
___
Bahkan kau berikan mawar untukku
Tidak akan merubah kenyataan apapun bahwa kau harus bersamanya.
♡♡♡♡
Cinta tak harus memiliki tapi bukankah cinta adalah kebahagiaan, lalu bukankah tidak memiliki akan membuat cintamu tersakiti?
****
Langit malam perlahan mulai memudar, matahari malu-malu keluar dari peraduannya, meninggalkan suhu dingin dan juga embun pagi yang basah tapi memberikan kesejukan. Akhirnya Setelah melewati malam yang panjang Hagi terbangun dari tidurnya.
Hal pertama yang ia lihat adalah seorang namja, namja yang juga pernah tertidur disampingnya beberapa hari lalu, namja ini tidur di sebelah kanannya walau pun sekarang namja itu menggenggam tangannya begitu erat tidak seperti sebelumnya, tapi kali ini mereka tidak berdua, ada nyonya Young ae yang juga ikut tertidur di sebelah kirinya, Hagi tidak begitu ingat kejadian kemarin, yang dia ingat dia tidak sadarkan diri di atas tandu. Selain itu Hagi hanya merasa tubuhnya menggigil menahan rasa sakit dan dingin berlebihan.
"Aku bersumpah tidak akan mau minum tonik itu lagi." Hagi menggerutu dalam hati ketika tahu dia hampir mati karena efek samping ramuan herbal yang ia minum, badannya masih terasa lemas sekarang.
Jika bukan karena misinya dia tidak akan mau mempertaruhkan nyawanya seperti sekarang, padahal dia masih harus mencari tahu jalan pulang, seolah mengingat hal itu Hagi di sadarkan jika dia harus mulai memikirkan cara untuk menggagalkan pernikahan Hyunmie, tapi bagaimana? Bahkan nenek moyangnya saja belum ia temukan.
Perlahan namja di samping Hagi terbangun lalu menatap Hagi terkejut yang sedang menatapnya sendu.
"Kau sudah bangun? Ah syukurlah. Kau perlu sesuatu? Atau kau merasa sakit? Katakan sesuatu?" Ucapan namja itu membuat Hagi tersenyum simpul ada rasa hangat menyelimuti hatinya, ketika Namja itu begitu mengkhawatirkannya, senyuman Hagi justru membuat namja itu terpaku untuk sesaat sebelum akhirnya nyonya Young ae terbangun dari tidurnya. Namja itu segera melepas genggaman tangannya lalu memandang ke arah lain.
"Oh Tuhan akhirnya kau bangun, kau tahu betapa cemasnya aku?" Hagi menatap Nyonya Young ae merasa bersalah. Lagi-lagi dia merepotkan orang di sekelilingnya.
"Maaf aku merepotkan kalian." Hagi berusaha duduk lalu dengan cepat nyonya Young ae membantunya.
"Bukankah sebaiknya kau tidur dulu? Jika kau butuh sesuatu katakan saja?" Nyonya Young ae menatap Hagi meringis ketika Hagi kembali seperti menahan sakit saat membetulkan posisi duduknya.
"Tidak nyonya aku sudah lebih baik." Namja di samping Hagi mendengus sebal.
"Baik apanya? Semalam kau hampir mati." Seolah tersadarkan Hagi menatap namja di sampingnya bingung, bukankah seharusnya namja ini di istana?.
"Kenapa kau disini? Bukankah seharusnya kau ada di istana? Apa penyambutanya berjalan lancar?" Namja itu Kyuhyun menghelah nafas pelan lalu menatap Hagi sendu. Yeoja ini masih saja memikirkan misinya disaat dia hampir meregang nyawa.
"Acara berjalan lancar berkatmu, dan lagi Aku di minta Yang Mulia untuk menjagamu sampai kau bangun, itu kenapa aku bisa ada di sini." Mendengar Raja disebut Hagi menatap Kyuhyun terkejut.
"Apa? Jadi Yang Mulia sudah tahu?" Kali ini Hagi menatap nyonya Young ae yang terlihat murung.
"Ne, dan Yang Mulia memarahi kami habis-habisan karena tidak melaporkan apapun tentang penyerangan kemarin." Hagi menghelah nafas lalu mengangguk kecil, dia sudah memprediksi hal ini sebelumnya.
"Jika kau perlu sesuatu kau katakan saja pada Nyonya Young ae, aku harus pergi sekarang. Semalam dengan berat hati Yang Mulia harus kembali ke istana dan berpesan padaku untuk mengabarinya langsung jika kau sudah sadar." Hagi mengangguk kecil, tapi ketika Kyuhyun siap pergi Hagi kembali menggenggam tangan Kyuhyun yang tadi sempat menggenggamnya.
