
Semakin jelas rasa cintaku padamu, fakta semakin mengingatkanku jika aku tidak bisa bersamamu lebih lama.
♡♡♡♡
Sebuah rombongan kecil baru saja sampai di depan sebuah kuli di Jeju, rombongan itu di pimpin oleh Wakil perdana mentri Kim Jong Seo. Beberapa orang dari kuil yang kenal pada Jong Seo menyambutnya dengan senang hati. Tapi Jong Seo sendiri justru malah lebih memberikan perhatian lebih pada seorang namja yang juga berkuda di samping nya selama perjalanan, bahkan saat akan turun dari kuda Jong Seo memberikan bantuan untuk namja itu membuat beberapa biksu disana terlihat heran karena tidak ada yang istimewa dengan namja itu hingga harus mendapat perhatian lebih dari Jong Seo.
"Jong Seo_ssi jangan berlebihan kau lupa siapa aku? Aku lebih dari mampu untuk hanya sekedar turun dari kuda." Namja itu sedikit menghelah nafas saat turun dari kuda karena Jong Seo terlihat terlalu memperlakukannya berlebihan.
"Aku tahu betul siapa kau, tapi ada yang harus kau ingat kau masih dalam masa pemulihan saat 2 minggu lalu terkena anak panah. Dan kau harus berkuda lagi sejauh ini dari Hanyang." Kim Hagi menghelah nafas mendengar betapa cerewetnya namja di hadapannya persis seperti oppanya Yesung. Iya Walau pun Hagi merasa jika orang di hadapannya ini memang bereinkarnasi menjadi oppanya di masa depan.
Hagi lagi-lagi menyamar menjadi namja untuk menjalankan misi rahasia dari Raja Sejong dan sepertinya berhasil karena banyak yang tidak menyadari jika dia adalah selir baru Raja Sejong selama di perjalanan menuju Jeju.
Setelah membujuk Raja Sejong beberapa hari semenjak pertemuan Hagi, Kyuhyun, Hyunmie dan Jong Seo terakhir kalinya, akhirnya Raja Sejong mau menuruti rencana Hagi yang meminta untuk menyelidiki langsung tentang bandul yang di kenakan oleh Jendral Jurchen itu.
Hagi juga meminta pada Raja agar semua orang tahu jika Hagi tinggal di paviliunnya saja, karena jika para mentri tahu Hagi keluar bisa saja ada mentri yang masih belum menerimanya menjadi selir dan berencana menyerangnya. Hagi bisa saja melindungi diri sendiri tapi hal ini bisa menghalangi perjalanannya dan misi ini harus secepatnya selesai sebelum Jong Seo berangkat ke utara untuk membantai Jurchen yang berulah disana.
Akhirnya Raja Sejong memberi alibi untuk perjalanan Hagi ke Jeju jika Jong Seo bermaksud mencari tahu lebih banyak tentang Jurchen sebelum penyerangan ke utara, walapun sebenarnya memang benar hanya saja keberadaan Hagi di dalam pasukan yang Jong Seo bawa tidak di beritahukan. Terlebih Hagi akan sangat kerepotan jika harus menggunakan cima untuk perjalan jauh ini. Pakaian pria akan lebih memudahkannya bergerak.
"Baiklah sebaiknya kita bergegas bertemu dengan biksu kepala disini." Jong Seo menghelah nafas, dia bisa melihat jika Hagi begitu kelelahan terlihat jelas dengan wajah pucatnya itu.
"Apa tidak sebaiknya kau istirahat dulu? Aku tidak mau kau sakit saat pulang nanti dan Raja memarahiku karena di anggap lalai menjagamu."
"Tapi__"
"Tidak ada tapi-tapian selir Suki, aku yang akan bicara dulu pada biksu kepala sementara kau istirahat. Setidaknya aku ingin kau makan dulu." Hagi hanya menghelah nafas ketika Jong Seo mulai memanggil gelarnya dengan datar tanda jika orang ini tidak ingin di bantah. Jong seo membisikkan sesuatu pada seorang biksu jika Hagi adalah seorang selir raja yang artinya orang yang mereka pikir seorang pria adalah perempuan. Biksu itu terkejut tapi kemudian membungkuk hormat pada Hagi laki meminta seorang biksuni untuk mengantar Hagi istirahat.
