
Hagi kembali melamun saat paman Ma mengajaknya bicara, Hagi hanya berjalan bahkan ketika paman Ma berhenti, membuat paman Ma heran. Dengan cepat paman Ma memegang bahu Hagi hingga Hagi tersadar dari lamunannya.
"Ada apa? Sejak tadi kau melamun terus?" Hagi tersenyum canggung lalu menggeleng pelan.
"Tidak ada abeoji, mungkin hanya sedikit lelah saja." Paman Ma menghelah nafas pelan, lalu mengelus kepala Hagi lembut.
"Baiklah, setelah melapor ke officer Park tentang datamu kita langsung pulang dan kau bisa istirahat, aboeji yakin nyonya Park tidak keberatan kau istirahat lebih awal karena kau sedang sakit." Paman Ma kembali berjalan ketika mendapat anggukan kecil dari Hagi.
Setelah bertemu mentri Park tadi Hagi semakin merindukan ayahnya, dia ingin sekali pulang. Walaupun di rumah ayahnya selalu menjejalinya dengan tradisi keluarga Kim, Hagi tetap menyayangi ayahnya, sekalipun dingin Hagi tahu ayahnya berusaha yang terbaik untuk Hagi. Beberapa kali Hagi menatap mentri Park sedih, dan itu terlihat jelas di mata Paman Ma.
"Hagi_ya kau yakin ingin menjadi pengawal mentri Park?" Paman Ma kembali bersuara ketika lagi-lagi Hagi melamun sambil berjalan, Hagi menatap paman Ma sendu. Dia masih ingat percakapannya dengan mentri Park sebelumnya yang menawari Hagi untuk menjadi pengawal, setelah mendengar dari paman Ma tentang Hagi yang menolong Kim Kyuhyun dari para pembunuh bayaran.
"Hagi_ya bagaimanapun kau seorang wanita, pekerjaan seperti ini tidak cocok untukmu." Hagi merangkul lengan paman Ma lalu kembali berjalan.
"Aku tahu, tapi abeoji tidak lupakan kemampuanku seperi apa? Jika tidak sanggup aku tidak akan menerimanya. Aku juga ingin melakukan sesuatu untuk orang yang aboeji layani." Paman Ma tersenyum sayang, padahal Hagi baru beberapa hari bersamanya tapi dia sudah sangat menyayangi gadis muda ini.
"Baiklah lakukan apapun yang kau inginkan, tapi jika itu membahayakan nyawamu aku tidak akan segan-segan memaksamu mengenakan pakaian wanita." Hagi tertawa kecil melihat betapa paman Ma peduli padanya.
"Baiklah, oh iya aboeji uang untuk membeli pakaianku tadi pagi apa tidak apa-apa kita boros seperti itu?" Paman Ma menggeleng kecil.
"Itu hadiah yang mentri Kim berikan karena kau sudah menyelamatkan nyawa anaknya." Seperti mengingat sesuatu Hagi memandang paman Ma penasaran.
"Apa tuan Kim Kyuhyun baik-baik saja?"
"Abeoji dengar siang ini beliau sudah kembali ke kediamannya di Hanyang. Itu berarti keadaanya sudah membaik." Hagi menarik nafas lega lalu mengangguk mengerti.
"Baguslah... aku yakin tuan Kim namja yang kuat." Paman Ma nampak melirik kiri dan kanan lalu berbisik sesuatu pada Hagi.
"Tentu saja tuan Kim Kyuhyun adalah salah satu pengawal pribadi yang mulia Sejong." Hagi membulatkan matanya terkejut sambil menatap paman Ma yang meletakan telunjuknya di bibir agar Hagi tidak berteriak.
"Darimana abeoji tahu?" Hagi mengurangi volume suaranya sambil kembali berjalan bersama paman Ma.
__ADS_1
"Para pelayan dari keluarga Kim dan Park mengenal baik satu sama lain. Jadi jika salah satu memiliki kabar bagus atau buruk pasti keluarga yang lain mengetahui nya." Sekali lagi Hagi mengangguk paham.
Setelah berjalan kaki cukup jauh paman Ma dan Hagi sampai di kantor pemerintahan, tadi pagi mentri Park meminta paman Ma mengurus data Hagi karena Hagi mengaku bukan dari Joseon ataupun Yuan. Jadi Hagi akan di daftarkan di kantor pemerintahan sebagai pelayan yang di ambil dari seorang pedagang keliling.
Akan sulit sebenarnya jika saja kalau yang bekerja di kantor pemerintahan bukan anak mentri Park, Officer Park Jung So. Karena bagaimanapun seharusnya Hagi berstatus budak, tapi paman Ma meminta pada mentri Park agar Hagi di beri status pelayan dan menjadi anak angkatnya. Mengingat jasa Hagi akhirnya mentri Park menyetujuinya.
"Kau sudah datang? Aboeji bilang kau ingin membuat data baru dan mengangkat seseorang menjadi anak?" Seorang officer langsung menyapa paman Ma ketika mereka di persilahkan menunggu di ruangan tuan Park Jung soo.
Paman Ma memberi hormat lalu menunggu officer itu duduk di ikuti oleh dia dan Hagi.
"Benar tuan ini anak angkat saya, Hagi namanya. Dia anak dari pedagang keliling yang baru saja kehilangan orang tuanya karena di bantai Jurchen." Jung so mengangguk ketika Hagi memberi hormat.
