
Tahun 1433
Angin bertiup kencang malam ini, beberapa kali bibi Ma merapatkan selimut seadanya pada gadis yang kini tengah berbaring di sampingnya, sesekali bibi Ma menatap kearah hutan yang gelap, masih sedikit cemas jika ada tentara Jurchen yang berani masuk kekawasan Joseon, mengingat bagaimana mereka membantai banyak tentara Joseon saat di Jeju untuk menjarah harta. Paman Ma beberapa kali berusaha membuat api unggun yang ia buat tetap menyala dengan kondisi angin yang membuat api selalu mati, mereka harus bertahan dalam cuaca dingin di hutan setelah berhasil menyeberang dari pulau Jeju menuju Hanyang.
"Apa apinya tidak bisa menyala juga? sepertinya gadis ini mulai mengigil." Bibi ma mulai khawatir ketika gadis yang kini berbaring di sampingnya mulai mengigil kedinginan, juga mulai kesal karena suaminya ini tidak juga bisa membuat api unggun tetap menyala.
"Aku juga sedang berusaha, kau lihat angin sangat kencang." paman Ma berusaha tetap tenang, walaupun dia sama khawatir dengan istrinya, dan sepertinya keributan kecil itu membuat gadis itu terbangun.
"Maaf aku merepotkan kalian." bibi Ma langsung berbalik menatap gadis itu sambil membantunya duduk ketika melihat gadis itu berusaha bangun.
"Tidak, kau tidak merepotkan kami agasshi, kami yang seharusnya berterimakasih karena sudah menyelamatkan nyawa kami saat di hutan kemarin. Kami justru minta maaf karena tidak bisa memberikan apapun sebagai ucapan terimakasih, hanya ini yang bisa kami lakukan." Bibi Ma berusaha kembali mengucapkan rasa terimakasihnya pada gadis yang kini berada di sampingnya. Gadis itu kembali menggelengkan kepala.
"itu sudah kewajiban setiap orang untuk membantu jika mampu. kebetulan kemarin memang aku bisa membantu kalian saja." Bibi Ma menatap wajah gadis itu sendu, karena menolong mereka wajah gadis itu memiliki luka gores yang cukup dalam dan bagi bibi Ma itu tidak baik.
"Katakan apa yang bisa kami lakukan untukmu selain yang kita lakukan sekarang untukmu Agasshi?" kali ini paman Ma ikut berbicara ketika dirasa api unggun tidak akan mati lagi. Gadis itu menatap paman Ma berpikir, kejadian beberapa hari ini yang dia lalui sungguh menguras energi juga mentalnya. Semua serba tidak masuk akal dan membuatnya frustasi, tapi anehnya dia bisa menjalaninya dengan baik.
"Bisakah kalian hanya membawaku bersama kalian? jika boleh aku ingin menjadi anak angkat kalian, aku tidak tahu harus kemana, dan aku juga tidak punya siapapun disini, aku tentunya akan melakukan apapun yang berguna untuk kalian, lagipula kalian bilang kalian tidak punya anakkan?" bibi dan paman Ma saling berpandangan lalu keduanya saling tersenyum.
"Tentu saja boleh kenapa tidak, agasshi sudah menyelamatkan nyawa kami dan lagi aku juga menyukaimu Agasshi." bibi Ma mengenggam tangan gadis di sampingnya sayang, entah kenapa bibi Ma sepeti di beri kesempatan oleh dewa untuk merasakan memiliki seorang putri ketika melihat gadis di sampingnya.
"Terima kasih dan tolong panggil namaku saja, bukankah kita akan menjadi keluarga? Hagi, panggil namaku Hagi Aboeji, eommoni." Hagi iya gadis itu Hagi. Paman dan Bibi Ma mengangguk setuju
Hagi menatap api unggun yang berkibar terkena angin, dia kembali mengingat peristiwa aneh yang baru saja ia alami beberapa hari terakhir ini, awalnya semua ia anggap mimpi, tapi mana ada mimpi sepanjang dan senyata ini. Tapi ia berusaha mengingat kata-kata ayahnya dan semua mulai masuk akal, akhirnya ia paham dan juga berusaha menerima semua yang terjadi padanya. Sepertinya Tuhan sedang memberinya petunjuk tentang tujuan kenapa ia dilahirkan dan untuk apa dia dilahirkan di keluarga Kim
Flasback
Hagi mengerjapkan matanya pelan ketika matahari dirasa mulai memanggang kulitnya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah air terjun yang cukup tinggi, seolah mengingat sesuatu, Hagi mengerang kesakitan memegang tangan kanannya yang sempat tergores bebatuan saat jatuh dari atas. Semua barang-barangnya hilang entah kemana bahkan barang berharga yang baru saja ia dapat dari ayahnya juga ikut hilang.
