
Langit malam di Seoul tidak pernah terasa gelap bukan karena bulan atau bintang tapi karena hiruk pikuk kota yang membuat langit seolah memiliki cahaya sendiri ketika malam, polusi juga cukup membuat keadaan malam di Seoul menjelang musim panas terasa pengap.
Hagi menghelah nafas sebal jika di bandingkan dengan Jeju, Seoul menjadi kota tidak nyaman untuk di tinggali, setidaknya selama sebulan terakhir Hagi bisa melihat bintang juga mendapatkan udara segar di Jeju. Tapi Hagi harus menghadapi realita jika dia harus pulang dan melanjutkan magangnya di Samsung hospital.
Selama sebulan terakhir setidaknya Hagi bisa datang beberapa kali ke air terjun itu walaupun beberapa kali sempat kecewa karena lagi-lagi air terjun itu menghilang secara misterius. Tapi setidaknya Hagi masih di beri kesempatan untuk melihatnya kembali.
Selama di Jeju juga Hagi sering sekali menghabiskan waktu bersama Hyuk Jae yang ternyata seorang polisi hutan di Jeju yang merangkap sebagai regu penyelamatan di sana. Jadi ketika Hagi ingin pergi ke air terjun itu dengan senang hati Hyuk Jae mau mengantarnya.
Tapi kesenangannya harus berakhir sekarang setelah magangnya yang sangat sebentar berakhir, Samsung hospital yang memintanya langsung untuk magang disana dan yang paling bahagia tentu saja orang tuanya. Jujur saja ketika tahu Hagi magang di Jeju orang tuanya itu menolak keras kepergiannya.
Tapi dengan keras kepala yang ia dapatkan dari ayahnya Hagi akhirnya mengeluarkan kartu andalannya. Janji ayahnya yang akan selalu mengizinkan Hagi kemanapun sendirian setelah berumur 20 dan sekarang Hagi bahkan sudah mau 22 tahun dia berhak melakukan apapun yang ia inginkan apa lagi setelah tugas melelahkan yang ia dapat dari takdir yang memberinya banyak luka sekaligus pembelajaran hidup.
Sekarang disinilah Hagi berada dia di dalam taksi dari bandara menuju rumahnya, padahal baru saja satu bulan dia magang jauh dari jangkauan orang tuannya yang ternyata lebih protektif lagi pada Hagi setelah pulang dari Joseon. Suara ponsel membuat Hagi tersadar dari lamunannya. Saat mengetahui siapa yang menelpon Hagi memutar bola matanya sebal.
"Hallo ada apa lagi? Bukankah aku sudah bilang aku pasti langsung pulang."
"Tidak sebaiknya kau menginap dulu di hotel... kita sebenarnya sedang tidak ada di rumah."
Ucapan orang di seberang telepon membuat Hagi menaikan alisnya heran bukannya tadi baru saja oppanya bilang untuk pulang langsung kerumah dari bandara?. Sambil mengangkat bahu Hagi hanya mengangguk paham.
"Baiklah..." tanpa menjawab Yesung langsung mematikan panggilannya membuat Hagi mendengus sebal.
"Eiii menyebalkan sekali oppaku ini." Sesaat Hagi nampak berpikir bukannya bagus jika di rumah tidak ada siapa-siapa? Dia bebas melakukan apapun di rumah.
Akhirnya Hagi tetap memutuskan untuk pulang kerumah toh Hagi bukan anak kecil yang takut di tinggal sendirian di rumah, ada banyak pelayan juga di rumah besarnya itu. Saat sampai di rumah Hagi menatap para pelayan yang sepertinya asyik menatap ruang tamu, seharusnya mereka sedang di depan menyambut siapapun itu di depan rumah seperti biasanya.
"Kalian sedang melihat apa? Bukankah tidak ada orang di rumah?" Teguran Hagi sontak membuat semua kerumunan berbalik lalu menatap Hagi canggung. Tanpa menjawab pertanyaannya para pelayan itu membubarkan diri meninggalkan Hagi sendirian yang akhirnya ikut penasaran dengan apa yang para pelayannya lihat di ruang tamu.
