
_____
Mencintaimu adalah paling menyakitkan juga paling membahagiakan dalam takdir hidupku
♡♡♡♡
Ketika sadar semua begitu terlambat, tapi bisa melihatmu di dekatku terasa cukup untukku
****
Angin bertipu lembut pagi ini, matahari masih malu-malu keluar dari peraduannya membuat sebagian orang di Hanyang masih berselimut tebal di kediaman masing-masing, tapi tidak dengan Hagi setelah surat yang ia antar pada Raja tadi pagi Hagi tidak bisa memejamkan mata nya sama sekali, padahal luka yang ia milik mengharuskannya untuk banyak istirahat. Dan disinilah dia sekarang menanti matahari menyinari tubuhnya yang mendingin di belakang rumah bordir nyonya Young ae.
Rumah sederhana yang ia miliki hasil dari menjadi pengawal istana jarang sekali ia tempati. Sendirian hanya akan membuatnya semakin merindukan keluargannya walaupun di Joseon sendiri Hagi memiliki keluarga Angkat. Saat mentari mulai menyinari tubuhnya, Hagi mengangkat kepalanya sambil memejamkan mata berusaha menikmati ketenangan setelah beberapa minggu terakhir di isi dengan misi juga kemelut hatinya.
"Kau lebih cantik dari yang aku bayangkan." Ucapan itu sontak membuat Hagi membuka mata lalu berdiri dari duduknya.
"Yang Mulia..." Hagi menuduk memberi hormat ketika tahu siapa yang datang, ini masih pagi dan Rajanya itu sudah datang kemari.
"Ne, aku penasaran saja ingin melihat keadaanmu setelah menulis surat itu padaku. Ternyata kau baik-baik saja." Hagi tersenyum sendu, dia tidak bisa di bilang baik-baik saja setelah menangis semalaman. Hagi bukanlah gadis yang mudah menangis tapi hanya karena seorang pria dia menangis semalaman padahal Hagi tahu dia tidak akan lama di Joseon.
Perlahan Raja mendekat kearah Hagi semakin dekat Raja semakin tahu bahwa pengawal kesayangannya itu tidak baik-baik saja. Tadi setelah menerima surat dari Hagi, Raja Sejong langsung pergi ke Rumah Bordir nyonya Young ae dengan hanya sedikit sekali pengawal pribadinya, bahkan Kasim Choi sempat membujuk Raja muda itu untuk setidaknya menunggu hingga matahari sedikit meninggi, tapi Raja Sejong tetap keras kepala.
"Apa kau sibuk menyesali permintaanmu padaku? Lihatlah betapa dinginnya tanganmu, berapa lama kau ada di luar? Kau tahu kau baru saja lolos dari maut. Kau ingin membuatku khawatir lagi?" Raja Sejong menggenggam tangan Hagi erat setelah melihat wajah membeku Hagi dari dekat lalu memarahinya seperti anak kecil yang baru saja di marahi ayah nya. Hagi hanya tersenyum canggung merasa tidak enak juga bersalah pada Rajannya.
"Maafkan hamba Yang Mulia." Hagi hanya bisa menunduk kecil sebagai permintaan maaf nya. Raja Sejong kembali mendudukan Hagi di beranda paviliun lalu beliau juga ikut duduk berhadapan dengan Hagi.
"Kau tidak perlu minta maaf, kau hanya harus sembuh dan lagi sudah terlambat jika kau menyesali permintaanmu padaku." Hagi menatap Raja di hadapannya bingung, mengerti dengan tatapan Hagi Raja Sejong memanggil Kasim Choi mendekat sambil membawa beberapa gulungan di tangannya.
"Aku menyimpulkan banyak hal tadi pagi saat menerima pesanmu. Jadi aku langsung membuat surat perintah yang akan aku keluarkan siang ini, itu berarti apa yang ada di gulungan ini sudah tidak bisa di ganggu gugat. Bahkan aku harus membangunkan Ratu Seoheon untuk memberi izin padaku tentang rencanamu itu." Hagi hanya tertegun dan hampir kehabisan kata-kata ketika mendengar ucapan Raja Sejong dia tidak menyangka Rajanya mengambil keputusan secepat itu.
