Timeless Love

Timeless Love
Lady Park Hyunmie


__ADS_3

Siang mulai berganti malam, perlahan matahari berganti menjadi rembulan. Beberapa jalan mulai sepi karena semua berjalan di jalan utama. Tapi tidak membuat Hagi merasa takut, berbeda dengan Bibi Ma yang sejak tadi merangkul lengannya.



Setelah berbicara panjang lebar dengan Nyonya Young Ae, bibi Ma akhirnya mendapatkan obat yang bisa membuat luka di wajah Hagi hilang walaupun mungkin akan sedikit lebih lama. Hagi yang awalnya berpikiran negatif tentang rumah bordir milik sahabat bibi Ma berubah pikiran ketika pemiliknya yang begitu cantik dan ramah mau dengan senang hati memberi obat padanya.



Belum lagi giseng yang ada di sana semua memperlakukan Hagi dengan ramah, ketika bibi Ma bilang kalau Hagi adalah anak angkatnya.



"Sejak kapan eomma berteman dengan Nyonya Young ae?" Hagi berusaha mencairkan suasana mencekam yang di rasakan bibi Ma. Bibi Ma masih melihat ke arah kanan dan kirinya lalu menatap Hagi.



"Kami saling mengenal sejak kecil, tapi Young ae beruntung di sukai oleh seorang mentri dari pihak Noron dari kecil. Iya jadilah dia seperti sekarang." Hagi mengangguk paham.



Beberapa kali Hagi nampak menahan tawanya setiap ada suara yang membuat bibi Ma takut, padahal kemarin waktu di perjalanan dari Jeju ke Hanyang bibi Ma tidak setakut ini.



"Apa eomma setakut itu?" Penasaran Hagi mulai bertanya.



"Di Hanyang banyak rakyat kelaparan karena pajak yang semakin tinggi, jika mereka melihat seseorang dari kelas menengah keatas tanpa pengawalan mereka bisa nekat merampok kita. Apa lagi kita baru saja keluar dari rumah bordir Nyonya Young ae, orang-orang pasti berpikir kita dari kelas menengah." Hagi tersenyum lalu mengangguk paham.



"Eomma tenang saja, ada aku yang akan menjaga eomma. Eomma tidak lupakan jika aku akan jadi pengawal mentri Park?" Bibi Ma nampak berpikir lalu mulai menghela nafas sedikit tenang.



"Ah, eomma lupa. Tapi sebaiknya kita pulang sekarang kau sudah terlalu lama pergi." Hagi mengangguk patuh dan diam saja ketika bibi Ma mulai menarik tangannya dan mempercepat langkah mereka.



Tapi kegaduhan di depan membuat bibi Ma langsung menarik Hagi untuk bersembunyi.



"Ada apa eomma?" Bibi Ma menatap Hagi cemas lalu menunjuk seseorang di depan sana.



Tatapan Hagi langsung tertuju pada seseorang yang kini sedang di jaga oleh beberapa pengawal pribadinya, beberapa sudah tergeletak di tanah karena di serang oleh 3 orang yang menggunakan cadar hitam.



"Eomma mengenal orang itu?" Hagi bertanya ketika bibi Ma semakin cemas ketika lagi-lagi ada yang tumbang oleh orang-orang bercadar hitam.



"Eomma pernah lihat orang yang kini sedang di jaga oleh pengawalnya itu di rumah kediaman mentri Kim, sepertinya dia orang penting. Kita tidak bisa diam saja, orang itu dalam bahaya." Hagi mengangguk lalu kembali menatap kedepan, di lihat dari teknik mereka bermain pedang, orang-orang ini jelas bukan orang biasa, Mereka punya kemampuan.



"Eomma begini saja, eomma pulang sekarang minta bantuan pada orang di kediaman mentri Park. Aku disini akan berusaha semampuku membantu mereka." Bibi Ma menggeleng tidak setuju.



"Anni, ini terlalu berbahaya. Kita pulang sekarang lalu meminta bantuan." Hagi menghelah nafas pelan.



"Kalau aku tidak membantunya sekarang, orang itu bisa mati eomma. Lagipula aku bukan yeoja lemah eomma ingatkan." Bibi Ma nampak ragu tapi kembali menatap orang di depan sana.