Saat menatap ruang tamu Hagi menaikan alisnya heran karena ternyata orangtua dan juga oppanya ada di rumah tapi tatapan Hagi kini tertuju pada dua pasangan suami istri sepertinya yang kini sedang berlutut di hadapan orang tuanya sambil membelakanginya.
Terlihat jelas jika orang tuanya itu tidak suka dengan pasangan suami istri di hadapannya dan ini tidak seperti biasannya, orang tua Hagi tidak pernah arogan atau merasa tinggi hati selama ini hingga membuat orang berlutut di hadapan mereka lalu membiarkannya begitu saja.
"Sekali lagi maafkan kami, kami tahu kami salah tapi jika kalian yang ada di posisi kami pasti kalian akan melakukan hal yang sama pada putri kalian. Kami mohon setidaknya izinkan putra kami menemui Hagi, karena sejak bangun dari komanya orang yang ia cari hanya Hagi." Mendengar namanya di sebut membuat Hagi semakin bertanya-tanya siapa sebenarnya orang yang mereka bicarakan, karena selama ini Hagi terlalu banyak penggemar bukannya sombong karen banyak dari namja di kampusnya yang jatuh hati padannya.
Tapi melihat reaksi keluarganya sepertinya orang ini sudah dekat dengannya, tapi siapa? Seolah mengingat seseorang Hagi perlahan keluar dari tempat persembunyiannya membuat semua anggota keluarganya terkejut.
"Hagi_ya..." mendengar nama Hagi di sebut oleh nyonya Kim kedua pasangan suami istri yang sejak tadi berlutut berdiri lalu mendekat kearah Hagi.
"Oh syukurlah akhirnya kau mau keluar nak, kami mendengar tentang kepulanganmu satu bulan lalu kami tidak menyangka kau masih hidup. Maafkan kami yang memisahkanmu dengan putra kami, tapi sungguh saat itu kami juga tidak sanggup melihatnya terus seperti itu dan menelantarkan banyak hal termasuk hidupnya." Yeoja paruh baya yang berbicara di hadapan Hagi membuat Hagi terdiam karena wajahnya jelas sekali mirip dengan bibi Ma di Joseon begitu juga dengan namja di sebelahnya mirip sekali dengan paman Ma. Rasa rindu menyelubingi hati Hagi, baginya bibi dan paman Ma sudah seperti orangtua kedua baginya. Tapi yang membuat Hagi heran selama di masa sekarang ini Hagi merasa baru kali ini melihat kedua orang ini. Terlebih mendengar perkataan yeoja paruh baya ini membuat Hagi semakin kebingungan.
"Maaf tapi siapa kalian?" Keduanya menghelah nafas lalu menatap tuan Kim yang memalingkan wajah menyerah, Hagi langsung menatap oppanya yang mendekat kearahnya lalu menariknya sedikit menjauh.
"Oppakan bilang kau tidur saja dulu malam ini di hotel, kenapa kau malah pulang? Sekarang kau masuk kamar oppa dulu." Hagi menaikan alis matanya semakin heran.
"Aku hanya pikir buat apa ke hotel sekalipun kalian benar tidak ada di rumah tidak masalah bagiku sendirian di rumah dan aku tidak akan masuk kamar sebelum mendengar penjelasan sekarang juga." Yesung menghelah nafas pelan, Hagi jika sudah keras kepala akan susah sekali memberi pengertian padanya, terbukti sekarang Hagi malah kembali ke ruang tamu lalu duduk di samping nyonya Kim ibunya.
"Ada yang bisa menjelaskan sesuatu padaku? Ajjuma siapa putra ajjuma? Apa dia salah satu teman kampusku?" Sekali lagi yeoja paruh baya di hadapan Hagi itu menatap tuan Kim yang menghelah nafas pelan lalu menatap istrinya yang akhirnya mengangguk kecil.
__ADS_1
"Hagi_ya kenalkan ini paman dan bibi Cho selama ini kami memang belum mengizinkan keluarga Cho untuk mengenalmu secara langsung mengingat kau juga terlalu sibuk mengurus tradisi keluarga ini. Hanya saja mereka sempat beberapa kali melihatmu dari jauh dan kami juga sering bertemu membahas tentangmu juga putra keluarga Cho." Hagi tidak bersuara dan menatap nyonya dan tuan Cho bergantian lalu mengangguk memberi salam.
