Timeless Love

Timeless Love
Reason


__ADS_3

Hagi tetap diam dan menjawab seperlunya ketika lagi-lagi pria di hadapannya bertanya tentang kegiatannya selama ini, walaupun Hagi malas membagi cerita tentang dirinya pada orang asing, dengan sedikit terpaksa Hagi tetap membaginya karena menghormati teman kakaknya Yesung.



Cho Kyuhyun, nama pria ini sedikit Hagi ingat tapi lagi-lagi Hagi tidak ambil pusing dia hanya harus menunggu Yesung dan bertanya langsung padanya yang mungkin sudah setengah jam lalu ia tunggu di cafe tempat dia dan teman kakaknya menunggu.



"Permisi sebenarnya kemana kakakku itu? aku sudah berusaha menelponya tapi kenapa tidak tersambung?" kali ini Hagi berusaha bertanya ketika sudah mulai bosan menjawab pertanyaan pria di hadapannya yang mulai membuatnya risih, juga mulai sebal menuggu oppanya itu.



"Mungkin hanya 5 menit lagi, kau harus maklum tadi kakakmu bilang dia tiba-tiba ada tamu mendadak jadi wajar jika sedikit terlambat." Hagi berdecak sebal, sebentar apanya jika di hitung dari dia menunggu di depan rumah hingga sekarang sudah  satu jam setengah dia menunggu kakaknya itu.



"Kalau tau lama seperti ini lebih baik aku gunakan waktuku tadi untuk tidur, ck dia lupa apa malam nanti aku masih harus bergadang bersama ibu." Hagi menggerutu sebal, walapun pelan pria di hadapannya masih bisa mendengarnya.



"Kau bosan ya bersamaku?" Kyuhyun tersenyum miris kearah Hagi, membuatnya merasa tidak enak padahal sudah sejak tadi Hagi berusaha menjaga sikapnya, mengingat orang di hadapannya adalah sahabat Yesung. Hagi bukanlah gadis yang pandai tersenyum manis apa lagi pada orang asing, setidaknya sampai Hagi tau siapa orang yang ada di hadapnya. Dia tidak ingin membuat oppanya marah atau malu dengan sikapnya pada pria ini.



"Mian ini bukan karena aku bosan padamu Cho Kyuhyun_ssi, aku hanya kesal saja pada oppaku dia tahu betul aku tidak setiap hari memiliki waktu luang seperti ini. padahal ada yang ingin kutanyakan padanya secara langsung, kami jarang sekali bisa bicara dengan santai seperti ini." pria itu tersenyum tipis, dia tahu Hagi bukanlah gadis bebas seperti kebanyakan wanita di Seoul, dia sudah mendengarnya dari Yesung betapa tidak normalnya kehidupan saengnya itu.



Hanya saja gadis ini selalu seperti ini jika bertemu dengannya, gadis ini selalu Lupa dan menganggapnya orang asing, walaupun seperti yang Yesung bilang saengnya itu jenius tapi satu kekurangannya, dia tidak akan mengingat orang yang memang tidak ingin dia ingat. Dan itulah yang membuatnya sedih, gadis ini memang tidak ingin mengingatnya.



"Aku pikir kau bosan bicara padaku, maaf aku memang tidak pintar mencairkan suasana. Ah itu oppamu!!" Hagi membalik badannya ketika pria itu menujuk seseorang di belakangnya, Yesung melambaikan tangan pada kedua orang yang memandangnya dengan cara yang berbeda, sedikit meringis ketika menatap Hagi yang menatap Yesung dengan tatapan maut andalannya.



Hagi menatap Yesung dengan tajam hingga duduk, menyilangkan tangan Hagi berusaha menahan diri untuk tidak mengamuk, Yesung menggaruk tengguknya tidak gatal, dia tau dia terlambat dan Hagi pasti sedang marah.



"Emh... kalian sudah pesan makanan?" Yesung berusaha mencairkan suasana mencekam yang menguar dari tubuh saengnnya, tapi sama sekali tidak ada jawaban.



"Ah.. baiklah aku yang memesan saja, aku sudah lapar sekali, tamu menyebalkan itu bahkan tidak mengizinkan aku minum, Chakman!!" Yesung kembali berusaha tidak memperdulikan saengnya dan mulai memanggil waiter, tidak menyadari Hagi yang menghelah nafas ketika mengatakan oppanya belum makan, Hagi tidak suka oppanya telat makan.



"Tidak usah memesan makanan untukku dan temanmu oppa, kita sudah makan duluan, kau terlalu lama." Yesung menatap Kyuhyun bertanya dan hanya di balas anggukan dari namja itu.



