Timeless Love

Timeless Love
Reality


__ADS_3

Ini bukan tentang dirimu tapi ini tentang aku yang tidak bisa melihat wajahmu yang terluka dan itu karena aku



♡♡♡♡♡



Para mentri berkumpul di aula kerajaan dengan banyaknya diskusi perihal eksekusi yang akan di alami oleh mentri Jang, beberapa nampak senang khususnya fraksi yang memang mulai menentang Putra mahkota naik tahta, mereka semua sudah mulai bersiap-siap untuk merapat pada Pangeran Suyang yang selama ini memang di bawah kendali mentri Jang. Tapi berkumpulnya para mentri hari ini bermaksud untuk melepas Kim Jong Seo sebagai Jendral juga wakil perdana mentri yang akan berperang di utara bukan tentang eksekusi yang memang tidak bisa si cabut lagi.



Raja Sejong yang biasa ikut dalam pertempuran untuk sementara mempercayakan semuanya pada Jong Seo, selain karena urusan kerajaan Raja Sejong masih berduka setelah kehilangan selir kesayangannya. Keadaan aula langsung sunyi ketika Raja Sejong masuk aula, semua mentri langsung menyambut Raja Sejong memberi hormat.



"Seperti yang kalian tahu, hari ini pasukan kerajaan akan kita kerahkan ke utara guna memberantas suku Jurchen yang meresahkan beberapa desa di sana. Aku mengutus Kim Jong Seo untuk memimpin pasukan kesana, beberapa pasukan pribadi dari beberapa keluarga mentri juga ikut di kerahkan agar kita bisa memberantas Jurchen hingga habis." Tidak ada yang protes, semua menerima titah Raja patuh. Jong Seo sendiri sudah lengkap dengan pakaian jirahnya lalu berlutut di hadapan Raja guna meminta restu.



"Hamba menerima titah Raja." setelah itu Jong seo langsung keluar dari aula kerajaan menuju halaman istana dimana sudah ada ratusan pasukan yang menunggu nya disana.



Selama di perjalanan menuju utara pasukan sempat beristirahat di desa terakhir di mana benteng utara berada, disana Hagi juga beberapa orang kepercayaan Jong Seo sudah menunggu untuk bergabung menuju medan perang. Jong Hyun yang sejak awal memandu Hagi dari keluar istana sampai ke desa ini juga ikut dalam pasukan, Jong Hyunlah yang nanti akan membantu Hagi untuk keluar dari medan perang setelah memastikan Jendral Jurchen tidak memiliki kekuatan apapun dari bandul yang ia kenakan.



"Selir Suki bagaimana anda memastikan jika Jendral itu sudah tidak bisa menggunakan kekuatan magisnya lagi?" Hagi menghelah nafas lalu menatap tajam ke arah Jong Seo yang masih memanggil nya dengan gelar itu, padahal sudah berapa kali Hagi bilang untuk hanya memanggil namanya saja, selain karena bisa berbahaya jika di dengar orang lain, bagi Hagi gelar itu sudah tidak di perlukan lagi karena bagi banyak orang Selir Suku sudah mati.



"Apa kau mau aku memanggilmu Haraboeji? Aku sudah bilang kan panggil namaku Jong Seo_ssi." Jong Seo meringis ketika Jong Hyun juga Jung so menahan senyum, Jong Seo harus kembali terbiasa memanggil Hagi dengan namanya bukan gelarnya.



"Maaf kau tahu aku sudah mulai terbiasa dengan gelarmu." Hagi menghelah nafas lalu menatap bandul di tangannya lama.



"Aku masih ingat ucapan biksu kepala sebelum kita kembali ke Hanyang kemarin. Bahwa hanya darahku sajalah yang bisa menyatukan bandul itu kembali. Dengan kata lain aku harus masuk ke medan perang dan menguasai Jendral itu langsung, aku yakin Jendral itu menggunakannya sebagai kalung persis apa yang di katakan Jin so." Jung so menatap Hagi khawatir, bagaimana pun Hagi adalah perempuan dan ini adalah perang pertama untuk Hagi. Sekalipun Hagi adalah pengawal Raja yang tangguh, peperangan jauh berbeda dengan hanya sekedar mengawal.



"Apa itu tidak terlalu berbahaya? Akan sangat sulit nantinya bagimu untuk keluar dari medan perang setelah menyegel kekuatan bandul itu." Kali ini Hagi tersenyum kecil, akhirnya Jong Seo tidak menggunakan gelar kehormatan lagi padanya.



