Timeless Love

Timeless Love
Miss U Father


__ADS_3

Malam semakin dingin ketika Hagi, paman dan bibi Ma sampai di kediaman mentri Park tengah malam, rombongan kecil itu langsung bertemu dengan kepala rumah tangga di kediaman mentri Park. Mentri Park memang sudah tidur ketika mereka sampai jadi ketiganya langsung di persilakan untuk tidur oleh kepala rumah tangga keluarga Park yang kebetulan adalah adik Bibi Ma, paman Kang.



"Sebaiknya noona jelaskan semuanya besok pada Mentri Park. Sekarang lebih baik istirahatlah dulu di kamar biasanya. Karena selama kalian pergi kamar itu tidak pernah di pergunakan. Tapi siapa yang ada di belakangmu itu noona?" Kang ajjusi menatap Hagi penuh selidik, bagaimanapun dia tidak ingin orang asing membahayakan tuannya.



"Ah ini? Dia anak angkat kami, tenanglah dia anak baik-baik. Anak ini juga sudah menyelamatkan kami berdua ketika di Jeju dan juga Terimakasih kami memang sudah sangat lelah hari ini." Paman Kang mengangguk paham lalu mempersilahkan Hagi, paman dan bibi Ma pergi beristirahat, Hagi sedikit terkejut ketika bertatapan wajah dengan paman Kang, tapi dengan cepat Hagi menunduk dan mulai mengikuti paman dan Bibi Ma yang menuju ke arah belakang rumah.



'Lagi? Sepertinya aku akan sering melihat orang yang ku kenal di masaku disini nanti.' Hagi bergumam dalam hati sambil sesekali melirik ke belakang ke arah paman Kang.



Ketiganya masuk ke sebuah kamar yang cukup luas di belakang rumah tepatnya di samping dapur yang di gunakan untuk menyimpan bahan makanan, ruangan itu memang seadanya tapi cukup nyaman ketimbang saat tidur di hutan.



"Besok pagi bangunlah lebih awal Hagi_ya, kita akan merapihkan barang-barang kita besok, sekarang tidurlah kau harus bertemu dengan mentri Park. Kau tenang saja dia orang yang baik." Hagi mengangguk paham. Setelah membersihkan tubuh seadanya paman dan bibi Ma langsung tertidur dengan alas tidur yang cukup tebal.



Musim dingin memang akan segera berakhir, tapi di zaman ini cuacanya masih sangat dingin. Hagi masih terjaga ketika mengingat kembali pertemuanya dengan Kim Jong Seo.



"Kalau Yesung oppa kuberitahu apa yang kulihat dia pasti besar kepala." Hagi bergumam kecil ketika mengingat wajah Kim Jong Seo mirip Kim Jong Won oppanya.



"Rasanya aneh melihat leluhur sendiri." Hagi menghelah nafas lalu berusaha untuk tidur, dia tidak bisa bangun kesiangan apa lagi kini statusnya hanyalah pelayan di rumah seorang pejabat.



Pagi datang lebih cepat sepertinya, karena Hagi merasakan jika dia baru saja memejamkan mata ketika seseorang membangunkannya. Untuk sesaat Hagi merasa malas bangun, tapi ketika dia ingat dimana dia sekarang dengan gerakan cepat Hagi terjaga dari tidurnya.



"Maaf eomma aku kesiangankan?" Hagi menatap bibi Ma bersalah, karena sepertinya Hagi sulit di bangunkan.



"Tidak apa-apa ini juga masih pagi, kau mau ikut ke pasar? Sekalian eomma kenalkan dengan istri dan anak paman Kang." Hagi mengangguk cepat, dia tidak bisa tawar menawar untuk sekarang. Tempat ini masih asing untuknya dan Hagi hanya kenal dekat dengan paman dan bibi Ma disini.



"Eomma kemana abeoji?" Hagi menatap kesamping ketika selimut sudah rapi di sampingnya.



"Abeoji sedang pergi bersama paman Kang mencari kayu bakar di dekat hutan, baru saja pergi." Hagi menatap kearah pintu yang sedikit terbuka, matahari masih nampak malu-malu keluar dari pelabuannya. Jika tidak salah sekarang bahkan belum jam 6 pagi, tapi semua orang sudah mulai beraktifitas.



"Sepertinya aku memang benar-benar terlambat eomma." Hagi tersenyum tidak enak pada bibi Ma yang di balas gelengan dari bibi Ma.



"Tidak apa-apa, dibandingkan aboeji dan eomma, kau memang yang paling lelah lagi pula kau masih sakit dan lukamu belum sembuh benar." Hagi sedikit mengkerut ketika bibi Ma menyentuh luka di wajahnya, sesaat Hagi berpikir sepertinya luka di wajahnya sangat parah. Hagi jadi tidak berani bercermin sekarang.