"Ayah pasti akan membunuhku, itu jelas warisan leluhur." Hagi bergumam kecil ketika dia berusaha mengedarkan pandanganya dan tidak menemukan apapun di dekatnya.
Sekali lagi Hagi memandang sekitarnya, ia merasa asing dengan air terjun ini karena seingat Hagi dari tempat dia mendaki belum ada yang menemukan air terjun setinggi ini, atau mungkin memang belum ada yang menemukan air terjun ini hingga sekarang. Perlahan Hagi bangkit seluruh badannya terasa sakit, tapi jika di lihat dari matahari yang meninggi bisa di pastikan dia sudah pingsan lebih dari satu hari dan itulah yang di rasakan perutnya sekarang.
"Ah lapar sekali... aku harus cepat kembali kehotel, orang rumah pasti cemas karena tidak ada kabar dariku seharian ini." Hagi mulai berjalan sambil tetap menekan luka di tangan kirinya, walaupun masih terasa sakit dan ngilu Hagi masih bisa menahannya.
Perlahan Hagi mulai keluar dari area air terjun menuju hutan lebat di depannya, jika dia tidak salah kalau dia mengambil ke kiri dia akan menemukan jalur pendakian yang sempat ia lewati sebelumnya. Walaupun cukup shock ketika terjatuh di dalam goa sebelumnya, tapi Hagi masih ingat dia menuju kearah mana saat jatuh. dia sekarang mulai mensyukuri otak cerdas yang biasa ayahnya banggakan pada teman-temannya.
Hagi mengerutkan keningnya bingung, karena prediksinya ternyata salah sudah hampir lebih dari dua jam dia hanya melihat hutan belantara yang terasa asing baginya. Selama ini Hagi selalu menjelajahi hutan Jeju bersama ayahnya dan dia sudah paham dengan seluk beluk hutan di sini. Tapi kali ini hutan ini sedikit berbeda dengan hutan yang sering ia jelajahi dengan ayahnya. Perasaan panik mulai melandanya ketika hari mulai beranjak sore dan dia belum menemukan jalan keluar sama sekali. Bukan masalah dia berada di hutan yang ia takutkan, tapi ia tidak suka membuat orang yang dia sayangi mencemaskannya, ini sudah terlalu lama dia menghilang dan tidak memberi kabar pada keluarganya.
Hagi menghembuskan nafasnya lemas, sepertinya dia harus mengakui jika dia sedang tersesat sekarang.
"Ck, ternyata aku bisa juga tersesat disini, padahal aku sudah sering kemari bersama ayah." Hagi mulai memeluk dirinya kedinginan, hari sudah mulai gelap dan dia masih mengunakan pakaian mendakinya, belum lagi dia hanya mengobati luka di tangannya dengan tumbuhan yang ia lihat di sekitar hutan, walaupun cukup ampuh tapi tetap saja luka itu harus di rawat intensif, setidaknya itu yang di ketahui Hagi sebagai calon dokter.
Hagi kembali memegang perutnya yang lapar, walaupun sudah makan buah-buahan yang ia lihat itu belum cukup untuk perutnya yang kosong hampir dua hari.
"Agrhhh sebenarnya mana jalan keluar hutan lebat ini?" Hagi mengerang frustasi ketika kondisi badannya yang mulai demam, Hagi mungkin masih kuat berjalan untuk 3 jam lagi jika tidak demam. Tapi jika dalam kondisinya seperti ini paling tahan dia hanya akan sanggup berjalan setengah jam saja.
"Baiklah sedikit lagi, tapi jika tidak ketemu juga terpaksa aku berhenti dulu. Aku tidak mau mati disini tanpa keluargaku. Cih konyol sekali nasibku." Hagi kembali berjalan berusaha mengacuhkan tubuhnya yang mulai protes.
Seperti menjawab doa yang ia ucapkan dalam hati, Hagi menemukan seberkas cahaya dari kejauhan, sedikit berlari Hagi tersenyum senang, sepertinya ada seseorang yang berkemah disini, itu tandanya dia sudah dekat dengan jalan keluar.
