
Hagi menatap jendela kamarnya yang basah karen hujan, beberapa kali dia menghela nafas, oppanya masih belum juga datang padahal Yesung sudah berjanji tadi siang. Banyak hal yang ingin Hagi tanyakan pada oppanya itu, termasuk sahabat Yesung yang tadi siang menemaninya makan.
Beberapa kali Hagi nampak berpikir keras, lagi-lagi kebiasaannya kambuh. Dia lupa dengan nama teman oppanya itu, Hagi tidak terlalu tertarik saat berbicara dengan sahabat oppanya, hingga tidak terlalu memperhatikan namja itu.
"Ah tidak tau." Hagi mengerang kesal lalu mengambil ponselnya yang sejak tadi tergeletak di ranjang. Ada satu line dari Hyunmie, tapi untuk sekarang dia harus menghubungi oppanya Yesung. Hagi sudah sangat mengantuk, dengan sedikit malas Hagi mendial nomer 3 di ponselnya.
"Oppa disini." Yesung sudah tiduran di ranjang Hagi, membuat Hagi mendengus sebal. Kapan oppanya itu masuk kamar? Apa Hagi terlalu fokus menatap jendela? Ah sudahlah.
"Kenapa lama? Kau telat 2 jam oppa." Hagi mendekat lalu ikut berbaring di samping Yesung.
"Mian, ada sedikit masalah di Jeju jadinya setelah makan tadi oppa langsung kesana." Hagi membulatkan matanya? Yang benar saja, oppanya baru saja pulang pergi naik pesawat dalam satu hari, iya walaupun Hagi yakin itu salah satu pesawat pribadi keluarga Kim, sederhana tapi nyaman. Tapi tetap saja itu melelahkan, Hagi pernah merasakannya.
"Kenapa tidak menginap saja?" Hagi menatap oppanya yang memejamkan mata lelah, perlahan Yesung menatap Hagi di sampingnya.
"Aku sudah janji, dan aku tau kau ingin mengatakan hal penting padaku, jika tidak kau tidak akan repot menyuruhku pulang cepat bukan?" Hagi menghelah nafas pelan.
"Iya, tapi tetap saja, kenapa tidak bilang? Aku bisa menundanya lain kali." Yesung merubah posisi menjadi duduk di ikuti oleh Hagi.
"Aku tau, tapi aku sibuk untuk beberapa hari kedepan. Mungkin aku hanya bisa bertemu denganmu lagi saat turnamenmu minggu depan." Hagi mengerutkan keningnya binggung.
"Kenapa?"
"Aku akan pergi ke San Juan. Ada beberapa orang pribumi yang berniat menjual tanahnya pada perkebunan kita. Jadi tidak akan sempat berkomunikasi denganmu." Hagi mengangguk paham, oppanya memang sibuk karena appanya sibuk melatih Hagi, pekerjaan di luar negeri menjadi urusan Yesung.
"Lalu Hyunmie sudah tau?" Yesung mengangguk pelan.
"Setelah dari Barcelona dia berkeras ingin menyusulku." Hagi menahan senyum, dia tau betul Hyunmie sangat merindukan oppanya, karena memang belakangan ini Yesung sibuk.
"Oky, aku tau kau sudah sangat mengantuk, katakan apa yang ingin kau tanyakan." Hagi menatap oppanya lalu menghelah nafas pelan.
"Oppa tahu tidak hal yang membuat keluarga Kim memiliki tradisi aneh yang sering aku lakukan? Jujur saja aku mulai lelah oppa, aku memang menyukai semuanya, tapi jika tiap hari aku sudah tidak tahan oppa. Apa lagi hari ini appa memarahiku habis-habisan hanya karena aku tidak bisa mengimbanginya." Hagi menatap jendela kamarnya yang masih di basahi hujan, sedang Yesung hanya terdiam, dia ingin menceritakan semuanya, tapi itu larangan yang orangtuanya terapkan.
"Cederaku semakin parah, aku takut tidak menang di kompetisi selanjutnya." Yesung menarik lengan baju Hagi, memar di lengan Hagi memang semakin membesar, sekali lagi Yesung hanya bisa menghelah nafas lalu menggosok wajahnya frustasi.