"Tapi Yang Mulia, kenapa Yang mulia tidak membahasnya lebih dulu dengan Mahkama dalam istana? Mungkin saja mereka tidak setuju dengan rencana Yang Mulia." Raja Sejong tersenyum paham, Hagi selalu memikirkan semuanya dalam jangka panjang. Tentu saja Mahkama dalam pasti ada yang tidak setuju pada keputusannya.
"Aku tahu kekhawatiranmu, tapi apa yang aku lakukan adalah hakku sebagai Raja negeri ini, nah aku ingin lihat apa titah ini sesuai dengan keinginanmu?" Raja menyerahkan gulungan yang tadi di serahkan oleh Kasim Choi padanya dengan sedikit ragu Hagi membuka isi titah itu satu persatu, setelah selesai membacanya Hagi hanya bisa tersenyum sedih.
"Yang aku lihat kau sepertinya tidak senang dengan keputusanku?" Raja bertanya pada Hagi yang hanya menggeleng kecil.
"Tidak Yang mulia, tentu saja saya senang Yang Mulia mau menjalankan rencana yang saya anjurkan. Tapi Yang Mulia tahu bukan ini juga berat untuk saya." Hagi menatap sedih pada Raja di hadapannya yang hanya bisa menghela nafas pelan.
"Kalau begitu aku bisa merubah keputusan tentang dia. Hagi kau memang pengawalku juga milikku, tapi aku Tidak akan pernah senang melihatmu sedih seperti ini." Hagi menjatuhkan air mata nya, pertama kalinya setelah tinggal di Joseon ada yang melihat air mata nya, Hagi merasa lemah di hadapan Rajanya ini dan entah kenapa saat Raja Sejong memeluknya tangisan semalam yang Hagi kira sudah selesai kembali bersambung di pelukan Rajanya itu.
"Katakan sesuatu Hagi, jangan membuatku terlihat jahat di depanmu." Hagi hanya semakin menangis lalu menggelengkan kepala nya lemah, sekali ini saja dia ingin menangis di hadapan seseorang setelah ini Hagi akan berusaha untuk menahannya di kemudian hari.
Raja, Hagi dan rombongannya tidak mengetahui jika sejak tadi Kyuhyun dari kejauhan memperhatikan interaksi kedua nya, Kyuhyun tidak bisa mendengar ucapan keduanya tapi bisa merasakan kesedihan yang Hagi perlihatkan pada Raja Sejong.
Rasa sakit berkumpul di hati dan kepala Kyuhyun membuatnya tidak sanggup bergerak dan susah bernafas, lagi-lagi Kyuhyun tidak bisa berbuat apa-apa untuk Hagi dan selalu Raja Sejong yang memberikan perhatian pada Hagi. Kyuhyun ingin sekali melakukan apa yang Rajanya lakukan untuk Hagi, atau setidaknya dia ingin melakukan sesuatu untuk meringankan beban yang Kyuhyun tidak ketahui dan berusaha Hagi sembunyikan darinya.
"Apa yang begitu membuatmu menderita Hagi_ya... apa aku bahkan tidak bisa menjadi sandaran untukmu?" Kyuhyun bergumam pelan, dan hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat ketika sayup-sayup ia bisa mendengar isak tangis Hagi yang semakin keras dan terdengar menyakitkan di telinganya.
Setelah merasa cukup dan rasa malu mulai menyeruak di wajahnya Hagi menjaga jarak lagi dari Raja Sejong yang melihat Hagi dengan ekspresi lucu karena terlihat canggung setelah menangis di pelukan Rajanya.
"Maafkan saya Yang mulia, saya membuat baju Yang mulia kotor." Raja hanya tersenyum kecil lalu menggeleng pelan.
"Kenapa kau minta maaf, aku Yang memelukmu jadi tidak apa-apa." Hagi mengigit bibirnya semakin canggung membuat Raja tidak kuat menahan tawanya.
"Kau ini lucu sekali Hagi, aku tidak tahu kau bisa seperti ini jika mengenakan pakaian perempuan. Ah nanti pasti aku akan sangat merindukan saat-saat melihatmu menggunakan pakaian perempuan. Atau aku angkat saja kau jadi selirku?" Hagi menatap Raja sambil membulatkan matanya terkejut dan itu justru membuat Raja Sejong semakin tertawa keras.