Tapi seperti menyurutkan semua semangatnya Hagi menghentikan langkahnya bahkan mulai bersembunyi ketika yang ia lihat membuatnya mengangkat alisnya heran.
"Apa disini sedang ada syuting drama kolosal? Kenapa pakaian mereka aneh sekali?" Hagi awalnya berusaha mensugesti dirinya sendiri dengan hal positif, tapi setelah hampir setengah jam memperhatikan kerumunan di depannya entah kenapa Hagi mulai frustasi.
"Aku pasti sedang bermimpi, apa maksudnya semua ini?" Hagi menutup mulutnya ngeri ketika di hadapannya seorang gadis yang mungkin di bawah umurnya sedang di pekosa ramai-ramai oleh sekelompok tentara, Hagi ingin melompat dan menolong gadis itu jika saja dia tidak sedang demam dan terluka, jumlahnya memang lumayan banyak, tapi jika kondisi Hagi fit orang-orang itu bisa dengan mudah Hagi kalahkan.
__ADS_1
Hagi kembali memandang sekelilingnya ketika ia menemukan sebuah panah dan beberapa busur yang bisa ia gunakan untuk menyerang tentara-tentara itu dari jauh. Dengan sedikit mengendap Hagi berhasil mengambil panah dan busur di samping beberapa tentara yang sibuk minum san mabuk berat.
"Aku tidak pernah menggunakan bakatku untuk melukai orang lain, tapi kalian melecehkan wanita, ayahku pasti akan memakluminya." Hagi mulai mempersiapkan anak panahnya, walaupun kepalanya terasa mulai pusing Hagi masih bisa menatap fokus pada titik sasarannya. Sebelumnya Hagi sempat membuat agar ujung dari panah terbakar api.
Hanya satu kali saja, anak panah itu melesat tepat di tenda besar yang dengan cepat terbakar api, hal itu menimbulkan keributan dan dengan sigap semua tentara mulai memegang senjata masing-masing. Beberapa nampak memadamkan api yang kini tengah membakar tenda dengan cepat, sebelumnya Hagi sempat melihat seseorang keluar dengan marah dari tenda itu.
"Sialan, siapa yang berani menyerang tentara Jurchen?" Untuk sesaat Hagi menegang ketika salah satu tentara meneriakan dari mana mereka berasal. Oh bagus sepertinya Hagi mulai paham kenapa dia bisa ada di sini, dengan tenaga yang tersisa Hagi berdiri bersiap untuk pergi. Niatnya untuk menolong gadis itu berubah, dia tidak boleh sampai tertangkap oleh gerombolan ini. Dia harus tahu dulu kenapa dia bisa ada disini, walaupun ia mulai bisa menerka-nerka kejadian aneh yang di alaminya sekarang.
"Maaf setidaknya ku harap kau bisa kabur saat kebakaran ini menyibukkan mereka." Hagi menatap gadis yang masih nampak ketakutan di dalam kerumunan, dengan sisa tenaganya Hagi pergi dari gerombolan itu. Tidak lupa dia juga sempat membawa perlengkapan memanah yang tadi ia curi dari gerombolan tentara Jurchen. Hagi yakin dia akan membutuhkannya nanti.
Setelah cukup jauh Hagi mengistirahatkan tubuhnya yang down drastis dari perkiraan, dengan sedikit bergetar Hagi memanjat salah satu pohon besar yang ada di sampingnya, dia tidak ingin mengambil resiko di makan mahluk buas atau terkejar oleh tentara Jurchen. Malam ini dia harus tidur, setidaknya itu bisa memulihkan staminanya untuk besok, pikiran tentang keluarganya yang cemas semakin membuat Hagi frustasi, sayangnya Hagi kali ini tidak bisa berbuat apa-apa, setidaknya ayah Hagi pasti tahu dia sedang ada dimana.
Sepertinya baru saja tadi Hagi memejamkan matanya ketika suara minta tolong membangunkan Hagi dari tidurnya, tapi melihat dari cahaya yang masuk ke celah pohon membuat Hagi mendengus kesal, sepertinya tubuh Hagi benar-benar kelelahan hingga tidak merasakan tidurnya sudah cukup lama. Merasa lebih baik Hagi merenggangkan badannya lalu turun dari pohon dan sedikit berlari menuju arah suara yang meminta tolong.
