
Pagi masih sangat berembun ketika pasukan yang di pimpin oleh Kim Jong Seo mulai bergerak ke medan perang, seperti rencana sebelumnya pasukan yang tersedia di bagi menjadi dua bagian, pasukan pertama berguna membuka jalan untuk Hagi maju menemukan sang Jendral Jurchen sementara pasukan kedua berguna menjadi tim sapu bersih.
"Usahakan kau tetap di sampingku Hagi_ssi, atau setidaknya Jong Hyun harus terus mendampingimu." Jong Seo kembali mengingatkan Hagi tentang strategi yang semalam mereka bicarakan, Hagi mengangguk kecil begitupun dengan Jong Hyun.
Semua kini sedang menatap benteng Jurchen yang terlihat baru saja di bangun di atas tanah Joseon dari kejauhan, dari sini pasukan yang di pimpin Kim Jong Seo bisa melihat dengan jelas pasukan Jurchen yang mendekat bersiap untuk perang.
"Ingat, prioritas utama kita adalah Jendral Jurchen, pastikan jika kalian melihatnya untuk mengibarkan bendera merah yang aku bagikan sebelumnya." Ucapan Jong Seo di balas dengan sorak sorai semua pasukan yang ada, saat itulah Jong Seo menarik pedangnya lalu melajukan kuda yang di tungganginya tanda perang akan di mulai.
"Maju!!!! Untuk Joseon...." saat itulah perang di mulai semua pasukan maju ke medan perang begitupun dengan pihak Jurchen, mereka mengirimkan sedikit sekali pasukan seolah pasukan Joseon bukanlah apa-apa dibandingkan dengan pasukan Jurchen.
Keanehan memang terjadi, beberapa pasukan Jurchen yang terkena sayatan pedang masih bisa bangun dengan sedikit sekali cedera. Hagi bahkan mulai kelelahan ketika pasukan lawan yang memang tidak bisa di tumbangkan dalam sekali serang.
"Terus maju Hagi, biar yang lain menjadi urusan kami." Ucapan Jung so hanya di balas anggukan lelah dari Hagi, beberapa kali pasukan lawan hampir mengenainya tapi dengan sigap Jung so maupun Jong Hyun menangkis dengan cepat, Jong Seo sendiri sudah jauh di depan Hagi.
Ketika rasa lelah mulai menyurutkan semangat Hagi dan yang lainnya, bandul yang sejak tadi Hagi simpan di sakunya bersinar perlahan, hal itu terlihat jelas oleh Jong Hyun dan Jung So. Kurang dari lima meter beberapa prajurit Joseon mengibarkan bendera merah dengan sisa tenaga mereka, saat itulah semangat kembali datang di setiap sel darah di tubuh Hagi, dengan kecepatan penuh Hagi mendekat kearah sang Jendral Jurchen di susul dengan Jung So Dan Jong hyun yang ternyata kini juga sedang melawan Kim Jong Seo.
"Pastikan Jendral itu tersudut Jong Seo_ssi aku akan mempersiapkan bandul milikku." Jong Seo mengangguk kecil lalu kembali mengayunkan pedangnya pada Jendral Jurchen yang beberapa saat lalu ia lawan, Jong Hyun dan Jung So menghalang siapapun yang mendekati Hagi.
Saat Hagi mengeluarkan bandul yang ia miliki, bandul yang kini di pakai sebagai kalung oleh Jenderal itu bercahaya kebiruan sama seperti milik Hagi, dengan cepat Hagi melukai tangannya membuat darah mengalir di setiap cela di bandul yang ia pegang lalu kembali maju membantu Jong Seo menyudutkan lawan.
Dengan sekuat tenaga Jong Seo dan Hagi berusaha menyudutkan Jendral itu, tapi kekuatan Jendral Jurchen memang tidak bisa di ragukan beberapa kali Hagi terjatuh dan siap di serang jika saja Jong Seo tidak menolongnya.
"Jong Seo_ssi bisakah kau membuat cela untukku? Jika terus seperti ini kita bisa mati karena kelelahan."Jong Seo menghelah nafas lalu kembali menyerang Jendral itu dengan pedang yang ia pegang erat, Jong Seo kembali mengayunkan pedangnya dengan kuat membuat pedang Jendral itu akhirnya terlepas dari tangannya.
Saat itu juga Hagi maju dan menempelkan bandul miliknya ke bandul Jendral Jurchen, hasilnya sungguh mengejutkan entah itu Jendral Jurchen ataupun Hagi keduanya terpental ketika kedua bandul itu bersatu dan menimbulkan cahaya keemasan.