"Baiklah..." dengan sedikit kesal Hagi pergi bersama seorang biksuni untuk beristirahat sejenak membiarkan Jong Seo menarik nafas lemas lalu menggelengkan kepala jengkel.
"Dia benar-benar keras kepala." Gumam Jong Seo sebelum masuk ke kuil berniat untuk menemui Biksu kepala.
Sesuai perkiraan Jong Seo, biksu kepala memang menyambutnya dengan baik tapi biksu ini tidak mau membuka mulut perihal bandul yang gambarnya sudah ia perlihatkan pada biksu kepala di kuil itu, bahkan setelah mengatakan jika bandul itu jatuh pada orang yang salah biksu itu tetap tidak mau mengatakan apapun perihal bandul itu.
Jong Seo akhirnya menyerah untuk bertanya dan memilih menunggu mencari solusinya dengan Hagi nanti, Hagi masih tertidur ketika Jong Seo bermaksud untuk mencari jalan keluarnya membuat Jong Seo akhirnya menunggu Hagi di luar sambil menatap matahari terbenam, sesekali Jong Seo memijit kepalanya yang sakit, ternyata memang tidak mudah mencari informasi tentang bandul itu.
Hagi terbangun menjelang malam, dia cukup terkejut ketika sadar dia tertidur cukup lama, masih dengan sedikit mengantuk Hagi keluar dari tempat yang di sediakan untuknya lalu mendekat kearah Jong Seo yang masih menikmati sisa matahari yang sudah tenggelam. Hagi menatap Jong Seo yang sedang memijit keningnya bisa di pasti kan Jong Seo pasti tidak mendapatkan apapun dari biksu kepala.
"Tidak mendapatkan apapun?" Ucapan Hagi sukses membuat Jong Seo berbalik lalu tersenyum lelah, dia belum sempat istirahat sama sekali semenjak datang di tambah dia tidak mendapatkan apapun setelah membujuk biksu kepala tadi membuat rasa lelahnya semakin terasa.
"Kau selalu tahu iya tanpa diberitahu." Hagi tersenyum lalu mendekat kearah Jong Seo.
"Sepertinya sekarang kaulah yang butuh istirahat." Jong Seo mengelus tengkuknya yang tegang.
__ADS_1
"Sepertinya begitu." Sekali lagi Hagi tersenyum kecil.
"Istirahatlah besok kita bertemu lagi dengan biksu kepala, mungkin besok dia bisa berubah pikiran." Jong Seo mengangguk kecil, sepertinya dia memang butuh beristirahat.
"Baiklah aku pergi ke kamarku dulu, kau juga sebaiknya kembali istirahat." Hagi mengangguk kecil lalu membiarkan Jong seo pergi dari hadapannya membiarkan Hagi menatap langit yang sudah gelap, perlahan bintang mulai bermunculan.
"Selalu ada jalan bahkan sebesar lubang semut sekalipun, benar begitukan eomma." Hagi bergumam kecil, dan entah kenapa dia tiba-tiba kembali mengingat saat-saat bersama ibunya di rumah.
Hagi berusaha mengingat kembali sesuatu Walau pun sedikit samar Hagi yakin dengan apa yang ia ingat lalu kembali masuk ke kamarnya ketika udara mulai dingin menusuk kulit. Sebelum melanjutkan tidurnya Hagi sempat menggambar sesuatu di atas kertas Walau pun tidak begitu yakin karena Hagi memang tidak ahli menggambar Hagi memutuskan ini lebih dari cukup untuk membantunya besok.
****
Keesokan harinya Hagi dan Jong Seo langsung berniat bertemu dengan biksu kepala tapi sayang biksu yang umurnya hampir satu abad itu sudah pergi untuk bertapa di tempat lain membuat keduanya terlihat putus asa.
