
Ada yang tidak kumengerti
Jika kita tidak bisa bersama kenapa kita harus saling mencintai
♡♡♡♡♡
Kyuhyun menatap Hagi yang nampak cantik dengan Cima yang ia pakai, tatanan rambut Hagi juga aksesoris yang Hagi gunakan menambah nilai kecantikan yang Hagi punya. Pandangan Kyuhyun semakin meredup ketika gadis yang ia cintai begitu sangat mempesona membuat Kyuhyun tidak sanggup mengalihkan pandangannya dari Hagi.
Hatinya semakin sakit ketika menyadari setelah ini dia bahkan harus menundukan pandangannya saat Hagi bersamanya, Kecantikan yang Hagi miliki sepenuhnya akan menjadi milik Raja Sejong sebentar lagi.
"Bisa tinggalkan kami berdua?" Kyuhyun memerintahkan beberapa dayang istana yang baru saja selesai merias Hagi untuk keluar dari ruangan tempat Hagi berhias. Tanpa di minta dua kali ke empat dayang itu langsung keluar dari ruangan itu.
Hagi berdiri di hadapan Kyuhyun yang menatapnya dengan tatapan yang sama sejak semalam, kesedihan dan luka membayangi mata Kyuhyun. Hagi juga memandang Kyuhyun dengan perasaan yang sama, kesedihan dan perasaan sakit membayangi mata coklatnya.
Perlahan Hagi mendekat kearah Kyuhyun mengelus wajah Kyuhyun dengan perasaan sesak yang sudah tidak bisa Hagi gambarkan lagi, sedangkan Kyuhyun lagi-lagi harus menitikan air matanya dan menjadi pria cengeng saat Hagi mengelus pipinya yang kembali basah.
"Aku akan sangat merindukan ini." Kyuhyun berbisik kecil lalu menggenggam tangan Hagi yang masih mengelus wajahnya lalu perlahan menarik Hagi kembali dalam pelukannya. Kecupan ringan Kyuhyun berikan pada Hagi di kening indah milik Hagi, lagi-lagi untuk memberitahukan Hagi jika Kyuhyun tulus hati mencintainya membuat seluruh tubuh Hagi bergetar menahan rasa sakit yang bermunculan di hatinya.
"Aku akan selalu mencintaimu, apapun yang terjadi kau harus ingat itu." Kyuhyun menatap Hagi yang hanya bisa mengangguk pelan lalu kembali memeluk Kyuhyun semakin erat.
Perlahan Kyuhyun mengurai pelukan Hagi dari nya lalu menatap Hagi sekali lagi, Kyuhyun menatap setiap detail wajah cantik di hadapannya menyimpannya dalam hati lalu tersenyum kecil.
"Kau cantik sekali Hagi_ssi..." Hagi mengigit mulut dalamnya, dia ingin sekali menangis. Jika keadaanya tidak seperti sekarang mungkin dia akan merona malu atau merasa senang, tapi keadaan sekarang bahkan tidak bisa mengubah perasaannya yang sakit dengan kata-kata memuja dari Kyuhyun.
Perlahan Kyuhyun mundur sebanyak dua langkah lalu menekuk satu lututnya di lantai lalu menunduk di hadapan Hagi, Hagi bahkan sampai mundur satu langkah karena terkejut dengan gerakan Kyuhyun yang tiba-tiba.
"Hamba Kim Kyuhyun di utus oleh Yang Mulia Raja Sejong untuk menjemput Calon Selir menuju istana." Kali ini Hagi benar-benar terisak kecil, inilah waktunya, inilah batasnya, Hagi dan Kyuhyun di pisahkan takdir menyakitkan seperti ini.
"Sekarang Hamba hanyalah pelayan, tolong jangan pernah menangisi hamba lagi." Kyuhyun tetap menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat ketika mendengar suara isak tangis Hagi yang semakin keras, Kyuhyun sudah memutuskan jika kini waktunya sudah habis bersama Hagi. Dia hanya akan menjadi pengawal yang baik untuk keluarga kerajaan.