Hagi terduduk dengan darah yang keluar dari mulut tubuhnya langsung terasa lemas begitu saja, bahkan Jendral Jurchen itu tidak bisa bergerak sama sekali. Jong Seo langsung mendekat kearah Hagi begitupun dengan Jung so dan Jong Hyun.
"Hagi_ssi!!!!" Jung So dengan cepat membantu Hagi untuk bangun sementara Jong Hyun menghadang setiap prajurit musuh yang mendekat, kali ini prajurit musuh mudah di kalahkan.
"Bandulnya..." Gumam Hagi pelan pada Jong Seo, saat melihat bandul itu berhenti bersinar lalu jatuh ke tanah. Jong Seo dengan cepat mengambil bandul yang beberapa kali sempat tersepak oleh beberapa prajurit. Lalu kembali mendekat kearah Hagi.
"Sebaiknya kau kembali ke benteng sudah saatnya kita menyelesaikan perang ini. Jung so Hyung tolong bantu Hagi sampai ke benteng, aku tidak yakin dia bisa berjalan. Jong Hyun pastikan tidak ada yang mendekat kearah Hagi. Aku tunggu pasukan sapu bersih di sini." Jung so siap membawa Hagi ketika Hagi menarik tangan Jong Seo pelan.
"Tolong jaga bandul itu dengan baik..."Jong Seo menatap Hagi sesaat lalu mengangguk pelan.
Jung So membopong Hagi sambil menghadang pedang yang beberapa kali hampir mengenainya, walaupun ada Jong Hyun tetap saja Jung So harus selalu waspada.
"Oraboni... gomawo... " gumaman Hagi terdengar jelas oleh Jung So membuat Jung So semakin cepat berjalan menembus pasukan Jurchen yang masih bertahan.
"Jangan berterimakasih sekarang, jangan mati sekarang." Hagi tersenyum sambil menahan rasa sakit di dadanya, cahaya dari bandul tadi cukup luar biasa efeknya bagi Hagi.
"Mianahae..." Jung So menggeram marah sambil terus berjalan membopong Hagi yang samar-samar mulai kehilangan kesadaran membuat Jung So cukup kewalahan membopong Hagi.
Tapi untunglah akhirnya ketiganya bisa keluar dari medan perang, setelah cukup jauh di belakang medan perang Jung So mendekat ke sebuah pohon dimana ada dua kuda terikat disana, perlahan Jung So mendudukan Hagi di tanah sementara Jong Hyun berjaga kalau-kalau ada musuh yang mendekati mereka.
"Apa kau yakin akan pergi sekarang? Tidak bisakah kau istirahat dulu di benteng?" Jung So menatap Hagi khawatir wajah yeoja di hadapannya ini sepucat kertas, perjalanan dari sini ke Jeju bukanlah perjalanan yang sebentar.
"Aku tidak punya banyak waktu Oraboni..." baru saja Jung so ingin kembali protes karena ke keras kepalaan Hagi, yeoja ini membuat Jung Soo semakin panik ketika tubuh Hagi kembali transparan.
"Jinjja!!! Apakah tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan untukmu?" Hagi tersenyum miris lalu mengerang kecil ketika dadanya kembali terasa sakit membuat Jong Hyun juga ikut panik sekarang.
__ADS_1
"Oraboni... sebaiknya kembali kebenteng sekarang, pasukan sapu bersih hanya akan bergerak jika oraboni yang memimpin." Jung So menatap Hagi nanar, rasa cemasnya pada Hagi membuatnya lupa dengan tugasnya yang lain.
"Bagaimana denganmu?" Hagi berusaha berdiri dengan di bantu Jong Hyun lalu menggengam tangan Jung So.
"Ada Jong Hyun yang akan membantuku, pastikan semua orang tahu aku baik-baik saja oraboni... sekarang pergilah... Jong Seo menunggumu." Walaupun rasa khawatir masih tidak berkurang di hati Jung So, dia tidak punya pilihan lain, keberhasilan perang juga ada di tangannya.
"Baiklah, tapi kau harus pulang dengan selamat. Harus!!! Kau mengerti?" Hagi tersenyum kecil lalu mengangguk pelan.
Jung so perlahan bergerak ke arah kiri dimana benteng berada, setelah agak jauh barulah Hagi kembali mengerang kesakitan dia hampir terjatuh jika saja Jong Hyun tidak memeganginya.