"Nyonya, bisa tinggalkan kami berdua?" Ucapan Hagi sukses membuat Nyonya Young ae bingung tapi dia tetap pergi dari sana, berbeda dengan Kyuhyun yang tiba-tiba mendadak merasa tubuhnya demam saat di tinggal berdua dengan Hagi, apa lagi kini Hagi menatapnya begitu dalam dan tidak mengatakan hal apapun.
"Kau, kau tidak mengatakan apapunkan pada Yang mulia tentang ayahmu?" Ketika tahu persoalan apa yang akan di bahas Hagi apa, Kyuhyun perlahan mulai bernafas lega, walaupun jantungnya masih dengan kurang ajar berdetak tidak karuan.
"Tidak, aku belum berani mengatakannya." Hagi mengangguk paham lalu melepas genggaman di tangan Kyuhyun.
"Jangan katakan apapun, biar aku yang mengatakannya pada Yang Mulia." Kyuhyun mengangguk kecil, entah kenapa dia sedikit kecewa ketika melihat reaksi Hagi yang tenang, seolah hanya dirinya yang merasakan perasaan menyiksa seperti sekarang ini, tapi ketika mengingat ucapan Raja, Kyuhyun menggeleng pelan.
"Baiklah aku pergi sekarang." Hagi kembali menggenggam tangan Kyuhyun ketika Kyuhyun siap pergi, dengan gugup yang tidak bisa di tutupinya Kyuhyun menatap Hagi pura-pura kesal.
"Ada apa lagi?"
"Apa kau masih mencintai Hyunmie?" Mendengar ucapan itu Kyuhyun untuk sesaat terdiam lalu berdeham kecil.
"Apa kau sedang bercanda? Dia calon kakak iparku, dan lagi itu bukan urusanmu." Dengan kesal Kyuhyun pergi meninggalkan Hagi sendirian, Kyuhyun kesal karena Hagi tidak menyadari perasaannya malah menanyakan perasaannya yang dulu ia rasakan pada Hyunmie.
Tapi tidak bagi Hagi, Hagi berpikir Kyuhyun tersinggung karena Hagi membahas masalah perasaan Kyuhyun pada Hyunmie, padahal Hyun Mie adalah calon Kakak iparnya.
__ADS_1
"Aku akan membantumu Kyuhyun_ah... apapun itu akan aku lakukan, walaupun itu menyakitiku." Hagi menatap pintu yang dilewati Kyuhyun sendu, Hagi merasa bodoh karena mencintai orang di masa lalu yang jelas-jelas tidak bisa ia miliki.
Kyuhyun langsung melaporkan keadaan Hagi pada Raja Sejong di istana membuat Raja muda itu bernafas lega. Jujur saja sejak semalam Raja Sejong tidak bisa tidur karena tahu Hagi yang belum sadar, tanpa menunggu lama Raja memerintahkan Kasim Choi untuk bersiap, beliau ingin pergi melihat langsung keadaan Hagi.
"Aku juga sangat ingin memarahinya, dia masih sangat muda tapi bertingkah seperti dia tahu semuanya." Raja bergumam kecil sedikit kesal ketika Kasim Choi sudah menyiapkan kuda untuknya di belakang istana, beberapa pengawal termasuk Kyuhyun sudah bersiap di depan dan di belakang. Seperti biasa Raja mengunakan pakaian yang ia pakai untuk menyamar. Tanpa membuang waktu rombongan itu pergi menuju rumah bordir nyonya Young ae.
Sesampainya di rumah bordir tanpa menanggapi sambutan nyonya Young ae, Raja langsung pergi ke paviliun tempat Hagi di rawat dengan tidak sabar Raja masuk ke ruangan Hagi yang kini masih terlihat percakapan dengan Nam Young.
Melihat Raja datang Nam Young langsung berdiri dan saat itu juga Raja duduk di samping Hagi dan memeluk Hagi yang hanya bisa tertegun tak bergerak, bukan hanya Hagi yang terkejut tapi semua orang yang kini berdiri di depan pintu juga nampak terkejut melihat Raja memeluk Hagi tapi dengan cepat Kasim Choi meminta semua orang untuk meninggalkan ruangan Hagi lalu menutup pintu.
Kyuhyun yang sempat melihat hal itu Hanya bisa memejamkan mata juga mengepalkan tangan menahan perasaannya yang sesak, Nam Young yang melihat Kyuhyun hanya menepuk bahu Kyuhyun simpati. Bagaimanapun Nam Young tahu perasaan Kyuhyun pada Hagi seperti apa.