Hagi berusaha mengendalikan emosi nya lalu perlahan Hagi bisa menghentikan tangisannya, Hagi harus kuat seperti Kyuhyun yang kini masih berlutut di hadapannya.
"Berdirilah, aku siap menerima titah Raja menuju istana." Mendengar ucapan Hagi Kyuhyun berdiri sambil tetap menunduk Kyuhyun memberi jalan pada Hagi untuk keluar dari ruangan itu. Hagi menarik nafasnya pelan, jika takdirnya memang harus seperti ini dia akan menjalaninya dengan baik, jika memang dia harus pulang ke masanya Hagi pasti menemukan jalannya, tapi jika tidak Hagi akan berusaha untuk menerima jika selamanya dia akan ada di era Joseon.
Hagi melangkah keluar dari rumahan peristirahatan itu, di halaman depan sudah ada sebuah tandu yang di siapakan untuknya. Hagi kembali berbalik menatap Kyuhyun yang tersenyum kecil padanya lalu kembali menunduk bahkan sebelum Hagi membalas senyumannya. Hagi memejamkan mata lalu perlahan masuk kedalam tandu untuk kembali melanjutkan tangisan yang sempat ia hentikan tadi, Hagi masih tidak bisa menahan sesak di dadanya, rasanya benar-benar menyakitkan.
Perlahan rombongan kecil itu bergerak perlahan menuju istana, Kyuhyun sendiri naik ke atas kudanya lalu menjalankan kudanya beriringan dengan tandu yang Hagi naiki, Kyuhyun hanya bisa mengeraskan rahangnya juga mengeratkan pegangannya pada tali kekang kuda ketika dengan jelas ia bisa mendengar suara isak tangis Hagi di dalam tandu. Berulang kali Kyuhyun menelan ludah susah ketika hatinya meronta kesakitan dan paling buruknya dia tidak bisa melakukan apa-apa entah untuk gadis yang kini ada di dalam tandu ataupun untuk hatinya yang terluka.
"Maaf... maafkan aku yang tidak bisa berbuat banyak untukmu..."
*****
__ADS_1
Acara pengangkatan selir dipimpin langsung oleh Ratu Seoheon, awalnya Sang Ratu terkejut karena yang menjadi selir ternyata salah satu pengawal yang beberapa kali sempat mengawalnya juga, Ratu Seoheon tidak tahu jika Hagi ternyata seorang perempuan karena yang Ratu tahu perempuan tidak di diperbolehkan menjadi pengawal. Tapi Ratu Seoheon tetap senang karena Hagi terkenal sangat cerdas saat ia masih menjadi pengawal Raja, apa lagi Yang Mulia sendiri yang meminta Hagi untuk di jadikan selir dari Wangsa Kim, jadi Ratu Seoheon tidak mempermasalahkan tentang status Hagi yang hanya anak angkat mentri Park, jika Hagi nantinya bisa membantu Mahkamah dalam istana saat menjadi Selir.
Kediaman Hagi ditempatkan tidak jauh dari paviliun Raja, paviliun yang hanya di tempati oleh selir yang memang menjadi kesayangan Raja. Awalnya ada kecemburuan dari selir lain pada Hagi, karena bagaimanapun Hagi baru saja menjadi selir tapi sudah mendapatkan fasilitas yang lebih dari yang lain . Tapi hal itu berkurang karena gosip para dayang yang berhembus dengan cepat bahwa Raja mereka sama sekali tidak pernah tidur dengan Hagi setelah seminggu Hagi di angkat menjadi selir.