"Jebal, kami harus tahu dimana beliau berada hal ini penting untuk rakyat Joseon." Jong Seo sekali lagi memohon pada wakil kepala biksu disana ketika lagi-lagi biksu di hadapannya menolak. Karena tidak ada hasil akhirnya Hagi mulai turun tangan sejak tadi sia hanya diam saja sambil melihat dari jauh.
"Saya mohon izin kan saya bertemu dengan biksu kepala." Wakil biksu kepala kali ini menatap Hagi cukup lama perlahan biksu itu mendekat ke arah Hagi yang nampak tidak nyaman dengan tatapan biksu di hadapannya.
"Kau bukan dari sini." Ucapan biksu di hadapannya sontak membuat Hagi terkejut bagaimana biksu ini bisa tahu?
"Aura di tubuhmu yang berbeda, kenapa kau ikut campur dengan urusan yang ada di sini?" Hagi kali ini menatap Jong Seo yang terlihat penasaran, tanda orang ini tidak akan membantu apa-apa untuknya.
"Bisa kita bicarakan secara rahasia?" Wakil kepala biksu mengangguk lalu mengajak Hagi dan Jong Seo masuk kedalam ruangan khusus yang sedikit jauh dari kuil utama. Biksu itu langsung menyuruh Hagi dan Jong Seo duduk ketika sampai di ruangan khusus itu.
"Jadi bisa kau jelaskan kenapa kau bisa menggambar ini? Dan kenapa kau ikut campur urusan disini?" Hagi menghelah nafas, dia sebenarnya tidak ingin memberitahu siapapun tapi biksu di hadapannya tahu sesuatu tentang dia.
"Seperti yang biksu tahu aku memang bukan berasal dari sini, tapi aku juga bukannya ingin ada di sini. Aku percaya Tuhan memang sudah menakdirkanku untuk datang kemari. Jika aku berpikir dengan apa yang aku lalui di sini juga di tempatku berasal aku bisa yakin jika aku memang harus ikut campur dengan beberapa urusan disini. Salah satunya adalah bandul ini, percaya atau tidak gambar yang biksu lihat adalah harta turun temurun keluargaku saat aku kemari benda itu juga ikut menghilang." Ucapan Hagi sukses membuat biksu itu terkejut bukan main.
"Apa kau mau bilang jika benda yang sedang kau cari ada kemungkinan adalah milikmu?" Hagi menghelah nafas lalu menggeleng kecil.
"Aku tidak begitu yakin, itu kenapa aku perlu bertanya pada biksu kepala, pasti ada sesuatu di balik semua ini juga pasti ada alasan yang lebih besar kenapa aku bisa ada di sini. Jadi aku mohon izin kan aku bertemu dengan biksu kepala." Wakil kepala biksu itu nampak menghelah nafas lalu kembali menatap Hagi dalam.
"Aku hanya pernah melihat benda ini sekali saat biksu kepala membawanya dari pertapaannya, beliau berkata ada kekuatan besar yang mengalir di benda itu, selama di sini tidak ada hal aneh yang terjadi pada benda itu. Tapi benda itu bereaksi saat kedatangan seseorang seperti memang benda itu di ditakdirkan ikut dengan orang itu." Jong Seo yang sejak tadi hanya terlihat kebingungan mulai paham dengan arah pembicaraan kedua orang di sampingnya itu walaupun masih samar sebenarnya.
"Apa orang itu seperti ini?" Jong Seo langsung memperlihatkan gambar wajah seseorang pada biksu di hadapannya, biksu itu meneliti wajah di gambar lalu terlihat terkejut lalu mengangguk membenarkan.
"Iya ini orangnya, aku memang melihatnya beberapa kali selama di kuil tapi aku masih mengingat wajah itu." Hagi memejamkan matanya sedikit pusing, sepertinya dia sudah bisa menyimpulkan sesuatu Walau pun belum yakin.
"Apa benda itu di berikan oleh biksu kepala pada orang ini?" Lagi-lagi Jong Seo yang bertanya karena Hagi sendiri sudah yakin dengan jawabannya.
