus, membuat Hagi mendengus kesal tapi tak lama mengangkat bahu tidak peduli, sedikit merentangkan badan Hagi berdiri melangkah kedalam rumah.



Di tempat lain masih di Seoul tepatnya di kediaman Cho, seorang namja juga kini melakukan hal yang sama dengan Hagi, sejak tadi pagi namja itu berlatih memanah berulang-ulang instruktur yang ia bayar memujinya tiada henti.




"Aku belum ada apa-apanya dengan dia. Kim Hagi, kau tau diakan?" Ucapan namja itu membuat instruktur terdiam, tentu saja di bandingkan dengan Hagi namja ini belum bisa setara dengan Hagi yang memang sudah di latih dari kecil.



Beberapa saat kemudian ponselnya berdering pelan membuat namja itu tersadar dari lamunannya, ketika tahu siapa yang menelpon wajah murungnnya berubah menjadi sedikit bersemangat.



"Yeobseo?... ah iya aku tidak sedang sibuk... benarkah? Dengan senang hati aku akan menjemputnya... baiklah." Setelah mematikan ponselnya namja itu berdiri siap kembali kedalam rumah, karena sekarang dia ada di halaman belakang rumahnya.



"Ajjusi bisa pulang sekarang, besok kita lanjutkan lagi latihannya." Instruktur itu hanya mengangguk kecil lalu membiarkan namja itu pergi begitu saja.



***



Berulang kali Hagi menatap jam di tangannya, setengah jam dari yang dijanjikan,tapi oppanya tidak kunjung datang. Sesekali Hagi mengusap jemarinya, latihan memanah membuat jarinya luka dimana-mana sedikit sakit tapi Hagi tidak pernah mengeluh, Atau sudah lelah mengeluh karena tidak menghasilkan apa-apa.

__ADS_1



Ayahnya hanya akan menganggapnya gadis lemah dan Hagi tidak menyukainya. Hyun Mie sahabatnya sudah sering memarahinya karena Hagi di anggap tidak menghargai tubuhnya sebagai seorang perempuan, walaupun Hyun Mie tahu Hagi adalah gadis yang sangat tomboy dan tidak peduli akan penampilanya, tapi tetap saja Hagi perempuan yang suatu saat nanti harus bisa menarik perhatian seorang pria yang mau serius dengannya walapun sekarang tanpa berdandan sekalipun Hagi jadi incaran pria di kampus.



Tapi semua namja itu hanya tertarik pada paras wajah Hagi bukan dengan semua sifat kasarnya. Hagi mendengus kesal ketika mengingat betapa cerewetnya Hyun Mie melihat tangannya yang lecet dimana-mana, ketika terakhir dia memenangkan kejuaraan memanah bulan lalu, membuka tas ranselnya Hagi mengambil prester untuk menutupi luka-luka di tangannya, Oppanya juga pasti akan secerewet Hyunmie. Lagi Hagi menatap sebal jam di tangannya.



"Ck sebenarnya dimana oppaku itu, bukannya jam makan siang sudah akan lewat?" Hagi menggerutu sebal sambil kembali berniat menghubungi oppanya, ketika sebuah Saab abu-abu mengejutkan dengan klaksonnya. Mengerutkan kening Hagi menatap binggung pada pengemudi yang melambai dari dalam Saabnya yang cantik ketika menurunkan kaca jendela mobilnya.



"Siapa iya?" Merasa tidak kenal Hagi bertanya heran karena pria di dalam Saab itu membukakan pintu mobil depan untuknya.



"Masuklah, kau sedang menunggu oppamu Kim Jong Won kan? Aku temannya, dia memintaku menjemputmu, karena tiba-tiba ada urusan mendadak." Pria itu tersenyum manis terlihat baik, tapi tidak bisa meyakinkan Hagi yang memang memiliki sifat sangat sulit percaya orang asing.



"Buktinya?" Sekali lagi pria itu tersenyum manis, mendial sebuah nomer di ponselnya lalu terhubung pada seseorang.



"Yesung_ah, adikmu ini sepertinya tidak percaya padaku." Pria itu memberikan ponselnya pada Hagi, sedikit ragu Hagi menerima panggilan tersebut.



"Yeobseo?... kenapa bukan oppa yang menjemput? Kau tau kan aku tidak suka orang asing?... baiklah aku ikut dengannya." Hagi memberikan ponsel pria itu kepada pemiliknya.



"Percaya?" Hagi mengangguk kecil lalu masuk kedalam mobil tanpa banyak bicara.



Pria itu mulai melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang, tidak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu lagipula memang Hagi tidak suka bicara lebih dulu pada orang asing. Sesekali Hagi menatap pria di sampingnya bingung. Selama ini Hagi tau betul siapa yang dekat dengan oppanya dan namja di sampingnya bukanlah orang yang dia kenal.



Tapi mendengar namja di sampingnya memanggil oppanya Yesung tidak di ragukan lagi orang ini dekat dengan oppanya, karena hanya orang yang benar-benar dekatlah yang memanggil oppanya Yesung. Merasa di perhatikan pria itu menatap Hagi sekilas.



"Ada yang ingin kau tanyakan?" Hagi menggeleng pelan, sekalipun penasaran dia bukan orang yang mau mencari tau jika bukan orang itu yang bercerita. Namja itu mengangguk lalu kembali fokus menyetir. Sekali lagi Hagi menatap namja di sampingnya, jika terus di perhatikan namja di sampingnnya ini sangat familiar. Tapi Hagi lupa sama sekali.



'Siapa namja ini? Kenapa aku merasa pernah bertemu dengannya? Tapi dimana?' Kali ini Hagi mengangkat bahu tidak peduli lagipula jika saling kenal pasti nanti dia akan tahu dari Yesung oppanya.



__ADS_1


bersambung


__ADS_2