Hari ini tepat seminggu Hagi di angkat menjadi selir, banyak sekali kejadian yang terjadi semenjak pengangkatannya menjadi selir. Pernikahan putera dan putri mahkota lalu pernikahan Kim Jong Seo dengan Shin Min Ah juga pernikahan Kyuhyun dan Hyunmie. Sudah seminggu ini juga Hagi tidak bertemu dengan dengan Kyuhyun, pria itu masih mengambil masa liburannya setelah menikah dengan Hyunmie sebelum kembali ke istana untuk jabatan barunya menjadi kepala pengawal kerajaan.
Mengingat hal itu Hagi masih sering merasakan rasa sakit di hatinya, dia tidak bisa menghentikan perasaanya pada Kyuhyun sekalipun dia sekarang adalah selir seorang Raja. Lucunya saat di masanya Hagi bahkan tidak pernah merasakan perasaan seperti sekarang ini yang membuatnya berkorban banyak hanya agar tetap bisa dekat dengan orang yang ia cintai.
Hagi menatap halaman depan paviliunnya yang di tumbuhi bunga matahari bunga yang menjadi kesukaannya yang sengaja di tanam disana atas perintah Raja Sejong. Hagi merasa bersalah karena belum bisa menjadi selir yang baik untuk Rajanya, walaupun Hagi tahu Raja Sejong tidak memaksakan apapun padanya Hagi tahu Rajanya itu berharap lebih tapi sampai sekarang Hagi tidak bisa memberikan apapun padanya.
"Selir Suki..." Hagi memutar badanya lalu memberi hormat setelah tahu siapa yang menegurnya, Suki adalah gelar kehormatan yang di berikan oleh orang yang kini ada di hadapannya pada Hagi, Raja Sejong.
"Yang mulia..." Raja Sejong menghelah nafas ketika melihat wajah sendu Hagi yang menyapanya, Raja Sejong sudah tahu resikonya memang akan seperti ini tapi entah kenapa ternyata berat untuknya tidak bisa melihat wajah bahagia Hagi seperti dulu.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Raja Sejong mendekat lalu menggenggam kedua tangan Hagi lembut, jika kemarin Hagi masih sedikit canggung dengan genggaman yang di berikan Rajanya itu, Hari ini Hagi sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Hagi tersenyum kecil lalu menggeleng pelan.
"Tidak ada Yang Mulia... saya hanya merasa bosan saja." Raja Sejong menghelah nafas pelan, wajar saja Hagi bosan karena biasanya Hagi selalu menghabiskan waktunya untuk berlatih pedang atau memanah.
"Kalau begitu kau mau membantuku? Mungkin bisa mengurangi sedikit kebosananmu." Hagi menatap Rajanya penuh tanya tapi kemudian mengangguk kecil.
Selama di perjalanan tidak ada percakapan sama sekali yang keduanya lakukan membuat Hagi sedikit heran karena biasanya Raja Sejong selalu mengajaknya bicara. Raja mengajak Hagi keperpustakaan Kerajaan yang hanya boleh di masuki oleh Raja dan putra mahkota.
"Yang Mulia apa tidak masalah jika hamba ikut masuk?" Raja hanya tersenyum kecil lalu menarik tangan Hagi untuk masuk.
"Selain kasim Choi jangan ada yang masuk." Ucap Raja sebelum masuk bersama Hagi.
Hagi hanya menurut saja ketika Raja menududkannya di kursi lalu beliau juga ikut duduk di samping Hagi, beliau juga meminta kasim Choi mengambilkan sesuatu yang sudah disiapkan tadi.
"Sebenarnya ada apa Yang Mulia? Kenapa harus disini kita membahasnya?" Hagi sedikit heran karena sekalipun jika ingin membahas sesuatu bukankah lebih bagus jika itu dilakukan di ruang kerja Yang Mulia?