"Baiklah... jadi kau sudah tidak marahkan pada oppa?" Yesung mencoba peruntungan membuat Hagi memutar matanya sebal tapi mengangguk kecil. Yesung tersenyum senang lalu mulai memesan makanannya.



"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" Yesung langsung to the poin pada saengnya, tidak ada basa basi mengingat dia sendiri yang membuang kesempatan untuk berbicara dengan saengnya lebih lama. Hagi mendengus sebal tapi melihat jam di tangannya Hagi menghelah nafas.



"Pulang jam berapa nanti malam?" Yesung langsung paham, saengnya ini tiak ingin berbicara jika ada Kyuhyun.



"Sebenarnya aku sibuk, tapi aku akan pulang sebelum pelajaran Gayageummu berakhir." Hagi mengangguk kecil, oppanya langsung mengerti apa yang dia inginkan.



"Kosongkan jadwalmu sabtu depan, aku ada kompetisi memanah kau harus datang oppa." Yesung membulatkan mata terkejut.



"Lagi? bukannya bulan kemarin kau sudah ikut kejuaran nasional?" Hagi memutar matanya sebal.



"Kau seperti tidak tau seperti apa ayah kita oppa, ugh padahal aku harus mengurus beberapa hal tentang magangku di Samsung Hospital." Yesung menghembuskan nafas lemah, dia tahu saengnya ini sedikit kewalahan menghadapi keras sikap appa mereka, tapi dia tidak bisa melakukan apapun.

__ADS_1



JIka bisa dia ingin menggantikan posisi saengnya di berbagai kejuaraan yang ayahnya wajibkan untuk Hagi, tapi appanya selalu bilang kalau tugas Yesung hanyalah mengurus perusahaan.



"Kau tahu oppa tidak bisa berbuat apapunkan? bersemangatlah, masalah magangmu akan oppa bantu, lagi pula setau oppa bahkan kau sudah tidak perlu magang agar mendapatkan nilai baguskan? kau bahkan sudah mendapatkan kesempatan melanjutkan S2 di Harvad sebelum S1mu selesai." Hagi menghelah nafas pelan, apa yang di katakan oppanya memang benar, dia salah satu jenius yang di miliki oleh Korea dan dunia, jika bukan karena tradisi keluarga, Hagi mungkin sudah ada di NASA atau FBI dan organisasi lain ternama yang banyak mengincar keahliannya.



"Ara, sudahlah aku pulang, sebentar lagi aku harus berlatih pedang dengan appa, cih padahal aku sudah bilang tanganku sedang sakit tapi ayah tidak peduli." Hagi kembali menggerutu lalu mulai berdiri dari kursi.



"Tanganmu masih sakit?" Hagi mengangguk kecil, Yesung menarik tangan saengnya lalu sedikit menggulung lengan kemeja putih saengnya, ada pengaman lengan disana, membuat Yesung menatap Hagi sedih.



"Kau tidak ingin oppa antar?" Hagi menggeleng pelan. lalu menarik tangannya ketika sahabat oppanya juga melihat tangannya.



"Tidak kaukan belum makan, dan jika menunggu selesai makan, aku takut ayah mengamuk, AH Kyuhyun_ssi mian aku mengabaikanmu sejak tadi, terima kasih sudah menjemput dan juga menemaniku makan siang, selamat siang." Hagi membungkuk siap pergi ketika Kyuhyun mengenggam tangannya.



"Aku saja yang mengantarmu, aku yang menjemputmu aku juga yang harus mengantarmu pulang." Hagi melepas tangan Kyuhyun lalu menggeleng pelan.



"Tidak usah terimakasih, jika kau mau menolongku bisakah kau temani oppaku makan? dia tidak suka makan sendirian." Hagi membungkuk lalu melenggang pergi, meninggalkan Kyuhyun yang tidak bisa berkata apa-apa.



"Sebaiknya memang kau disini saja, saengku pasti sedang ingin sendiri sekarang." Kyuhyun kembali duduk lalu menghelah nafas kecil, sudahlah lagi pula dia cukup bersyukur kali ini, karena dia sudah bisa berbicara banyak dengan Hagi hari ini, karena biasanya mereka hanya saling sapa saja.



____




Hagi kembali melamun sambil mengelus tangannya yang masih terasa sakit, Tuan Kim kembali marah ketika Hagi tidak bisa mengimbangi permainan pedangnya, padahal Hagi sudah bilang jika tangannya sedang terkilir, tapi appanya itu tidak peduli dan malah membentaknya lalu pergi begitu saja. Nyonya Kim menghelah nafas ketika lagi-lagi Hagi tidak mendengarkan ucapaannya tentang silsilah keluarganya.



