Timeless Love

Timeless Love
King Bodyguard


__ADS_3

Ruangan itu nampak sunyi, tidak ada yang bersuara, mentri Park masih menunggu respon dari seorang gadis yang sedang berpikir keras di hadapannya.



"Bagaimana? Kau mau? Testnya memang tidak gampang, tapi Yang Mulia sendiri yang meminta langsung. Putraku Officer Park akan membantu untuk test." Hagi memegang tengkuknya masih ragu, dia tidak menyangka orang yang dia tolong malam itu adalah raja Sejong, lebih tidak percaya lagi beliau memintanya untuk menjadi pengawal pribadi.



"Tapi tuan, saya seorang wanita, apa tidak menjadi masalah?" Tuan Park tersenyum maklum.



"Sebelumnya aku sudah memberitahukan Yang Mulia Jika Kau adalah perempuan, awalnya beliau sangat terkejut. Tapi setelah itu beliau tertawa dan tetap memintamu menjadi pengawalnya. Jadi beliau tidak ada masalah soal itu." Hagi menghelah nafas pelan, menjadi pengawal Raja bukanlah pekerjaan mudah. Salah sedikit dia bisa saja di hukum mati.



"Apa tidak apa-apa jika saya menolak tuan?" Tuan Park mengangkat alisnya heran.



"Sebenarnya tidak apa, tapi kau akan membuat Raja kecewa. Lagipula bukannya bagus jika kau jadi pengawal Raja? Statusmu akan naik dan kau akan mendapat bayaran yang lumayan tinggi." Hagi kembali menghelah nafas pelan sekarang masalahnya bukan itu, dia hanya harus bertahan hidup sampai dia tahu cara untuk pulang. Jadi jika dia menjadi pengawal Raja, nyawanya bisa terancam setiap waktu.



"Tuan, bisakah anda memberi waktu untuk saya berpikir? Bagaimanapun pekerjaan itu bukan pekerjaan yang mudah." Tuan Park menatap Hagi sejenak lalu mengangguk paham.



"Baiklah, aku akan memberimu waktu. Tapi aku harap jawaban yang memuaskan darimu." Hagi mengangguk ragu lalu izin untuk keluar ruangan tuan Park.



Diluar rumah Bibi Ma dan Bibi Cha menunggu Hagi penasaran, tapi Hagi hanya berjalan melewati keduanya ketika mereka bertanya. Tapi kemudian Hagi berbalik lalu menatap bibi Ma lemas.



"Eomma bisakah aku pergi sebentar? Sepertinya aku butuh angin segar." Bibi Ma terdiam, dia menatap Hagi cukup lama, sepeti mencari masalah apa yang membuat anak angkatnya itu resah.



"Baiklah tapi jangan jauh-jauh. Kau baru saja sembuh dari sakit dan juga lukamu belum sembuh benar." Hagi hanya mengangguk kecil lalu pergi dari kediaman mentri Park.



Hagi berjalan tidak tentu arah, pikiran nya hanya tertuju pada setiap pelajaran yang ayah dan ibunya berikan, ada beberapa pelajaran yang tidak di mengerti Hagi saat itu, kenapa dia harus mempelajarinya? Tapi ibunya hanya meminta untuk selalu mengingat semuanya.



'Pasti ada alasannya? Kalau tidak ayah dan ibu tidak akan menyuruhku untuk mempelajarinya. Ayah jelas bilang jika itu untuk bekalku nanti, jika aku tidak salah bekal yang di maksud adalah bekalku untuk disini bukan?' Hagi bergumam dalam hati pikirannya sedang tidak fokus hingga menabrak seseorang di depannya.



"Oh kau?" Hagi menatap orang yang ia tabrak terpana tapi dengan cepat langsung mengubah sikapnya lalu memberi hormat.



"Ma..maafkan saya Yang__" ucapan Hagi tertahan ketika mulutnya di bekap oleh orang yang ada di hadapannya.



"Shhht" Hagi mengedipkan matanya terkejut lalu mengangguk paham saat orang di hadapannya menaruh jari telunjuknya di bibir. Setelah yakin Hagi tidak akan bicara sembarangan orang itu melepaskan bekapannya pada Hagi.



"Ekhmm jangan bicara sembarangan aku sedang menyamar." Orang itu bicara sambil berbisik di hadapan Hagi membuat Hagi sesaat menahan nafas karena terlalu dekat.



"Ba..baik Yang mulia." Gumam Hagi pelan, tapi masih cukup terdengar oleh orang di hadapannya yang ternyata adalah Raja Sejong.