"Yang mulia..." Hagi nampak gugup juga ketakutan ketika Raja Sejong tidak berhenti tertawa, tapi akhirnya Raja itu menghentikan tawanya ketika melihat Hagi menunduk.
__ADS_1
"Ai... aku hanya bercanda, aku tidak akan setengah itu mengurung elang di dalam sangkar emas." Perlahan Hagi menatap kembali Rajanya sambil menghelah nafas pelan.
"Yang mulia..." Raja tersenyum kecil lalu menatap kearah kolam di depan paviliun
"Iya... Walaupun sebenarnya aku memang menginginkanmu menjadi selirku, tapi jika itu tidak membuatmu bahagia dan merasa terkurung aku tidak akan melakukannya. Aku lebih suka melihat kau yang bebas dan selalu memberikan semua kecerdasanmu untuk rakyat." Hagi menunduk kembali ketika mendengar ucapan Rajanya, membuat Raja Sejong ikut merasakan kecanggungan yang ada.
"Ah sudahlah anggap saja aku tidak mengatakan hal itu, jika membuatmu jadi tidak nyaman." Hagi hanya tersenyum canggung lalu mengangguk kecil membuat Raja hanya menghela nafas. Raja kembali menggengam tangan Hagi lalu menatap Hagi sayang.
"Dengar, aku tidak apa jika kau tidak bisa memberikan hatimu padaku, tapi jangan pernah menahan diri untuk menjadikanku sandaranmu saat kau ingin menangis seperti tadi. Kau mengerti?" Hagi akhirnya bisa tersenyum kecil walau pun ada rasa bersalah di hatinya karena mengabaikan Raja yang baik ini.
"Terimakasih Yang Mulia." Raja hanya mengangguk kecil lalu bersiap untuk pergi.
"Jadi kau setuju kan dengan titahku?" Hagi hanya mengangguk kecil lalu ikut berdiri di samping Rajanya.
"Tidak kau diam saja disini, tidak usah mengantarkanku. Aku ingin kau benar-benar sehat." Hagi hanya tersenyum kecil lalu kembali duduk di beranda.
Setelah itu Raja kembali ke istana, dia akan mengumumkan titahnya hari ini pada semua menterinya. Raja harap reaksi yang timbul sesuai keinginannya.
Melihat Raja pergi akhirnya Kyuhyun berani mendekat kearah Hagi yang berdiri memunggunginya menghadap kolam, tanpa pikir panjang Kyuhyun memeluk Hagi dari arah belakang membuat Hagi terkejut. Hagi siap berbalik tapi suara Kyuhyun menghentikan niatnya.
"Aku merindukanmu... aku khawatir sekali padamu." Ucapan Kyuhyun sontak membuat Hagi tertegun.
Tubuh Hagi bahkan kini menegang saat Kyuhyun memberi kecupan kecil di lehernya lalu perlahan menghirup nafas dalam-dalam di lekukan lehernya.
"Kyu... kyuhyun_ssi..." Kyuhyun membalikan tubuh Hyun Mie lalu menatap mata Hagi yang menatapnya kebingungan.
"Apa kau masih berpikir aku masih mencintai Hyunmie? Anniya... aku jatuh hati padamu bahkan sebelum aku tahu kau perempuan." Hagi hanya bisa menutup mulutnya terkejut dia tidak menyangka jika cintanya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
Kyuhyun kembali memeluk Hagi erat lalu bisikan kecil Kyuhyun berhasil kembali membuat Hagi menangis di pelukan Kyuhyun.
Tidak, ini semua tidak boleh terjadi. Walaupun Hagi senang Kyuhyun mencintainya, tetap saja ini tidak boleh terjadi, perlahan Hagi melepas pelukan Kyuhyun lalu menatap Kyuhyun dengan segenap rasa sakit yang ia tahan.
"Jangan, jangan mencintaiku... aku mohon..." saat itu juga hati Kyuhyun kembali terluka, bahkan kali ini lebih menyakitkan ketika melihat Hagi di pelukan Rajanya. Gadis itu bahkan memohon padanya.
