
Ketika kau sadar, semua kulakukan untukmu
♡♡♡
Kediaman Selir Suki nampak rusuh ketika Kyuhyun pergi dari sana, pasalnya Hagi tidak mau berhenti menagis dia masih merasa bersalah pada Kyuhyun karena tidak bisa memberitahukan semuanya pada Kyuhyun.
Hagi tidak mau Kyuhyun semakin terluka karena tidak bisa berbuat banyak jika tahu kalau Hagi akan memghilang karena tidak menyelesaikan tugasnya di Joseon dan juga kembali ke masa depan. Hagi berjanji setelah yakin bisa memyelesaikan tugasnya, Kyuhyunlah orang kedua yang akan ia beritahu semua tentangnya.
Berusaha untuk menghentikan tangisannya, Hagi menarik nafas pelan lalu kembali memperbaiki dandanannya di bantu dayang Jang yang lega ketika melihat selir Suki berhenti menangis. Setelah merasa lebih baik Hagi bersiap kembali ke balai utama untuk bertemu dengan Raja Sejong, walaupun tadi pagi jelas Raja menolaknya siapa tahukan Raja sudah berubah pikiran. Dengan langkah pasti Hagi keluar dari Pavilunnya.
Tapi di luar Hagi bertemu dengan seseorang, ia menatap heran orang di hadapannya seingat Hagi orang ini seharusnya sedang berjaga di kediaman putri mahkota. Dan sudah lama sekali sepertinya ia tidak melihat orang di hadapannya.
"Selamat siang selir Suki, maaf saya baru sempat menyapa lagi." Hagi memutar bola matanya sebal, lagi-lagi ia harus mendengar orang terdekatnya di sini memanggilnya dengan gelar itu.
"Aku maafkan kau jika kau tidak memanggil gelarku lagi." Shin Nam Young tersenyum kecil dia tahu teman seperjuangannya dulu ini pasti belum terbiasa dengan gelarnya, tapi Hagi sekarang sudah menjadi keluarga kerajaan, mau tidak mau Hagi harus terbiasa dengan itu dan Nam Young harus menjaga tatak rama dengan anggota kerajaan.
Baru saja ia berniat melanjutkan percakapannya dengan Hagi, matanya tertuju pada orang yang kini sedang berjalan kearah keduanya membuatnya menunduk ketika orang itu siap menyapa Hagi. Membuat Hagi membalikan badannya lalu ikut memberi hormat pada orang di hadapannya.
"Apa aku tidak mengganggu pembicaraan kalian?" Hagi menatap orang di hadapannya lalu tersenyum kecil.
"Tentu saja tidak Pangeran Suyang. Pengawal Shin hanya ingin menyapa saya setelah sekian lama tidak bertemu. Apa yang membawa Pangeran berkunjung kemari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?" Pangeran Suyang tersenyum kecil, dia tadi memang kebetulan saja lewat setelah bertemu dengan ayahandanya di balai utama dan tertarik mengenal selir baru ayahnya yang satu ini, karena menurut informasi yang ia dapatkan Selir Suki sangatlah cerdas belum lagi buku yang tadi Raja Sejong perlihatkan padanya membuat Pangeran Suyang semakin tertarik pada Hagi ketika tahu Hagilah yang menulisnya.
Pangeran Suyang memang di kenal sangat tertarik dengan orang-orang cerdas seperti Hagi, menurutnya orang-orang itu bisa membantu menyokongnya menjadi Raja suatu saat nanti. Walaupun masih sangat muda Pangeran Suyang sangat ambisius dalam urusan kepemerintahan di istana.
"Kebetulan saja aku baru bertemu dengan ayahanda dan beliau memintaku untuk memberi salam pada ibunda Selir dan mengenal sedikit tentang ibunda Selir." Hagi tersenyum kecil, sepertinya pangeran di hadapannya sudah lupa padanya, atau mungkin pangeran di hadapannya ini memang tidak mengingat pertemuan-pertemuan dulu saat Hagi menjadi pengawal pribadi Raja.
"Suatu kehormatan Pangeran mau mengenal saya, selir biasa seperti saya tidak ada artinya Pangeran dan mungkin Pangeran bisa memanggil saya Suki saja rasanya saya belum terlalu tua untuk Pangeran panggil ibunda." Pangeran Suyang tertawa kecil, ternyata selir di hadapannya ini suka merendah.
"Baiklah, itu mungkin lebih baik Suki, kita hanya terpaut empat tahun bukan? Dan harus Suki tahu aku selalu subjektif menilai orang lain dan aku yakin Suki bukanlah selir biasa, jika tidak Suki tidak mungkin di anugerahi gelar Suki jika hanya selir biasa. Jadi bisakah kita berbicara di dalam?" Hagi menatap Pangeran Suyang lalu membuka jalan pada orang di hadapannya untuk masuk ke dalam paviliun, sepertinya rencananya untuk membujuk Raja untuk pergi ke utara harus ia tunda dulu, dia tidak menyangka hari ini akan bertemu dengan Nam Young dan juga Pangeran Suyang sekaligus.