"Jadi apa kau sudah memikirkan permintaanku?" Ucapan Raja sukses membuat Hagi menatap orang di hadapannya heran. Tapi seolah teringat sesuatu Hagi kembali menunduk.



"Maaf Yang Mulia, tolong beri saya waktu." Raja menghelah nafas pelan.



"Jadi kau mau membantah perintah kerajaan?" Hagi lagi-lagi menatap Raja kali ini dengan ekspresi frustasi.



"Yang Mulia..." Raja tersenyum senang.



"Baiklah ku anggap kau menerimanya, bersiaplah minggu depan jendral Kim Jong Seo yang akan memberimu test." Hagi hanya bisa menunduk pasrah, disini Raja berkuasa penuh dia tidak bisa membantah apa-apa.



"Baik Yang Mulia." Raja Sejong tertawa senang, dia memang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Sejak malam itu dia langsung tertarik pada Hagi, jarang sekali ada seorang wanita yang pandai bermain pedang melebihi para pengawalnya.



"Jadi mau kemana kau sekarang?" Hagi kembali menatap Raja di hadapannya lalu berpikir.

__ADS_1



"Hanya jalan-jalan biasa Yang Mulia."



"Begitukah? Kalau begitu ikut denganku, aku juga sedang ingin berjalan-jalan." Hagi mengedipkan matanya beberapa kali lalu mengangguk pelan.



Raja Sejong berjalan lebih dulu lalu di ikuti Hagi dan beberapa pengawal kerajaan, saat itulah Hagi melihat seseorang yang masih membuatnya cemas, orang itu tersenyum manis padanya dia sedikit menurunkan topi yang ia kenakan untuk memberi salam pada Hagi.



"Tuan Kim??" Ucapan Hagi membuat Raja berbalik ke arahnya.



"Kau berbicara sesuatu?" Hagi menatap Raja lalu menatap orang yang dia panggil tuan Kim.



"Ah Kyuhyun? Iya dia mulai mengawalku lagi hari ini, sebenarnya aku sudah menyuruhnya untuk istirahat total, tapi dia keras kepala ingin mengawalku. Kau sudah mengenalnya lebih dulu bukan?" Hagi tersenyum kecil lalu mengangguk pelan.



"Iya Yang Mulia."



Sedang Kyuhyun hanya menunduk lalu meminta maaf pada Raja.



"Maafkan saya Yang Mulia." Raja Sejong hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan perjalanan, sebelumnya Kyuhyun sempat berbisik pada Hagi.



"Nanti kita bicara lagi, sekarang kita temani dulu Yang Mulia jalan-jalan." Hagi hanya mengangguk patuh lalu kembali berjalan di belakang Raja. Selama di perjalanan sesekali Hagi menatap Kyuhyun, Hagi merasa tidak asing dengan Kyuhyun dan entah kenapa ada perasaan rindu untuk namja di sampingnya, perlahan Hagi menghembuskan nafasnya.



'Sadarlah Hagi, dia namja dari masa lalu.' Hagi merasa mulai gila karena berpikir merindukan seseorang yang tidak seharusnya. Gerakan itu terlihat oleh Kyuhyun membuat Kyuhyun mendekati Hagi.



"Kau baik-baik saja?" Kyuhyun berbisik pelan pada Hagi membuat Hagi tersentak gugup tapi kemudian hanya mengangguk dan menunduk meremas kedua tangannya.



'Apa ini? Kenapa aku jadi seperti ini?' Hagi kembali bergumam dalam Hati dia berjalan lebih cepat agar tidak sejajar dengan Kyuhyun, Hagi mengelus dadanya yang berdetak berlebihan.




'Ada apa dengan bocah ini?' Kyuhyun hanya mengangkat bahunya tidak peduli lalu kembali berjalan di belakang Hagi.



Selama di perjalanan Raja Sejong tidak banyak bicara, dia hanya melihat bagaimana kondisi rakyat nya. Beliau nampak murung ketika beberapa pertanian rakyatnya mengalami kegagalan. Kemarau panjang juga sepertinya menjadi alasan terbesar bagi rakyatnya mengalami kegagalan ini.



"Apa yang bisa aku lakukan untuk rakyatku?" Raja Sejong menghelah nafas pelan, berbicara pada diri sendiri tentang kegagalan panen tahun ini. Hagi menatap pertanian di hadapannya lalu mengerutkan keningnya.