"Baiklah eomma pergi, eomma akan minta bantuan datang secepatnya." Bibi Ma langsung berlari meninggalkan Hagi. Lalu Hagi mulai maju ketika semua pengawal sudah tumbang menyisakan Namja yang kini nampak ketakutan tidak bisa melawan.



"Yak!!! Apa begitu sikap seorang petarung pedang? Menyudutkan seseorang yang jelas tidak bisa melawan." Ucapan Hagi sukses membuat ketiga orang bercadar hitam menoleh padanya, Hagi sudah memegang pedang salah satu pengawal yang sudah tumbang lalu berdiri di hadapan namja itu.



Walaupun Hagi tak tahu tangannya sudah bisa bergerak bebas atau tidak, setidaknya dia harus mencoba menolong orang di hadapannya.



Tanpa aba-aba Hagi mulai menyerang duluan, sepeti perkiraannya ketiga orang ini memang memiliki kemampuan bermain pedang, tapi jika di bandingkan dengan Hagi, orang-orang di hadapannya belum ada apa-apanya. Terbukti ketiganya nampak tersudut ketika Hagi berhasil melukai tangan dan kaki mereka.



"Sebaiknya kalian pergi sebelum aku membunuh kalian." Tanpa banyak berpikir ketiga nya langsung berbalik dan pergi begitu saja. Sesaat Hagi meringis pelan ketika darah mengaliri pedang yang dia pakai, seperinya luka kemarin yang memang belum kering kembali terbuka.



Perlahan Hagi mendekat kearah orang yang masih nampak ketakutan dan berjalan mundur ketika Hagi mendekat.



"Jangan takut, saya tadi menolong anda tuan. Saya pelayan dari kediaman mentri Park tuan." Namja itu mulai menarik nafas lega lalu mengangguk paham.



"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Tapi tanganmu terluka kau baik-baik saja?" Namja itu menatap tangan Hagi yang masih berdarah dengan cemas.



"Saya baik-baik saja tuan. Kalau boleh saya tahu akan pergi kemana tuan sekarang?"



"Aku sedang dalam perjalanan menuju kediaman mentri Kim, tidak menyangka akan di serang ditengah jalan sepeti ini." Hagi mengangguk paham lalu menatap para pengawal yang kini masih tergeletak di tanah.



"Kita tidak bisa menunggu bantuan disini terlalu lama, sebaiknya saya antar tuan ke kediaman mentri Kim sekarang. Saya takut orang-orang tadi datang lagi dengan jumlah lebih banyak, lagi pula para pengawal tuan hanya pingsan saja, tidak ada yang terluka parah." Namja itu mengangguk paham. Lalu menatap Hagi memperhatikan.



"Baiklah, kita berangkat sekarang." Hagi mulai berjalan duluan di ikuti oleh namja tadi.



Beberapa kali Hagi menatap ke kiri dan ke kanan lalu menatap arah belakangnya, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.



"Chogi, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Namja itu bertanya membuat Hagi berhenti sebentar lalu mengangguk pelan.



"Iya silahkan tuan."



"Darimana kau belajar bermain pedang? Kau bahkan bisa mengalahkan orang-orang yang menyerang pengawalku dengan mudah. Mereka semua adalah orang-orang terbaikku. Tapi aku bisa melihat permainan pedangmu berada jauh di atas para pengawalku" Hagi nampak berpikir tapi mulai berjalan lagi lebih pelan sekarang.


__ADS_1


"Saya belajar dari ayah saya tuan, belum lagi saya juga punya beberapa guru di bidang pedang." Namja itu mengerutkan keningnya binggung.



"Kau bilang kau pelayan dari mentri Park bukan? Tapi kau bisa memiliki beberapa guru bermain pedang?" Hagi nampak tersenyum bingung.



"Itu karena sebelumnya saya pedagang keliling bersama ayah saya tuan, jadi saya memiliki guru di beberapa daerah yang saya kunjungi." Hagi mendesah pelan ketika tahu dia sedang berbohong, tapi tidak mungkin kan dia bilang yang sebenarnya.



"Siapa namamu?" Hagi kembali berbalik lalu membungkuk dalam.



"Nama saya Hagi tuan." Namja itu mengangguk pelan.



"Maaf jika lancang anda sendiri siapa nama anda?" Sesaat namja itu nampak gugup dan bingung.



"Namaku... namaku hmmm kau bisa panggil margaku saja. Lee panggil aku tuan Lee." Hagi menaikan Alisnya tapi dia nampak tidak peduli lalu hanya mengangguk paham.



