
Kantor Park Jung so nampak berantakan sekarang, beberapa kali Jung so hanya bisa mengerutkan keningnya bingung lalu menggelengkan kepalanya tersenyum geli ketika melihat Hagi yang frustasi karena tidak menemukan apa yang ia cari, dan itu sudah Hagi lakukan sejak pagi dan ini sudah tengah hari tapi sepertinya apa yang Hagi cari tidak ia temukan. Hagi akhirnya meletakan kepalanya di atas dokumen terakhir yang bisa Jung so berikan, nama yang ia cari tidak juga di temukan.
"Sebenarnya data siapa yang kau cari? Kau sampai seperti ini eoh?" Jung so mendekat lalu mengelus kepala Hagi kasihan, masih tertunduk di atas meja kerjanya. Hagi menatap wajah Jung so lelah, tapi entah kenapa ekspresi Hagi malah terlihat lucu di mata Jung so. Selama ini Hagi memiliki wajah yang tegar dan terkontrol, jadi menyenangkan rasanya bisa melihat sisi lain Hagi seperti ini menurut Jung so.
Dengan gemas Jung so mencubit pipi Hagi pelan, membuat Hagi mengerang protes.
"Ah Oraboni!!!" Kali ini Hagi mempoutkan bibirnya kesal dan lagi-lagi membuat Jung so tersenyum geli.
Satu lagi hal paling menyenangkan saat bersama Hagi, Jung so bisa melihat sisi perempuan Hagi jika gadis itu memanggilnya Oraboni. Dan kadang juga sedikit kesal jika gadis ini memanggil nya saat latihan, karena Jung So selalu kalah dari Hagi.
Awalnya Hagi masih sering memanggilnya Tuan, tapi seiring berjalannya waktu apa lagi Hagi dan Jung so sering latihan bermain pedang bersama, membuat Hagi akhirnya mau memanggilnya sama seperti Hyunmie memanggil Jung so.
"Itu karena kau lucu sekali. Jadi data siapa uang kau cari?" Hagi menghelah nafas pelan. Dia tidak mungkin bilang pada Jung so kalau dia sedang mencari nama wanita yang seharusnya menikah dengan calon tunangan adiknya.
Setelah malam tadi Hagi mengetahui semuanya, akhirnya mau tidak mau Hagi harus kembali turun tangan untuk mencari tahu dimana sebenarnya nenek buyut yang ada dalam catatan turun temurun keluarga Kim, karena jika Kim jong Seo tetap menikah dengan Hyunmie sudah pasti masa depan akan berubah dan Hagi sudah jelas tidak akan lahir. Keberadaannya akan di anggap tidak pernah ada begitupun ibunya. Membayangkan dirinya menghilang membuat Hagi kembali memiliki semangat untuk mencari dokumen tentang nenek buyutnya.
"Apa hanya ini dokumen tentang orang-orang bermarga Shin? Apa tidak ada lagi?" Jung so menatap Hagi heran tapi kemudian menggeleng pelan.
"Ini sudah semua jika kau bertanya tentang para bangsawan." Hagi mengigit bibirnya gelisah, dalam catatan yang ibunya selalu baca, nenek moyangnya adalah salah satu bangsawan yang sangat berpengaruh jika bukan bangsawan lalu apa? Seakan menemui jalan buntu Hagi kembali menundukkan kepalanya frustasi.
Lagi-lagi Hagi harus menyelesaikan masalah disini sendirian, padahal baru kemarin Hagi mendapatkan masalah yang bahkan belum selesai, dan sekarang dia kembali harus berurusan dengan masalah yang bersangkutan dengan nyawanya. Bahkan mungkin sepertinya inilah alasan paling penting kenapa ia bisa kembali ke era ini.
Melihat Hagi kembali seperti itu membuat Jung so semakin penasaran, awalnya Jung so kira Hagi mencari data mungkin karena ada misi rahasia penting yang harus Hagi lakukan, itu kenapa Jung so tidak bertanya, tapi entah kenapa rasanya kali ini Hagi sedikit berbeda. Setidaknya itulah yang Jung so rasakan sejak tadi.
"Jika kau tidak ingin memberitahukan alasannya, setidaknya mungkin aku bisa membantumu jika kau beritahu data siapa yang kau cari." Hagi menatap Jung so ragu, sebenarnya dia mau saja menyebutkan siapa orang yang ia cari, tapi jika semua sesuai prediksi Hagi, orang pertama yang curiga tentang semua yang terjadi pasti Jung so.