"Aku tidak ingin para mentri curiga dan akhirnya menyudutkanmu lagi karena aku lebih suka membahas permasalahan negara denganmu dulu dari pada dengan mereka. Hanya karena aku tidak tidur denganmu, fraksi barat menekanmu beberapa hari ini, jangan kau pikir aku tidak tahu tentang hal itu." Hagi menghelah nafas pelan, mentri Kim dan mentri Park memang sempat mengunjunginya kemarin menanyakan perihal gosip yang beredar jika dia masih belum bermalam dengan Rajanya itu selama pengangkatannya. Keduanya sangat marah dan kecewa karena berharap Hagi bisa cepat mengandung keturunan Raja.
"Maaf Yang Mulia, ini memang kesalahan saya tidak bisa menjadi selir yang baik untuk Yang Mulia." Raja langsung menggelengkan kepalanya pelan lalu kembali menggenggam tangan Hagi erat.
"Tidak, aku yang memutuskan semua itu jadi ini bukan salahmu. Aku hanya ingin kau nyaman di dekatku, menghabiskan waktu seperti ini lebih dari cukup untukku." Hagi hanya bisa menatap Rajanya sedih dia tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan Rajanya itu.
"Terimakasih dan sekali lagi maafkan hamba Yang Mulia.."
__ADS_1
"Sudahlah... aku mengajakmu ke sini bukan ingin mendengarkan permintaan maafmu karena aku sudah bilang bukan kau tidak bersalah." Raja Sejong menatap Kasim Choi lalu mengangguk meminta Kasim Choi meletakan beberapa kertas yang ia bawa tadi di depan Hagi dan Raja.
"Aku ingin meminta pendapat padamu tentang pasukan Jurchen. Dulu aku dengar kau sempat berhadapan dengan tentara itu dari Kyuhyun, aku juga dengar orang tuamu meninggal karena di bunuh oleh mereka." Ucapan Raja sukses membuat Hagi terkejut, kejadian belakangan ini sukses membuat Hagi lupa tentang pasukan Jurchen yang ingin sekali Hagi cari tahu keberadaannya. Karena di masanya ibu Hagi sering sekali membacakan tentang pasukan Jurchen ini. Entah kenapa rasanya hanya ini satu-satunya jalan untuk Hagi pulang ke masanya walau pun Hagi tidak tahu bagaimana.
"Apa yang bisa saya bantu Yang Mulia?" Kali ini Hagi sedikit bersemangat kembali dan itu cukup membuat Raja Sejong senang ternyata apa yang di katakan Kyuhyun benar, jika Hagi tertarik dengan tentara pemberontak ini.
Raja Sejong membuka beberapa kertas yang tadi di berikan oleh kasim Choi di hadapannya lalu menunjukannya pada Hagi.
"Kau masih ingat dengan kejadian saat Kyuhyun hampir di bunuh saat membawa surat penting dari mata-mata kerajaan? Aku dengar maukah yang menyelamatkannya dan membuat surat itu sampai padaku." Hagi kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Kyuhyun, saat itu memang Kyuhyun sedang dalam misi membawa sebuah surat penting.
"Iya saya mengingatnya Yang Mulia." Raja Sejong mengangguk kecil
"Ini adalah surat yang dulu di jaga oleh nyawa Kyuhyun agar sampai padaku. Disini di tulis ada pasukan Jurchen yang sangat kuat di bagian utara Joseon mereka bahkan tidak bisa dikalahkan oleh pasukan terbaik Joseon sekalipun." Hagi menggerutkan keningnya heran, setahu Hagi tidak ada tentara Jurchen yang seperti itu dalan sejarah dan Hagi tahu pasukan Jurchen yang ada di utara itu bisa diatasi pada tahun ini. Hagi cukup terkejut juga ternyata Kyuhyun melindungi informasi penting saat itu.
"Lalu apa yang ingin Yang Mulia inginkan dari saya? Saya jelas sudah tidak bisa ke medan perang karena saya sudah menjadi selir Yang Mulia jika itu yang ingin Yang Mulia katakan."
"Tentu saja tidak, aku tidak akan pernah menempatkanmu lagi dalam bahaya. Ini aku hanya ingin bertanya tentang ini padamu." Raja kembali menyodorkan kertas lain ada Hagi kali ini sebuah gambar yang Raja perlihatkan pada Hagi.