"Aku tidak begitu tahu karena benda itu biksu kepala yang menyimpannya. Aku hanya tahu sampai sini saja." Wakil kepala bisksu menatap Hagi yang masih memejamkan matanya sambil berpikir, biksu itu yakin jika sepertinya Hagi memang di ditakdirkan untuk mengurus sesuatu di sini.
__ADS_1
"Agashi, sekarang sepertinya aku mulai percaya padamu, jika memang benda ini milikmu pasti dia akan kembali padamu. Pergilah kearah barat disana ada sebuah air terjun dimana biksu ketua sering sekali bertapa. Kau bisa menemuinya disana." Jong Seo dan Hagi tersenyum senang, akhirnya mereka bisa bertemu lagi dengan biksu kepala. Setidaknya mereka harus tahu lebih lanjut tentang bandul itu.
Setelah berbicara sedikit akhirnya rombongan itu kembali melakukan perjalanan, beberapa kali Hagi sempat menatap kesekelilingnya dia merasa tidak asing dengan jalan yang ia tempuh dan akhirnya Hagi sadar ketika air terjun itu mulai terlihat.
"I...inikan?" Jong Seo yang melihat Hagi terkejut kembali bertanya-tanya.
"Ada apa?" Pertanyaan Jong Seo lagi-lagi tidak di jawab, Hagi hanya menggelengkan kepala lalu kembali menjalankan kudanya, sejak tadi Hagi juga tidak mau menjawab pertanyaan Jong Seo tentang pembicaraannya dengan biksu tadi di kuil, Hagi selalu bilang jika nanti ia akan memberitahukan Jong seo semuanya tapi tidak sekarang. Akhirnya Jong Seo juga hanya diam dan memperhatikan Hagi yang terlihat berpikir keras sejak pembicaraannya dengan wakil kepala biksu tadi.
Semakin dekat ke arah air terjun kuda sudah tidak bisa masuk, pasukan kecil yang selalu mengikuti sengaja Hagi suruh untuk menunggu sedikit jauh dari arah air terjun. Hagi dan Jong Seo akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki.
Sesampainya di depan air terjun Hagi menatap ke segala penjuru arah dan berhenti tepat pada tebing air terjun, sementara Jong Seo langsung menemukan sebuah tenda kecil di sudut sebelah kiri air terjun yang pasti dipakai oleh biksu kepala untuk bertapa.
"Hagi di sebelah sana." Jong seo membuyarkan lamunan Hagi membuat Hagi menatap tenda kecil yang di buat oleh biksu kepala sepertinya. Hagi dan Jong Seo langsung mendekat kearah tenda lalu berhenti tepat di depan tenda, Jong Seo menatap Hagi yang langsung di balas anggukan darinya.
"Biksu kepala, ini aku Kim Jong Seo." Tidak berapa lama biksu kepala langsung keluar dan menatap Kim Jong Seo sesaat, tapi perhatiannya langsung tertuju pada Hagi, biksu kepala menatap Hagi sama seperti wakil kepala biksu menatapnya. Tapi kali ini biksu kepala tersenyum kecil.
"Jadi kau sudah datang..." Hagi mengerutkan keningnya tidak mengerti, biksu kepala nampak berjalan lalu duduk disalah satu bebatuan menghadap air terjun di hadapannya. Hagi dan Jong Seo saling pandang tapi setelah itu langsung ikut duduk di samping biksu kepala.
"Kau pasti bingung kenapa kau bisa ada disini bukan?" Hagi yang sejak tadi menunduk langsung menatap biksu kepala bertanya, seperti dugaan Hagi biksu kepala pasti tahu sesuatu tentangnya.
"Air terjun ini adalah tempat waktu bertabrakan, masa saling berganti di tempat ini tanpa kita ketahui. Keberadaan air terjun ini tidak sembarangan orang yang tahu. Kalian sepertinya salah satu yang terhubung dengan arus waktu di tempat ini dan aku bisa lihat kau bukanlah dari arus waktu disini." Hagi tertegun jadi benar biksu di hadapannya ini tahu sesuatu tentangnya, bahkan mungkin saja biksu ini tahu cara untuk Hagi pulang.