"Aku tahu, tapi tidak ada jalan lain. Bandul itu hanya bereaksi jika aku yang memegangnya langsung. Itu kenapa aku minta pada kalian membuka jalan untukku nanti di medan perang." Semua orang di tenda itu mengangguk setuju.



"Selagi aku dan Jung So Hyung membuka jalan kau harus melindungi Hagi dari arah belakang Jong Hyun." Semua nampak serius ketika tiba-tiba Hagi jatuh pingsan begitu saja membuat ketiga namja itu panik seketika. Mereka lebih panik lagi ketika tubuh Hagi mulai dingin dan transparan.



"Sial kita tidak punya banyak waktu lagi." Jong Seo menggeram marah sambil mengangkat Hagi keranjangnya yang terbuat dari rumput kering.



"Apa maksudmu? Apa ada yang belum aku ketahui?" Kali ini Jung so bertanya kebingungan pada Jong Seo, selama ini Jung so memang banyak membantu keduanya tapi tidak semua hal tentang Hagi di ketahui oleh Jung so.



"Mianahe Hyung... sebenarnya alasan Hagi harus keluar dari medan perang setelah menyegel kekuatan bandul itu bukan karena itu terlalu berbahaya untuk Hagi, tapi dia harus kembali kedunianya jika tidak Hagi akan menghilang selamanya." Jung so terkejut bukan main, ternyata seserius itu hal yang akan terjadi pada Hagi. Tapi sekarang Jung so paham kenapa semua sandiwara ini harus di lakukan khususnya kematian Hagi yang di palsu kan, karena bagaimanapun Hagi benar-benar akan pergi dari dunia ini dan akan aneh jika Hagi yang selir menghilang tiba-tiba atau yang paling sulit Hagi tidak akan bisa keluar dari istana juga untuk melakukan penyegelan ini.



"Lalu kenapa Kyuhyun tidak di beritahu? Aku yakin dia pasti akan membantu jika tahu tentang Hagi yang akan menghilang jika tidak pulang ke dunianya." Jong Seo menghelah nafas lalu tersenyum lega ketika Hagi terbangun dari pingsannya.



"Karena aku ingin Kyuhyun membuka hati untuk Hyunmie. Jika Kyuhyun tahu Hagi masih hidup sekalipun ada di dunia yang berbeda dengannya, Kyuhyun tidak akan pernah menatap Hyunmie seumur hidupnya. Itu juga yang Hagi pikirkan." Jong Seo menatap Hagi yang tersenyum miris, bagaimanapun Kyuhyun harus menjalani hidupnya disini dengan baik, setidaknya Hagi bisa tenang meninggalkan Kyuhyun.



"Tapi kau bilang Kyuhyun akan di beritahu nanti? Kau tahu aku juga sudah mengatakan hal itu pada Kyuhyun waktu itu." Hagi kembali tersenyum sendu lalu menatap Jong seo yang memang sudah di beritahu kapan waktu yang tepat untuk memberitahukan segalanya pada Kyuhyun.



"Nanti... nanti aku yang akan mengatakannya Hyung... tapi tidak dalam waktu dekat ini." Jung So menghelah nafas berat, dia tidak menyangka semua bisa serumit ini, awalnya Jung so juga sedikit tidak percaya jika Hagi bukan dari dunia yang sama sepertinya, Hagi tidak menjelaskan secara detail tapi Jung Soo  paham maksud Hagi. Setelah melihat beberapa bukti yang Hagi berikan akhirnya Jung so percaya dan memutuskan membantu Hagi termasuk mencari mayat hangat untuk di letakkan di perpustakaan kerajaan saat kebakaran terjadi. Jung so membantu Hagi juga karena alasan hanya Hagilah yang bisa mengalahkan kekuatan magis pasukan Jurchen. Sebagai salah satu pejabat kerajaan Jung soo ingin membantu sebisanya juga dia ingin membantu Hagi yang sudah ia anggap adik sendiri sama seperti Hyunmie.



****


__ADS_1


Ketika pasukan kerajaan menipis di istana hal itu di manfaatkan oleh Pangeran Suyang yang nekat membantu mentri Jang meloloskan diri dari penjara, beberapa pembunuh bayaran yang selama ini ada di bawah kekuasaan mentri Jang membantunya meloloskan diri. Beberapa pengawal istana terluka karena ikut membantu melakukan perlawanan termasuk Kyuhyun, tapi pembunuh bayaran yang di miliki mentri Jang terlalu kuat untuk di lawan. Kyuhyun semakin sadar jika kemungkinan apa yang di katakan mentri Jang tempo hari benar. Jika mentri Jang berniat untuk membunuh, mentei Jang hanya tinggal memerintahkan pembunuh bayarannya yang terlatih untuk membunuh Hagi bukan malah membuat keributan dengan kebakaran yang entah mengapa pas sekali mengarah padanya.