"Iya aku mendengar dari surat yang abeoji kirim tadi, tapi sudah lama sekali kita tidak bertemu paman Ma, kau masih tidak berubah sama sekali." Paman Ma tersenyum kecil bagaimanapun sejak kecil Jung soo selalu bersama paman Ma, hanya saja menjelang remaja paman Ma harus mengurus lahan pertanian milik mentri Park di Jeju.
"Iya sudah sangat lama tuan muda, saya dengar nona Hyun sedang berlibur di desa sebelah. Saya juga merindukan nona muda." Jung So tertawa kecil, adik perempuanya memang tidak bisa diam.
"Iya kau tahu abeoji dan eommoni kadang pusing di buatnya. Ah Baiklah kita mulai membuat datanya sekarang." Jung so mulai menulis di atas kertas yang sudah di sediakan.
"Permisi, sepertinya anda salah menulis tuan, saya bukan namja tapi yeoja." Ucapan Hagi sukses membuat Jung Soo terdiam pandangan nya kini tertuju pada paman Ma.
"Benar tuan, Hagi perempuan bukan pria." Sekali lagi Jung so menatap Hagi menyelidik.
"Lalu kenapa kau menggunakan pakaian pria?" Hagi tersenyum canggung
"Itu karena aku suka bermain pedang jadi rasanya aneh jika mengunakan pakaian wanita." Jung so mengangguk paham.
"Tapi kau tahu, orang akan salah paham dengan penampilanmu dan lagi apa abeoji tahu kau yeoja? Aku dengar kau ingin menjadi pengawal pribadinya." Hagi menatap paman Ma bingung, seperti mengerti kegelisahan Hagi akhirnya paman Ma menjelaskan.
"Mentri Park tahu tuan muda. Dan beliau tidak ada masalah dengan penampilan Hagi." Jung so mengangkat alisnya lalu mengangguk paham.
"Baiklah, aku yakin pasti abeoji tidak akan menjadikanmu pengawal pribadinya jika kau tidak cukup hebat." Jung soo kembali melanjutkan menulis data Hagi. Tapi di kembali menatap wajah Hagi heran.
__ADS_1
"Tunggu tadi kau mengoreksi tulisanku? Kau bisa membaca?" Hagi sekali lagi mengangguk ragu. Paman Ma juga ikut menatap Hagi, dia juga baru tahu ternyata Hagi bisa membaca.
"Sepertinya kau mengangkat anak yang cerdas paman Ma." Jung soo kembali melanjutkan tulisannya setelah melihat paman Ma berterimakasih padanya.
"Lusa datanglah lagi untuk mengambil copyan datamu yang sudah di stampel. Sekarang kalian boleh pulang." Paman Ma dan Hagi memberi hormat lalu pamit dari kantor Jung so.
****
Selama di perjalanan Paman Ma menatap Hagi yang terus diam, lagi-lagi anak angkatnya ini melamun, tapi paman Ma tidak bertanya apa-apa hingga akhirnya Hagi dan paman Ma bertemu dengan bibi Ma tepat sebelum sampai di kediaman mentri Park.
"Kenapa kau di sini sayang?" Paman Ma menatap istrinya yang tersenyum manis padanya.
"Aku berniat membawa Hagi ke tempat Young ae untuk menanyakan obat yang mungkin ia punya untuk mengobati luka di wajah Hagi. Bagaimanapun Hagi perempuan, dia tidak boleh memiliki bekas luka di wajahnya." Paman Ma mengangguk paham lalu menatap wajah Hagi.
"Apa kau masih kuat pergi? Tadi kau bilang kau kelelahan bukan?" Paman Ma masih ingat jika Hagi sempat bilang jika dia kelelahan. Tapi Hagi hanya menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa aboeji, aku bisa istirahat setelah pulang nanti bersama eommonim." Paman Ma kembali mengangguk paham.
"Aku pastikan Hagi tidak akan kelelahan sayang. Ayo Hagi kita pergi sekarang, Young ae tidak bisa sembarangan di temui jika tidak membuat janji dulu." Hagi menaikan Alisnya heran.
'memang siap orang yang sebegitu pentingnya hingga harus membuat janji dulu.'
Hagi bertanya-tanya dalam hati tapi dengan cepat bibi Ma menariknya pergi dari samping paman Ma, Hagi sedikit terseok-seok ketika memberi salam untuk pergi pada paman Ma.
Sesampainya di tempat tujuan Hagi menatap terkejut tempat bibi Ma membawanya dia nampak enggan awal nya untuk masuk, tapi bibi Ma tetap menyeretnya untuk masuk.
"Kau tenang saja, tidak akan ada yang mengganggumu. Aku kenal semua orang yang ada di sini." Hagi mengangguk ragu, pada kenyataannya tempat ini bukan tempat baik-baik jika di jamannya. Tapi di Joseon tempat ini justru sering di datangi para pejabat pemerintah.
Hagi sekali lagi menatap berkeliling, beberapa perempuan mulai berbisik nakal menatapnya, sepertinya mereka juga berpikir kalau Hagi adalah pria, kenyataan kalau wajah Hagi terluka tidak menghilangkan pesona di wajahnya. Iya sekarang Hagi berasa di rumah Bordir paling besar di Joseon yang dikelola langsung oleh Nyonya Young Ae.
bersambung
__ADS_1