Saat itulah pertama kalinya Hagi bertemu dengan paman dan bibi Ma, keduanya hampir terjatuh dari jurang, bibi Ma memegang tangan suaminya yang bergelantungan di jurang, ketika bibi Ma hampir ikut masuk kejurang, dengan kedua tangannya Hagi menarik kedua pasangan suami istri itu dari tepi jurang, karena tergesa-gesa Hagi tidak menyadari wajahnya tergores bebatuan tepi jurang, Hagi sedikit kewalahan ketika menarik keduanya mengingat tubuhnya yang masih sakit dan luka di lengannya kembali berdarah karena tertarik.
Tapi dengan menggunakan segenap tenaganya Hagi mengangkat suami istri itu menjauh dari tepi jurang, ketika keduanya sibuk menangis haru, Hagi lagi-lagi tidak sadarkan diri setelah acara menolong yang menguras tenaganya.
Pasangan suami istri itu akhirnya membawa Hagi pulang kerumahnya karena sudah berjasa menolong paman dan bibi Ma, tapi keadaan di desa waktu itu juga sedikit tidak menguntungkan. Jurchen menyerang desa kecil milik paman dan bibi Ma dan menjarah semua harta termasuk gadis-gadis muda untuk di jadikan giseng atau pemuas nafsu tentara Jurchen.
Awalnya keduanya kebingungan melihat pakaian yang Hagi gunakan tapi mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Dengan pakaian paman Ma serta pembebat dada yang di pasang bibi Ma, Hagi akhirnya bisa bebas dari tentara Jurchen.
Saat terbangun Hagi akhirnya sadar kalau dirinya memang sedang tidak bermimpi jika sekarang dia tengah berada di masa yang berbeda dengan kedua orang tuanya, yang membuat Hagi sedikitnya bisa memahami situasi ini adalah ketika nama tentara Jurchen terdengar olehnya, dia tahu betul siapa tentara Jurchen itu karena ibunya selalu menjejali otaknya dengan nama tentara itu. Nama tentara yang memulai keberadaan keluarga Kim hingga sekarang.
****
Pagi datang mengusik tidur pasangan suami istri yang tidak terasa kini tengah berpelukan, saat terbangun keduanya terkejut karena masih ingat jika ada seorang gadis yang juga sedang berbaring di samping mereka, tapi paman dan bibi Ma tidak melihat ada Hagi disana.
"Terimakasih padahal ini tugasku mencari makanan kenapa kau tidak membangunkanku nak?" Paman Ma duduk di samping Hagi begitu juga bibi Ma, Hagi kembali menggeleng kecil.
"Aku yang paling muda, akulah yang harus menyiapkan makanan untuk yang lebih tua, apa lagi kalian sudah mau jadi orang tuaku sekarang." Paman dan bibi Ma mengangguk paham lalu mulai memakan buah yang Hagi bawa.
"Kita harus bergerak sekarang, kalau kita cepat nanti sore kita sudah sampai di Hanyang, untuk sekarang ibu kota adalah tempat paling aman di Joseon. Kau sudah bisa berjalan jauhkan?" Paman Ma menatap Hagi, dia masih khawatir dengan gadis yang baru saja menjadi anak angkatnya.
"Aku sudah kuat, tenanglah aboeji walaupun aku yeoja, aku memiliki fisik yang kuat." Paman Ma menggangguk paham.
"Iya aku bisa melihatnya sayang, Hagi sudah terlihat lebih sehat sekarang jadi sebaiknya kita cepat pergi dari sini." Kali ini bibi Ma juga memberikan usulan yang sama.
Setelah semua sudah siap, ketiganya mulai bergerak berjalan sedikit cepat dan beberapa kali melihat kebelakang. Paman Ma sengaja mencari rute tercepat dan jarang di lewati seseorang agar tidak harus menghadang bahaya, kali ini dia harus melindungi 2 wanita sekaligus.
Tapi sepertinya takdir berkata lain ketiganya malah harus terhadang perkelahian yang sebenarnya tidak perlu mereka campuri, tapi ketika tahu siapa yang sedang terdesak itu adalah seseorang yang paman Ma kenal, pria tua itu tidak bisa hanya tinggal diam.
"Jangan sayang, jika kau pergi kesana kau sama saja cari mati, Tuan Kim pasti bisa mengalahkan mereka." Bibi Ma berusaha menghadang suaminya ketika berniat membantu seseorang yang mereka kenal, bibi Ma tidak ingin suaminya mati konyol karena memang tidak bisa bela diri.