Awalnya mentri Jang berniat bersembunyi untuk sementara waktu sebelum menyusun rencana balas dendam pada Jong Seo, tapi mata-mata yang ia bayar memberi nya kabar yang membuat mentri Jang marah besar.



"Sialan, mereka memanfaatkanku hanya agar selir itu bisa keluar dari istana tanpa di ketahui. Ikuti mereka terus, aku sudah tidak sabar membunuh selir bodoh itu dengan tanganku sendiri. Lagi pula semua orang berpikir akulah yang membunuhnya, jadi sekalian saja aku akan membuatnya menjadi kenyataan." Mentri Jang mengepalkan tangannya kuat lalu menyeringai puas.



***



Ketika semua orang di ambil dariku, hanya kau yang aku miliki. Sekalipun kita bersama tersiksa, setidaknya bertahanlah denganku untuk hidup.



♡♡♡♡



Istana dalam keadaan kacau ketika Kyuhyun tetap memaksa berjaga di istana dengan kondisi terluka parah, pembunuh bayaran yang membantu mentri Jang melarikan diri bukanlah pembunuh bayaran biasa, mereka berani masuk ke istana sekalipun istana tidak dalam penjagaan ketat. Keadaan istana juga semakin tegang karena Pangeran Suyang juga menghilang ketika penyerangan terjadi.



"Pastikan tidak ada yang tahu jika Pangeran Suyang  ikut menghilang saat ini, aku tidak ingin ada rumor jika Pangeran Suyang ikut membantu pelarian Mentri Jang sekalipun jika itu benar aku tidak ingin berita ini tersebar keluar istana, kalian mengerti? Pengejaran akan di lakukan setelah ada berita dari Utara." Ucapan Raja Sejong di balas serempak oleh semua para penjaga yang masih tersisa dalam keadaan sehat, beberapa prajurit juga pengawal yang terluka sedang di tangani oleh para tabib. Raja Sejong menatap Kyuhyun yang kini masih berdiri disampingnya dalam keadaan pucat membuat Raja Sejong menghelah nafas berat, Raja Sejong juga  menatap luka di perut Kyuhyun yang masih mengeluarkan banyak darah. Kepala pengawalnya ini berusaha sangat keras untuk menjaganya.



"Sebaiknya kau pulang dulu aku ingin kau rawat lukamu itu dulu sebelum kembali bekerja." Kyuhyun siap menyela ketika Raja Sejong mengangkat tangan tanda ia tidak ingin di bantah.



"Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu, hanya kau yang aku miliki sekarang. Jadi kau tidak boleh sampai tumbang, biar Nam Young yang mengantarmu pulang, di sini masih ada Changmin yang akan melindungiku." Kyuhyun menarik nafas pelan, keadaan masih belum terkendali di istana.



"Biarkan Nam Young tetap tinggal Yang mulia, saya bisa pulang sendiri keadaan istana masih belum stabil dan kekurangan prajurit." Raja Sejong menghelah nafas pelan.



"Apa kau tidak mengerti perintahku? Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, lukamu cukup parah dan kau tidak bisa memberi jaminan padaku jika kau bisa selamat sampai kekediamanmu. Jadi turuti saja perintahku, Changim dan pengawal lainnya lebih dari cukup untuk menjagaku." Kyuhyun menghelah nafas pelan lalu mengangguk patuh dia sudah tidak bisa membantah jika Rajanya sudah seperti ini.




Nam Young langsung membantu Kyuhyun kembali ke kediaman pribadinya, awalnya Kyuhyun meminta Nam Young untuk kembali di perjalanan tapi ucapan Nam young selanjutnya membuat Kyuhyun tidak banyak bicara lagi.



"Hagi memintaku untuk selalu melindungimu juga menjagamu jika dia tidak ada."



Ketika keduanya sampai di halaman kediaman Kyuhyun kesadaran hilang dari tubuh Kyuhyun, sepertinya karena banyak darah yang keluar sejak tadi membuat Kyuhyun tidak kuat menahan kesadarannya, dengan sigap Nam Young menahan tubuh Kyuhyun membuat pelayan yang baru saja membukakan pintu menjerit membangunkan seisi rumah saat itulah Hyunmie keluar rumah.



"Kyuhyun_ah!!!!" Dengan cepat Hyunmie berlari kearah Kyuhyun panik. Ini pertama kalinya Hyunmie melihat Kyuhyun terluka separah ini.