Jujur saja Hagi tidak terlalu suka dengan Pangeran Suyang, karena dalam sejarah pangeran inilah yang akan membunuh kakek moyangnya Kim Jong Seo, tapi ia tidak bisa gegabah memperlakukan pangeran yang satu ini karena walaupun terlihat ramah pangeran Suyang sangat pendendam. Sekali saja membuat dia marah kau bisa saja tidak bisa bernafas esok pagi. Mungkin bukan Pangeran Suyang yang melakukannya melainkan mentri yang mendukungnya yang akan melakukannya.
Beberapa mentri yang memang tahu kondisi putra mahkota memang berubah haluan mendukung pangeran Suyang dan pangeran Suyang termasuk putra Raja Sejong yang tidak segan-segan membunuh orang hanya karena tidak ia sukai. Umurnya yang baru 16 tahun sama sekali tidak terlihat karena keahliannya dalam berbagai bidang bahkan ia sudah menjadi komandan pasukan di kerajaan. Itu juga salah satu alasan kenapa para mentri mendukungnya.
Hagi menatap Nam Young lalu menghelah nafas kecil, sebenarnya ia masih ingin membicarakan sesuatu dengan temannya itu tapi ia tidak bisa menolak keinginan pangeran Suyang.
"Kita bicara lagi nanti, kau bisa pergi sekarang." Nam Young tersenyum kecil.
__ADS_1
"Tidak usah khawatir aku akan tetap disini, sebenarnya Kyuhyun_ssi yang memintaku berjaga di sini karena dia ada sedikit urusan di luar istana tadi." Hagi menghelah nafas lalu masuk kedalam Paviliunnya, ternyata Kyuhyun masih berusaha membuatnya tetap tinggal di paviliun ini.
Hagi dan Pangeran Suyang saling berhadap-hadapan, pangeran muda itu nampak melihat seluruh ruangan pribadi Hagi dengan wajah heran.
"Suki ternyata memilki selera yang unik, tidak seperti selir yang lain yang suka dengan hal feminim Suki lebih terlihat lebih suka dengan hal yang lebih maskulin." Hagi hanya bisa tersenyum kecil lalu menuangkan segelas teh kedalam gelas yang baru saja di antar dayang Jang.
"Silahkan di minum pangeran." Pangeran Suyang mengangguk lalu meminum Teh yang di disediakan oleh Hagi.
"Akan sangat menyenangkan jika kau bisa membimbingku di masa depan, aku dengar kau yang membuat buku pertanian yang ayah bagikan pada rakyat juga beberapa buku lain yang sangat bermanfaat bagi Joseon. Tapi uniknya kau menggunakan nama lain untuk pengarang bukumu, ayah bilang kau ingin di kenal sebagai sarjana yang pintar dari pada seorang selir." Hagi cukup terkejut mendengar ucapan pangeran Suyang karena sebelumnya Hagi meminta Raja untuk merahasiakannya.
"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa pangeran, tapi jika pangeran butuh bantuan dengan senang hati saya akan membantu." Pangeran Suyang menghelah nafas, ternyata tidak mudah menarik selir baru di hadapannya ini menjadi pengikutnya.
"Baiklah, tidak apa. Aku bisa memahaminya kudengar kau membantu banyak tentang pengangkatan calon putri mahkota kemarin. Aku bisa yakin kau pasti lebih mendukung putra mahkota di bandingkan aku." Hagi menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Bukan begitu Pangeran, saya ini masih baru, belum memilik kekuatan apapun yang bisa menguntungkan siapapun, itu kenapa saya tidak bisa membantu banyak untuk Pangeran." Pangeran Suyang tersenyum kecil, dia bisa melihat selir di hadapannya lebih suka menjadi pihak netral dari pada memihak satu kubu saja.
"Baiklah, langsung saja aku ingin kau membantuku sedikit ada catatan penting yang ingin sekali aku lenyapkan tentang mentri Jang Hyo jin, aku yakin Suki tahu beliau siapa. Bagiamana?" Hagi menatap Pangeran Suyang datar, Hagi tahu betul siapa mentri itu dan alasan kenapa pangeran Suyang ingin catatan tentang mentri Hyo Jin di lenyapkan.
"Baiklah, kutunggu kabar baik darimu Suki." Pangeran Suyang berdiri dari duduknya lalu pergi begitu saja dari kediaman Hagi. Setelah itu Hagi baru bisa bernafas lega, Pangeran Suyang masih sangat kecil tapi sudah sangat pintar mengintimidasi orang yang bahkan terpaut jauh umur dengannya, bahkan ketenangan Pangeran Suyang sendiri semakin membuat Hagi tidak tenang.
"Dayang Jang Apa Kau di luar?" Tidak berapa lama kemudian dayang Jang sudah ada dihadapan Hagi sambil memberi hormat.
"Apa Pengawal Nam Young masih di luar? Jika iya bisa kau suruh dia masuk?" Dayang Jang kembali mengangguk lalu pergi keluar, tidak berapa lama Nam Young sudah masuk kedalam lalu memberi hormat pada Hagi dan duduk ditempat tadi Hagi duduk.