"Kau tidak lihat keadaan tuan muda seperti apa? Aku tidak bisa diam saja." Paman Ma tetap bersikeras menolong orang yang dia kenal, Hagi yang sejak tadi memperhatikan kedua suami istri itu mulai memperhatikan tuan muda yang kini memang cukup kewalahan melawan 5 orang berpedang. Hagi mengerutkan keningnya berpikir, dia seperti mengenal orang itu. Ketika sadar dari lamunannya paman Ma sudah maju dan mengunakan pedangnya untuk menyerang orang yang kini menyudutkan kenalannya. Tapi karena memang tidak bisa bermain pedang, pedang yang baru saja di ayunkan sudah terjatuh di tanah, saat itulah Hagi maju mengambil pedang yang terlempar dari tangan Paman Ma dan menangkis pedang yang siap menerjang paman Ma.
"Siapa lagi ini, kau cari mati anak muda? Jangan campuri urusan kami, sebaiknya kau pergi dan bawa tua bangka ini." Salah satu dari kelima orang itu menghunuskan pedangnya pada Hagi, tapi tidak ada ketakutan sama sekali di matanya. Hagi memutar badannya mendekat kearah paman Ma dan kenalannya yang juga sudah terduduk kelelahan.
"Aboeji mundur, bawa kenalanmu menjauh." Ucapan Hagi sontak membuat kelima orang yang kini masih mengacungkan pedangnya marah.
"Sudah ku bilang jangan ikut campur kamu memang cari mati bocah bodoh."
"Sayangnya aku tidak bisa tidak ikut campur, yang kalian serang adalah kenalan ayahku." Kata-kata Hagi sontak membuat kelima orang itu menyerangnya bertubi-tubi, walaupun sedikit kewalahan karena lukanya yang belum kering Hagi bisa mengimbangi kekuatan ilmu pedang kelima orang di hadapannya.
__ADS_1
'Orang-orang di hadapanku bukan orang biasa, mereka pasti pembunuh bayaran di masa ini.' Hagi bergumam dalam hati dia bisa melihat level lawannya, walaupun masih di bawahnya Hagi tahu orang-orang di hadapannya rajin berlatih.
Hagi melirik orang yang kini sedang dipegangi oleh paman Ma, namja itu sedang terluka dan harus di obati, berarti Hagi harus cepat mengalahkan kelima orang di hadapanya. Dengan kemampuan pedangnya Hagi menyerang organ vital dari kelima orang di hadapannya dan tidak butuh waktu lama kelimanya sudah tumbang begitu saja. Setelah memastikan kelima orang itu tidak bangun lagi Hagi mendekat kearah paman Ma dan juga namja kenalan paman Ma, bibi Ma juga sudah mendekat ketika Hagi selesai dengan kelima orang tadi.
"Aboeji kau tidak apa-apa?" Hagi sempat melihat tangan ayah angkatnya terluka dia menatap tangan ayahnya khawatir.
"Aku tidak apa-apa tapi tuan Kim sepertinya terluka." Kali ini pandangan Hagi beralih pada namja yang kini tengah mengembuskan nafas kesakitannya, luka di perutnya sepertinya lumayan dalam, darah cukup banyak berceceran tapi yang menarik perhatiannya adalah wajah namja itu.
'Aku yakin, aku pasti mengenalnya tapi siapa? Yang jelas aku mengenalnya di masaku' Hagi tersadar dari lamunannya ketika namja itu memanggil ayah angkatnya parau.
"Paman Ma sepertinya aku tidak tertolong, ibu kota juga masih sangat jauh, lukaku terlalu dalam. Bisakah kau antarkan ini pada kakakku? Kau harus menyampaikan ini ketangan kakakku." Paman Ma menerima sebuah surat lalu mengangguk patuh. Hagi menarik tangan namja yang kini berbaring di sampingnya, lalu memeriksa denyut nadi juga luka namja itu.
"Abeoji tunggu aku disini, pastikan dia tetap sadar, aku akan mencari sesuatu untuk mengurangi pendarahannya." Sebelum paman Ma menanyakan apapun Hagi sudah berlari kearah lain, dia berusaha mencari tanaman yang bisa di gunakan untuk menghentikan pendarahan.
"Ah ini dia, tidak rugi aku ikut kegiatan yang membahas tanaman obat sebulan kemarin." Hagi kembali berlari kearah Paman dan bibi Ma juga namja itu yang kesadarannya mulai menghilang.