Tuan Kim menjeda ucapannya berharap Hagi berbicara atau bertanya untuk mengulur waktu tapi sepertinya kebiasaan Hagi belum berubah dia akan diam sebelum ayahnya itu benar-benar selesai bicara.
"Enam tahun lalu ada seorang namja yang juga sahabat oppamu datang kemari, dia langsung tertarik dan mengajukan niat seriusnya pada appa untuk menjalin hubungan denganmu, saat itu kau taukan keluarga kita punya syarat tertentu untuk menikahi putri keluarga Kim? Lagipula saat itu juga kau masih terlalu kecil jadi ayah memberi namja itu waktu untuk memenuhi syaratnya juga sedikitnya berusaha untuk dekat denganmu. Kebetulan namja itu adalah putra ajjuma dan ajjusi di hadapanmu ini." Mendengar ucapan ayahnya kali ini Hagi merasakan kembali perasaan sakit yang berusaha ia sembunyikan, Hagi berusaha untuk tidak pergi dari sana dengan ******* ujung kemeja putih yang ia gunakan juga mengigit mulut dalamnya agar tidak menangis.
Hagi sadar sekarang jika kedua pasangan suami istri di hadapannya adalah orangtua Kyuhyun, takdir memang aneh Hagi pikir apapun yang berhubungan dengan Kyuhyun tidak akan menghampiri hidupnya lagi. Tapi ternyata sekarang malah orangtua namja itu datang kerumahnya.
Melihat putrinya yang siap menagis nyonya Cho menggengam tangan Hagi lalu mengelus tangan putrinya seolah memberi kekuatan pada Hagi, melihat itu Hagi tersenyum sedih pada ibunya lalu berusaha menjernihkan pikiran juga berusaha meredakan sesak di hatinya dengan menarik nafas dalam-dalam.
"Jadi kenapa ajjuma dan ajjusi Cho harus berlutut di hadapan appa?" Pertanyaan Hagi sontak membuat tuan Kim menghelah nafas lalu menatap tuan Cho tajam.
"Mereka ingin kau bertemu dengan putra mereka setelah mereka memaksa putra mereka untuk meninggalkanmu dulu." Hagi menatap pasangan itu yang menatapnya dengan wajah menyesal.
"Sekarang setelah pernikahan putranya batal dan kau kembali mereka datang kemari untuk meminta maaf dan berharap kami mengizinkanmu bertemu dengan putra mereka kembali." Ucapan tuan Kim kali ini membuat Hagi membeku lalu menatap tuan Kim kebingungan, kali ini nyonya Cho mendekat lalu duduk di sebelah Hagi.
"Kyuhyun tidak pernah meninggalkanmu Hagi_ya... dia terlalu mencintaimu... Saat itu kami memang memintanya untuk menikah tapi entah bagaimana dua hari sebelum ia menikah Kyuhyun terlibat kecelakaan dan koma. Dokter bilang putra kami tidak memiliki semangat hidup sama sekali hingga sulit bagi Kyuhyun untuk bangun dari komanya." Hagi yang sejak tadi berusaha menahan air mata akhirnya menangis memeluk nyonya Kim tapi tangan kirinya masih ******* kuat tangan nyonya Cho, seolah meminta nyonya Cho untuk terus melanjutkan ceritanya. Mendapat persetujuan dan nyonya Kim yang mengangguk pada nyonya Cho akhirnya nyonya Cho kembali berbicara.
"Saat itu kami berdua berjanji pada Kyuhyun jika putra kami itu bangun kami tidak akan meminta Kyuhyun untuk menikah jika bukan denganmu, dokter bilang sekalipun koma Kyuhyun masih bisa mendengar kami setidaknya dengan begitu Kami pikir dia akan bangun. Entah itu keajaiban Tuhan atau Kyuhyun yang memang terlalu mencintaimu, kau tau nak dua hari kemudian setelah dua bulan tertidur dia bangun dari komanya dan kau tau Hagi_ya orang yang pertama kali ia cari bukan kami orang tuanya tapi kau. Anak tidak tahu diri itu terus bertanya dimana kau sekarang dan kami hanya bilang agar dia sembuh terlebih dahulu setelah itu kami berjanji padanya untuk membawanya ke Korea." Dalam isak tangisnya Hagi sempat tersenyum mendengar nyonya Cho sempat mengumpat sebal pada Kyuhyun.
