Timeless Love

Timeless Love
I Love You


__ADS_3

Kau bagai bulan yang menjauh ketika waktu malam berjalan, indah tapi tak bisa tersentuh.



♡♡♡



Rumah bordir nyonya Young Ae mendadak ricuh, kejadian beberapa waktu yang lalu sontak menjadi buah bibir di kalangan para Giseng. Tapi dalam sekejap semua diam ketika nyonya Young Ae sendiri yang meminta semuanya untuk diam.



"Jika sampai berita ini keluar dari sini, kalian sendiri yang akan mendapat hukuman nya." Semua Giseng menunduk takut, nyonya Young ae walaupun baik dan ramah tapi jika ada yang melanggar aturannya, Nyonya Young ae tidak segan-segan memberi Hukuman yang menanti di halaman belakang, dan hukuman itu sama sekali tidak menyenangkan.



Setelah memperingatkan para Gisengnya, nyonya Young ae kembali ke dalam kamar dimana Hagi di rawat, tabib masih berusaha menghentikan pendarahan pada perut Hagi, walaupun bukan di bagian vital, darah terus saja tidak mau berhenti dari perut Hagi.



Tabib sedikit kewalahan karena obat yang Kyuhyun cari belum juga datang. Tubuh Hagi sudah bergetar lemah akibat darah yang tidak berhenti sejak tadi.



"Hagi_ssi... apa yang harus aku lakukan untukmu." Nyonya Young ae semakin sedih ketika dia tidak bisa berbuat apa-apa.



Perlahan mata Hagi mulai terbuka, sepertinya kesadarannya kembali datang ketika mimpi membangunkan Hagi dari pingsannya, menyadari jika dia tidak sedang bermimpi Hagi menarik nafas sesak.



Hagi yang memang calon dokter langsung mengecek denyut nadinya lalu menghelah nafas pelan, kondisinya memburuk karena darah yang keluar. Jika di masa depan akan sangat mudah mengobati luka Hagi, tapi masalahnya dia sekarang ada di masa dimana tidak ada obat pereda rasa sakit atau bahkan anti biotik sekalipun.



"Tabib apa tonik untuk menghentikan darah tidak ada?" Ucapan Hagi sontak membuat Tabib menatap Hagi lega, setidaknya Hagi sudah sadar dari pingsannya.



"Kau terbangun? Syukurlah... kau bisa bertahan sedikit lagi? Tuan muda tadi sedang mencarikannya untukmu." Hagi mengangguk pelan. Kyuhyun pasti cemas padanya sekarang, padahal sebisa mungkin Hagi tidak ingin membuat siapapun khawatir padanya.



Kyuhyun datang dengan ekspresi khawatir di wajahnya lalu masuk kedalam kamar membawa ramuan yang ia beli di kedai obat langganannya. Di toko obat bisa sangat langka mencarinya dan lagi belum tentu pemilik toko mau memberikannya, selain karena harga yang mahal obat itu sangat sulit di temukan.



"Aku mendapatkannya, apa yang harus aku lakukan lagi?" Kyuhyun menatap tabib khawatir lalu menatap Hagi. Kyuhyun bernafas lega dan tersenyum lemah, saat tabib meminta tolong padanya untuk membeli obat, Hagi masih belum sadarkan diri membuat Kyuhyun panik saat mencari obat tadi.



"Kau sadar? Bagus kau tidak boleh hilang kesadaran lagi." Hagi membalas senyuman Kyuhyun dengan senyuman lemahnya membuat Kyuhyun meringis dan semakin tidak berdaya ketika melihat darah yang masih keluar.



"Tuan bisakah kau merebus ramuan itu sekarang juga?" Ucapan tabib menyadarkan Kyuhyun dari ketidak berdayaanya lalu dengan cepat kembali mengangguk dan melangkah keluar kamar. Hagi berusaha duduk yang langsung di cegah oleh tabib. Pendarahan Hagi belum berhenti dan itu tidak baik untuk Hagi jika terlalu banyak bergerak.