"Tuan, tuan bangunlah." Paman Ma nampak mengguncang-guncangkan tubuh orang yang ia panggil tuan, bibi Ma hanya bisa menangis sedih, Hagi yang melihat langsung mendekat dan mengecek lagi nadi di tangan dan leher namja itu dengan sedikit panik Hagi mulai melakukan pertolongan pertama pada serangan jantung.
"Hagi apa yang kau lakukan?" Paman Ma bertanya gelisah ketika putri angkatnya itu melakukan gerakan aneh dan lebih terkejut lagi ketika Hagi menempelkan bibirnya pada namja itu untuk melakukan nafas buatan.
"Eomma tolong hancurkan daun yang ada di sampingku hingga berair lalu tempelkan di perut namja ini." Bibi Ma menatap Hagi bingung tapi ketika Hagi memintanya lagi dengan volume suara yang lebih keras bibi Ma langsung bergerak mematuhi perintah Hagi, Hagi masih melakukan pertolongan pertamanya hingga akhirnya Hagi bernafas lega ketika namja itu kembali bernafas.
"Syukurlah tuan kau bangun." Paman Ma nampak bernafas lega ketika lelaki itu terbatuk-batuk sambil meringis kesakitan.
***
Malam datang ketika Hagi selesai mengobati namja itu, mereka terpaksa kembali bermalam di hutan karena kondisi namja yang terus di panggil tuan Kim oleh paman Ma belum cukup kuat untuk bergerak. Beberapa kali Hagi terus menatap namja itu lama, dia yakin orang ini pernah bertemu dengannya di masa depan, Tapi entah kenapa Hagi tidak ingat. Perlahan namja itu terbangun membuat Hagi mengalihkan perhatiannya pada api unggun yang memang sejak tadi berusaha untuk ia jaga tetap menyala, paman dan bibi Ma sudah tertidur ketika selesai makan tadi.
"Kau belum tidur anak muda?" Hagi cukup terkejut ketika namja itu mengajaknya bicara, Dia hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Namja itu nampak berusaha untuk duduk dan dengan sigap Hagi membantunya.
"Aku belum sempat mengucapkan terimakasih padamu sebelumnya. Terimakasih kau sudah menolongku juga menyelamatkan nyawaku." Hagi menatap namja di sampingnya dalam, membuat suasana sedikit canggung.
"Sudah seharusnya jika mampu menolong kenapa tidak? Yang terpenting tuan adalah orang yang di kenal aboeji." Namja itu menganggukan kepalanya pelan.
"Aku dengar kau baru saja di angkat jadi anak oleh paman Ma juga karena menolong mereka, kau orang baik. Aku bersyukur paman Ma bertemu dengan pemuda baik sepertimu." Hagi mengangkat alisnya heran, sejak tadi namja ini selalu memanggilnya anak muda, apa paman Ma tidak bilang dia perempuan? Untuk sesaat dia menatap dirinya yang masih menggunakan pakaian lusuh paman ma, lalu memandang dadanya yang di bebat.
'Mungkin orang ini benar-benar berpikir aku namja.' Hagi mengangkat bahunya masa bodoh.
"Aku juga bersyukur bertemu dengan abeoji, tapi bolehkan aku tahu nama tuan siapa? Maaf jika pertanyaan saya lancang." Namja itu menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, namaku Kyuhyun, Kim Kyuhyun." Sekali lagi Hagi mengerutkan keningnya berpikir, dia tidak asing dengan nama itu.
"Saya Hagi tuan." Kyuhyun mengangguk pelan.
"Iya paman Ma juga sudah memberitahukan namamu tadi. Sekarang boleh kan aku bertanya padamu?" Hagi mengangguk sebagai jawaban.
"Darimana kau belajar bermain pedang? Aku lihat caramu mengalahkan orang-orang tadi. Aku yakin kau bukanlah amatiran." Hagi tersenyum kecil.
"Aku berlatih pedang sudah dari kecil tuan, ayahkulah yang mengajariku." Sekali lagi Kyuhyun mengangguk paham. Hagi mulai merasakan jika Kyuhyun pasti akan kembali menanyainya, dia tidak bisa bercerita lebih jauh lagi. Jika tidak Kyuhyun pasti curiga.
"Maaf tuan sepertinya saya ingin tidur, bagaimanapun besok kita sudah mulai harus kembali berjalan ke ibu kota." Kyuhyun yang kembali ingin bertanya mengurunkan niatnya lalu mengangguk kecil, kesempatan itu langsung Hagi ambil untuk menarik selimut tipisnya lalu berusaha tertidur.
Bersambung
__ADS_1