"Kenapa? Anni apa kau mencintai Raja?" Pertanyaan Kyuhyun hanya Hagi jawab dalam hati, Hagi berteriak di hatinya jika dia tidak bisa mencintai lelaki manapun kecuali Kyuhyun. Tapi mulutnya terkunci rapat dan Hagi harus melakukannya.
Diamnya Hagi membuat Kyuhyun sadar, jika ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan tapi dengan keyakinan yang di milikinya Kyuhyun menggenggam tangan Hagi erat.
"Tidak apa... tidak apa jika kau tidak mencintaiku. Asal aku masih bisa melihatmu dan di dekatmu itu sudah lebih dari cukup untukku." Ucapan Kyuhyun kembali membuat Hagi tidak berdaya menahan air mata nya, dalam hidupnya Hagi tidak pernah secengeng ini dia adalah gadis kuat dari keluarga Kim, tapi namja di hadapannya seperti berniat menguras air matanya.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya lalu kembali memeluk Hagi pelan.
"Jangan menagis... apa aku membebanimu? Maafkan aku..." Hagi semakin erat memeluk Kyuhyun membuat Kyuhyun terpana untuk sesaat tapi dengan cepat Kyuhyun juga membalas pelukan Hagi lebih erat.
Setelah merasa lebih baik, Hagi melepas pelukan dari Kyuhyun badannya yang masih belum pulih total mendadak lemas karena terus menangis. Hagi bahkan lupa jika orang sakit tidak boleh menangis. Melihat Hagi pucat kembali Kyuhyun mendudukan Hagi di beranda.
"Kau mau kembali kedalam? Sepertinya kau harus kembali istirahat. Aku tidak mau melihatmu sakit lagi." Hagi hanya menggelengkan kepalanya kecil lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun. Lagi-lagi Kyuhyun tertegun menatap Hagi, tapi ia tidak banyak bicara Kyuhyun hanya membiarkan Hagi begitu saja.
"Kau sepertinya belum mengganti bajumu. Mau aku ambilkan di kediamanmu? Iya akan lebih baik jika kau menggunakan pakaian pria juga." Ucapan Kyuhyun membuat Hagi menatap Kyuhyun heran.
"Jangan salah sangka dulu, aku hanya takut tidak bisa menahan diri di dekatmu jika kau selalu berpakaian wanita." Hagi menunduk kecil lalu mengigit bibirnya gugup gerakan itu jelas terlihat oleh Kyuhyun membuatnya menggelengkan kepala kuat-kuat. Rasanya Kyuhyun juga ingin mengigitnya. Ketika alam bawah sadarnya terus memprovokasi, akhirnya Kyuhyun menyerah lalu berdiri di hadapan Hagi.
"Aku bawa pakaianmu sekarang juga." Dan setelah itu Kyuhyun hanya pergi tanpa mendengar ucapan Hagi sama sekali.
Hagi hanya bisa menatap kepergian Kyuhyun sendu, kepalanya pusing sekarang hatinya ingin sekali mengatakan jika dia juga mencintai Kyuhyun tapi pikirannya serta kenyataan membentaknya untuk jangan mengatakan hal itu.
****
__ADS_1
Kyuhyun langsung pergi ke kediaman Hagi, disana hanya ada seorang pelayan pria yang berjaga. Karena Hagi sendiri jarang sekali pulang kekediamannya itu, lebih sering menghabiskan waktu di istana atau di rumah bordir nyonya Young ae yang dengan berbaik hati mau memberi sebuah paviliun untuk Hagi karena mau mengajari berbagai alat musik pada para Gisengnya. Tapi Hagi sendiri tidak menyimpan pakaiannya di paviliun itu, Hagi akan berganti pakaian di kekediamannya.
Kyuhyun pernah dua kali ke kediaman Hagi ini dan cukup ingat dimana kamar Hagi, karena tempat ini juga tidak terlalu besar. Setelah berbasa basi dengan pelayan, Kyuhyun langsung masuk ke kamar Hagi. Tidak ada yang istimewa disana, hanya ada beberapa lukisan di kamar Hagi. Kyuhyun langsung ke arah lemari yang memang menjadi satu-satunya penyimpanan pakaian Hagi disana.