"Tidak jangan bergerak, kau hanya akan membuat darahnya semakin banyak keluar." Seolah tidak mendengarkan perintah sang tabib Hagi tetap memposisikan kepalanya lebih tinggi. Dia harus berbuat sesuatu untuk mengurangi pendarahan di lukanya atau Hagi bisa mati kehabisan darah. Seolah mengingat sesuatu Hagi menatap nyonya Young ae lemas.



"Nyonya Young ae, bisakah kau ambilkan alat menyulammu kemari?" Nyonya Young ae yang nampak bingung dengan ucapan Hagi hanya bisa menatap Hagi heran. Tidak kucuran di saat begini Hagi malah ingin menyulam?.



"Kau tidak bermaksud menyulam di saat beginikan?" Hagi hampir tertawa jika tidak ingat kondisinya, sambil menahan tawanya Hagi menggeleng pelan. Walaupun Hagi memang bisa menyulam, Hagi tidak berniat mati konyol karena menyulam.



"Tidak, bawa saja. Nyonya akan tahu nanti." Walaupun masih heran dengan keinginan Hagi, Nyonya Young Ae tetap membawa apa yang Hagi inginkan. Hagi menatap tabib yang menyeka keringat di keningnya, sepertinya tabib berumur ini cukup kewalahan dengan lukanya. Hagi juga tidak ingin tabib ini melihat cara dia menjahit lukanya, karena masa ini belum ada seseorang yang menjahit luka dengan benang. Dengan nafas lemah Hagi berusaha meminta tabib itu keluar.



"Tabib sekarang lebih baik kau membantu tuan muda tadi membuat ramuan, aku yakin dia pasti kebingungan sekarang."



"Lalu bagaimana denganmu nona?" Hagi tersenyum kecil, ini pertama kalinya ada yang memanggilnya nona di sini. Hagi tahu tabib ini langsung tahu jati dirinya dari denyut nadi yang ia periksa.



"Tabib tidak perlu khawatir aku juga bisa di bilang seorang tabib, jadi aku bisa merawat diriku sendiri."  walaupun ragu tabib itu akhirnya keluar kamar dan sekarang hanya tinggal nyonya Young ae dan Hagi.



Dengan sisa tenaganya dan bantuan nyonya Young ae, Hagi melepas bajunya juga mulai menjahit luka di perutnya, Nyonya Young ae bahkan hampir menjerit ketika Hagi memeriksa lukanya lebih dalam dan menjahit perutnya perlahan. Beberapa kali nyonya Young Ae bergetar menyeka darah yang keluar dari perut Hagi, dia tidak terbiasa melihat darah sebanyak ini.



Setelah selesai menjahit lukanya dengan bantuan nyonya Young ae kembali Hagi membalut lukanya lalu kembali mengenakan pakaiannya, awalnya nyonya Young ae meminta Hagi untuk memakai pakaiannya, tapi dengan berat hati Hagi menolaknya. Beberapa saat kemudian Kyuhyun juga tabib datang bersamaan sambil membawa ramuan untuk Hagi minum. Akhirnya setelah beberapa menit kemudian darah mulai berhenti keluar dari perut Hagi.



Kyuhyun yang sejak tadi paling cemas menarik nafas lega setelah tabib mengatakan kalau kondisi Hagi mulai stabil, nyonya Young ae juga nampak menghapus jejak air mata di pipinya lega. Setelah memberi resep tambahan tabib yang tadi di bawa nyonya Young ae pamit pulang.


__ADS_1


"Kyuhyun_ssi, sebaiknya kau kembali ke istana. Kau sudah terlalu lama disini." Hagi yang merasa Kyuhyun akan tetap disana mulai berusaha mengusirnya. Kyuhyun yang merasa terusir, tersinggung lalu membulatkan matanya sebal.