"Apa kau yakin berangkat sekarang juga?" Hagi perlahan mengecek urat nadinya lalu menghelah nafas berat.
"Sialan, sepertinya ada kerusakan di organ dalamku."
Hagi berjalan kearah kuda yang sudah di siapkan sebelum peperangan lalu menatap Jong Hyun sendu.
"Aku harus pergi jika tidak semuanya akan sia-sia." Menghelah nafas berat Jong hyun akhirnya membantu Hagi naik ke kudanya.
Setelah yakin Hagi sudah siap di pelananya Jong hyun juga naik ke kuda, perlahan mereka mulai memacu kuda mereka lalu masuk ke rimbunnya hutan.
***
Matahari hampir tenggelam ketika Hagi dan Jong Hyun sampai di perbatasan ibu kota, Jong Hyun bergerak cepat turun dari kudanya ketika Hagi hampir terjatuh dari kuda karena kelelahan belum lagi luka di tangan Hagi hanya di balut kain secukupnya dan itu sama sekali tidak membantu di perjalanan yang bahkan belum setengahnya ini.
"Aku rasa kita perlu istirahat dulu, keadaanmu tidak akan lebih baik jika kita melanjutkannya sekarang Agasshi, kita bisa mencari desa terdekat sebelum gelap." Ucapan Jong Hyun hanya di balas anggukan lemah dari Hagi. Jong Hyun semakin mengeratkan pegangannya di bahu Hagi ketika tubuh yeoja itu semakin melemah, berusaha mengembalikan tenaganya Hagi menarik nafas dalam-dalam tubuhnya memang sudah sangat kelelahan sekarang, Hagi juga sempat mengecek nadinya keadaan organ tubuhnya juga memburuk, Kalaupun memaksa terus melanjutkan perjalanan Hagi tidak yakin masih hidup sebelum sampai di air terjun Jeju.
"Apa Agashi tidak apa-apa jika berkuda bersamaku? Aku tidak begitu yakin meninggalkan Agashi sendirian di pelana." Hagi tersenyum kecil lalu mengangguk sekali lagi, dia bahkan sudah tidak bisa berbicara terlalu banyak, Hagi harus menghemat energinya dan berkuda sendirian sudah sangat membuatnya kelelahan karena harus tetap fokus dengan tali kekang kuda. Setelah mendapat persetujuan dari Hagi, Jong Hyun membantu Hagi naik di pelana yang sama dengan Jong Hyun, kuda Hagi sendiri di ikat kepelana Jong Hyun Karena bagaimanapun Hagi tidak bisa terus-terusan satu pelana dengan Jong Hyun.
Jong Hyun menatap cemas kedepan, kondisi tubuhnya sangat kelelahan sekarang, dia tidak bisa melawan sambil melindungi Hagi yang sepertinya bahkan tidak sanggup untuk melawan terlebih orang-orang di depannya bukanlah amatiran. Akhirnya Jong Hyun mengambil keputusan untuk menerobos lebatnya hutan ketika gerombolan itu siap menyerang mereka, gerombolan itu juga terus mengejar bahkan ketika Hagi dan Jong Hyun sudah jauh masuk kedalam hutan.
Jong Hyun menghentikan kudanya di dekat sebuah gua lalu membantu Hagi turun dari kuda, sesekali Jong Hyun menatap ke arah belakang, sayup-sayup suara orang mendekat semakin terdengar. Keduanya masuk kedalam gua yang lembab, Jong Hyun langsung membantu Hagi untuk duduk.
"Agassi tetaplah disini, aku akan berusaha mengalihkan perhatian mereka dengan kuda-kuda kita, jangan keluar sebelum aku datang. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya pembunuh bayaran keluarga Jang mengincar kita, tapi ini pasti ada hubungannya dengan mentri Jang." Hagi menutup matanya kesal, rencananya ternyata tidak semulus yang ia pikirkan, walaupun sempat berpikir tentang kemungkinan ini, Hagi tidak pernah berpikir kejadiannya akan serumit ini, lebih tepatnya kejadian dimana Hagi tidak bisa melawan atau membela dirinya ketika dalam bahaya.
Hagi memegang dadanya yang semakin sakit, keringat dingin semakin membasahi keningnya, wajahnya sudah sepucat mayat, membuat Jong Hyun semakin cemas, mereka harus secepatnya mengobati Hagi.