"Ini berat Oraboni, aku hanya tidak ingin membuat oraboni bingung nantinya." Jung So menghela nafas pelan, Hagi selalu menanggung semua sendirian. Gadis ini jarang sekali mau bersandar pada seseorang, Dia terlalu tegar untuk ukuran seorang perempuan.
"Baiklah, katakan saja jika kau perlu bantuan lain, aku pasti membantu. Tapi dokumen yang aku berikan sudah semua." Hagi menghelah nafas pelan lalu mengangguk kecil, seolah mengingat sesuatu Hagi kembali bersemangat.
"Bagaimana dengan data keluarga calon putri mahkota? Apa Oraboni menyimpannya?" Jung so menghelah nafas pelan.
"Jika kau bertanya sebulan yang lalu, aku mungkin masih memilikinya, tapi sekarang data itu sudah di pindahkan ke dalam istana karena akan dijadikan dokumen kerajaan." Walaupun sedikit kecewa, Hagi merasa masih memiliki secercah harapan. Walaupun Hagi masih belum tahu bagaimana caranya membuat para buyutnya menikah. Setidaknya Hagi harus tahu dari keluarga mana nenek buyutnya datang.
"Baiklah, mungkin aku bisa minta tolong pada seseorang di istana. Terimakasih oraboni, aku harus pergi ke suatu tempat sekarang." Jung so menghelah nafas lalu mengelus kepala Hagi sayang dan tersenyum kecil.
"Pergilah, aku tahu kau sibuk." Hagi tersenyum kecil lalu pergi meninggalkan kantor Jung So, menyisakan rasa penasaran yang semakin besar untuk Jung so.
"Apa sebenarnya yang kau sembunyikan Hagi_ya?" Gumam Jung so pelan, entah mengapa dia begitu peduli pada Hagi. Semenjak pertama kali bertemu di kantornya saat itu Jung so langsung tertarik pada Hagi, bukan jenis tertarik pada lawan jenis, tapi seperti ada hal menarik yang di miliki Hagi dan membuat Jung so selalu penasaran. Hingga saat ini Jung so hanya tahu jika Hagi adalah gadis yang sangat cerdas, mungkin bisa di katakan jenius, sayang dia perempuan karena jika Hagi pria dia bisa jadi rebutan para mentri.
****
__ADS_1
Hagi menghelah nafas pelan saat orang di hadapannya menggeleng pelan, ternyata sulit mencari tahu data yang sudah masuk ke istana, bahkan beberapa kasim yang ia kenal tidak berani jika itu sudah menyangkut data anggota kerajaan. Harapan Hagi satu-satunya memang hanya keluarga itu, karena tidak mungkin jika nenek moyangnya berasal dari kelas menengah kebawah.
"Sebenarnya dia ada dimana?" Hagi menggerutu kesal, dia masih harus menyelesaikan misi rahasia dari Raja sekarang. Tapi dia sendiri tidak punya banyak waktu untuk mengagalkan pernikahan Kim Jong Seo terlebih bagaimana caranya saja Hagi masih belum tahu.
"Kenapa kau terlihat stres begitu?" Ucapan itu sontak membuat Hagi berbalik menatap orang yang entah sejak kapan sudah ada di sampingnya.
"Kyuhyun_ssi..." Hagi menatap Kyuhyun dalam lagi-lagi Hagi sangat sulit melepas pandangan dari Kyuhyun, mata Kyuhyun yang segelap malam kadang membuat Hagi tenggelam tidak sadar.
"Wae? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" Seperti biasa, Kyuhyun selalu sadar lebih dulu ketika mereka saling bertatapan lalu berusaha mencairkan suasana yang mendadak canggung.
"Anni, gwenchanayo." Hagi kembali berjalan sambil menghela nafas pelan yang semakin membuat Kyuhyun penasaran perlahan Kyuhyun mengikuti Hagi di sampingnya.
"Apa begituĀ berat?" Hagi kembali menatap Kyuhyun bingung yang kali ini masih menatap lurus kedepan, merasa tidak ada jawaban Kyuhyun menghentikan langkahnya, membuat Hagi juga ikut berhenti berjalan.