"Tidak mau, aku akan tetap disini sampai kau benar-benar membaik. Aku yakin Yang Mulia akan mengerti jika aku menceritakan kebenarannya. Aku juga khawatir orang yang memanahmu tadi datang kembali." Hagi menarik nafas lemah, dia hanya ingin Kyuhyun mendengarkan ucapannya dan pergi tanpa membantah. Tapi sepertinya Kyuhyun selalu harus di beri pengertian, padahal Hagi masih terlalu lemah untuk banyak bicara.



"Justru karena Aku Tidak ingin kau mengatakannya pada Yang mulia aku memintamu untuk kembali sekarang. Soal orang tadi kau tenang saja masih ada Nam Young yang akan menjagaku. Lagi pula aku sudah tidak apa-apa sekarang." Kyuhyun akan kembali membalas ucapan Hagi ketika Hagi memotong kata-katanya.



"Jebal, kau tidak berniat membuatku banyak bicarakan? Aku masih terlalu lemas untuk berdebat dengamu, Aku mohon bantu aku juga." Walaupun tidak rela akhirnya Kyuhyun hanya bisa menarik nafas lemas lalu mengangguk pelan.



"Baiklah besok aku akan datang lagi, jadi pastikan kau baik-baik saja." Hagi mengangguk pelan lalu membiarkan Kyuhyun melangkah pergi keluar kamar. Setelah yakin Kyuhyun sudah pergi, Hagi kembali berusaha duduk dan dengan sigap Nyonya Young Ae membantu Hagi.



"Kita lakukan sekarang Nyonya." Nyonya Young ae yang masih belum paham ucapan Hagi mengerutkan keningnya bingung.



"Maksudmu?" Hagi menghelah nafas lalu berusaha untuk berdiri dan dengan cepat nyonya Young Ae membantu.



"Persiapan untuk penyambutan. Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi."



"Kau gila? Kau bahkan baru saja lolos dari maut, tidak aku tidak akan mengizinkannya." Hagi menggenggam tangan nyonya Young ae penuh permohonan.



"Aku mohon, aku janji tidak akan bergerak sedikitpun sebelum hari penyambutan." Nyonya Young ae menghela nafas frustasi.



"Kau gadis keras kepala yang pernah aku kenal. Kau harus berjanji untuk diam, jika tidak aku akan memanggil Eommamu saat itu juga." Hagi tersenyum lalu mengangguk kecil.



Awalnya Hagi ragu untuk menjalankan rencananya ini, tapi ketika kemarin berbicara panjang lebar dengan nyonya Young ae akhirnya Hagi tahu bahwa semua ini memang harus ia lakukan. Sebagian besar alasan kedatangan dia ke era Joseon selalu berhubungan dengan Raja Sejong dan jika di hubungkan dengan tradisi keluarganya Hagi paham bahwa penyambutan ini juga adalah tugas nya.



Walaupun Hagi tidak memprediksikan jika masih ada yang berniat menggagalkan rencana penyambutan ini dengan melukai nyonya Young ae, Hagi harus tetap melakukan rencannya, apapun kondisi Hagi sekarang.



****




Sebenarnya wajar saja Raja ingin ikut, bagi beliau besok adalah hari penting. Tapi jika Raja tahu Hagi terluka dan Kyuhyun tidak mengatakannya keduanya akan dalam masalah. Hagi pasti akan di berhenti kan dari misi rahasiannya, dan itu akan membuat Kyuhyun kesulitan mencari cara untuk menyelamatkan ayahnya.



Kyuhyun hanya bisa pasrah ketika Raja dan pengawal yang lainnya memasuki rumah bordir, seperti biasa rumah bordir itu selalu ramai pengunjung. Awalnya para Giseng langsung menyambut mereka, tapi ketika nyonya Young ae sendiri yang mendekat perlahan para Giseng mundur teratur.



"Silahkan lewat sini Yang Mulia." Nyonya Young ae berbicara sepelan mungkin, lalu mengantar Raja dan beberapa pengawal lainnya menuju ruangan Khusus. Sesaat Nyonya Young Ae menatap Kyuhyun yang terlihat cemas lalu mengangguk memberi keyakinan. Sebelumnya Nam Young sudah memberitahukan jika Raja akan datang jadi Hagi sudah bersiap-siap.