"Pergilah, aku menunggumu disini." Jong Hyun menatap ke arah mulut gua ketika suara-suara itu semakin dekat, Hagi paham dia tidak bisa berbuat apapun sekarang selain mengandalkan Jong Hyun.
"Pergilah..." sekali lagi Jong Hyun menatap Hagi cemas tapi walaupun sedikit ragu, akhirnya Jong Hyun pergi meninggalkan Hagi di dalam gua.
Sunyinya gua membuat Hagi menyadari sesuatu jika sekarang dia sangat merindukan keluarganya, sambil memegangi dadanya yang kembali sakit Hagi menangis dalam diam, Hagi berharap sekalipun dia harus mati, Hagi masih di beri kesempatan bertemu keluarganya atau setidaknya Hagi di beri kesempatan untuk melihat wajah namja yang ia cintai sekali lagi.
"Bogoshipo Kyuhyun_ah..."
Di mulut gua Jong Hyun langsung menaiki kudanya lalu memacunya dengan cepat sedangkan kuda Hagi sengaja Jong Hyun arahkan berlainan arah, setidaknya itu akan memecah gerombolan yang mengejar mereka, sisanya Jong Hyun mungkin masih bisa menghadapinya. Jong Hyun memacu kudanya semakin menjauh dari gua, orang-orang itu tidak boleh tahu jika Hagi ada di dalam gua.
****
Hyunmie menatap Kyuhyun cemas sejak dini hari hingga menjelang malam suaminya itu tidak kunjung bangun, siang tadi Kyuhyun sempat demam karena luka di perutnya, walaupun tabib sudah melakukan yang terbaik tapi Kyuhyun sepertinya sudah kehilangan semangat untuk hidup, Hyunmie tersenyum sendu suaminya itu terus memanggil nama Hagi dengan ekspresi terluka.
__ADS_1
"Aku bisa memahami perasaanmu Kyuhyun_ah, tapi aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau pergi meninggalkanku seperti ini." Hyunmie menggenggam tangan Kyuhyun erat, air matanya yang ia kira sudah kering karena terus menangis ternyata kembali keluar.
"Hyungmu pasti akan marah jika terjadi sesuatu padamu, jadi aku mohon bangunlah." Hyunmie semakin terisak ketika tidak ada reaksi sama sekali dari Kyuhyun.
"Dia belum bangun?" Hyunmie menghapus air matanya lalu berbalik ke arah pintu dan menggeleng pelan pada namja yang masuk ke kamarnya.
"Tidak ada motivasi untuknya agar bangun, dia tega sekali padaku." Nam Young menghelah nafas pelan, di belakangnya menyusul Changmin yang juga ikut menjenguk sahabatnya itu. Keadaan kerajaan mulai stabil sekarang setelah beberapa prajurit di beberapa kantor di luar istana di tarik untuk berjaga sebelum pasukan dari utara pulang.
"Dia harus bangun jika tidak aku akan merebut posisinya sebagai kepala pengawal." Changmin menggerutu kecil ketika sahabatnya itu tidak kunjung bangun membuat Hyunmie tersenyum geli dalam isak tangisnya. Nam Young hanya menggelengkan kepalanya kecil, jika ancaman bisa membangunkan Kyuhyun, Nam Young tidak akan menghalangi Changmin sekarang, tapi temannya itu tidak kunjung bangun membuat keadaan kamar kembali hening.
"Kau pikir Hagi akan senang melihatmu begini? Dia tidak akan memaafkanmu jika mati begitu saja bodoh." Ucapan Nam Young sukses membuat Hyunmie menunduk dalam, Changmin menatap Nam Young memperingati bagaimanapun sekarang Kyuhyun sudah menikah dengan Hyunmie, tapi gerakan jari Kyuhyun membuat Hyunmie tertegun.
"Kau harus ingat apa yang Hagi korbankan agar kita semua hidup lebih lama, kau tidak lupa itukan Kyuhyun_ah? Jadi aku mohon jangan membuat Hagi marah padaku karena tidak membuatmu bahagia." Ucapan Hyunmie sukses membuat Nam Young dan Changmin saling tatap dan membisu.
"Kenapa kalian berisik sekali... kalian menganggu tidurku." Suara lemah itu sukses membuat Hyunmie, Nam young dan Changmin berteriak memanggil nama Kyuhyun bersama-sama.
"Kau bangun? Sial aku kira kau akan tidur lebih lama, posisi kepala pengawal akan dengan senang hati aku tempati." Ucapan Changmin sukses membuat Nam young memukul kepala sahabatnya itu sebal, sedangkan Hyunmie langsung membantu Kyuhyun untuk duduk.