"Jadi bagaimana kabarmu? Apa putri Mahkota bisa menyesuaikan diri?" Nam Young tersenyum kecil, entah kenapa dia baru sadar jika temannya dulu sesama pengawal yang kini ada dihadapannya ini sekarang jauh lebih cantik dari sebelumnya.
"Aku baik Selir Suki, putri mahkota juga sudah terbiasa dengan keadaan di istana." Hagi berdecak sebal, lagi-lagi Nam Young memanggil gelarnya.
"Bisakah jika hanya berdua kau panggil namaku seperti biasa? Jika tidak aku benar-benar akan marah." Nam Young menghelah nafas tapi kemudian mengangguk kecil.
"Baiklah, kau harus mulai terbiasa dengan gelar itu Hagi." Hagi sekarang memutar matanya sebal membuat Nam young harus menahan tawa melihat kekesalan di wajah Hagi yang kentara.
"Aku hampir bosan dengan kata-kata itu." Nam Young hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali, sekalipun sudah menjadi selir Hagi ternyata masih sama seperti dulu.
"Oh iya aku juga ingin berbagi kabar bahagia, kau tahu putri mahkota sedang hamil, iya walaupun janinnya sangat lemah tapi ini kabar yang sangat menggembirakan." Hagi membulatkan matanya terkejut lalu tersenyum senang.
__ADS_1
"Syukurlah, berarti hubungan putri dan putra mahkota baik hingga membuat putri mahkota hamil. Apa Yang Mulia sudah tahu?" Nam Young kembali mengangguk kecil.
"Iya, pagi ini putra dan putri mahkota sendiri yang memberitahukan berita bahagia ini." Hagi mengangguk paham, sesuatu tiba-tiba terpikir olehnya dengan senyuman bahagia Hagi menatap Nam young senang.
"Aku harus bertemu dengan Yang Mulia. Ah bisakah kau meminta wakil perdana mentri Kim Jong Seo datang setelah aku bertemu Yang Mulia?" Nam Young menatap Hagi bingung, kenapa tiba-tiba Hagi ingin bertemu dengan Yang Mulia Dan Jong Seo_ssi?.
"Baiklah..." seolah tidak berniat memberitahukan apa sebenarnya yang Hagi pikirkan akhirnya Nam Young menuruti keinginan Hagi.
"Dayang Jang katakan pada balai utama, aku akan datang berkunjung." Dayang Jang menhelah nafas, karena selir muda yang ia layani ini tidak mau diam tapi dayang Jang tetap mematuhi ucapannya.
Setelah semua persiapan siap, Hagi dan para dayangnya pergi ke balai utama, tidak lupa Nam Young mengawalnya di belakang tepat di samping dayang Jang. Sesuai dugaan Hagi Raja sepertinya masih tidak mau berbicara dengan Hagi, Raja Sejong tahu Hagi pasti akan membahas kepergiannya lagi ke utara.
"Yang Mulia... apa Yang Mulia tidak senang aku datang? Apa sebaiknya aku tidak perlu datang ke balai utama lagi saja?" Masih tidak ada jawaban akhirnya Hagi berdiri sambil memberi hormat.
"Baiklah saya tidak akan ke sini lagi." Setelah mengatakan hal itu Raja Sejong akhirnya menahan tangan Hagi untuk tidak pergi.
"Kau tahu kenapa aku begini, kenapa malah kau yang marah?" Hagi menatap Raja Sejong yang nampak merajuk, dia sebenarnya ingin tertawa bagaimanapun orang di hadapnnya hampir seumuran dengan oppanya tapi entah kenapa malah terlihat lucu jika merajuk. Tapi sebisa mungkin Hagi menahannya.
"Yang Mulia juga tahukan kenapa saya melakukannya? Ini juga untuk yang mulai." Raja Sejong menarik Hagi agar kembali duduk lalu menghelah nafas pelan.
"Bisakah kita bicarakan hal lain saja?" Hagi mengangguk kecil lalu menggenggam tangan Raja Sejong erat.
"Saya kesini sebenarnya ingin mengucapkan selamat untuk yang mulia. Saya dengar putri mahkota sedang hamil." Raja Sejong langsung berubah senang di mengangguk lalu sedikit tertawa kecil.
"Iya aku sangat bersemangat menjadi seorang kakek." Hagi juga ikut tersenyum senang melihat Rajanya bahagia.
"Apa boleh aku menyarankan sebuah pesta kecil untuk merayakan kebahagiaan ini? Ini adalah masa paling membahagiakan bukankah begitu?" Raja Sejong mengelus tangan Hagi kecil lalu mengangguk pelan.
"Tentu saja, kau bisa melakukannya, apapun asal jangan pergi ke utara." Hagi berdecak sebal tapi kemudian menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Baiklah, saya juga tidak akan meminta izin lagi untuk pergi." Raja Sejong semakin senang perlahan ia memeluk Hagi pelan.
"Terimakasih, aku bisa tenang sekarang." Hagi mengangguk kecil walaupun ia tidak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya.
"Maafkan aku Yang Mulia... ini juga demi yang mulai."
__ADS_1