"Kami binggung juga malu saat itu, binggung karena kami tahu kau mungkin saja masih menghilang lalu kami juga malu pada orangtuamu untuk setidaknya mempertemukanmu dengan Kyuhyun setelah tahu kau sudah di temukan. Tapi Kyuhyun dengan keyakinannya yang bahkan tidak ia miliki dulu saat kau yang selalu melupakannya berkata jika kau pasti mau bertemu dengannya." Belum selesai berbicara Hagi menghapus air matanya lalu menggenggam kedua tangan nyonya Cho erat.
"Iya, aku mau ajjuma... dimana dia sekarang? Jebal aku ingin bertemu dengannya." Nyonya Cho terseyum senang lalu menatap nyonya Kim yang mengangguk pelan sedangkan tuan Kim hanya bisa menghelah nafas pelan melihat putri satu-satunya itu begitu ingin bertemu dengan namja yang bahkan dulu tidak pernah ia ingat. Sambil mengangguk tuan Kim melambaikan tangan mengizinkan.
Nyonya Cho juga menatap Yesung yang akhirnya menghelah nafas lega, sebenarnya Yesung setuju jika akhirnya Kyuhyun bersama Hagi hanya saja dia tidak bisa membantah ayahnya tadi. Perlahan Yesung mendekat lalu menarik Hagi dari ruang tamu menuju kamarnya. Sedikit kesal Hagi menarik tangannya dari genggaman Yesung.
"Dia ada di dalam." Hagi mengerutkan keningnya bingung saat Yesung memberi kode pada Hagi untuk masuk ke kamarnya dengan gemas Yesung mengacak rambut Hagi sayang.
"Namja yang kau tangisi itu ada di kamarmu sekarang." Mendengar ucapan Yesung membuat Hagi langsung meninggalkannya begitu saja lalu masuk kekamarnya. Suara pintu kamar tertutup membuat Yesung menghelah nafas pelan.
"Akhirnya kau bisa bahagia saeng." Setelah mengucapakan hal itu Yesung kembali keruang tamu dan mengabarkan jika sepertinya sebentar lagi kedua keluarga ini akan bersatu.
****
Pertama kali yang Hagi lihat di dalam kamarnya tentu saja kamarnya yang serba biru hanya saja tidak ada siapa-siapa disana membuat Hagi mengerutkan keningnya bingung, Hagi bahkan membuka kamar mandi hanya untuk memastikan mungkin saja Kyuhyun sedang di toilet tapi lagi-lagi tidak ada siapa-siapa di sana. Suara seseorang bernyanyi dari arah balkon kamarnya membuat Hagi tertegun dengan perasaan gemetar karena terlalu senang perlahan Hagi mendekat kearah balkon kamarnya.
Disana Hagi bisa melihat punggung namja yang tanpa harus berbalikpun Hagi tahu milik siapa. Namja itu Cho Kyuhyun kini sedang bernyanyi lagu yang terlalu sedih dan tidak cocok dengan perasaan senangnya kali ini.Menyadari seseorang memandanginya Kyuhyun berbalik lalu menatap sendu kearah Hagi.
"Hai... lama tidak___" belum sempat Kyuhyun menyelesaikan ucapannya Hagi sudah lebih dulu memeluk Kyuhyun erat dan dengan segenap perasaannya yang terluka dan terobati sekarang Hagi menagis sekuat tenaga membuat Kyuhyun panik, Kyuhyun sesekali menatap Hagi yang masih memeluknya erat sambil berusaha menenangkan Hagi dengan kata-kata yang membuat Hagi semakin ingin menagis juga tertawa.