Biksu kepala memasukan tangannya ke dalam saku jubahnya lalu mengeluarkan sebuah benda yang bersinar kebiruan di hadapan Hagi, awalnya Hagi tidak mengenali benda itu tapi lama kelamaan Hagi tahu benda apa itu.
"I...ini?" Biksu kepala kembali tersenyum, sepertinya benda ini memang milik gadis ini.
"Aku menemukannya disini hampir beberapa bulan yang lalu, aku bisa melihat benda ini memiliki arus waktu yang sama dengan air terjun ini dan benda ini juga memiliki kekuatan yang luar biasa. Sepertinya karena benda inilah kau datang ke waktu ini." Biksu Kepala menyerahkan benda itu pada Hagi, sesaat Hagi memperhatikan benda itu sambil mengerutkan keningnya.
"Sepertinya ada yang hilang dari benda ini? Bisa biksu beritahu kemana bagian lainnya?" Biksu kepala kembali tersenyum.
"Aku yakin wakil kepala biksu di kuil memberitahukanmu sesuatu hingga kau bisa tahu dimana aku. Bagian lain dari benda ini menemukan tuannya. Saat benda ini menyatu aku memang tidak bisa merasakan kekuatan dasyat itu sama sekali hanya saja auranya sedikit lebih kuat, tapi ketika orang itu datang, benda ini tiba-tiba membelah diri dan bagian lain itu bersinar terang dan mengeluarkan kekuatan yang dasyat sama seperti bagian yang ini bersinar karena ada kau. Bisa di bilang jika benda ini menyatu kembali kekuatan itu akan kembali tersegel." Hagi menahan nafas ketika kesimpulan yang ia buat ternyata benar sejak tadi sedang Jong Seo nampak menerka-nerka percakapan keduanya walaupun Jong Seo juga sudah menyimpulkan sesuatu, Jong Seo masih tidak bisa mempercayainya. Namja itu memutuskan untuk mendengar penjelasan yang lebih mudah ia mengerti nanti dari Hagi.
"Jika memang takdir itu ada, kedatanganmu kesini tentu saja ada alasan dan akhirnya, ketika akhirnya kau menemukan benda ini kembali itu berarti alasan kau disini hampir selesai dan kau harus pulang sebelum waktu di sini membuatmu benar-benar menghilang." Ucapan biksu kepala kali ini sontak membuat Hagi dan Jong Seo terkejut. Jong Seo bisa mengerti untuk ucapan biksu Kepala yang ini, dia menatap Hagi yang terlihat tegang dengan berbagai ekspresi yang sulit untuk Jong Seo gambarkan.
"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?" Mendadak Hagi kehilangan kepintarannya dia bingung harus apa, rasa takut mulai menguasai perasaannya.
"Tenanglah, yang harus kau lakukan cukup menyegel kembali benda itu jika memang benda itu memilih tuan yang salah, setelah itu pasti kan benda itu aman dari siapapun yang memang ingin berniat jahat." Hagi mengangguk sendu, pikirannya masih sangat kacau sekarang.
"Hubungan yang kau miliki disini tidak perlu menghambatmu, anggap itu hadiah yang Tuhan berikan padamu, karena setelah kau menyegel kembali benda itu kau harus secepatnya kembali kemari. Hanya tempat ini yang bisa membuatku kembali pulang." Hagi menatap biksu di hadapannya sambil berlinang air mata, entah kenapa seharusnya Hagi senang bisa pulang bukankah sejak datang kemari Hagi selalu mengharapkan hal itu? Tapi sekarang rasanya berat ketika ada seseorang yang mencintainya disini dan berkorban banyak untuknya, Hagi menggelengkan kepalanya lalu tersenyum kecil pada biksu dihadapannya bagaimanapun keluarga kandungnya juga pasti menunggunya sebesar apapun cinta Hagi pada Kyuhyun bukankah keluargamu lebih berharga dari apapun?
"Terima kasih biksu..."
__ADS_1