Raja masuk kedalam ruangan lalu duduk di tempat yang sudah di persiapkan.



"Mana Hagi? Aku tidak melihatnya? Tidak biasanya dia tidak menyambutku?" Kyuhyun yang menunggu di luar menegang ketika Raja menanyakan keberadaan Hagi.



"Hagi sedang dalam perjalanan Yang mulia, Nam Young sendiri yang menjemputnya." Seperti mengingat sesuatu Raja mengangguk kecil.



"Hagi semakin siaga sepertinya semenjak insiden kemarin. Ah soal persiapan? Apa semua berjalan lancar?" Nyonya Young ae mengigit bibirnya bingung tapi ketika mengingat ucapan Hagi Nyonya Young ae berusaha bersikap normal.



"Yang mulia tidak usah khawatir, semua persiapan sudah selesai. Hanya saja hiburan akan sedikit berbeda dari biasanya." Raja menghela nafas pelan, walaupun sedikit kecewa Raja bisa memaklumi jika acara penyambutan sedikit berbeda dari biasanya.



"Iya tidak apa-apa, aku hanya berharap utusan Yuan tidak kecewa dengan hibuarannya."



Di luar Kyuhyun menatap Hagi yang berjalan beriringan bersama Nam Young cemas, ada sedikit rasa tidak rela saat melihat Hagi di rangkul oleh Nam Young tapi dengan cepat Kyuhyun menepis pikiran itu.



"Apa kau baik-baik saja?" Kyuhyun menatap wajah Hagi yang terlihat segar, sedikit heran mengingat luka yang Hagi miliki banyak mengeluarkan darah dan lagi jika sesegar ini Hagi tidak perlu di rangkul oleh Nam Young.

__ADS_1



Perlahan Hagi melepas rangkulan Nam Young lalu menatap Kyuhyun sayu.



"Kita bicara nanti. Ingat jangan sampai Yang mulia tahu, kalau kau ingin aku membantumu." Kyuhyun berniat kembali bertanya ketika Hagi mengumumkan kedatangannya pada Raja dan dengan cepat Hagi masuk kedalam. Kyuhyun bermaksud masuk tapi dengan cepat Nam Young menghalangi Kyuhyun.



"Biarkan Hagi menyelesaikan semuanya. Lebih cepat Yang Mulia pergi lebih cepat juga Hagi istirahat." Kyuhyun mengerutkan keningnya bingung. Jadi Hagi benar-benar masih sakit?



"Jangan tertipu dengan wajahnya, Giseng mendandani Hagi agar tidak terlihat sakit." Nam Young seperti mengerti apa yang Kyuhyun pikirkan lalu berusaha menjelaskan dan wajah Kyuhyun kembali cemas.



Cukup lama Hagi dan Raja berbicara, isinya hanya tentang laporan pergerakan mentri Kim juga persiapan penyambutan. Setelah merasa puas akhirnya Yang Mulia kembali ke istana. Saat itulah Hagi kembali ambruk.



"Ini karena kau keras kepala Hagi, kau sudah berjanji padaku lihat sekarang kau kembali sakit dan demam." Nyonya Young ae menggerutu marah ketika Hagi berbaring sambil bermandikan keringat suhu tubuhnya meningkat karena sejak tadi siang Hagi tidak mau diam bahkan setelah nyonya Young ae mengancamnya.



"Maaf, tapi kau tahu aku harus melakukannya Nyonya. Aku janji besok aku akan sehat kembali." Nyonya Young ae memegang kepala nya pusing, lalu menatap Hagi frustasi.



"Tapi kau terlalu memaksakan diri, lihat sekarang kau malah terkapar di ranjang. Jika besok kau masih sakit kita semua akan dalam bahaya." Hagi menatap Nyonya Young ae bersalah. Hagi tidak bisa seperti ini dia harus kuat untuk besok pagi.