'Kalau seperti ini jelas panen gagal. Mereka hanya memanfaatkan air hujan saja.' Hagi yang memang berasal dari keluarga yang memiliki usaha di bidang pertanian, tahu betul apa masalah dari pertanian di Hanyang sekarang. Tapi sebagai orang biasa Hagi tidak bisa memberikan pendapat pada Raja di hadapannya begitu saja.



"Yang mulia sudah saatnya untuk kembali ke istana." Kasim ketua yang mendampingi Raja mulai mengingatkan jika sudah waktunya Raja kembali. Raja Sejong menghelah nafas lalu mengangguk pelan saat itulah entah keberanian dari mana Hagi mulai bicara.



"Jangan khawatir yang mulia, jika yang mulia memang ingin membantu. Mungkin yang mulia bisa berbagi makanan di istana yang berlebihan pada rakyat Yang mulia." Ucapan Hagi sontak membuat Raja terdiam.



"Beraninya kau memberi saran pada Yang Mulia." Kasim ketua yang melihat Rajanya mengerutkan keningnya angkat bicara. Mendengar bentakan Kasim Ketua Hagi menunduk lalu meminta maaf.



"Tidak apa Kasim Choi, lagi pula apa yang dia katakan ada benarnya juga. Terimakasih atas sarannya, akan kupikirkan. Sekarang lebih baik kau pulanglah, aku dengar kau baru sembuh setelah menolongku waktu itu. Dan jangan lupa bersiaplah untuk testnya. Aku harap kau bisa lulus."



"Baik yang mulai." Hagi menunduk lalu mundur untuk mempersilakan Raja Sejong pergi. Sesaat Kyuhyun berhenti di hadapan Hagi, membuat Hagi semakin menunduk dalam.



"Nanti malam aku tunggu kau di rumah bordir Nyonya Young ae. Aku ingin berbicara denganmu." Hagi hanya menatap Kyuhyun sesaat lalu kembali menunduk.



"Baik tuan." Kyuhyun lalu kembali berjalan meninggalkan Hagi yang menghembuskan nafasnya keras.

__ADS_1



"Di dekatnya aku bisa kena serangan jantung." Hagi mendengus kesal sambil mengelus dadanya pelan.



"Syukurlah dia sepertinya sudah sehat." Sesaat Hagi tersenyum kecil, selama beberapa Hari dia selalu memikirkan keadaan Kyuhyun, luka Kyuhyun lumayan parah saat itu.



***



Hagi lagi-lagi menguap untuk kesekian kalinya, dia sudah tidak tahan dengan bacaan yang ada di hadapannya. Bukan karena tidak menarik tapi Hagi sudah tahu isinya, ibunya selalu meminta Hagi mengulang setiap isi kata di dalam buku yang ada di hadapannya setiap malam dan sekarang di masa lalupun dia harus membaca buku ini lagi. Awalnya Hagi sedikit terkejut dengan buku di hadapannya, Jung So bilang buku itulah yang isinya akan di gunakan untuk test calon pengawal pribadi Raja. Tapi akhirnya Hagi paham semuanya, sepertinya menjadi pengawal Raja adalah salah satu alasan dia kembali ke era Joseon jika tidak kenapa ibunya selalu memintanya menghafal buku kuno yang terlihat baru sekarang di hadapannya.



Awalnya Hagi masih sedikit ragu dengan tawaran Raja, bahkan sekalipun ikut test Hagi berencana untuk tidak meluluskan diri dari test tapi setelah dia membaca buku yang ada di hadapannya dia akhirnya pasrah. Apa lagi sekarang semakin banyak orang yang memintanya untuk jadi pengawal Raja.



"Ah, ini benar-benar tidak masuk akal. Kalau aku namja mungkin masih mungkin tapi kan aku wanita. Agrhh menyebalkan." Seharian ini Hagi menggerutu kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia masih ingat orang-orang yang memintanya menjadi pengawal Raja. Walaupun sebenarnya ada untungnya untuk Hagi, dia bisa berjumpa dengan Kim Jong Seo sesering mungkin. Wajah jendral itu mirip dengan oppanya Yesung. Terlebih dia juga bisa bertemu dengan Kyuhyun setiap hari, yang satu ini anggap hanya bonus, Hagi sebisa mungkin tidak akan terpengaruh oleh pesona putra bungsu keluarga Kim itu. Walaupun Hagi tidak yakin.



"Benarkah kau bertemu dengan Yang mulia?" Mentri Park langsung menemui Hagi di halaman belakang ketika tahu jika Hagi tadi sempat bertemu dengan Raja. Hagi memberi hormat lalu menatap mentri Park sendu. Wajah beliau mirip ayahnya.