"Sudahlah, jangan kau pikirkan apa kata appamu itu, dia hanya sedikit resah belakangan ini jadi membuatnya cepat marah." Nyonya Kim mengelus lembut rambut panjang Hagi, jawaban ibunya itu membuat Hagi mengerutkan kening, karena sama sekali tidak tau hal apa yang membuat appanya marah seperti tadi.



selama ini eommanya selalu bercerita apapun yang menyangkut persoalan Tuan Kim appanya, makanya dia sedikit heran ketika ibunya tidak bilang alasan appanya resah belakangan ini.



"Kenapa ibu tidak mau bilang padaku?" Nyonya Kim tersenyum lemah, membuat Hagi semakin binggung.



"Nanti kau akan tau juga, sudahlah sepertinya kita percepat saja pelajaran malm ini, ayo kita mulai dengan pelajaran GayaGeummu." Hagi mengangguk kecil, dia tidak akan memaksa jika ibunya tidak ingin bercerita.



Malam itu Hagi selesai lebih cepat dari biasanya, membuatnya lebih ada waktu untuk mengerjakan tugas kuliah, beberapa kali Hagi terganggu dengan bunyi ponselnya, menatap layar ponsel Hagi  tersenyum senang ketika pesan dari orang yang sejak dua hari lalu ia nanti datang.



"hagi_yaaaaaa aku merindukanmu... hey aku membelikanmu baju barcelona yang kau pesan, bagus tidak?"



Hagi membuka gambar yang terkirim beserta pesan yang sampai tadi, sebuah baju dengan tulisan Barcelona berwarna hitam terpampang di hadapannya. senyumnya semakin mekar ketika gambar selanjutnya dikirim oleh orang yang mengirimi pesan sejak tadi. gambar langit malam yang di hujani beberapa meteor.



"agrrrrh aku ingin melihatnya langsung."

__ADS_1



Hagi membalas pesan dengan raut wajah yang sedikit iri, dia sangat suka Asteroid, dan orang yang mengiriminya pesan sangat tahu apa yang dia sukai.



"HEHEHE makanya jangan sibuk kompetisi terus, tapi jangan khawatir aku akan memberikanmu oleh-oleh yang lebih keren."



Hagi menghelah nafas sebal tapi kemudian kembali tersenyum.



"UGH Nona Park kau menyebalkan, dengar jika sovenir yang kau bawa mengecewakan jangan harap aku restui hubunganmu dengan oppaku."



Hagi tertawa lepas ketika membaca balasan dari sahabatnya itu.



"yakkkkk kau jahat sekali adik ipar, aku kesini juga karenamu ingat iya. aku ingin ke paris tapi demi kau aku ke barcelona. ish tidak tau di untung kau adik ipar durhaka."



Hagi tersenyum kecil setelah tawanya membuat perutnya sakit, iya dia tentu ingat ketika sahabatnya Park Hyunmie ingin berangkat ke Paris, dengan wajah memelasnya Hagi memintanya untuk pergi ke barcelona hanya untuk mewakili Hagi yang ingin melihat langsung hujan meteor yang kebetulan hanya terjadi 7 tahun sekali di Barcelona. Hagi tentu saja tidak bisa pergi, sekalipun keluarganya mampu, appanya tidak pernah mengizinkan Hagi pergi, alasannya selalu sama,



"Kau tidak boleh pergi sebelum berumur 20 tahun"



Hagi benar-benar kesal dengan semua aturan appanya, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.



"maaf.. terimakasih.. kau teman terbaikku,,, cepat pulang yesung oppa merindukanmu."



Hagi memutar bola matanya lalu terkekeh kecil ketika menerima balasannya.



"bilang saja kau yang merindukanku, kalau yesung oppa sudah pasti merindukanku."



Hagi menatap jam di ponselnya, sebentar lagi oppanya datang dia harus menyelesaikan tugas kuliahnya dulu agar lebih leluasa berbicara dengan oppanya."



"baiklah aku harus belajar lagi, besok aku akan lihat apa yang kau bawa untukku ke korea,"



"jangan lupa hubungi oppaku, dia akan merajuk kalau kau hanya mengirimiku pesan"



Hagi memutar matanya sebal mendapat jawaban dari Hyunmie



"selamat berjuang, dan oh tenang saja mana mungkin aku melupakan suami masa depanku dia sudah ku kirimi pesan dari pertama kali aku medarat di barcelona hehehehe."



Hagi menyimpan ponselnya ke ranjang dan berusaha kembali fokus pada laptop di mejanya, dia tidak akn konsentrasi jika ponsel masih ada di sampingnya.



bersambung


__ADS_1



__ADS_2