"Tenangkan dirimu." Ucapan Nam Young sontak membuat Kyuhyun melangkah pergi dari paviliun dia butuh menenangkan dirinya, dia tidak bisa bertindak gegabah dia harus tahu posisinya apa.
Di dalam ruangan Raja menatap Hagi sendu membuat Hagi sedikit menunduk tidak nyaman, selama ini Hagi bukannya tidak tahu perasaan Raja ini padanya. Tapi Hagi tidak tahu jika Raja sampai sekhawatir ini.
"Apa kau sudah lebih baik?" Dengan masih menunduk Hagi menjawab seadanya. Melihat Hagi yang canggung Raja melepas genggaman tangannya pada Hagi lalu mulai menjaga jarak. Dengan ekspresi di buat-buat Raja mulai memarahi Hagi.
"Kau tahu, kau membuat semua orang repot semalaman dan beraninya kau mengambil keputusan sendiri tanpa berunding denganku? Apa kau tidak menghargaiku sebagai Rajamu?" Ucapan Raja sontak membuat Hagi menatap Raja lalu menggeleng kuat.
"Bukan, bukan begitu Yang Mulia. Saya hanya takut Yang mulia semakin terbebani jika acara penyambutan untuk utusan Yuan terganggu. Karena saya yakin Yang Mulia pasti akan meminta saya berhenti dari misi jika tahu saya terluka. Saya juga tidak punya solusi lain untuk menangani kekacauan disini sedangkan acara tinggal 3 hari lagi. Saya minta maaf karena membuat Yang mulia tidak senang." Raja Sejong hanya bisa membuka mulut lalu menutup nya kembali ketika dia kehabisan kata-kata, walaupun apa yang di ucapkan Hagi benar, tetap saja Raja Sejong merasa Hagi tidak percaya padanya.
"Kau ini memang keras kepala. Harus bagaimana aku menghukummu." Hagi kembali menunduk sambil sesekali menatap Raja takut, dia tahu pasti Raja akan marah, tapi dia tidak menyangka Raja akan semarah ini.
"Maaf Yang Mulia..." akhirnya Raja Sejong hanya bisa menghela nafas pelan lalu kembali menggenggam tangan Hagi.
"Kumohon jangan ulangi lagi hal seperti ini, aku ingin kau berbagi denganku. Setidaknya bukan sebagai Raja, tapi sebagai teman. Bisakah kau melakukannya?" Hagi menatap Raja Sejong dihadapannya sambil tersenyum sendu, di masa depan orang yang memilki wajah yang sama dengan orang yang ada di hadapannya juga pernah mengatakan hal yang sama pada Hagi. Walaupun sifat mereka beda, tapi kepedulian mereka benar-benar sama.
"Terima kasih Yang mulia." Raja Sejong mengangguk kecil lalu tersenyum lega.
"Yang mulia, bisakah kita bicara berdua?" Mendengar ucapan Hagi yang mendadak Raja mengerutkan keningnya bingung.
Seolah mengerti maksud Hagi, Raja meminta semua orang untuk menunggu di luar paviliun dan tanpa harus mengulang perintah nya, Kasim dan nyonya Young ae serta Nam Young keluar dari paviliun.
"Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan?" Setelah merasa hanya tinggal berdua Hagi menatap Raja di depannya serius.
"Apa Yang Mulia sudah memiliki rencana untuk mengambil hati mentri Kim lagi?" Mendengar ucapan Hagi Raja menghela nafas pelan, Raja memang belum memilki rencana apapun tapi sekalipun belum Raja tidak ingin Hagi kembali terlibat.
"Belum, lagipula aku tidak akan melibatkanmu lagi tentang mentri Kim, aku tahu kau terluka pasti karena orang suruhannya. Kau hanya cukup menjadi pengawalku mulai sekarang." Hagi menggeleng tidak setuju.
"Yang mulia tahu itu tidak mungkin. Hanya saya sekarang yang bisa membantu Yang mulia, saya pihak netral yang tidak akan membela Fraksi manapun Yang Mulia tahu itu. Saya tahu mentri Kim yang berusaha melukai saya, tapi saya juga tahu mentri Kim adalah orang terkuat yang bisa menjadi penguat tahta putra mahkota untuk kedepannya. Yang Mulia... izin kan saya membantu Yang Mulia." Raja menatap Hagi frustasi kenapa sulit sekali memberi pengertian pada Hagi, bahwa berurusan dengan mentri Kim sangat berbahaya.