"Aku bertanya apa misi ini berat untukmu? Aku tidak pernah melihatmu seletih ini." Hagi tersenyum samar, sepertinya kehidupan di era ini memang mulai memberi tekanan untuk Hagi, walaupun masih bisa menjalaninya Hagi tidak tahu sampai kapan dia bisa bertahan setiap nyawanya yang di jadikan taruhan.
"Sedikit." Hagi kembali berjalan, dia tidak suka membuat siapapun cemas padanya. Terlebih namja yang ada di sampingnya. Kyuhyun menggenggam tangan Hagi membuat Hagi kembali menghentikan langkahnya lalu menatap Kyuhyun bingung.
"Kau mau aku mengatakan yang sebenarnya pada Yang mulia? Aku tidak mau membebanimu dan bersikap egois sementara kau kebingungan." Kali ini Hagi tersenyum sendu, dia bisa merasakan Kyuhyun mengkhawatirkannya dan entah kenapa itu membuat hatinya menghangat. Hagi menggenggam kedua tangan Kyuhyun pelan lalu menatap Kyuhyun yang semenjak mendapatkan senyuman dari Hagi terpaku bahkan kini nampak menegang di tempat.
"Aku tahu, tapi biarkan aku menyelesaikannya anggap ini balasan dariku karena kau merekomendasikan aku sebagai pengawal Yang Mulia, juga ucapan terimakasihku karena kau selalu mendukungku selama ini." Mendengar itu Kyuhyun menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Anni, kau pantas mendapatkannya. Jadi kau tidak perlu terimakasih. Lagipula tanpa bantuanku aku yakin kau bisa mendapatkan tempatmu sekarang." Hagi kembali tersenyum kecil, Kyuhyun tidak akan mau mengalah jika bicara tentang hal ini akhirnya Hagi hanya bisa mengangguk pelan, perlahan Hagi melepas genggaman tangannya dari Kyuhyun lalu kembali berjalan keluar dari istana. Sementara Kyuhyun dia masih menatap punggung Hagi dari belakang lalu menatap kedua tangannya yang merasa kehilangan ketika Hagi lepaskan.
Kyuhyun dan Hagi berjalan ke rumah bordir nyonya Young ae setelah sebelumnya kembali terjadi perdebatan kecil antara Kyuhyun dan Hagi yang tentu saja selalu dimenangkan oleh Kyuhyun.
"Aku kan sudah bilang aku sedang istirahat dan lagi Yang mulia ingin aku melihat persiapan di tempat nyonya Young ae sudah seperti apa, mengingat kemarin ada kejadian yang merusak persiapan." Kyuhyun masih berusaha memberikan penjelasan ketika Hagi memasang wajah sebal. Akan sulit bagi Hagi jika Kyuhyun masih ikut, dia harus melakukan sesuatu untuk menangani kejadian kemarin. Tapi jika ada Kyuhyun, Hagi takut Kyuhyun semakin ikut campur dengan misinya.
"Baiklah aku hanya akan sebentar saja disana. Kau ini pelit sekali, aku bukannya ingin mengambil misimu." Kyuhyun bergumam kecewa, padahal sebenarnya dia hanya ingin lebih lama saja dengan Hagi, mengingat misi kali ini membuat Kyuhyun yang selama ini menjadi patner Hagi tidak bisa sesering dulu bersama-sama. Anggap saja Kyuhyun rindu dengan patnernya, iya hanya itu.
Hagi hanya bisa memutar matanya sebal, Kyuhyun sedikit aneh belakangan ini. Dia terkesan seperti protektif pada Hagi, dia masih ingat kemarin saat Nam Young berjalan bersisian dengannya tanpa bersalah langsung merangkul Hagi dan membawa Hagi sedikit menjauh dari Nam Young.
"Baiklah hanya sebentar? Kau juga lebih baik kembali ke kediamanmu." Hagi berjalan lebih cepat ketika rumah Bordir sudah dekat, sementara Kyuhyun kembali menggerutu kecil kesal. Tapi tetap mengekor dari belakang.
Hagi langsung menemui Nyonya Young Ae di halaman belakang, disana nampak beberapa Giseng baru yang di berikan arahan secukupnya untuk mengganti tarian yang seharusnya di bawakan oleh para ginseng yang masih di rawat karena gatal-gatal.
"Ah Kau sudah datang Hagi?" Nyonya Young Ae menghentikan arahannya lalu menyuruh para giseng beristirahat.
"Bagaimana? Apa mereka bisa melakukannya?" Nyonya Young Ae mengangguk kecil tapi nampak rasa cemas di wajahnya.