"Aku akan bicara pada appa agar kau fokus ke kompetisi memanahmu dulu, ini memang sudah terlalu berlebihan. Tapi kau harus janji menang? Aku akan memberi hadiah yang bagus untukmu, sabtu depan juga ulang tahunmukan? Aku akan berikan yang sempurna untuk adikku tersayang." Hagi menggembungkan pipinya sebal, oppanya tidak menjawab pertanyaan yang ia tanyakan.
"Kau tidak mau bercerita juga? Aku sudah tanya eomma, tapi sama seperti kau, eomma malah membicarakan ulang tahunku." Yesung mengelus rambut Hagi lembut.
__ADS_1
"Kau akan tau nanti, tapi kau harus menang dulu dalam kompetisi kali ini." Hagi melipat tangannya sebal, tapi menghelah nafas ketika oppanya membawanya coklat yang sejak tadi di sembunyikan di bawah ranjang.
"Ck, oppa selalu tau cara aku berhenti kesal." Hagi mengambil coklat yang di angsurkan padanya.
"Aku tidak akan memakannya sekarang, oh iya ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan, teman oppa tadi siang sepertinya sangat familiar, apa aku sudah sering bertemu dengannya?" Yesung memutar matanya tidak percaya saengnya ini benar-benar.
"Kyuhyun maksudmu? Kau ini dia bukan sering lagi tapi hampir setiap hari datang kemari. Setidaknya kau harus mengingatnya, kau tau dia itu calon__" ucapan Yesung terputus ketika tuan Kim masuk ke kamar.
"Ikut appa ke ruang kerja." Tanpa di perintah dua kali Yesung beranjak dari ranjang, meninggalkan Hagi yang langsung murung.
'Akukan masih rindu oppaku.' Hagi merenggut sebal lalu menarik selimut lalu mematikan lampu.
Hagi membuka mata sesaat memikirkan nama teman oppanya tadi.
"Siapa iya tadi namanya? Aish aku lupa. Sudahlah lain kali saja." Hagi kembali menarik selimut dia tidak fokus saat oppanya menyebutkan nama temannya. Lagipula oppanya bilang temannya itu selalu datang setiap hari kerumah jadi mungkin saja akan bertemu lagi dengan teman Yesung. Sekali lagi bertanya nama tidak masalahkan?
___
Setiap pulang kuliah selama seminggu Hagi harus berurusan dengan appanya yang mengganas. Tapi semua terbalas dengan kemenangan telak untuknya di kompetisi yang di hadiri oleh semua orang yang peduli padanya.
Semua orang masih sibuk membicarakan keberhasilannya, sedang Hagi justru biasa saja, dia lebih memilih kabur dari pesta yang di adakan appanya di kediaman Kim atas kemenangan Hagi tadi siang juga merayakan ulang tahunnya yang ke duapuluh, Hagi lebih suka menyendiri di taman belakang tempat dimana appanya selalu melatihnya, dari bela diri, memanah, tongkat juga pedang.
Tempat itu menjadi saksi betapa tidak normalnya kehidupan Hagi dari dia kecil hingga sekarang. Tapi sesuai perjanjian appanya semua akan berkurang saat umurnya dua puluh tahun, walaupun sedikit bingung tapi Hagi cukup senang, mengingat dia sudah akan memulai pekerjaan barunya sebagai Dokter setelah selesai magang.
"Apa masih sakit?" Hagi menoleh ke arah kanannya lalu mengerutkan keningnya bingung.
"Nugu?" Ingat Hagi tidak suka dengan orang asing, dan dia merasa tidak mengenal orang di sampingnya. Sedang orang di samping Hagi tersenyum miris.
"Kau selalu melupakanku iya? Apa kau sangat tidak menyukaiku?" Hagi semakin mengerutkan keningnya, dia selalu mengingat orang penting jadi jika Hagi tidak ingat orang di sampingnya ini, pasti orang ini memang tidak penting.
"Maaf tapi aku memang tidak mengingat orang yang hanya sekali dua kali bertemu." Orang di samping Hagi hanya menghelah nafas pelan, ini benar-benar aneh Hagi seolah sangat sulit mengingatnya.