"Saya janji apa yang akan saya lakukan tidak akan mencelakakan siapapun termasuk diri saya sendiri Yang Mulia." Kali ini Hagi mulai memohon pada Raja membuat Raja muda itu hanya bisa menghelah nafas pelan.
"Baik, tapi aku akan langsung menarikmu dari misi ini jika kau sampai terluka kembali. Kau tahu kenapa aku mengutusmu dalam misi ini? Karena aku pikir kau tidak akan terluka, tapi lihat kau malah hampir mati karena berhadapan dengan mentri Kim. Tapi kau masih saja keras kepala. Jaga kepercayaanku kali ini kau mengerti." Mendengar ucapan Raja, Hagi tersenyum senang.
"Untuk sekarang aku ingin kau sehat dulu kau mengerti?" Kali ini Hagi mengangguk kecil.
"Saya patuh pada Yang Mulia." Raja hanya menggeleng pelan, baru kali ini ada yang berani tawar menawar dengannya seperti ini.
"Untuk sekarang apakah ada yang perlu kau butuhkan? Aku akan menyiapkannya untukmu." Mendengar penawaran Raja Hagi seolah teringat sesuatu.
"Apakah bisa saya meminta Nam Young menjaga sepupunya Yang Mulia? Saya pikir untuk berjaga-jaga ada baiknya ada seseorang yang menjaga Calon putri mahkota sebelum masuk istana." Raja mengangguk setuju, dia tidak memikirkan hal itu sebelum nya.
"Baiklah, ada lagi?" Hagi menatap Raja ragu-ragu ini sebenarnya adalah permintaan pribadi, tapi apa Yang mulia tidak akan curiga.
"Ini sebenarnya permintaan pribadi, apakah saya boleh melihat data keluarga calon putri Mahkota? Ada yang harus saya pastikan." Mendengar ucapan Hagi Raja mengerutkan keningnya heran.
"Apa aku boleh tahu apa itu?" Hagi mengigit bibirnya cemas dan hal itu terlihat oleh Raja.
__ADS_1
"Baiklah aku tidak akan memaksa jika kau tidak mau menjawab. Akan aku suruh orang untuk mengantarkannya padamu nanti malam. Baiklah aku harus kembali, aku harap kau tidak banyak bergerak Hagi. Aku benar-benar ingin kau sembuh." Hagi tersenyum lalu menunduk patuh.
"Baik Yang mulia..."
Siang itu juga Raja kembali ke istana, Nam young secara resmi langsung dikirim kerumah Calon putri Mahkota sesuai permintaan Hagi sedang Kyuhyun kembali menjadi pengawal Raja dan bahkan tidak di beri kesempatan untuk berbicara kembali dengan Hagi.
Walaupun sebenarnya Kyuhyun masih sedikit kecewa pada Hagi yang masih belum peka dengan perasaannya terlebih saat tahu dari pengawal lain jika Hagi sempat meminta waktu berdua saja dengan Raja, membuat Kyuhyun harus menahan setiap emosi yang bermunculan di hatinya.
Tapi Kyuhyun ingin sekali lagi memastikan keadaan Hagi walaupun hanya sekali, tapi lagi-lagi Raja Sejong berusaha membuatnya tidak bisa melihat Hagi.
***
Matahari tenggelam dengan cepat membuat rumah bordir nyonya Young ae kembali ramai seperti hari kemarin, dari kejauhan terlihat seseorang menunggang kuda masuk ke halaman belakang rumah Bordir nyonya Young ae. Setelah tahu keperluan dari orang itu apa, mandor Kang langsung mengantar orang itu ke paviliun tempat Hagi berada, disana ada paman dan bibi Ma yang baru tahu jika anak angkatnya terluka.
"Nona Hagi, ada utusan dari istana mengantarkan sesuatu dari Yang mulia." Mendengar hal itu Hagi yang masih di beri petuah oleh kedua orang tua angkatnya bernafas lega.
"Suruh dia masuk." Saat itulah Hagi melihat salah satu teman pengawalnya masuk lalu duduk di hadapannya.
"Oh, Changmin_ssi..." Changmin langsung menggenggam tangan Hagi lalu menatap Hagi cemas.
"Aku dengar kau terluka? Kenapa kau tidak memberitahuku?" Hagi tersenyum sendu, sedang paman dan bibi Ma tersenyum senang, banyak sekali ternyata orang yang begitu peduli pada putri angkatnya.