"Yang aku khawatirkan adalah kau Hagi." Ucapan nyonya Young Ae sontak membuat Kyuhyun mengerutkan keningnya bingung.
__ADS_1
"Maksudnya apa?" Kyuhyun bertanya tapi nyonya Young ae langsung terdiam ketika melihat sinyal dari Hagi untuk diam. Hagi berbalik lalu menatap Kyuhyun sebal.
"Kau masih belum pergi? Bukankah kau sudah lihat persiapan nya?" Kyuhyun menembus kesal lalu berbalik tanpa berkata apa-apa.
Tapi langkahnya tertahan ketika Kyuhyun dengan jelas melihat seseorang yang kini tengah mengarahkan sebuah panah pada nyonya Young ae. Sebelum sempat memperingatkan panah itu sudah melesat lebih dulu kearah nyonya Young ae, Hagi yang menyadari sebuah panah mengarah ke arah nyonya Young ae langsung memasang badan karena memang sudah tidak sempat untuk menghindar.
"HAGI_SSI!!!" teriakan nyonya Young ae langsung membuat Kyuhyun berlari kearah Hagi sebelum Hagi terjatuh ketanah.
Para Ginseng berteriak histeris ketika melihat Hagi terkulai lemas di pangkuan Kyuhyun, sedangkan Nyonya Young ae hanya bisa menangis sedih. Kyuhyun sempat melihat orang yang memanah Hagi di kejar oleh Nam young. Sekarang prioritasnya adalah Hagi.
"Hagi_ya.." Kyuhyun menatap Hagi yang menahan sakit di perut nya tapi dengan sisa tenaganya Hagi mencabut panah yang bersarang di perut nya.
"Yaak, apa yang kau lakukan." Kyuhyun berteriak keras ketika darah keluar dengan cepat dari perut Hagi membuat wajahnya semakin pucat pasif.
"Jangan khawatir, orang itu sepertinya tidak berniat membunuh. Lukaku tidak terlalu dalam."
"YAKKK AISSH." Kyuhyun semakin marah ketika Hagi mengatakan kata ajaibnya 'jangan khawatir'
Kyuhyun langsung membopong Hagi dalam pelukannya lalu kembali berteriak pada semua orang yang kini hanya sibuk menjerit dan menonton.
"Cepat panggilan tabib sekarang juga. Nyonya tolong tunjukan jalan untukku, aku perlu kamar untuk Hagi." Nyonya Young ae yang masih menangis mengangguk cepat.
Kyuhyun mulai membaringkan tubuh Hagi di kamar Nyonya Young ae, tepat sebelum Kyuhyun membuka baju Hagi seorang tabib datang bersama nyonya Young ae.
"Kyuhyun_ssi sebaiknya kau menunggu di luar, biar aku yang membantu tabib disini." Kyuhyun menggeleng cepat.
"Tidak, aku ingin melihatnya disini." Ucapan Kyuhyun sontak membuat kesadaran Hagi yang sempat menghilang datang kembali, dengan perlahan Hagi memegang lengan Kyuhyun.
"Jebal Kyuhyun_ssi, biarkan tabib bekerja, jika kau tetap disini tabib tidak akan bisa bekerja. Betul kan Tabib?" Tabib yang kini masih di samping nyonya Young ae menatap nyonya Young ae sesaat lalu menatap Kyuhyun bijak.
"Memang akan lebih baik tuan menunggu di luar." Kyuhyun menggeram marah, lalu menatap Hagi yang kembali meringis kesakitan. Sambil menutup mata Kyuhyun berbicara pelan.
"Baiklah aku menunggu di luar, jika perlu sesuatu tolong panggil aku."
"Baik tuan." Kyuhyun siap melangkah keluar ketika Hagi menarik tangannya pelan.
"Tolong, jangan bilang pada siapapun tentang keadaanku, setidaknya sampai acara penyambutan selesai." Kyuhyun mengetatkan rahangnya marah.
"Kau, di saat seperti ini masih mengurusi misimu? Lebih baik berusahalah untuk hidup. Jika tidak lihat saja nanti." Kyuhyun melangkahkan kakinya keluar kamar sambil mengumpat kasar lalu mulai berjalan mondar mandir sambil mengucapkan kata-kata yang bagai mantra untuknya.
"Dia pasti baik-baik saja, dia pasti baik-baik saja Hagi orang yang kuat."
__ADS_1
bersambung