Awalnya Hagi biasa saja melihat gambar di hadapannya tapi setelah di ingat-ingat lagi akhirnya Hagi sadar jika gambar ini sangat familiar untuknya. Reaksi Hagi jelas terlihat jelas oleh Raja Sejong.
"Apa kau pernah melihatnya? Atau apa kau pernah berhadapan dengan orang yang memakainya?" Hagi menatap Rajanya bingung, dia tidak bisa menjelaskan apa yang ia ketahui tentang gambar di hadapannya. Lagipula ada bagian lain yang hilang dari gambar ini, atau mungkin hanya terlihat mirip saja dengan apa yang Hagi pikirkan.
"Memang kenapa dengan gambar ini Yang Mulia?" Raja Sejong menghelah nafas pelan seperti Hagi belum mau bercerita padanya.
"Menurut mata-mata yang aku kirim di dalam pasukan itu, ada seorang jendral dari Jurchen yang pernah mengganggu kawasan Jeju sebelumnya yang memilki kalung berbandul gambar ini, jendral itulah yang sekarang menjadi pemimpin di daerah utara Joseon yang mereka ganggu. Menurut mata-mata itu jendral ini adalah seorang budhis yang taat, dia mendapatkan kalung itu dari salah satu Wihara di Jeju. Mata-mata ini juga bilang jika kekuatan dari kalung inilah yang membuat pasukan itu tidak terkalahkan." Hagi sedikit merinding mendengar ucapan Rajanya, rasanya tidak mungkin hal-hal seperti itu terjadi, tapi jika di pikir lagi bisa saja hal itu terjadi jika tidak bagaimana dengan Hagi yang bisa datang ke era Joseon dari abad milenium jika bukan karena adanya hal-ha yang di luar akal manusia.
"Apa Yang Mulia mempercayainya?" Raja Sejong menghelah nafas pelan, dia adalah Raja yang berpikiran secara ilmu alam dan logika dia tidak percaya dengan ilmu-ilmu yang tidak bisa di buktikan secara nyata. Itu kenapa penyelidikan kali ini sedikit alot karena Raja yang tidak mau menerima laporan seperti ini.
"Jujur saja aku tidak bisa percaya dengan hal-hal seperti ini, apa lagi hanya dari pembicaraan orang lain yang artinya belum pernah di lihat langsung kebenarannya. Itu kenapa aku ingin bertanya padamu, bukankah dulu orang tuamu di serang di Jeju? Aku hanya berpikir mungkin kau pernah melihat orang ini secara langsung dan melihat orang itu menggunakan kalung berbandul sama seperti di gambar ini." Hagi sekali lagi melihat gambar di hadapannya, dia tidak pernah melihat hal seperti yang Raja Sejong katakan, dia hanya pernah melihat bandul itu walau pun ada bagian lain yang tidak ada di dalam gambar ini. Atau mungkin bisa saja berbeda.
"Saya belum bisa memastikannya Yang Mulia, beri saya waktu untuk berpikir." Raja Sejong mengangguk paham, bagaimanapun Raja Sejong berpikir mungkin Hagi belum siap mengingat kembali kematian orang tua kandungnya. Tapi sebenarnya bukan itu yang kini Hagi pikirkan.
"Baiklah kau bisa mengambil kertas-kertas ini untuk kau pelajari. Jika kau mengingat sesuatu katakan saja padaku." Hagi mengangguk kecil.
Raja sudah keluar dari perpustakaan meninggalkan Hagi sendirian di sana, Hagi terus menatap gambar dihadapnya penasaran. Tapi untuk sesaat Hagi membeku ditempat ketika lagi-lagi Hagi melihat tangannya berubah menjadi transparan, dengan cepat Hagi mendekap tangannya erat-erat.
"Ada apa lagi ini..."
bersambung
__ADS_1