"Apa masih sakit?" Bibi Ma nampak khawatir melihat reaksi Hagi, tapi Hagi tersenyum menenangkan lalu menggenggam tangan bibi Ma sayang.



"Sudah tidak eomma, hanya saja sedikit perih jika di sentuh. Mungkin karena belum kering." Bibi Ma menghelah nafas lemah.



"Kau seorang wanita, tapi wajahmu malah terluka seperti ini. Begini saja besok kita pergi ketempat sahabatku, aku yakin dia pasti memiliki sesuatu yang bisa menghilangkan bekas luka di wajahmu." Hagi mengangguk pelan, entah kenapa dia semakin merindukan rumahnya terlebih ibunya. Bibi Ma mirip dengan ibunya yang selalu memikirkan penampilanya sebagai seorang perempuan, selalu mengingatkan Hagi jika diluar rumah harus menggunakan sunblock.



Bibi Ma menatap pakaian yang di kenakan Hagi, masih sama dengan baju yang di kenakan Hagi tempo hari.



"Sebaiknya kita beli beberapa pakaian untukmu, kau tidak mungkin terus menggunakan pakaian abeojimu ini." Hagi menatap dirinya lalu tertawa kecil.


__ADS_1


"Tidak apa-apa eomma aku nyaman menggunakan baju ini." Hagi memang lebih nyaman menggunakan pakaian pria, dia tidak suka memakai pakaian wanita, dia bisa membayangkan bagaimana susahnya dia bergerak dengan hanbok yang panjang itu.



"Tapi semua orang akan berpikir kau laki-laki." Sekali lagi Hagi tertawa kecil mendengar protes bibi Ma.



"Untuk sekarang biarkan begini eomma, lagipula tidak apa jika mereka berpikir aku laki-laki. Aku sedang tidak ingin memikat siapapun." Bibi Ma menghelah nafas pelan, padahal dia ingin sekali mendandani Hagi, karena bibi Ma yakin Hagi akan cantik sekali jika di dandani.



"Baiklah terserah kau saja. Eomma tidak akan memaksa." Hagi tersenyum lalu memeluk bibi Ma sayang membuat bibi Ma sedikit terkejut tapi perlahan bibi Ma membalas pelukan Hagi.



"Terimakasih Eomma. Tapi jika eomma mau membelikan aku baju aku tidak keberatan. Mungkin lain kali aku bisa memakainya." Bibi Ma mengangguk kecil lalu bersiap untuk keluar.



"Eomma tunggu kau di depan. Jangan lama ne." Hagi mengangguk lalu mulai meregangkan badannya pelan, sudah dua hari dia tidak mandi membuat badanya terasa lengket, tapi dia juga tidak punya banyak pilihan, disini selain ke sungai pelayan tidak bisa mandi, jadi untuk sementara Hagi tidak mandi lagi. Hagi merasa tidak bersih sekarang.-_-



Hagi mendekati bibi Ma beserta dua orang perempuan di halaman depan, sepertinya mereka anak dan istri paman Kang. Hagi memberi salam pada keduanya, terlihat jelas keduanya terkejut menatap Hagi, mereka menatap ngeri wajahnya yang terluka. Tapi dengan cepat keduanya bersikap normal saat melihat ekspresi Hagi yang tersenyum miris.



"Ah mian, kami terkejut tadi." Bibi Kang meminta maaf lebih dulu lalu di susul oleh putrinya.



"Gwenchana ajjuma." Hagi berusaha tenang walaupun dia juga tidak senang dengan tatapan kedua orang di hadapannya. Bibi Ma sekali lagi menghelah nafas pelan.



"Ah kenalkan ini putriku namanya Ahyoung." Ahyoung memberi salam pada Hagi begitupun sebaliknya.



"Hagi imnida." Hagi juga memperkenalkan diri lalu berusaha tersenyum, sesaat Ahyoung terpaku entah apa yang di pikirkan oleh gadis muda itu tapi setelah itu dia nampak malu-malu, membuat Hagi menaikan alisnya heran.




***



Pasar sudah ramai sekali pagi ini beberapa di antaranya berjualan bahan makanan yang masih nampak segar, Hagi menatap keramaian itu sambil tersenyum. Dimasanya hal seperti ini sudah tidak ada, pasar tradisonal di Seoul sudah lebih baik dari pada masa ini, jika Hagi tidak salah ibunya bilang leluhurnya mulai di kenal saat pemerintahan raja Sejong dan itu tepat pada tahun 1433 hampir 600 tahun yang lalu.



Tapi hingga sekarang Hagi tidak mendapatkan kendala apapun saat tinggal disini padahal jarak perbedaan waktu hampir 600 tahun, Hagi lagi-lagi merindukan rumahnya. Dia merasa bersyukur sekarang karena selalu mematuhi ayahnya selama ini. Dari yang Hagi suka hingga Hagi benci, karena entah kenapa semua pelajaran ayahnya membuat Hagi lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan di zaman ini.