"Aku orang yang minggu lalu makan siang denganmu sambil menunggu Yesung, atau yang terbaru aku yang sempat mengobati luka di jarimu tiga hari yang lalu." Seolah teringat Hagi tersenyum miris merasa bersalah, namja di hadapannya adalah sahabat kakaknya.
"Mian, aku selalu lupa padamu, aku juga tidak tau kenapa." Hagi menggaruk kepalanya tidak gatal, namja di samping Hagi hanya menggeleng kepalanya frustasi.
__ADS_1
"Aku juga bisa menebak kau pasti lupa namakukan?" Sekali lagi Hagi hanya tersenyum canggung.
"Aku Kyuhyun, kau bisa panggil aku Oppa." Namja itu mengulurkan tangannya pada Hagi setidaknya ini kedua kalinya dia memperkenalkan diri. Hagi menjabat tangan Kyuhyun canggung.
"Hagi."
"Aku tahu." Hagi memalingkan wajahnya ketika Kyuhyun terus menatapnya, Hagi kembali menikmati suasana taman di hadapannya.
"Jadi bagaimana dengan tanganmu?" Hagi menatap tangannya lalu tersenyum miris.
"Masih sedikit ngilu, tapi aku sudah terbiasa. Ah terimakasih sudah datang sepertinya aku juga melihatmu di arena tadi siang." Hagi menatap Kyuhyun yang masih menatapnya intens membuat Hagi kembali memalingkan wajahnya.
'Kenapa namja ini?' Hagi bertanya dalam hati, merasa tidak nyaman dengan tingkah aneh Kyuhyun.
"Aku selalu datang." Hagi kembali mengerutkan keningnya sambil menatap Kyuhyun yang sekarang menatap ke arah taman.
"Selalu? Maksudmu kau datang di setiap kompetisi yang aku ikuti?" Kyuhyun menatap Hagi kembali lalu mengangguk kecil. Hagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu berusaha mengingat beberapa pertandingan terdahulu, di beberapa kesempatan Hagi memang selalu merasa oppanya Yesung selalu bersama seseorang jika dia bertanding selain bersama Hyunmie. Tapi Hagi memang tidak terlalu memperhatikan. Dia tidak menyangka jika Kyuhyunlah orangnya.
"Tapi kenapa? Kenapa kau selalu datang? Maksudku kita tidak saling mengenal selama ini." Hagi kembali bertanya beberapa kali dia menelan ludah ketika Kyuhyun belum menjawab pertanyaannya dan masih menatapnya tidak berkedip.
'Pupilnya besar sekali.' Hagi mulai memperhatikan Kyuhyun yang masih menatapnya, namja di hadapannya sangat tampan ternyata. Saat keduanya masih saling menatap Yesung merusak moment tersebut dengan teriakannya.
"Saeng!!! Appa mencarimu, dia bilang ingin memberimu hadiah kau di suruh masuk ke ruangan kerja appa sekarang." Hagi berdiri dengan cepat, terlihat salah tingkah ketika kontak mata dengan Kyuhyun terputus.
"Kyuhyun oppa, aku pergi dulu. Maaf dan terima kasih, annyeong." Hagi berlari meninggalkan Kyuhyun sendirian juga melewati oppanya yang terlihat tersenyum penuh arti pada Hagi.
"Aku mengenalmu, sangat mengenalmu." Kyuhyun menjawab pertanyaan Hagi yang sudah pergi meninggalkannya, tidak menyadari Yesung yang sudah duduk di sampingnya.
"Kali ini dia akan mengingatmu. Aku yakin itu." Kyuhyun menghelah nafas lemas, dia tidak terlalu berharap banyak.
"Entahlah, ini sudah lima tahun Yesung_ah. Tapi dia tidak pernah ingat aku sama sekali."
"Hei jangan begitu, kali ini aku yakin dia akan mengingatmu. Kau jangan menyerah." Kyuhyun tersenyum sendu, dia tau dia tidak akan menyerah pada Hagi atau lebih tepatnya Kyuhyun sudah tidak tahu cara menyerah.
bersambung
__ADS_1