Kyuhyun menghelah nafas kecil, ketika membuka lemari dan hanya ada pakaian pria di sana, jangan salahkan Kyuhyun dulu karena mengira Hagi pria. Hagi selalu cocok menggunakan pakaian prianya dan akan sangat cantik jika mengunakan pakaian wanita.
Kyuhyun langsung membawa pakaian secukupnya untuk Hagi, hingga tatapannya tertuju pada surat yang tersimpan rapi di atas lemari, di lihat dari segel kertas bisa di tebak jika itu surat dari Raja. Kyuhyun tahu ini tidak baik, tapi Kyuhyun sangat penasaran isi dari surat tersebut. Lagi pula selama ini apapun misi yang Raja berikan pada Hagi, Kyuhyun selalu mengetahuinya. Jadi tidak apakan jika melihat sebentar???
Perlahan Kyuhyun membuka surat itu satu persatu, seperti tebakannya hampir semua surat isinya adalah beberapa misi terakhir yang Kyuhyun juga ketahui. Merasa tidak ada yang mencurigakan Kyuhyun berniat mengakhiri acara kelancangannya pada surat-surat itu tapi surat terakhir yang Kyuhyun lihat membuatnya kembali ingin mengetahui isinya, jika Kyuhyun tidak salah tebak surat ini isinya tentang misi Hagi yang kemarin.
Tapi isi surat yang Kyuhyun baca membuatnya sedikit mengerutkan keningnya lalu Kyuhyun kembali membaca surat itu dan tersenyum kecil. Kyuhyun ingat saat secara tidak langsung Hagi menolaknya tadi membuat senyumannya meredup.
"Apa aku terlambat?" Kyuhyun kembali membaca surat itu, dia ingin penjelasan dari Hagi tentang surat ini dan berharap mungkin Hagi masih mau memberinya kesempatan.
Setelah kembali mengepak beberapa pakaian untuk Hagi, Kyuhyun pergi dari sana, dia ingin menanyakan langsung pada Hagi tentang kebenaran isi surat tersebut.
Tapi di perjalanan pelayan dari kediaman Kim sudah menunggunya di depan rumah bordir, mentri Kim meminta Kyuhyun untuk datang sekarang juga. Awalnya Kyuhyun meminta agar pelayan itu menunggunya tapi mendengar Hyungnya juga datang Kyuhyun akhirnya hanya menyerahkan pakaian Hagi pada mandor rumah Bordir lalu pergi menuju rumah keluarga Kim.
Kediaman mentri Kim mendadak ramai oleh mentri dari Fraksi barat, ruang pertemuan yang biasa di pakai untuk berkumpul mendadak ribut dengan berbagai pertanyaan. Mentri Kim masih memejamkan mata berusaha untuk menenangkan diri juga menanti kedua putranya datang.
"Sebenarnya apa isi Titah Raja itu Hyung?" Adik ipar mentri Kim mulai tidak sabar ketika pertemuan belum juga di mulai, mentri Kim hanya menatap adik iparnya itu dengan pandangan datar membuat Mentri Ahn terdiam.
Sebenarnya tidak ada yang di rugikan dari titah Raja yang baru saja mentri Kim terima, hanya saja pasti banyak yang tidak setuju dengan titah Raja ini karena semua terlalu menguntungkan untuk mentri Kim.
Sekali lagi mentri Kim mengelus titah Raja yang baru saja sampai di rumahnya, pasti siang ini akan di umumkan langsung oleh Yang mulia.
"Sebenarnya apa Yang Mulia rencanakan?" Mentri Kim bertanya-tanya dalam hati, jika di pikir lagi seharusnya Raja sekarang murka karena pengawal kesayangannya di sakiti, mentri Kim jelas tahu Hagi bukanlah pengawal biasa, awalnya mentri Kim juga sedikit was-was ketika yang terkena panah tempo hari adalah Hagi bukan nyonya Young ae. Tapi di luar dugaan Raja Sejong malah memberikannya banyak hadiah dan titah yang menurut mentri Kim sangat menguntungkan untuknya.