Setelah perbincangan singkat akhirnya Hagi dan Tuan Lee sampai di kediaman mentri Kim, Hagi hanya mengantar sampai gerbang saja dia harus kembali ketempat tadi. Eommanya pasti cemas jika dia tidak ada di sana.



"Tuan Lee maaf saya hanya bisa sampai sini mengantar anda." Namja itu mengangguk lalu menatap darah yang sedikit mengering di tangan Hagi.



"Iya, sekali lagi terimakasih kau sudah menyelamatkan nyawaku, akan ku kirimkan hadiah untukmu lewat mentri Park. Kau pulanglah obati lukamu, kau bisa ambil pedang itu untuk berjaga-jaga." Hagi mengangguk lalu tuan Lee masuk kedalam rumah. Ketika pintu gerbang akan di tutup, Hagi menahan pintu lalu menatap pelayan yang menatapnya bertanya.



"Bolehkah aku bertanya sesuatu ajjusi?"



"Iya silahkan."



"Apa tuan Kim Kyuhyun sudah sehat?" Sesaat namja itu mengerutkan kening curiga.



"Siapa kau?kenapa kau ingin tahu?"



"Paman lupa padaku? Aku datang bersama bibi dan paman Ma kemarin malam." Paman itu langsung mengangguk ketika ingat siapa Hagi.



"Ah iya aku ingat, kau yang membawa kabar tentang tuan Kim Kyuhyun bukan? Dari pelayan keluarga mentri Park?" Hagi tersenyum lalu mengangguk kecil.



"Ah beliau masih sakit, tapi sudah lebih baik sekarang, tabib bilang pertolongan pertama yang di berikan sangat membantu tuan Kim Kyuhyun." Hagi bernafas lega. Entah kenapa dia selalu ingat namja yang dia tolong itu.



"Syukurlah, kalau begitu aku pergi sekarang Paman." Hagi pergi begitu saja tanpa menunggu kelanjutan ucapan dari pelayan itu. Hagi sudah menebak apa yang akan di ucapkan paman itu, karena melihat tangan Hagi yang masih mengeluarkan darah. Tapi dia harus pergi sekarang juga, dia tidak mungkin membuat orang lain cemas padanya.




"Apa karena janggut dan kumisnya iya aku jadi tidak mengenal orang itu." Hagi berusaha menerka sepeti apa wajah orang itu jika tanpa janggut dan kumis, sesaat Hagi tersentak ketika mendapatkan gambaran siapa orang yang baru saja ia tolong jika orang itu ada di masa depan.



"Daebak!!! Pantas aku merasa mengenalnya. Tapi dia berbeda sekali di masa lalu." Hagi menggelengkan kepalanya tak percaya ketika mengingat perbandingan sifat tuan Lee di masa depan dan di masa lalu. Sekali lagi Hagi bertemu dengan orang yang mirip dengan seseorang yang ia kenal di masa depan.



Tebakan Hagi ternyata benar, beberapa orang kini sedang memeriksa para pengawal tuan Lee, disana juga ada officer Park jung so. Bibi Ma langsung berlari kearah Hagi lalu menatap khawatir ke arah tangan Hagi yang berlumuran darah.



"Kau baik-baik saja? Kenapa tanganmu berdarah? Apa kau terluka?" Hagi tersenyum lalu memeluk bibi Ma sayang.



"Aku baik-baik saja eomma, ini hanya luka kemarin yang kembali terbuka." Bibi Ma nampak bernafas lega, dia sudah cemas sekali begitu Hagi tidak di temukan tadi.



Jung so berteriak cukup keras setelah pengawal keluarga Park membisikkan sesuatu pada Jung so. Dengan sedikit berlari Jung so mendekat kearah Hagi.



"Ku dengar kau yang menolong orang yang di lindungi orang-orang ini dari bibi Ma, sekarang mana orang itu?" Jung so nampak panik ketika bertanya, karena Hagi memang datang sendirian sari ujung jalan tadi.



"Maksud tuan, tuan Lee?" Jung soo mengerutkan keningnya bingung tapi kemudian dia nampak gugup.



"Ah, ye. Dimana beliau sekarang?"



"Saya takut jika menunggu terlalu lama disini, jadi saya memutuskan untuk mengantar beliau ke rumah mentri Kim." Jung so menarik nafas lega, seperi melepas beban berat di bahunya.