"Benar tuan dan Yang Mulia sendiri yang meminta saya menjadi pengawalnya, saya sudah tidak bisa menolak lagi." Kali ini mentri Park nampak tersenyum senang.



"Sepertinya ini memang keberuntungan untuk keluarga kita, aku hanya memiliki putri perempuan yang memang hanya di siapkan untuk menikahi salah satu putra pejabat. Tapi dengan kedatanganmu kita bisa lebih dekat lagi dengan keluarga kerajaan. Aku menaruh harapan besar padamu Hagi, katakan apapun yang kau perlukan aku akan membantumu." Ucapan Mentri Park sontak membuat bibi Ma yang memang sedang ada disana tersenyum haru begitupun dengan paman Ma. Hagi semakin tidak tega mengecewakan mereka.



Malam harinya Hagi bertemu dengan Kyuhyun di rumah bordir Nyonya Young ae.



"Aku belum sempat mengucapkan terimakasih secara langsung padamu kemarin. Kau seorang petarung yang hebat, akan sangat di sayang kan jika kau hanya mengawal mentri Park saja. Kuharap kau menerima tawaran Yang mulia tadi siang. Aku juga mendukung jika kau menjadi salah satu pengawal Raja." Hagi menatap Kyuhyun lemas, semua orang terlalu berharap lebih padanya.



"Ah ada orang yang ingin bertemu denganmu, Hyung masuklah." Setelah mengucapkan hal tersebut seorang namja masuk kedalam ruangan tempat Hagi dan Kyuhyun bertemu. Hagi membulatkan matanya terkejut bahkan setiap gerakan namja itu tidak lepas dari pandangan Hagi jika saja Kyuhyun tidak menginterupsinya.



"Kenal kan ini Hyungku jendral Kim Jong Seo, dia yang nantinya akan memberimu test." Hagi masih menatap wajah namja di hadapannya penuh kerinduan.



'Yesung oppa...' Jong Seo yang di perhatikan seperti itu hanya mengerutkan keningnya bingung.



"Hagi_ssi...?" Ucapan Jong Seo sukses membuat Hagi menurunkan pandangannya.



"Ah maafkan saya tuan, tuan begitu mirip dengan kakak saya." Jong seo mengangguk maklum.



"Iya, tidak apa-apa, tapi aku dengar kau mendapat rekomendasi dari Yang mulia menjadi pengawal pribadinya Benarkah itu?"



"Benar tuan, tapi saya sendiri tidak percaya diri mengenai hal ini mohon petunjuknya tuan." Jong seo mengangguk paham.



"Aku yakin Kyuhyun juga Yang mulia tidak akan mendukungmu jika kau tidak memiliki kemampuan, tapi kau harus ingat aku tidak akan segan-segan saat test nanti, karena ini demi mencari pengawal Raja. Kau bisa memahaminya?"



"Saya mengerti tuan." Hagi sekali lagi menatap Kim Jong Seo yang di balas senyum teduh olehnya.



Hagi akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengikuti setiap permintaan dari orang sekitarnya, dia tidak bisa mengecewakan orang-orang yang berharap lebih padanya, tapi masalahnya Hagi bosan dengan pelajaran yang di berikan Jung so karena semua sudah ada di luar kepalanya.



Sayup-sayup Hagi mendengar petikan Gayageum dari samping rumah yang di gunakan sebagai beranda untuk bersantai.



"Siapa yang memainkan Gayageum sejelek ini?" Hagi mendengus ketika beberapa kali ada nada yang sumbang dari permainan Gayageum yang dia dengar, penasaran Hagi mendekat ke halaman samping tapi ketika sampai beranda tidak ada siapapun di sana. Hanya ada sebuah kecapi Gayageum disana. Perlahan Hagi mendekat ke arah beranda lalu menatap Kecapi Gayageum di hadapannya, sudah lama dia tidak bermain Gayageum. Sambil melirik kiri dan kanan Hagi duduk di hadapan kecapi itu lalu mulai memainkannya.



Hagi sejak kecil sudah terbiasa bermain alat tradisonal Korea, dia bahkan sudah mahir dalam berbagai cabang alat musik, kejeniusannya membantu Hagi menguasai semua alat musik. Jadi kadang kala dia bosan jika harus memainkan alat musik ini setiap hari, tapi ternyata Hagi rindu juga memainkannya jika sudah lama tidak melakukannya. Tanpa Hagi sadari pemilik Gayageum itu sedang menatapnya kagum.


__ADS_1


bersambung


__ADS_2