Tidak berapa lama Kim Jong Seo dan Kyuhyun datang keduanya langsung duduk di samping ayah mereka. Saat itulah mentri Kim membuka mata lalu mulai membacakan titah Raja.
"Hari ini Raja mengirimkan titah ke rumahku, isinya tentang pengangkatan Kim Jong Seo sebagai wakil perdana mentri." Ucapan itu sontak membuat semua anggota fraksi ribut, Jong Seo sendiri nampak terkejut dengan ucapan ayahnya. Dia tidak menyangka Raja memberinya anugerah sebesar ini.
"Aku tahu pasti kalian bertanya-tanya apa alasannya. Aku juga menerima satu titah lagi dari Yang Mulia. Yaitu pengangkatan selir salah satu putri dari Fraksi kita." Kali ini suara berisik semakin terdengar dari semua orang, bertanya-tanya siapa kiranya yang akan di jadikan Selir oleh Yang Mulia.
"Nanti siang Yang Mulia sendiri yang akan mengumumkan secara langsung pada kita. Tapi inti dari semua titah Raja adalah, Yang Mulia ingin kita tetap mendukung putra mahkota untuk tetap naik tahta sekalipun Raja memilih putri mahkota dari Fraksi selatan." Kali ini keadaan langsung sunyi, terlihat jelas jika mereka tidak setuju dengan hal itu.
"Beberapa dari kalian juga ada yang dinaikan pangkatnya menjadi bintang 4. Apa kalian juga masih tidak setuju?" Ucapan mentri Kim kali ini sontak membuat keadaan kembali berisik, sepertinya hari ini adalah hari besar untuk fraksi barat.
"Kami ikuti semua keputusan yang tuan Kim ambil." Semua anggota fraksi langsung serempak memberikan dukungan pada mentri Kim membuat mentri Kim tersenyum senang.
"Baiklah kalian bisa bersiap untuk datang ke istana. Jangan sampai terlambat. Ah mentri Park bisakah kau tidak pergi dulu? Ada yang ingin aku bicarakan padamu tentang putra putri kita." Setelah mengucapkan Hal itu semua anggota fraksi izin pulang kecuali mentri Park yang memang sengaja diminta untuk tetap tinggal.
Sekarang di ruangan itu hanya tinggal Mentri Kim, Kyuhyun, Kim Jong Seo dan juga mentri Park. Semuanya menunggu sampai mentri Kim mulai bicara.
"Aku ingin membatalkan pernikahan Hyunmie dan juga Kim Jong Seo." Ucapan itu sontak membuat mentri Park juga Kim Jong seo terkejut, Kyuhyun juga dia ikut terkejut mendengar ucapan mendadak ayahnya.
"Aboeji!!! Apa maksudnya ini?" Kim Jong Seo nampak tidak setuju dengan keputusan ayahnya ini. Sedang mentri Park Masih menunggu ucapan mentri Kim.
"Ini karena selain Yang Mulia memberikan titah padaku dia juga memintaku untuk menikahkan Kim Jong Seo dengan kakak calon putri Mahkota Shin Min ah." Kali ini mentri Park terlihat shock, sedang Kim Jong Seo kehabisan kata-kata ketika Yang Mulia sendiri yang memintanya.
"Lalu bagaimana dengan putriku? Dia akan menanggung malu karena di tinggal tunangannya." Kali ini sebuah gulungan lain di serahkan pada Kyuhyun oleh mentri Kim.
"Kau tidak perlu khawatir Yang Mulia sudah memberi solusi untuk itu, putrimu masih bisa menikah dengan putraku, tapi bukan Jong Seo. Putrimu akan menikah dengan Kyuhyun dan sebagai hadiahnya Kyuhyun di angkat menjadi kepala pengawal pribadi Yang Mulia." Kali ini ucapan mentri Kim membuat Kyuhyun semakin shock gulungan yang sedang ia baca terjatuh dari tangannya sedangkan Jong Seo membuang muka tidak ingin melihat saengnya. Hatinya terasa sakit sekarang karena akan di pisahkan dengan gadis yang ia cintai.
__ADS_1
bersambung