"Nyonya, bisakah kau mencarikanku tanaman obat yang aku inginkan?" Nyonya Young ae mengerutkan keningnya tapi dengan sigap langsung meminta mandor rumah bordir untuk mencari tanaman obat yang Hagi minta.



"Sekarang tidurlah, aku akan berusaha menurunkan suhu tubuhmu." Hagi menggeleng pelan lalu berusaha untuk bangun, tapi dengan cepat kembali tertidur.



"Sudahlah tidak usah keras kepala."



"Tapi nyonya juga harus istirahat." Nyonya Young ae berdecak kesal.



"Aku sehat dan kau sakit jadi sekarang pejamkan matamu itu." Hagi menghelah nafas pelan lalu berusaha untuk tidur. Saat itulah Kyuhyun datang rasa cemasnya berkali lipat ketika melihat Hagi berbaring pucat.



"Ya Tuhan apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa separah ini?" Kyuhyun duduk di samping Nyonya Young ae yang masih menyeka keringat di wajah Hagi.



"Tolong jangan berisik, dia baru saja tidur." Kyuhyun menarik kain yang sedang di genggam nyonya Young ae.



"Biar aku saja yang melakukannya, bukankah besok kau harus tampil?" Nyonya Young ae tersenyum sendu, dia memang sedikit lelah karena sejak pagi tadi tidak berhenti latihan.



"Kau yakin ingin menjaganya?" Kyuhyun mengangguk kecil tanpa mengalihkan perhatiannya pada Hagi. Nyonya Young ae tersenyum kecil, lalu pergi dari kamar yang kini di tempati Hagi. Sejak awal Kyuhyun begitu memperhatikan Hagi dan semua orang bisa melihat jika Hagi sangat menyukai Kyuhyun. Tapi karena tahu perasaan Raja pada Hagi, tidak ada yang pernah menyinggung kedekatan Hagi dan Kyuhyun.



Kyuhyun menatap Hagi sedih entah kenapa melihat Hagi seperti ini membuat perasaan Kyuhyun tidak senang dan resah juga tidak nyaman, rasa marah pada orang yang memanah Hagi hampir membuat kepala Kyuhyun meledak. Jika saja bukan ayahnya yang melakukan semua ini, Kyuhyun ingin sekali menghunuskan pedangnya pada orang yang melukai Hagi.



Kyuhyun tidak mengerti dengan perasaannya, baginya semua yang Kyuhyun rasakan pada Hagi sangat aneh. Kyuhyun bukannya tidak mengenali perasaan apa yang ia rasakan sekarang tapi Hagi adalah seorang pria.



"Apa aku sudah gila? Iya sepertinya aku sudah gila." Kyuhyun bergumam kecil ketika menyadari perasaannya.



"Tapi aku sudah tidak peduli lagi." Kyuhyun tersenyum kecil lalu kembali menyeka keringat di kening Hagi. Bagi Kyuhyun sekarang asal bisa terus bersama Hagi itu sudah cukup. Sepertinya karena terlalu lelah Kyuhyun ikut tertidur di samping Hagi dan tangan Kyuhyun masih memegang kain yang ia gunakan untuk menyeka keringat di kening Hagi.



Pagi datang perlahan, cahaya mulai masuk ke arah jendela tempat Hagi tertidur, silaunya membangunkan Hagi dari tidurnya. Hagi menatap kearah kirinya, seseorang tengah tertidur tenang di sampingnya. Hagi berusaha tidur menyamping lalu menatap lekat namja di sampingnya.



"Terimakasih... maaf aku merepotkanmu." Hagi bergumam kecil berusaha sepelan mungkin untuk tidak membangunkan orang di sampingnnya. Perlahan tangannya terulur kearah wajah namja yang masih tertidur nyenyak, jari-jarinya mulai bergerak nakal menyentuh setiap lekuk wajah miliki namja itu.



"Terimakasih Kyuhyun_ssi."



"Saranghae.."

__ADS_1



bersambung


__ADS_2