"Bagus. Kau mengambil keputusan yang benar. Sebaiknya kalian pulang disini biar aku yang mengurus." Jung soo kembali mendekat kearah pengawal dan juga beberapa prajurit dari pemerintahan yang datang menyusul. Sebelum pergi Hagi sempat memberikan pedang salah satu penjaga yang sempat ia pinjam pada Jung so. Setelah itu bibi Ma langsung memapah Hagi pergi dari sana. Hagi harus kembali di obati.



****



Malam terasa berganti dengan cepat menuju pagi, rasa dingin mulai merasuk kedalam tulang sekalipun matahari sedikit menghangatkan tubuh membuat Hagi membuka mata perlahan dari tidurnya. Bibi Ma menatap dengan cemas, sebuah kain untuk mengompres demam masih melekat di keningnya.



"Kau sudah bangun? Syukurlah sudah sejak semalam kau demam dan tidak sadarkan diri. Kau membuat kami cemas nak." Bibi Ma berusaha membantu Hagi untuk duduk ketika Hagi mencoba untuk bangun.



"Sebaiknya kau tidur saja lagi setelah kau minum obat." Hagi hanya tersenyum merasa bersalah, sejak bertemu dengan pasangan suami istri ini, dia selalu merepotkan keduanya.



"Maaf eomma." Bibi ma menggeleng kecil lalu memeluk Hagi sayang.

__ADS_1



"Tidak apa-apa nak." Hagi memeluk bibi Ma sayang dia kembali merindukan ibunya di rumah.



Dari arah pintu kamar paman Ma masuk membawa semangkuk bubur dan juga semangkuk obat, membuat Hagi semakin tidak enak.



"Makanlah lalu minum obat ini agar kau cepat sembuh." Kali ini paman Ma mengelus kepala Hagi sayang.



"Terimakasih aboeji." Hagi menahan air matanya ketika perhatian kedua orang tua angkatnya melebihi yang dia pikirkan.



Semalam setelah pulang dari tempat dia menolong tuan Lee, Hagi langsung ambruk karena demam yang di sebabkan luka yang kembali terbuka. Bibi Ma tidak bisa tidur melihat wajah Hagi yang pucat dan berkeringat. Mentri Park yang mengetahui jika anak angkat pelayan kepercayaannya kembali berjasa karena menyelamatkan orang penting dengan cepat memanggil tabib dan memberikan pengobatan terbaik untuk Hagi.



"Mentri Park bilang jika kau sudah sembuh datanglah ke ruangannya. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan." Hagi hanya mengangguk patuh lalu kembali berbaring setelah selesai makan dan meminum obat. Kepalanya masih terasa pusing.



Hagi terduduk di teras rumah, jarinya terluka parah karena dipaksa untuk terus menarik anak panah. Beberapa kali Hagi menarik nafas lemah lalu mulai meniup jari jemarinya yang terasa perih.



Sebuah tangan menarik pergelangan tangannya, dengan cepat Hagi menarik kembali tangannya itu reflek karena orang di sampingnya orang asing tapi orang di sampingnya kembali menarik pergelangan tangannya.



Orang itu sudah siap dengan kotak P3K lalu mulai mengobati jari Hagi, dia sangat serius mengobati luka Hagi dan kesempatan itu di gunakan Hagi untuk menatap namja tampan di sampingnya.



"Apa kau seorang dokter? Kau terampil sekali." Hagi mulai berbicara membuat namja tampan di sampingnya sedikit tersentak tapi kembali melanjutkan kegiatannya.



"Bukan. Tapi aku sering melakukannya." Namja itu menjawab pertanyaan Hagi, membuat Hagi hanya mengangguk paham. Lalu kembali menatap namja tampan di sampingnya.



"Kau tampan." Untuk sesaat keduanya tertegun untuk alasan yang berbeda. Hagi terkejut dia bisa dengan gamblangnya memuji orang di sampingnya, sedangkan namja di sampingnya tertegun karena ini pertama kali Hagi memujinya.



Perlahan namja itu menatap Hagi lalu mengecup jari jemari Hagi dengan tatapan sayang, hingga untuk sesaat Hagi menahan nafas karena diperlakukan dengan begitu manis dan intim.