Beberapa kali Hagi melihat beberapa orang memandangnya bertanya, sepertinya luka di wajahnya menjadi tontonan gratis.



"Jangan dihiraukan mereka Hagi. Mereka tidak tahu apa-apa." Bibi Ma yang sejak tadi memperhatikan Hagi berbisik pelan pada anak angkatnya itu, Hagi merangkul bibi Ma sayang.



"Tidak apa-apa eomma, toh aku juga tidak peduli." Bibi Ma tersenyum sayang, sepertinya Hagi memang bukan gadis yang terlalu peduli dengan pandangan orang lain.



Hagi kembali berjalan mendahului bibi Ma berjalan menuju pedagang sayuran yang juga sempat terkejut padanya tapi kembali ramah ketika Hagi mulai menawar sayurannya.



"Eonni kau tidak apa-apa mengangkatnya menjadi anak?" Perhatian bibi Ma teralihkan pada adik iparnya lalu memandang heran kearah pada bibi Kang.



"Maksudnya?"



"Eonni bisa lihat wajahnyakan? Apa itu tidak akan merugikanmu eonni?" Perkataan bibi Kang sontak membuat bibi Ma sedikit terpancing emosinya tapi sebelum menjawab Ahyoung sudah memarahi ibunya.

__ADS_1



"Memang apa yang salah eomma? Yang terpenting Hagi adalah anak yang baik, bukankah begitu ajjuma?" Bibi Ma mengangguk mantap, membuat bibi Kang cemberut. Bibi Ma dan Ahyoung mendekat ke arah Hagi meninggalkan bibi Kang yang tidak terima dengan jawaban anaknya.



Selesai berbelanja bahan makanan bibi Ma meminta bibi Kang dan Ahyoung kembali lebih dulu, sesuai rencana bibi Ma membelikan beberapa hanbok sederhana untuk Hagi juga 1 pakaian pria yang memang Hagi inginkan.



"Kau yakin ingin membeli baju namja?" Hagi hanya tertawa kecil lalu mengangguk yakin.



"Percayalah eomma, aku lebih nyaman dengan baju namja dari pada yeoja." Bibi Ma menghelah nafas kepalanya terulur mengelus pelan rambut Hagi.



"Baiklah lakukan apa yang ingin kau ingin lakukan." Hagi tersenyum kecil lalu mengambil bungkusan dari pemilik toko. Tangannya langsung menggandeng bibi Ma setelah bibi Ma membayar.



"Eomma apa tidak apa-apa membeli baju sebanyak ini untukku?" Bibi Ma mengangguk kecil.



"Tidak apa-apa, lagi pula abeojimu bilang kau pantas mendapatkannya." Hagi mengangkat alisnya bingung.



"Maksudnya?"



"Nanti abeoji jelaskan padamu, sekarang kita harus cepat kembali. Kita harus membantu bibi Kang memasak dan lagi aku harus mengenalkanmu pada nyonya Park." Hagi mengangguk patuh lalu kembali berjalan beriringan dengan bibi Ma.



Sesampainya di rumah Hagi siap membantu memasak ketika paman Kang memanggilnya untuk membelah kayu bakar untuk memasak. Awalnya paman Ma ingin memprotes adik iparnya itu, selain Hagi belum sembuh kenyataannya Hagi adalah seorang perempuan. Tapi Hagi menahannya dan mulai membantu membelah kayu bakar.



Paman Ma hampir lupa gadis di hadapannya ini sangat kuat. Dia masih ingat bagaimana Hagi mengalahkan para penjahat yang hampir membunuh tuan Kim Kyuhyun.



"Apa kau sudah sehat? Luka di wajahmu saja belum sembuh Hagi." Paman Ma bertanya ketika keringat mulai keluar dari pelipis Hagi.



"Dia itu laki-laki, tidak usah di manja Hyung. Luka di wajahnyakan tidak bermasalah." Paman Kang yang masih menganggap Hagi laki-laki merasa paman Ma terlalu berlebihan.



"Tapi dia__" Hagi lagi-lagi menghalangi ucapan paman Ma.



"Ne ajjusi aku memang tidak suka bermanja-manjaan jadi ajjusi tenang saja." Paman Kang memberi anggukan mantap.



"Bagus."



Paman Ma menghelah nafas kecil, sepertinya Hagi ingin membuat semua orang berpikir kalau dia laki-laki.



"Jadi kau pulang Dae Hyun." Ketiganya serempak berbalik ketika ada yang memanggil Paman Ma.



Paman Ma dan paman Kang langsung memberi hormat pada orang yang baru saja menegur mereka, berbeda dengan Hagi yang tertegun. Perlahan Hagi mengigit bibirnya pelan, entah kenapa dia ingin memeluk orang yang kini ada di hadapannya.



'Abeoji...'



__ADS_1


bersambung


__ADS_2