Shim Changmin adalah salah satu pengawal setelah Nam Young yang dekat dengan Hagi, Changmin juga yang pertama menyadari Hagi adalah seorang perempuan di antara pengawal yang lain.
"Maaf aku tidak bisa memberitahukannya saat itu, acara penyambutan sangat penting bagi Yang mulia."
"Tapi tetap saja, kau tega sekali hanya memberitahu Kyuhyun dan Nam Young saja." Changmin mulai memasang wajah sebal berbeda saat pertama masuk, jujur saja Changmin sangat cemburu karena Hagi sangat dekat dengan Kyuhyun dan Nam Young.
"Maaf... ah kau membawa sesuatu untukku dari Yang mulia?" Seolah di sadarkan kedatangannya kemari, Changmin langsung memberikan sebuah bingkisan pada Hagi.
"Katanya kau membutuhkan dokumen ini, Raja memintaku untuk memberikannya padamu." Hagi membuka bingkisan yang di dalamnya memang terdapat beberapa dokumen yang ia cari belakangan ini.
"Terimakasih, katakan pada Yang mulia akan aku kembalikan secepatnya." Changmin mengangguk pelan lalu mulai menceritakan apapun yang terjadi di istana selama Hagi cuti. Changmin begitu bersemangat bercerita pada Hagi, terlebih mengenai putra mahkota yang sempat mencuri waktu untuk melihat calon putri mahkota di kediamannya, juga Changmin mengatakan tentang Nam young yang sudah resmi mengawal calon putri mahkota sampai masuk istana.
Setelah merasa cukup berbicara panjang lebar dengan Hagi, Changmin pamit kembali ke istana juga meninggalkan Hagi untuk beristirahat. Paman dan bibi Ma juga langsung kembali ke kediaman mentri Park setelah yakin jika Hagi sudah membaik.
Ketika Hagi merasa sudah sendirian, dengan cepat Hagi membuka dokumen yang sejak tadi ingin sekali Hagi baca, Hagi membaca dengan teliti semua data yang ada. Matanya membulat ketika nama kakak calon putri mahkota terbaca olehnya.
"Shin Min ah..." Hagi nampak tertegun ketika dugaannya benar jika nenek moyangnya adalah salah satu bangsawan yang berhubungan dengan kerajaan.
Tapi tatapan Hagi jatuh pada dokumen lain di sampingnya, dengan cepat Hagi kembali membuka nya setelah membaca pesan singkat yang Raja berikan di halaman utama dokumen tersebut.
Hari itu sampai menjelang tengah malam Hagi sibuk membaca semua dokumen itu berulang-ulang, Hagi juga nampak berpikir keras mencari jalan keluar yang menguntungkan bukan hanya untuknya tapi juga semuanya.
Beberapa kali nyonya Young ae meminta nya untuk beristirahat tapi seperti biasa Hagi selalu keras kepala. Dia hanya akan makan dan meminum tonik yang di siapkan untuk nya.
Sebenarnya Hagi sudah menemukan jalan keluarnya, hanya saja dadanya terasa sesak setiap kali memikirkannya. Dia tidak sanggup menjalankan rencana ini, tapi Hagi justru harus melakukannya jika tidak ingin Hagi menghilang.
Dengan tangan bergetar juga linangan air mata, Hagi mulai menulis surat untuk Yang mulia. Ketika dia selesai menulis Hagi mulai terisak tidak tahan menahan tangisannya. Hatinya tidak kuat menahan kenyataan jika selamanya cintanya tidak akan pernah sampai.
"Kenapa cintaku harus sesakit ini..."
Pagi harinya surat serta bungkusan dari Hagi sampai di ruangan Raja, tanpa menunggu lama Raja membuka surat dari Hagi, wajah Raja muda itu berubah menjadi keruh ada rasa tidak setuju dengan isi surat yang Hagi berikan pada nya, walaupun apa yang Hagi tulis begitu masuk akal.
Raja juga membuka bungkusan yang ikut bersama surat Hagi, ada dua bungkusan yang pertama adalah dokumen yang kemari beliau berikan pada Hagi dan satu lagi adalah catatan yang terlihat masih baru. Perlahan Raja Sejong membaca nya
"Bagaimana bisa dia sepandai ini? Catatan ini sangat berharga untuk Joseon." Setelah selesai membaca catatan itu, Raja Sejong kembali menatap surat yang Hagi berikan.
"Kenapa kau melukai diri sendiri hanya untuk menolongku?" Raja bergumam sedih ketika kembali membaca rencana apa yang Hagi buat untuk menyelesaikan masalah yang kini sedang di hadapinya.
__ADS_1
bersambung