"Hei kenapa? Katakan sesuatu padaku? Kenapa kau menangis seperti ini? Apa kau tidak senang bertemu denganku? Hagi_ssi kau memang tetap cantik walaupun menangis tapi jadi tidak keren." Sedikit sebal Hagi mencubit perut Kyuhyun pelan tapi tidak ada ekspresi di wajah Kyuhyun namja itu masih menatapnya khawatir.
Hagi menatap Kyuhyun sendu kali ini tangannya terulur menangkup wajah Kyuhyun yang menegang, sebelumnya Hagi tidak pernah seintim ini dengan Kyuhyun jadi Kyuhyun cukup terkejut dengan apa yang terjadi hari ini.
"Apa kau baik-baik saja? Aku dengar kau kecelakaan dan koma?" Kali ini Kyuhyun lebih terpaku lagi, sejak kapan Hagi bicara non formal dengannya? Merasa canggung Kyuhyun menarik tangan Hagi di wajahnya lalu mengajak Hagi duduk di kursi balkon.
"Apa terjadi sesuatu sebelumnya saat kau menghilang? Kau tidak seperti biasanya Hagi_ssi, ah apa kau ingat namaku? Kalau tidak biar aku perkenalkan nam__" kali ini Kyuhyun hanya bisa membulatkan matanya dan membeku tidak berbicara ketika Hagi memotong pembicarannya dengan mengecup bibirnya spontan.
__ADS_1
"Ara, namamu Cho Kyuhyun dan kau calon suamiku bukan? Jadi kenapa harus seformal itu denganku?" Kyuhyun mengedipkan matanya lalu menepuk pipinya keras membuat Hagi meringis pelan.
"Anni... aku jelas-jelas tidak sedang bermimpi..." gumaman Kyuhyun sukses membuat Hagi menahan senyum dan tanpa pikir panjang Hagi duduk di pangkuan Kyuhyun dan membuat Kyuhyun menahan nafasnya.
"Ha...Hagi_ssi..." Hagi mengalungkan kedua tangannya di leher Kyuhyun membuat Kyuhyun semakin gugup, dulu saat di Joseon Hagi tidak bisa melakukan hal seperti ini mengingat dulu masih tidak sebebas sekarang dan setelah tahu Kyuhyun calon suaminya di masa sekarang membuat Hagi tidak bisa menahan diri lagi.
"Panggil Hagi saja... dan kau tidak sedang bermimpi sekarang." Setelah mengatakannya Hagi kembali mengecup bibir Kyuhyun beberapa kali tubuh namja itu membeku tidak bergerak membuat Hagi menghentikan kecupannya di bibir Kyuhyun.
"Kenapa? Apa kau tidak menyukainya?" Setelah bebas dari keterpakauannya Kyuhyun menggeleng cepat membuat Hagi tersenyum kecil lalu kembali mencium Kyuhyun yang kali ini memeluk Hagi dengan erat membalas setiap kecupan yang berubah menjadi lumatan halus di bibir Hagi ketika nafas keduanya semakin memburu Kyuhyun melepaskan ciuman itu terlebih dahulu lalu menatap Hagi sendu.
"Hagi_ya... sebaiknya kita menikah secepatanya, tidak apakan jika aku tidak melamarmu dulu?" Hagi tersenyum bahagia walaupun dia menginginkan lamaran yang romantis dari Kyuhyun tapi mengingat seberapa berjuangnya Kyuhyun entah itu di masa lalu ataupun di masa depan untuknya Hagi rasa ini saja sudah cukup.
"Itu ide bagus lagi pula aku sudah tidak bisa menunggu lagi." Hagi kembali mencium Kyuhyun mendadak membuat Kyuhyun harus berpegangan dengan kursi di belakangnya, selama 6 tahun lebih mengenal Hagi, Kyuhyun tidak pernah membayangkan Hagi yang bahkan tidak pernah berpacaran sama sekali bisa seagresif ini.
Bahkan kini tangan Hagi menjelajahi dada juga perut Kyuhyun yang membuat Kyuhyun semakin menegang dan menggeram rendah, tidak tahan Kyuhyun menangkap tangan Hagi lalu melepas ciuman Hagi sambil menarik nafas dalam-dalam. Banyak sekali hal yang ingin Kyuhyun tanyakan tapi lagi-lagi Hagi menyerangnya dengan mengecup setiap jengkal lehernya yang putih.