"Namaku Kyuhyun aku teman kakakmu. Jangan lupakan itu." Hagi hanya bisa membeku ketika namja yang mengaku bernama Kyuhyun itu mengulurkan tangan untuk mengelus pipinya.



"Aku tidak akan lupa." Kyuhyun tersenyum miris lalu memeluk Hagi erat.



"Kumohon ingatlah terus padaku, kau membuat aku frustasi." Hagi mengerutkan keningnya bingung tapi dia tidak bertanya dan hanya membalas pelukan Kyuhyun yang entah kenapa tidak ia tolak. Hagi bukan orang yang mudah akrab dengan orang asing.



"Iya... aku akan mengingatmu terus Kyuhyun_ssi."



Hagi terbangun dari tidurnya, melihat kearah jendela yang sudah menunjukan siang hari. Tadi dia bermimpi indah, bertemu dengan seseorang dari masa depan. Seorang namja yang memperlakukannya dengan manis, tapi ketika berusaha untuk mengingat wajahnya kepala Hagi kembali terasa sakit.



"Yang tadi benar-benar pernah terjadi atau hanya mimpiku saja iya?" Hagi bergumam pelan kembali berusaha mengingat ketika dia benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa. Tapi mimpinya benar-benar mimpi indah.



"Ini mungkin karena aku sudah rindu rumah sepertinya." Hagi berusaha bangkit lalu merenggangkan persendiannya yang kaku.



"Sepertinya aku terlalu banyak tidur." Hagi mulai berjalan keluar kamar, perutnya sangat lapar. Tadinya dia ingin pergi kedapur tapi keributan di halaman depan memancing rasa penasarannya.



Hagi melihat seorang yeoja dari kelas bangsawan yang kini sedang berpelukan dengan bibi Ma dan bibi Cha, Hagi belum bisa melihat wajahnya karena yeoja itu memunggunginya. Tapi Hagi terkejut bukan main ketika bibi Ma melambaikan tangannya pada Hagi dan hal itu memancing yeoja itu melirik ke arahnya.



Saat itu akal sehat Hagi mungkin sedang menghilang ketika dengan cepat Hagi memeluk yeoja itu dengan erat.



"Aku merindukanmu..." aksi Hagi sontak membuat semua orang terkejut terutama orang yang kini dalam pelukannya.



"Yaak!!! Kau gila, lepaskan aku, siapa kau." Yeoja itu meronta kuat di dalam dekapan Hagi, seolah menyadari sesuatu Hagi melepas pelukannya. Saat itu juga tamparan kuat melesat di pipinya.



"Dasar namja kurang ajar, siapa kau berani memelukku." Hagi memengang pipinya yang panas lalu berlutut di hadapan yeoja itu.



"Maaf nona muda, saya pikir nona muda teman saya." Yeoja itu nampak menahan amarahnya.



"Tapi kau tidak bisa gegabah seperti tadi, dan lagi kau memelukku. Aku sudah memiliki calon tunangan, bagaimana kalau ada yang melaporkan pada calon tunanganku." Hagi menatap bibi Ma meminta bantuan, lalu dengan cepat bibi Ma mendekat.



"Maafkan Hagi nona muda, dia tidak tau siapa nona, lagi pula Hagi perempuan bukan laki-laki." Yeoja itu terkejut lalu menatap Hagi sambil menunduk.



"Benarkah? Yak, tapi kenapa dia menggunakan pakaian laki-laki? Kau membuat orang salah paham. Berdirilah, maaf tadi aku menamparmu." Yeoja itu kini membantu Hagi berdiri, suaranya berubah lembut tidak seperti tadi.



"Lain kali kau harus menjaga sikapmu, aku tidak tahu semirip apa aku dengan temanmu, tapi kau tidak bisa memeluku begitu saja." Hagi mengangguk patuh lalu kembali menatap yeoja yang kini tersenyum padanya sendu.



"Hagi kenalkan ini nona muda kita, Park Hyun mie. Kau bisa memanggilnya nona Hyun dia baru pulang dari desa sebelah." Hagi mengigit bibirnya antar senang juga sedih.



"Saya Hagi nona, maaf atas kelancangan saya tadi." Hagi kembali menunduk, sedangkan Hyunmie menepuk bahu Hagi pelan.



"Tidak apa, aku juga minta maaf tadi menamparmu." Hagi kembali mengangguk lalu menatap gadis di hadapannya rindu.

__ADS_1



bersambung


__ADS_2