"Minum..." Hyunmie langsung membantu Kyuhyun untuk minum, wajar saja Kyuhyun merasa haus selain tonik yang Kyuhyun minum Kyuhyun belum meminum apapun lagi sejak dini hari.
"Ada lagi yang kau inginkan?" Pertanyaan Hyunmie membuat Kyuhyun menatapnya sendu, perkataan Hyunmie sebelum kesadarannya benar-benar pulih tadi membuatnya merasa bersalah.
"Maafkan aku..." seolah mengerti maksud suaminya, Hyunmie hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, kau sudah bangun saja aku sudah senang. Sebaiknya aku menyiapkan makan malam untuk semuanya, bisakah kalian menjaganya sebentar?" Ucapan Hyunmie hanya di balas anggukan kedua sahabat Kyuhyun. Setelah Hyunmie benar-benar keluar dari kamar Kyuhyun baru menatap Nam Young serius.
"Bagaimana keadaan istana?" Nam young menghelah nafasnya pelan ketika Kyuhyun kembali memusingkan pekerjaannya sebagai pengawal.
"Kau tidak perlu khawatir, Changmin dan aku sudah melakukan yang terbaik itu kenapa kita berdua bisa menjengukmu sekarang. Yang mulia juga bilang kali ini Kau benar-benar harus istirahat." Sesaat Kyuhyun menyentuh bagian luka di perutnya lalu menghelah nafas pasrah. Sepertinya kali ini dia memang harus istirahat total.
Keributan di halaman rumah sukses membuat ketiganya saling bertatapan, suara ringkihan kuda juga akhirnya membuat Nam Young bangun dari duduknya begitu pun Changmin yang membantu Kyuhyun yang berkeras untuk bangun. Ketiganya semakin terkejut ketika salah satu pelayan pria datang ke kamar sambil membuka pintu yang baru saja akan Nam Young buka.
"Tuan, Kim Jong Hyun datang dia terluka parah tuan." Nam Young langsung berlari ke halaman, sedangkan Changmin membantu Kyuhyun berjalan.
"Kenapa dia bisa ada di sini? Bukankah seharusnya dia ada di utara bersama Hyungmu?" Pertanyaan Changmin hanya di balas gelengan kepala dari Kyuhyun. Dia hanya berharap orang kepercayaan Hyungnya itu tidak membawa kabar buruk tentang perang yang kini berlangsung di utara.
Kyuhyun terkejut bukan main ketika sampai di halaman rumahnya, Nam Young kini sedang membantu Jong Hyun yang terduduk di tanah dengan kondisi luka di mana-mana, yang mengerikan adalah ada beberapa anak panah yang bersarang di punggung Jong Hyun yang kini sedang berusaha Nam Young tarik. Sedikit berlari sambil melepas bantuan dari Changmin Kyuhyun mendekat kearah Jong Hyun.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini? Hyung? Apa Hyung baik-baik saja?" Rasa takut kembali mengambil alih tubuhnya, Kyuhyun tidak akan sanggup menanggungnya jika dia harus kembali kehilangan orang yang ia sayangi.
Jong Hyung mengerang keras ketika Nam Young berhasil mencabut salah satu anak panah di punggungnya, dengan suara yang melemah Jong Hyun berbisik pelan.
"Hagi agashi... dia dalam bahaya..." perkataan Jong hyun sontak membuat semua orang membeku di tempat tidak terkecuali Kyuhyun.
"Apa maksudmu? Selir Suki sudah mati." Ucapan Nam Young sontak mengembalikan kesadaran Kyuhyun, untuk sesaat Kyuhyun berpikir keras ketika semua menjadi jelas di otaknya Kyuhyun mengumpat keras.
"Dimana dia? Dimana Hagi sekarang?" Pertanyaan Kyuhyun membuat semua orang semakin bertanya-tanya.
"Hagi agashi sekarang ada di gua dalam hutan di perbatasan ibu kota... pembunuh bayaran mentri Jang sedang mengincarnya... masalahnya Hagi Agashi dalam kondisi terluka parah..." Jong Hyun kembali mengerang kuat ketika Nam Young kembali mencabut anak panah terakhir di punggungnya, kali ini Jong Hyun langsung kehilangan kesadarannya, meninggalkan Kyuhyun yang kini dilanda kepanikan luar biasa juga kebingungan bagi sebagian orang di kediaman Kyuhyun.
__ADS_1
bersambung