"Ada apa ini? Kenapa dia bisa terluka?" Tanpa di minta Hyunmie langsung ikut membantu memapah Kyuhyun kedalam rumah.



"Akan aku jelaskan nanti, sekarang tunjukan kamarnya, juga tolong panggilkan tabib." Hyunmie mengangguk cemas, air mata tidak terasa mengalir di wajah pucat Hyunmie, rasa takut mulai menghantuinya. Hyunmie sendiri sedang dalam keadaan sakit saat ini, tapi ketika melihat Kyuhyun terluka rasa sakit di tubuhnya menguap begitu saja.



"Ikut aku, Bibi Oh panggilakan tabib Cha kemari sekarang juga cepat!!!" Hyunmie menunjukan jalan pada Nam young sambil berteriak pada pengurus rumah untuk memanggil tabib. Hyunmie meminta Nam young menidurkan Kyuhyun di kamarnya, tanpa banyak bicara Nam Young mengikuti keinginan Hyunmie.



"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kyuhyun bisa terluka separah ini?" Nam Young menekan luka Kyuhyun pelan sambil menghelah nafas berat.



"Mentri Jang melarikan diri, dan kebetulan sekali istana sedang sepi penjagaan tidak terlalu ketat hingga pembunuh bayaran yang di miliki mentri Jang masuk ke istana dengan leluasa. Kyuhyun terluka karena berusaha menghalangi mentri Jang melarikan diri belum lagi beberapa pembunuh bayaran itu masuk ke balai utama saat itu aku juga sedang ada di kediaman putri mahkota jadi tidak sempat membantunya." Hyunmie berusaha untuk tenang tapi pertahanan dirinya hancur ketika menatap darah yang tidak berhenti di perut Kyuhyun. Sambil menangis Hyunmie mulai menyeka keringat dingin yang membasahi wajah Kyuhyun.



"Sepertinya aku yang harus menjemput tabib Cha, Kyuhyun harus segera di obati. Kau bisa menunggu di sini kan? Tolong tekan lukanya." Nam Young bangkit lalu keluar meninggalkan Hyunmie yang masih  menangis dengan cepat Hyunmie menggantikan posisi Nam Young menekan luka di perut Kyuhyun.

__ADS_1



"Jangan mati... aku mohon... jangan tinggalkan aku sendiri... aku hanya memilikimu sekarang... bertahanlah..." Hyunmie hanya bisa terus menangis melihat Kyuhyun yang tidak bergerak sama sekali.



Walaupun keduanya menikah karena terpaksa Hyunmie sekarang hanya bisa bergantung pada Kyuhyun, dia tidak punya siapapun jika Kyuhyun tidak ada. Keluarganya akan mengucilkannya jika Kyuhyun mati.



****



Di Utara semua orang sudah mulai mempersiapkan peperangan untuk besok pagi, beberapa benteng yang sudah Jong Seo bangun sebelumnya cukup membantu untuk mempersempit gerak suku Jurchen. Dia sekarang sedang merencanakan strategi perang di tendanya bersama Hagi, Jung soo, Jong Hyun dan Jin so.



"Jin So yang akan membantumu memberitahukan siapa Jendral Jurchen di medan perang nanti jadi dia yang akan ada di bagian depan saat membuka jalan" Jong Seo menatap Hagi yang masih menatap rencana perang yang ia buat dengan menyelidik.



"Kita tidak harus mengeluarkan semua prajurit kita seperti ini, prioritas pertama kita adalah Jendral Jurchen, baru setelah itu kita bisa mengeluarkan semua prajurit kita agar semua tidak sia-sia. Soal Jin so sebaiknya dia tidak usah ikut, aku yakin bandul itu akan menunjukan orang yang tepat." Ucapan Hagi di balas anggukan dari semua orang disana.



"Aku juga sependapat dengan Hagi, Jin So sebaiknya tetap merahasiakan diri agar sewaktu-waktu bisa kembali menjadi mata-mata nantinya." Kali ini Jung So ikut menambahkan. Jong Seo mengangguk paham, sepertinya keputusannya sudah tepat dengan  merundingkan semuanya terlebih dahulu bersama Hagi dan Jung so.