"Ha..Hagi_ya... masih ada orang tua kita di depan..." tapi Hagi seperti tuli dan semakin menjelajah di tulang belikat Kyuhyun membuat Kyuhyun menarik nafas kuat demi menahan hasratnya pada gadis kecil di pangkuannya ini.
Tapi suara di luar benar-benar menghentikan aksi Hagi dan juga membuatnya turun dari pangkuan Kyuhyun kesal.
"Ingat kalian belum menikah, sebaiknya kalian kembali keruang tamu." Ucapan Yesung di luar pintu kamar membuat Hagi terus menggerutu, Kyuhyun sendiri nampak menghelah nafas lega lalu tersenyum kecil melihat Hagi yang nampak merapikan kemejanya. Kyuhyun berdiri lalu memeluk Hagi erat, Kyuhyun tidak tahu hari ini dia mendapatkan kejutan luar biasa seperti ini bahkan sebelumnya Kyuhyun sudah menyiapkan diri untuk menghadapi Hagi yang dingin seperti biasanya tapi Tuhan justru membuat gadis dingin ini menjadi begitu manis dan sedikit nakal.
Tapi bagaimanpun Hagi sekarang Kyuhyun sangat berterimakasih pada Tuhan karena ternyata menghilangnya Hagi serta kecelakaan yang ia alami membawanya pada takdir yang ia idam-idamkan untuk memiliki Hagi sejak melihat Hagi yang sedang bermain pedang bersama sang ayah saat Hagi bahkan masih belia.
"Terimakasih karena kau sudah kembali Hagi_ya... apapun yang terjadi saat kau menghilang aku bersyukur karena bukan hanya mengingat namaku saja sepertinya sekarang perasaan kita juga samakan?" Kyuhyun melonggarkan pelukannya lalu menatap Hagi yang tersenyum manis padanya.
"Anni... bahkan sejak dulu aku sudah menyukaimu, hanya saja mungkin Tuhan sedang ingin menguji kita saat itu. Aku mengingatnya sekarang semuanya... terimakasih juga karena kau masih menungguku dan juga tidak lelah berjuang untuk mendapatkan gadis payah sepertiku." Sekali lagi Kyuhyun memeluk Hagi erat rasanya menyenangkan sekali merengkuh sesuatu yang dulu terasa jauh dari jangkauannya ini.
"Kau tidak payah kau ini keren aku saja iri." Hagi tertawa kecil sambil memeluk Kyuhyun semakin erat menghirup aroma tubuh namja itu dalam-dalam dan entah kenapa sekarang Hagi benar-benar merasa sudah pulang dan rumah itu kini dalam pelukannya.
"Hagi_ya... mungkin ini sedikit terlambat tapi aku benar-benar mencintaimu... hari ini aku akan langsung melamarmu." Hagi hanya mengangguk kecil lalu menengadah menatap Kyuhyun yang lebih tinggi darinya sedikit.
"Aku juga mencintaimu..." Kyuhyun tersenyum lalu mengangkat tubuh Hagi gemas dan mencium pipi Hagi kuat-kuat.
"AGRHHH kau manis sekali." Geram Kyuhyun membuat Hagi tertawa lepas.
Inilah alasan Tuhan memberikannya banyak takdir hidup yang rumit dengan lahir di keluarga Kim juga tradisi keluarganya Hagi di beri kesempatan untuk memilih mendapatkan seseorang yang bisa ia cintai atau hanya sekedar melintas dalam hidupnya dan Hagi memilih Kyuhyun sebagai seseorang yang bisa ia cintai dan mencintainya.
Alasan Hagi hidup adalah untuk membantu dirinya sendiri menemukan cinta sejatinya bukan hanya untuk kebahagiaan orang lain tapi juga kebahagiaannya sendiri.
"Terimakasih Tuhan untuk setiap kebahagiaan yang aku dapatkan dalam hidup dan juga menjadikan diriku sebagai bagian dari kebahagiaan orang lain."
End
Terimakasih karena sudah membaca karya saya sampai selesai, baca juga cerita saya yang lain.
Ariyana^^
__ADS_1