"Baiklah besok pagi kita bisa fokus terlebih dahulu menyegel bandul itu, setelah bandul itu tersegel Hagi, Jung so Hyung juga Jong Hyun akan kembali ke benteng. Jung so Hyung yang akan mengirim pasukan kedua ke medan perang,  aku sendiri akan tetap ada di garis depan memimpin pasukan pertama. Jong Hyun pastikan Hagi sampai di Jeju dengan selamat biar Jin So yang menjaga benteng." Semua mengangguk patuh, Hagi nampak tersenyum kagum dia tidak menyangka kakek moyangnya yang memang terkenal sebagai Jendral yang hebat bisa mengatur strategi sebaik ini.



Setelah berdiskusi cukup lama semua orang kembali ketenda masing-masing kecuali Hagi, ada yang perlu dia sampaikan pada Jong Seo terlebih dahulu.



"Ada apa? Kenapa kau ingin berbicara secara pribadi denganku?" Hagi menghelah nafas kecil lalu menatap Jong seo sambil tersenyum tipis.



"Apa kau sudah membaca buku yang aku berikan?" Jong seo menghelah nafas kecil lalu mengangguk pelan.



"Aku tidak percaya hal seperti itu benar terjadi, tapi jika di pikir lagi semua terasa masuk akal. Aku akan melakukan sesuai keinginanmu."



"Terimakasih pastikan besok kau selalu ada di dekatku agar aku mudah memberikan bandul itu padamu." Jong Seo mengangguk paham membuat Hagi tersenyum lega, ada bagian hatinya yang masih terasa berat setelah semua ini berakhir, meninggalkan cinta pertama ternyata sangat berat bagi Hagi.



"Apakah aku boleh bertanya sesuatu?" Hagi menatap Jong Seo yang sedikit ragu-ragu berbeda dengan sebelumnya, Jong Seo terlihat tidak percaya diri membuat Hagi mengerutkan keningnya heran.



"Ada apa? Apa ada yang menganggumu?" Hagi memiringkan kepalanya ketika melihat Jong Seo yang mengusap tengkuknya gugup, rasanya Hagi tidak aneh dengan gerakan itu. Yesung oppanya selalu seperti ini jika sedang ragu juga gugup, hal yang hanya akan Yesung lakukan di hadapan dia Juga Hyunmie di masa depan.



"Apa ini ada hubungannya dengan Hyunmie?" Jong Seo langsung menegang seketika di menatap Hagi terpaku membuat Hagi terpaksa menahan senyuman karena tebakannya memang benar. Ternyata entah itu di masa lalu ataupun di masa depan ada yang tidak berubah dengan orang yang kini ada di hadapan Hagi.



"Katakanlah... aku akan menjawabnya... kau sudah tahu semuanya jadi tidak ada yang perlu aku tutupi lagi darimu." Jong Seo menarik nafas panjang lalu membenarkan posisi duduknya, masih terlihat sedikit keraguan di wajah Jong seo.



"Di buku yang kau tulis kau bilang aku dan Hyunmie ada di masa depan bukan? yang ingin aku tanyakan apa aku dan Hyunmie ada kemungkinan bisa bersama?" Hagi menatap Jong Seo penuh arti, membuat Jong Seo terbatuk salah tingkah, awalnya Hagi hanya menebak saja tapi ternyata tebakannya memang benar.



"Jangan khawatir di masa ini mungkin kalian tidak bersama, tapi akan aku pasti kan di masa depan tepatnya di masaku kalian bisa bersama. Maaf di masa ini aku terpaksa memisahkan kalian. Aku akan menebusnya di masa depan." Hagi tersenyum kecil ketika melihat kelegaan di mata Jong Seo, sebenarnya tanpa di pastikanpun di masa depan Yesung dan Hyunmie sudah di pastikan akan menikah mengingat keduanya bahkan sudah di jodohkan sejak kecil. Setidaknya Hagi akan memastikan tragedi di masa lalu tidak akan terulang, Hagi juga sudah berjanji pada Hyunmie soal itu.



"Lalu bagimana dengan Kyuhyun? Apa dia juga ada di masamu? Di buku yang kau tulis aku tidak melihat ada nama Kyuhyun di masa depan." Pertanyaan Jong seo kali ini sukses membuat Hagi terpaku sedih, sambil tersenyum sedih Hagi menatap Jong Seo sambil menggelengkan kepalanya.



"Aku rasa dia tidak ada tapi... aku harap mungkin saja Kyuhyun belum datang. Setidaknya itulah yang aku harapkan.." rasa sakit yang sejak kemari berusaha Hagi lupakan kembali kepermukaan, ketika semua orang di masa ini berkorban banyak dan akhirnya bahagia di masa depan, Hagi merasa hanya dia sajalah yang tidak memiliki gambaran apapun tentang kebahagiaannya.



__ADS_1


bersambung


__ADS_2